
Azam membawa beberapa anak buahnya untuk mengurung Debora di dalam markas miliknya disana sudah ada Ayah Tama,Brian dan Bayu untuk mengawasi Debora jika sampai kabur atau bahkan melakukan hal yang akan membahayakan dan merugikan mereka
"Zam, Kita apakan perempuan ini?"tanya Brian yang sudah sangat kesal dengan sifat Debora
"Kita akan selidiki siapa Ayah dari bayi yang dikandungnya"jawab Azam dengan menatap Debora yang pingsan
"Baiklah,itu akan aku urus. Tapi Zam,apa tak bisa kita menyogoknya dengan sesuatu, diakan penggila uang dan harta,pasti dia akan mau mengakui jika kita menyogoknya dengan sesuatu"ucap Brian memberikan idenya
"Gak jangan gunakan barang atau apapun kepadanya,dia tak akan pernah mau jujur meskipun dengan uang atau harta apapun, yang dia mau hanya cinta dari seseorang, dia tak pernah mendapatkan itu dari kedua orang tuanya bahkan dari kekasihnya sekalipun"jawab Azam dengan senyum smirk yang menghiasi wajah tampannya
"Lalu kita harus apa?, apa lebih baik kita bawa saja kekasihnya kemari dan paksa dia mengakui dengan pancingan calon anaknya"ucap Brian dengan mengetuk jarinya di dagu seolah berpikir
"Apa tidak berbahaya Brian?, calon bayi itu tak berdosa dan tak bersalah dalam hal apapun,dia suci apa kita akan menggunakan dia sebagai alat. Jika Debora nekat bagaimana?"tanya Bayu yang sama bingungnya
"Tidak!. Aku setuju dengan ide Brian,kita pancing kekasihnya untuk kemari dan kita gunakan jabang bayi itu sebagai kuncinya, Dan kalian jaga dan awasi perempuan ini jangan sampai dia lolos apalagi menyakiti bayinya. Dan kau Alex, panggil dokter Kiana dan Praja untuk kemari membantu kita mengecek kandungan dan tes DNA, jika benar ini anak kekasihnya maka kita nikahkan mereka dan kirim keluar negeri dan hapus akses kembali lagi ke indonesia. Tapi, jika bayi ini anak dari pria lain, maka kita hanya mengirimnya keluar negeri untuk selamanya, dan pastikan dia tak kembali lagi kesini"jelas Azam dengan tegas dan serius membuat yang ada disana menunduk takut kecuali Ayahnya dan kedua sahabatnya
"Baiklah, kita akan melakukan semuanya besok,sekarang kembalilah kerumah. Kalian tetap jaga dia jangan sampai melarikan diri ataupun menipu kalian,jika kenapa-kenapa dengan janinnya kalian bawa saja ke ruang pengobatan akan ada dokter Kinanti yang aku minta bertugas disini selama perempuan ini disini"ucap Azam dengan sedikit berbisik dia tau jika Debora sudah bangun dari pingsannya
"Baik Tuan Muda"jawab semuanya dengan serempak
Azam dan yang lainnya pergi kerumah masing-masing, Ayah Tama,Azam, Irfan dan juga Galih dalam satu mobil dan pulang kerumah utama, dan mereka berpisah dengan Bayu dan Brian di pertigaan jalan. Sampainya di rumah mereka masuk ke kamar mereka dan Azam dia memilih untuk ke dapur mengambil segelas minum
"Ada yang bisa kami bantu Tuan Muda?"tanya bi Ani yang baru selesai mencuci piring dan baru sadar jika Azam ada didapur
__ADS_1
"Tidak Bi,aku hanya mengambil air saja. Ouh ya, Apa Aza sudah tidur?"tanya Azam dengan meletakkan gelas di meja dapur
"Sepertinya sudah tuan,sejak Tuan tadi pergi Nona langsung masuk kekamarnya dan keluar hanya makan malam,setelah itu tidak keluar lagi"jawab Bibi Ani dengan menundukkan kepalanya
"Ah begitu ya, ya sidah terimakasih bi,saya mau kekamar dulu. Selamat malam Bi"ucap Azam lalu pergi ke kamarnya
"Selamat malam kembali Tuan Muda"jawab Bibi Ani lalu kembali ke kamarnya
Azam masuk kedalam kamarnya, dia tak melihat istrinya di atas ranjang, Dimana Nataza?,batin Azam lalu melangkah ke lemari mengambil bajunya untuk dibawa ke kamar mandi. Saat membuka kamar mandi betapa terkejutnya dia ketika melihat Nataza sedang meringis sakit memegangi perutnya dengan air yang mengalir dari kewanitaannya
"Sayang!!"pekik Azam langsung menggendong Nataza dan membawanya ke rumah sakit
"Sakit...m-mas.."rintih Nataza dengan mencengkeran dan mencakar tangan Azam serta lengannya yang hanya menggunakan lengan pendek hingga membuat darah mengalir di tangannya
"S-sakit banget mas!!, Akhh..."pekik Nataza merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawahnya
"Irfan cepat!!!"ucap Azam kepada Irfan
"Sebentar lagi sampai bang, Abang tenang ya, didepan macet jadi kita gak bisa ngebut dan kasihan kak Aza kalo kita ngebut"ucap Irfan dan tak dipedulikan oleh Azam
Azam dengan telaten mengusap perut Nataza dan juga sesekali dia membaca dzikir dan sholawat untuk menenangkan anaknya didalam dan Azam membisikkan beberapa kata kepada Nataza supaya istrinya tenang
"Anak-anak Papi, tenang ya nak ya. Jangan buat Mami sakit nak, Papi tau kalian tak sadar untuk melihat dunia ini, kalian ingin bertemu dengan orang-orang yang sayang sama kalian. Tapi Papi minta jangan bikin Mami sakit ya nak,sabar ya sayang ya,sebentar lagi kita akan sampai kok"bisik Azam di perut Nataza mengajak anak-anaknya berbicara,dan nyatanya itu berhasil karna tendangan dan sakit di perut Nataza perlahan menghilang
__ADS_1
10 menit perjalanan,Akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Azam langsung saja menggendong dan membawanya ke ruang bersalin menemui dokter Kiana untuk memeriksa Nataza. Dokter Kiana memberi kabar jika pembuaan baru 9 dan masih kirang 1 pembukaan lagi, Azam tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Nataza dan dia selalu membacakan sholawat,dzikir dan juga kata-kata untuk istri dan anaknya
setelah 1 jam lamanya, akhirnya pembuaan lengkap dan sekarang saatnya Nataza untuk melahirkan anak kembarnya. Nataza mengerahkan seluruh tenaganya untuk melahirkan anak pertamanya, dan Azam yang menjadi korbannya dengan rambut yang sudah berantakan,lengan yang sudah penuh cakaran dan sedikit membiru akibat cakaran Nataza.
"Arrggghhh..."teriak Nataza untuk mengelurkan anak pertamanya dan akhirnya anaknya lahir dengan selamat
"Selamat ya Tuan,Nyonya anak pertama kalian berjenis kelamin laki-laki, tampan sekali anak kalia"ucap Dokter Kiana dan menyerahkan bayi merah itu kepada suster untuk dibersihkan
"Mas...s-sakit!!"ringis Nataza dengan menggenggam tangan Azam dengan kuat,dan Azam tak perdulikan itu
"Sisa satu bayi lagi Nona,anda yakin masih sanggup?"tanya Dokter Kiana dan Nataza mengganggukan kepalanya sebagai jawaban
"Baiklah, kita mulai sekarang"ucap Dokter Kiana
"Ayo sayang, kamu bisa, kamu kuat, kamu hebat untuk melahirkan anak-anak kita"ucap Azam lalu mengecup kepala Nataza dan Nataza memejamkan matanya merasakan cinta dan kasih sayang dari Azam
"Ayo Nona,sekali lagi"ucap dokter Kiana kembali
"Aaaarrgghhh...."teriak Nataza dengan mencengekeram kuat sisi ranjang dan tangan Azam yang sudah berdarah akibat kuku Nataza yang menancab
"Oeekk...Oeek"tangis bayi perempuan menggema dan begitu melengking diseisi ruangan Nataza
"Makasih sayang, makasih karna udah berjuang untuk anak kita, makasih udah lahirin mereka. I Love You sayang. Makasih untuk semuanya"bisik Azam dan mengecup bibir Nataza dengan lembut
__ADS_1