Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 46


__ADS_3

Setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya pemeriksaan Elina selesai, disana sudah ada keluarga Alvano bahkan Elvina dan kedua orang tuanya yang masih ada pertemuan dengan calon mertuanya harus pergi kerumah sakit saat tau Elina masuk rumah sakit.


"Kak Al, gimana kak Elina?"tanya Elvina yang baru saja dari kamar mandi bersama Rania, mereka tidak tau jika pemeriksaan telah selesai.


"Dia tidak apa-apa, hanya tadi dokter kembali mengingatkan agar Elina tak terlalu terbebani dengan ingatan masa lalunya, itu akan semakin membuat kepalanya sakit bahkan pingsan seperti tadi"jawab Alvano tanpa menatap adiknya, tatapannya tetap menatap kearah Elina yang belum sadarkan diri.


"Kak. 2 hari lagi adalah pernikahan Elvi dan Dimas, Elvi berharap kak El bisa dateng ke nikahan Elvi besok, tapi apakah boleh Elvi berharap lagi kalo kak El bisa ingat sama Elvi?"tanya Elvina dengan nada sendunya.


"Berdoa terus ya sama Allah, semoga Elina bisa segera mengingat semuanya"ucap Alvano menatap adiknya yang tengah tersenyum dengan tangan mengusap punggung tangan Elvina yang menggenggam tangan Elina.


"Amin, pasti kak"jawab Elvina lalu menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh begitu saja.


"Ck. Jangan nangis dong, masa nangis sih? nanti kalo Elina bangun kakak yang kena omel sama Elina nanti"celetuk Alvano membuat Elina terkekeh lalu menghapus air matanya yang kembali jatuh.


"El gak nangis kok. Kan El wonder women"jawab Elvina lalu tertawa bersama Alvano yang ikut tertawa pelan agar tak mengganngu Elina.


Elvina keluar dari ruangan Elina, dia menghampiri Dimas yang tengah duduk dibangku depan ruangan Elina dengan memainkan ponselnya dengan wajah terlihat sangat serius. Dimas yang menyadari kehadiran calon istrinya segera mematikan ponselnya dan menyimpannya disaku jas-nya, dia meminta Elvina untuk duduk disampingnya dan langsung dituruti oleh Elvina yang menyandarkan kepalanya dibahu Dimas.


"Kamu kenapa sayang? bukannya tadi masuk masih ada senyum dibibir, tapi pas keluar kok senyumnya hilang sih? ada masalah didalam?"tanya Dimas lembut sambil mengusap lengan Elvina dipelukannya sementara tangan sebelahnya dia gunakan untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah manis Elvina.


"Aku sedih. Kenapa kak El harus lupa sama aku? kapan kak Elina akan ingat aku?. Aku kangen babe, aku kangen sama kak El, kangen masa-masa dimana kita selalu bareng, main, jalan-jalan, cerita-cerita, ngerjain kak Al, bikin nangis Lala dan Ai, aku kangen sama ocehan dia, kangen nasehat dari dia. Aku kangen semua dari kak El, aku berharap dihari pernikahan kita kak El udah ingat sama aku dan aku juga berharap kak El dateng kepernikahan kita"jawab Elvina menceritakan apa yang dia rasakan pada Dimas.


"Boleh lihat aku gak?"tanya Dimas membuat Elvina mendongak menatapnya dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Kak El ngalamin semua itu karna takdir sayangku. Kak El sedang menjalani cobaan dari Allah yang pasti bisa kak El lalui dengan mudah, pernah dengar kan kalo Allah gak akan memberikan hambanya ujian yang melebihi kemampuan hamba itu sendiri. Kak Elina kan kuat dan dia wanita hebat, selama ini banyak masalah dia lalui dan dia bisa menghadapinya dengan mudah. Jadi kamu harus yakin, kali ini kak Elina bisa menghadapi ujian ini dengan mudah dan dia pasti akan segera mengingat semuanya dengan cepat, termasuk mengingat kamu sebagai adik ipar kesayangannya"jelas Dimas dengan lembut, senyuman manis serta tulus Dimas berikan untuk Elvina.


"Percaya sama kak El, dia pasti bisa sembuh dan ingat semuanya. Ini kan baru satu bulan dan kak Elina udah ingat siapa saja keluarga kandungnya, siapa tau minggu ini kak Elina ingat sama kak Al dan minggu selanjutnya adalah kamu"lanjut Dimas dengan mengusap pipi Elvina merah, karna setelah dia menangis pasti pipi dan hidungnya akan merah seperti terkena flu.


"Beneran kan? kak Elina akan ingat aku kan?"tanya Elvina penuh harap.


"Beneran sayang. Pasti kak Elina akan ingat sama kamu dan semuanya"jawab Dimas dengan yakin lalu mendapatkan pelukan dadakan dari Elvina membuat Dimas membeku, pertama kalinya Elvina mau memeluknya, selama ini dialah yang memeluk Elvina sementara Elvina selalu menahan dirinya untuk memeluk Dimas.


****


kelopak mata Elina perlahan terbuka, dia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya matahari yang masuk kematanya, dia melihat ruangan putih dengan bau obat-obatan yang menyengat digiringnya. Dirumah sakit?..kenapa dia ada disana?.


ingatan Elina kembali berputar dimana saat dia bertemu dengan Rania dan dia mengingat semua tentang Alvano. Alvano? ya Alvano, kemana dia? kenapa dia sendirian diruangan ini?.


tak lama pintu ruangan Elina terbuka memperlihatkan seorang pria datang dengan membawa kantong kresek, entah apa isinya yang pasti kantong tersebut berukuran besar. Alvano menyadari jika Elina sudah membuka matanya, dengan segera dia menekan tombol diatas ranjang Elina untuk memanggil dokter.


dokter datang untuk memeriksa Elina, setelah menunggu pemeriksaan, akhirnya dokter keluar dan mengatakan jika kondisi Elina sudah baik-baik saja dan malam ini dia sudah dibolehkan untuk pulang membuat Alvano mengucapkan syukur pada Allah beberapa kali.


Alvano masuk kedalam ruangan Elina, diikuti oleh adik-adiknya yang langsung duduk disofa tunggu didalam ruangan tersebut. Jika kalian bertanya kemana perginya para tetua, mereka sudah pulang terlebih dahulu karna berhubung ini sudah sore, dan mereka pulang untuk membersihkan diri setelah pulang dari rumah Dimas untuk Azam dan Nataza, sementara luar kota untuk Ayah Tama dan Bunda.

__ADS_1


"Ay"panggil Alvano lalu mengecup dahi Elina lembut dengan tangan mengusap kepala Elina, sementara Elina memejamkan matanya meresapi rasa cinta dan sayang yang begitu besar untuknya dari Alvano.


Alvano melepaskan bibirnya dari dahi Elina, namun tangannya masih asik dikepala Elina, mengusapnya pelan dan lembut menimbulkan rasa nyaman dihati Elina.


"Mas.. aku.. aku udah ingat semua tentang kamu, ya semua tentang kamu"ucapan Elina dengan wajah berbinar membuat Alvano menghentikan usapan dikepala Elina.


"I-ni serius? k-kamu gak bercanda kan?"tanya Alvano dengan ekspresi susah diartikan, sementara Elina tersenyum bahagia bisa mengingat suaminya kembali.


"Serius mas. Tapi aku belum ingat semua orang, baru kamu doang"jawab Elina dengan nada sendu dikakinya terakhir.


tanpa diduga, Alvano langsung memeluknya erat, bahkan menangis dileher Elina menahan tangis bahagianya supaya tak terdengar siapun. Semua yang melihat Alvano memeluk Elina dengan bahu bergetar penasaran, mereka segera menghampiri kakaknya dan menyadari jika Alvano tengah menangis dengan suara sesegukan yang terdengar jelas.


"Kak Al kenapa? kok nangis sih?"tanya Nasyla dengan wajah polosnya membuat Alvano menghapus air matanya dengan cepat lalu melepas pelukannya.


"Ekhem.. jadi kak El.. "belum selesai Alvano berucap, Nasyla sudah menyambar lebih dulu.


"Kak El gak apa-apa kan? dedek bayinya gak apa-apa kan? ada yang sakit? atau kepala kakak pusing? Lala panggilin dokter ya?"tanya Nasyla memberondong membuat Alvano menghela nafasnya kesal.


"Hufh... Lala... Bisa diem dulu gak dek?, kak Al belum selesai ngomongnya,jangan dipotong dulu, gak baik"ucap Aiden kesal dengan sikap adeknya yang selalu kepo dan cerewet.


"Maaf kak"jawab Nasyla menunduk sambil meremas jaketnya, menahan tawanya melihat wajah kesal Aiden.


"Ai, tetap tersenyum meski kesal oke, gak boleh cemberut gitu. Gantengnya ilang nanti"cicit Rania menatap wajah kesal Aiden yang perlahan memudar, hanya tersenyum menahan kesal.


"Kakak bahagia karna kak Elina udah ingat kakak, semuanya tentang kakak"jawab Alvano bahagia dengan menggenggam tangan Elina lalu mengecupnya lembut.


"Aaaa... serius?!! Alhamdilillah ya Allah"sorak Elvina bahagia lalu memeluk Elina erat.


"Heh!..lepas.. lepas. Kakak ipar kamu sesak nafas nanti"omel Alvano dengan wajah garangnya, sementara Elvina hanya mendengus kesal dengan melepas pelukkannya pada Elina yang hanya terkekeh.


"Kak Al pelit"sengut Elvina dengan menjulurkan lidahnya pada Alvano.


"Bodo amat"jawab Alvano tanpa melirik Elvina, namun tangannya mencibit pelan tangan adiknya.


"Aw.. sakit kak Al. Kak El, kak Al jahat. Babe, kak Al nyakitin aku"adu Elvina pada Elina dan Dimas yang hanya tertawa kecil lalu Dimas menarik Elvina kepelukannya, belum sampai Elvina kepelukannya suara Alvano membuatnya mengurungkan niat mereka untuk berpelukan.


"Jangan sentuh-sentuh adek gue sebelum sah. Kalo sampai lo sentuh adek gue, gue cabut restu restu gue untuk pernikahan kalian besok"ancam Alvano dengan memendelikkan matanya menatap Elvina dan Dimas bergantian.


"Kak Al serem kalo lagi marah, kaya anjing ngamuk"bisik Nasyla pada Aiden yang mengangguk mengiyakan ucapan Nasyla. Bukan bisik sebenarnya, lebih tepat dibilang bergumam karna orang lain dapat mendengarnya meski. pelan.


"Bener banget. Tapi lebih persis kaya gorila"balas Aiden dengan berbisik pula, namun dapat didengar oleh Alvano karna mereka berdiri tepat dibelakang Alvano.


"Ngomong apa kalian berdua? kakak dengar ya kalian ngomongin kakak"ucap Alvano dengan mata tajamnya menatap kearah adik tengah dan bungsunya yang melebarkan matanya terkejut, sementara yang lain terkekeh melihatnya.

__ADS_1


"Gak. Kita gak ngomong apa-apa kok, ya kan kak Ai?"jawab Nasyla dengan bertanya pada Aiden mencari perlindungan.


"I-iya, kita gak ngomongin kakak kok. Kita cuma ngomong kalo nanti anak kak Al bakal kaya kak Elina"jawab Aiden asal dan disetujui oleh Nasyla.


"Iya itu.. kita ngomongin anak kakak kalo perempuan akan cantik kaya kak Elina dan kalo laki-laki kaya kak Al gantengnya"saut Nasyla mencari alasan yang lebih masuk akal.


"Kakak dengar ya kalo kalian ngatain kak Al serem kaya gorila"ucap Alvano dengan wajah kesalnya, mendengar ucapan Alvano semua yang disana tertawa kecuali Nasyla dan Aiden yang hanya menggaruk tengkuknya tak gatal.


"Hehe.. tau aja kak Al"jawab Nasyla cengengesan lalu menutup mulutnya keceplosan.


"Mampus"gumam Aiden lalu perlahan mundur menjauh dari hadapan Alvano.


"Mau kemana hmm?"tanya Alvano membuat Aiden merinding mendengarnya.


"Emm.. itu.. apa.."jawab Aiden gugup karna tudung hoodienya ditarik oleh Alvano sementara kerah baju milik Nasyla yang jadi korban hingga keduanya tak bisa kabur.


"Itu apa? kalo ngomong yang jelas dong, bikin kakak penasaran tau. Ngomong lagi ya, kakak pengin dengar"pinta Alvano membuat keduanya mati kutu,


"Oke, kalo kalian gak mau jawab. Kakak kasih hukuman buat kalian berdua"ucap Alvano memasang wajah tegas menunjukkan jika dia tak main-main.


"Please kak! jangan dihukum ya?..please. Kak El tolong"rengek Nasyla meminta pertolongan pada kakak iparnya.


"No. Gak akan ada yang bisa bantu kalian dalam menjalani hukuman ini, kalo sampai kakak tau mereka nanti bantu kalian, maka hukuman kalian akan bertambah. Kakak gak main-main ya, kakak gak suka adik kakak ngatain orang lain bahkan menyamakan orang tersebut dengan hewan. Kalian kira itu baik? enggak!. Ini masih kakak yang kalian katain seperti itu, dan kakak aja gak terima sehingga berakhir kalian dihukum dengan ringan, Gimana kalo orang itu orang lain yang mudah tersinggung, dia akan membalas kalian bukan dengan hukuman, melainkan cara lain yang mungkin mengancam nyawa kalian. Jadi hukuman kalian akan dilaksanakan mulai besok pagi"jelas Alvano tegas tak main-main dengan ucapannya, meski terlihat tenang diluar namun dia menahan marah dan tak ada niat membentak adik-adiknya , bahkan tatapan matanya yang tajam mampu menusuh kerelung hati Aiden dan Nasyla sehingga keduanya menunduk takut.


"Maaf kak Al"ucap keduanya tanpa berani menatap Alvano yang telah melepas genggamannya pada tudung hoodie Aiden dan kerah kemeja Nasyla dengan menghela nafasnya pelan merasakan usapan dikepalanya dari Elina.


"Kakak maafin kalian, tapi hukuman tetap hukuman. Hukuman kalian mulai besok sampai 1 bulan kedepan adalah, kalian tidak boleh menggunakan fasilitas yang kakak kasih termasuk ATM dan yang kedua, kalian akan tinggal dirumah kakak selama 1 bulan itu menjaga kak Elina dan kalian jangan senang dulu karna kalian masih kakak awasi menggunakan CCTV yang tersambung diponsel kakak. Awas aja kalo kalian kabur kerumah Papi, akan kakak ambil semua fasilitas yang Papi, Mami dan Elvi kasih kekalian. Ingat itu"jelas Alvano membuat keduanya lemas membayangkan jika mereka tak punya apapun jika semuanya dicabut oleh Alvano


"Mas, emang gak terlalu berlebihan hukumannya sampai cabut semua fasilitas mereka yang kamu kasih?"tanya Elina tak tega dengan kedua adik iparnya.


"Enggak, mas lakukan itu agar mereka jera dan gak akan mengulangi apa yang baru aja mereka ucapkan. Ucapan mereka itu bisa membuat orang lain sakit hati. Apalagi jika orang itu pendendam, itu akan berbahaya untuk mereka, mas cuma gak mau mereka terserat dalam masalah yang berujung merugikan mereka sendiri"jawab Alvano lalu duduk dibangku samping ranjang Elina.


"Kalian pulanglah, ini sudah hampir petang dan kalian perlu bersih-bersih lalu sholat maghrib dirumah baru kesini jemput kami"lanjut Alvano dengan tangan mengusap perut buncit Elina.


"Baiklah kak, kami pamit. Assalamualaikum"salam mereka menyalami Alvano dan Elina.


Aiden dan Nasyla sempat melirik kearah Alvano yang tak menatapnya sama sekali, jujur ada rasa bersalah begitu besar dihati mereka karna telah mengatai kakaknya seperti tadi.


"Waalaikumsalam"jawab Alvano dan Elina, hanya Elina yang tersenyum pada Aiden dan Nasyla, tidak dengan Alvano. Ia menampilkan ekspresi kaku dan dingin didepan kedua adiknya.


"Istighfar mas biar tenang atau sholat sekalian biar lebih tenang, pumpung udah adzan magrib itu"ucap Elina diangguki oleh Alvano lalu berdiri berjalan begitu saja tanpa sepatah katapun setelah mengecup dahi Elina.


"Aku tau mas, kamu bukan kesal sama adik-adik kamu tapi kamu udah ada dilevel kecewa sama mereka. Karna bukan hanya sekali ini aja, mereka udah pernah ngatain kamu dan ini yang ketiga kalinya, tapi kamu dulu masih diam dan terlalu sabar menerima ucapan mereka, baru kali ini kamu bertindak dengan tegas pada mereka meski kamu harus menahan rasa marah kamu dan tetap berbicara tenang didepan mereka. Aku salut sama kamu"gumam Elina menatap punggung Alvano yang menghilang dibalik pintu kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2