
Pagi ini, Nataza sudah dipindahkan ke ruang rawat dimana ruangan itu satu ruangan dengan Azam di ruang VIP, karna Ayah Tama yang meminta agar putra dan menantunya selalu bersama dan tetap aman dalam satu ruangan
Nataza begitu merindukan kedua putranya,tapi Bunda Ayu melarangnya karna dia masih sakit, dan anak-anak masih terlalu kecil jika harus datang kerumah sakit. Akhirnya Nataza mengalah, dan memilih untuk makan dan tidur jika dia mulai merasa bosan
"Mas?"panggil Nataza pada Azam yang sedang memainkan laptop dipangkuannya
"Kenapa sayang?"jawab Azam dengan menutup laptopnya lalu beralih menatap istrinya
"Aku bosen disini terus, keluar yuk? Atau sekalian aja pulang ya?"ajak Nataza dengan wajah yang cemberut lucu, membuat Azam gemas
"Kamu kan belum boleh kemana-mana dulu sayang, harus banyak istirahat. Kalo pulang, nanti tanyain ya ke Ayah, aku gak tau soal itu"balas Azam yang tau jika istrinya sudah merindukan kedua anak mereka, tapi mau bagaimana lagi
"Aaa...tapi aku bosen disini terus, hanya makan, tidur dan nonton tv. Bosennn....Masss..."rengek Nataza membuat Azam terkekeh melihat tingkah istrinya
"Ya nanti kita jalan-jalan ditaman ya?, tapi untuk sekarang, kamu harus isturahat. Tunggu Ayah sama Bunda kembali dari supermarket, baru boleh keluar"balas Azam dengan lembut
"Beneran kan?, gak bohong kan?"tanya Nataza menaikkan sebelah alisnya dengan mata menatap Azam curiga
"Iya sayang!!, janji gak bohong!. Nanti kita jalan-jalan deket sini aja, sama minta Ayah dan Bunda bawa anak-anak ketemu diluar"jawab Azam dengan menganggukan kepalanya sambil tersenyum
"Makasih banyak mas"ucap Nataza dengan memberikan kiss jauh kepada Azam
Tak lama datang Adam bersama Kirana dengan membawa sebuah buket bunga dan rantang, yang sudah pasti isinya makanan
"Gimana keadaan adik abang ini?"tanya Adam kepada Nataza yang menatap Adam tersenyum manis
"Alhamdulillah udah baikan kok Bang, nanti juga mau jalan-jalan sekitar taman sama mas Azam. Karna dokter masih belum izinin aku pulang"jawab Nataza dengan wajah kembali ditekuk
"Gak papa kok, yang penting bisa keluar dari ruangan ini, meskipun sebentar aja. Tapi masih beruntung bisa keluar ruangan"balas Adam
"Ouh iya, ini dari mertua Abang, buket bunga lavender khusus untuk kamu"lanjutnya dengan memberikan sebuket bunga lavender biru kepada adiknya
"Wahh...makasih banyak bang, sampaikan makasih aku sama tante Giana ya atas bunganya?, makasih banyak ya mba"ucap Nataza menatap Kirana yang sedang menempatkan makanan kedalam piring dan mangkok
"Sama-sama Za, nanti mba sampaikan ke Mamah, lagian itu Mamah yang belikan langsung, karna tadi gak sengaja katanya lewat toko bunga, trus inget kalo adiknya mas Adam sakit, maka dari itu Mamah beli bunga itu dititipin kekita. Maaf ya, Mamah belum bisa dateng, soalnya Mamah lagi ada urusan kantor"jelas Kirana
"Gak papa kok mba, datangnya mba kesini aja udah buat aku seneng, karna mba begitu mirip dengan tante Giana. Aku jadi merasa kalo tante ada disini, cuma bedanya tante tua kalo mba muda"balas Nataza dengan terkekeh dan mendapat sentilan dari Adam
"Heh..mulutnya ya..gak boleh gitu sayang, kamu ini kalo ngomong suka bener"jawab Adam membuat yang lain ikut tertawa
"Abang mau samperin Azam dulu, kasihan dia gak diajak bicara"ucap Adam dengan mencium dahi Nataza sebelum pergi
"Zam?. Lo tidur?"tanya Adam melihat Azam yang memejamkan matanya
"Gak kok bang, cuma memejamkan mata aja, mata aku tiba-tiba panas aja tadi"balas Azam yang langsung membuka matanya saat Adam memanggilnya dan duduk di ranjang
__ADS_1
"Lo gak sakit lagi kan?, atau perlu gue panggilin dokter?, Lo gak papa kan?, Atau lo nangis?"tanya Adam membuat Azam menggelengkan kepalanya
"Enggak bang, mungkin karna semalem kurang tidur aja, jadi mata aku panas. Tapi udah gak papa kok sekarang"jawab Azam dengan memperlihatkan matanya yang sedikit merah
"Mata lo agak merah, yakin gak papa?"tanya Adam lagi memastikan
"Gak papa Bang, ini udah gak panas kaya tadi kok"jawab Azam
"Ya udah kalo ada apa-apa panggil dokter, biar periksa keadaan lo"perintah Adam dan di angguki oleh Azam
setelah mereka makan siang bersama, Adam membawa Azam dan Nataza keluar dari rumah sakit menuju ketaman, mereka berhenti didepan kolam ikan. Azam menggenggam tangan Nataza dengan tersenyum menatap wajah cantik Nataza yang tengah tersenyum juga kepadanya
dari kejauhan, mereka bisa melihat jika Ayah Tama dan Bunda Ayu datang dengan mendorong kereta bayi Al dan El, tak lama mereka sampai dihadapan Nataza dan Azam. Azam langsung saja menggendong sang jagoan, Al yang tertawa ketika diangkat oleh Azam dan menatap wajah Papinya
"Kenapa sayang?, kangen ya sama Papi?, emm...Papi juga kangen sama Al"ucap Azam mengajak jagoannya berbicara dan Al hanya tertawa dan mengoceh, dengan tangan melambai-lambai sambil menyentuh wajah Azam
"Pipipii.."ucap Al, membuat Azam menatap Nataza dan yang lainnya
"Aku gak salah denger kan yang?"tanya Azam kepada Nataza yang terharu dengan air mata yang menetes
"Sekali lagi sayang?, sekali lagi panggil Papi"pinta Azam kepada Al dan anak itu hanya tertawa lalu menepuk wajah Azam
"Pip pi pi ii.."ucap Al lagi, membuat Azam menangis mendengar anaknya memanggilnya pertama kali menyebut kata Papi, meskipun hanya akhirannya saja. Tapi itu hal terindah dalam hidup Azam
****
7 tahun kemudian
Hari ini adalah dimana kedua anak Nataza dan Azam berulang tahun yang ke-7 tahun, mereka sudah masuk sekolah dasar dan menjadi anak yang hebat, terbukti dengan banyaknya piagam, mendali dan piala dari yang terkecil hingga terbesar mereka dapatkan. Diusia ke 7 tahun ini, mereka sudah mengikuti banyak perlombaan, dan yang begitu mereka tekuni adalah badminton untuk Alvano, sementara Elvina dia lebih banyak mendapatkan juara dibidang seni lukis
"Selamat ulang tahun cucu-cucu Oma. Emmhh...udah gede aja ya cucu-cucu Oma ini?"ucap Bunda Ayu memeluk dan mencium kedua cucunya, meski rambutnya banyak yang putih, namun kecatikannya tetap awet
"Makasih Oma"jawab keduanya lalu mencium Bunda Ayu dengan lama lalu beralih kepada Ayah Tama dan yang lainnya
"Ini hadiah dari Mami dan Papi buat kalian sayang. Selamat ulang tahun ya anak Mami, semoga panjang umur, jadi anak yang berbakti kepada orang tua dan menjadi anak yang sukses membanggakan kami semua dan negara kita ini. Love You sayangnya Mami"ucap Nataza dengan meneteskan air matanya dan langsung menghapusnya, dia tak ingin kedua anaknya melihat dia menangis
"Makasih Mami, Love You Too"jawab Al dan El lalu melepas pelukannya
"Mami nangis?"tanya Elvina kepada Nataza
"Enggak kok sayang, Mami hanya terharu aja"jawab Nataza dengan mengelus pipi Elvina
"Mami janji ya sama kita?, Mami gak boleh nangis dan gak boleh tinggalin kita, apapun yang terjadi Mami sama Papi akan selalu bersama sampai Allah yang memisahkan kita"ucap Alvano semakin membuat Nataza terharu
"Mami sama Papi janji gak akan ninggalin kalian, kita akan selalu ada untuk kalian sampai nanti waktunya tiba"balas Azam memeluk kedua anaknya dan Nataza
__ADS_1
"Bahagialah selalu kalian"gumam Ayah Tama menatap keluarga kecil anak-anaknya
"Mami?. Papi?"panggil Alvano yang melepas pelukannya tiba-tiba
"Kenapa nak?"jawab Azam
"Kado spesial buat kita mana?"tanya Alvano
"Kado spesial apa?, kan udah kado spesial dari kita buat kalian tadi"jawab Azam dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Alvano bingung
"Tapi kit.."ucapan Alvano terpotong saat kembarannya menyambar begitu saja
"Ihh...kita mau kado lain Papi, Mami"sambar Alvina
"Mau kado apa memangnya?, mau sepeda?, buku?,alat lukis?,raket? atau..."belum selesai bicara, mulut Azam sudah disumpal dengan cream oleh Elvina
"Hehe...maaf Papi!"ucap Elvina dengan menatap Azam yang geleng-geleng kepala
"Memangnya kalian mau apa dari Mami dan Papi kalian hmm?"tanya Adam kepada keponakannya yang begitu cerewet dan jahil
"Adik!!"seru keduanya membuat Nataza yang sedang meminum jusnya tersedak
Uhuk....Uhuk....Uhuk....
"Mami!!!"pekik keduanya melihat Nataza tersedak
"Kamu gak papa yang?"tanya Azam dengan mengusap punggung Nataza
"Aku gak papa Mas, cuma sedikit sakit aja tenggorokanku"jawab Nataza dengan tersenyum manis
"Mami ndak papa?"tanya Alvano menatap Nataza dengan mata berkaca-kaca, ya kelemahan Alvano adalah Mami dan kembarannya
"Mami gak papa sayang, Mami hanya tersedak saja. Tapi gak papa kok, gak usah nangis ya?"balas Nataza dengan mengusap wajah Alvano yang sudah ada jejak air mata
"Mereka mau adik Za?"ledek Adam
"Iya Mami, kami mau punya adik kaya Fiana, tante Kirana juga lagi hamil adek Fiana, kami kapan Mami?, kami juga mau adik seperti Fiana"jawab Elvina dengan semangat
"Emm... itu...itu nanti ya sayang. Mami..."ucapan Nataza terpotong saat Azam angkat bicara
"Pasti sayang, pasti kalian punya adik. Tapi nanti ya, bukan sekarang. Kalo sekarang belum jadi adeknya"balas Azam membuat wajah Nataza panas seketika
" Bener ya Mami, Papi, kami mau adik"ucap keduanya dan di angguki oleh Azam
"Iya sayang, pasti"jawab Azam dengan mengedipkan sebelah matanya kepada Nataza yang memalingkan wajahnya karna malu
__ADS_1