Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 20


__ADS_3

Semuanya kembali ke rumah kecuali Alvano dan Elina, malam ini mereka akan menginap di hotel milik keluarga Aditama sesuai ucapan Alvano tadi sebelum berangkat. Sesuai janji Elina pada Alvano kemarin jika dia akan menyerahkan apa yang seharusnya sudah menjadi hak Alvano, yang seharusnya mereka sudah lakukan tapi justru selalu terhalang akan sesuatu


gugup, takut, dan cemas itulah yang Elina rasakan kini, baru saja dia dan Alvano memasuki kamar mereka dilantai teratas khusus memang untuk pemilik hingga pewaris hotel. Kini Elina duduk ditepi ranjang dengan meremas tangannya sendiri untuk menghilangkan rasa cemasnya, sementara Alvano dia sedang ada dikamar mandi membersihkan dirinya


Tak lama Alvano keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya hingga kebawah, dia berjalan kearah koper untuk mengambil bajunya dan memakainya. Selesai memakai bajunya dia melangkah mendekati Elina yang terlihat melamun menatap cermin didepannya dengan tangan yang diremas terlihat gelisah


"Ay!"panggil Alvano dengan mengusap pipi Elina dan ternyata dia sudah bersimpuh dihadapan Elina sambil tersenyum


"Ah.. iya kenapa?"tanya Elina terkejut dan memundurkan wajahnya dari Alvano membuat Alvano mengernyit


"Harusnya aku yang tanya sama kamu, kamu kenapa?, ada masalah?"tanya Alvano dengan mata menatap intens bola mata Elina yang terlihat gelisah


"Gak. Gak papa, cuma aku belum mandi agak gerah aja. Aku mandi dulu"jawab Elina dan melangkah menuju kamar mandi


"Ya udah gih mandi, aku tunggu disini ya"ucap Alvano membuat bulu kuduk Elina berdiri seketika saat mengatakan 'tunggu', sepertinya Alvano tak sabar menanti malam panjangnya. Ya Alvano sudah lama menahan sabar untuk tidak memaksa Elina memberikan haknya, jika dipaksapun Alvano yang bersalah justru akan menyakiti Elina nantinya, Alvano tidak ingin itu terjadi


"He'em"balas Elina dengan mengangguk lalu melangkah menuju kamar mandi menggunakan dressnya


Alvano menatap punggung Elina yang menghilang dibalik pintu hanya menggelengkan kepalanya, melihat Elina yang gelisah dan takut membuatnya jadi berpikir kembali untuk mengambil haknya, tapi mau bagaimanapun itu sudah menjadi haknya dan Elina wajib menuruti dan menyerahkan miliknya yang berharga pada Alvano, suaminya


Didalam kamar mandi, Elina sedang kesusahan untuk membuka dressnya yang tiba-tiba tidak bisa dibuka, padahal tadi saat memakainya itu sangat mudah, tapi sekarang justru harus kesusahan membukanya, terpaksa bukan jika dia harus meminta bantuan Alvano, tapi... ah biarlah lebih baik meminta bantuan Alvano dari pada kesusahan sendiri


"Emm.. Ay!"panggil Elina gugup dan Alvano langsung menoleh keasal suara dan melihat Elina yang menyembuhkan kepalanya


"Kenapa?, udah selesai mandinya?"tanya Alvano dengan menghampiri Elina dan berdiri didepan pintu kamar mandi


"Emm.. belum. Tapi... boleh minta tolong gak?"tanya Elina dengan menundukkan kepalanya


"Tentu aja boleh, ada apa?"jawab Alvano sambil bertanya


"Emm.. masuk gih"pinta Elina dengan membuka pintu kamar mandi membuat Alvano membelalak


"I-ini serius aku masuk?"tanya Alvano membuat Elina mengangguk


"Ini Elina beneran ngajak gue masuk ke kamar mandi, dia mau ngajak main dikamar mandi?, yang bener aja dikamar mandi, kurang enak dong masa pertama kali main harus dikamar mandi"batin Alvano dengan menatap Elina tak berkedip


"Oke"jawab Alvano dan masuk ke kamar mandi. Didalam, Alvano melihat Elina yang memunggunginya membuatnya mengernyit bingung harus berbuat apa


"Tolong lepasin ritsleting dressnya boleh?"tanya Elina dengan menahan senyum malunya, bahkan kini wajahnya sudah bersemu merah dan panas


"Oke"balas Alvano dan tangannya terulur menyentuh dress Elina dan mulai menurunkan ritsleting dressnya secara perlahan


Alvano hanya menahan nafasnya dan juga berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak dengan kencang sekarang saat melihat punggung mulus Elina, jujur dia ingin sekali menghirup aroma tubuh Elina dalam-dalam bahkan kalau bisa meninggalkan jejak dipunggung putih mulus tersebut, sial! juniornya mulai menegang dan mengeras sekarang hanya melihat penggung Elina


"U-udah mas?"tanya Elina dengan memiringkan wajahnya melihat Alvano yang memejamkan mata dan jalannya terus naik turun


"Ah.. iya udah"balas Alvano terkejut dan langsung melepas tangannya dari dress Elina, wajahnya sudah berubah saat melihat belahan dada istrinya terlihat sekarang


"Aku keluar dulu ya, jangan terlalu lama mandinya udah malem"lanjutnya lalu pergi dari sana. Elina yang melihat Alvano pergi hanya bisa menghela nafasnya lega tapi jantungnya masih berdetak tak karuan


Elina keluar dari kamar mandi setelah 10 menit dia didalam, dia keluar hanya mengenakan baju handuknya dan handuk kecil untuk menggosok rambutnya yang basah. Elina melangkah menuju meja rias dan duduk disana, dia tak sadar jika Alvano sedang menatapnya sambil menelan salivanya kembali


"Mas"panggil Elina yang berdiri dihadapan Alvano yang menatapnya tak berkedip

__ADS_1


"Hemm.., kenapa?"tanya Alvano menatap wajah Elina yang merona


"Udah siap... Emm.. maksud aku..."belum sempat selesai bicara, Alvano sudah memotong ucapannya dengan telunjuk mengusap bibir manisnya


"Udah siap kan?, mau mulai sekarang?"tanya Alvano dengan suara seraknya menahan hasratnya, sementara Elina hanya mengangguk sebagai jawaban


"Oke, kita mulai sekarang honey"bisik Alvano dan perlahan bibirnya mengecup setiap inci wajah Elina hingga berakhir pada bibir soft pink istrinya


Alvano bukan hanya mengecup melainkan semakin memperdalam ciumannya dengan tangan menarik tengkuk Elina, perlahan bibirnya turun kelepet jenjang istrinya menghirup rakus aroma lavender kesukaan istrinya yang begitu menenangkan, dan meninggalkan tanda disana


tangan Alvano tak akan diam saja, tangannya bergerak turun melepas tali baju handuk istrinya dan membuangnya kesembarang arah,setelah lepas tangan Alvano mengusap perut rata istrinya membuat Elina menggeliet tak nyaman. Hingga tangan Alvano naik kebelakang melepas sesuatu disana


setelah lepas tangan Alvano maju kedepan untuk meremas sesuatu yang lembut dan kenyal, membuat Elina mengeluarkan suara erotisnya yang membuat Alvano semakin tidak tahan dan semangat melakukannya


Alvano menuntun Elina menuju ranjang dan merebahkannya disana, Alvano melepas kancing kemejanya dan melemparnya setelah terlepas, dia kembali mencium bibir Elina dan memperdalam ciumannya dengan tangannya yang terus aktif bermain disana membuat Elina tak bisa diam, bahkan menggigit bibirnya karna tak tahan


"Jangan digigit sayang, lepaskan saja"ucap Alvano dengan suara seraknya dan nafas yang tersengal-sengal, tangannya masih terus aktif meremas dan memijit milik Elina


"Ohh... masshh.."lenguh Elina saat tangan Alvano mencubit pucuk dadanya


"Kenapa?"tanya Alvano dengan mengecup leher Elina dan menghisap disana


"Emmhh.. will you continue to play there dear?"tanya Elina dengan memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya


"No honey, the game will still continue. I won't stop here"balas Alvano dan mulai menurunkan ciumannya keperut rata Elina


permainan Alvano terus berlanjut dan sampai pada intinya dia merasa bersalah saat melihat Elina yang meringis sakit, bahkan menggigit pundaknya untuk melampiaskan rasa sakitnya, Alvano langsung mencium bibir istrinya memberikan ketenangan membuat Elina sedikit tenang dan nyaman dan Alvano baru melanjutkan aksinya kembali


"Maaf honey, aku sudah menyakiti kamu"bisik Alvano merasa bersalah dengan dia diam kembali saat Elina meringis


malam ini menjadi saksi permainan panas mereka, hingga mereka permainan mereka berakhir dan Alvano melepas miliknya dan melempar tubuhnya disamping Elina lalu memeluk tubuh mungil istrinya


"Terimakasih sayang"bisik Alvano hanya dibalas anggukan oleh Elina


tangan Alvano terus mengelus perut rata Elina dengan sang empu sudah tertidur lelap dipelukkannya, Alvano hanya berharap jika diperut istrinya akan segera hadir malaikat kecil untuk melengkapi hidup mereka


"Cepat hadir ya nak diperut Bunda, kami semua mengharapkan kehadiran kamu termasuk Ayah dan Bunda yang tak sabar menantikanmu untuk memelukmu, menggendongmu dan mengajakmu bermain bersama kami. love you anak Ayah dan Bunda"bisik Alvano didepan perut Elina dan mengecupnya lama lalu Alvano memeluk Elina kembali dan ikut menuju alam mimpi


****


Pagi harinya


Elina mengerjapkan matanya saat cahaya matahari mengusik tidurnya, Elina membuka matanya dan melihat dada bidang seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah dada bidang suaminya, melihat dada bidang tersebut membuat Elina mengingat kejadian semalam yang membuat pipinya memerah dan panas


"Astaga El!, kenapa kau malah jadi mesum seperti ini sih. Kenapa harus mengingat milik suamimu yang panjang dan.. Eh.. astaga!!, malunya dirimu kalo sampai suamimu tau jika kau mengagumi miliknya yang membuatku ketagihan. Gila kau El.. gila.. " batin Elina sambil memukul pelan kepalanya yang memikirkan hal mesum


"Jangan dipukul honey, kau akan kesakitan nanti"ucap Alvano dengan suara khas bangun tidur


"Ka-kapan mas bangun?"tanya Elina gugup, sementara Alvano hanya menyunggingkan senyumnya lalu membuka matanya menatap Elina yang sedang menatapnya


"Udah dari tadi sih sebenarnya sebelum kamu buka mata. Tapi aku masih butuh kehangatan jadi aku tidur lagi deh"balas Alvano membuat Elina malu, pasti dia ketahuan jika sedang blussing memikirkan kejadian semalam


"Aku tau kamu tadi blussing karna keingat kejadian semalam bukan?, mau diulangi lagi hmm?"tanya Alvano dengan menaik turunkan alisnya

__ADS_1


"Gak, punyaku masih perih mas"balas Elina menyembunyikan wajahnya dileher Alvano, jujur dia malu mengatakannya


"Oke honey, aku gak akan maksa kamu kok. Maaf ya udah bikin kamu sakit"ucap Alvano dengan mengecup dahi Elina


"Gak papa mas, itu udah jadi kewajiban aku dan kamu memang berhak mendapatkannya karna aku istri kamu"balas Elina lirih tapi masih bisa didengar oleh Alvano, senyum bahagia merekah dibibir seksi Alvano


"Makasih atas segalanya Ay, aku benar-benar bahagia dan aku beruntung memiliki kamu sebagai istriku. I love you honey"ucap Alvano lalu mencium bibir istrinya yang sedikit bengkak dan memeluknya erat


"I love you more mas"balas Elina dan membalas pelukkan Alvano


larut dalam kebahagiaan mereka, Alvano sampai lupa jika sore ini akan ada acara dirumah utama bersama keluarga besarnya, dengan segera dia meminta Elina untuk mandi terlebih dahulu karna sekarang waktu menunjukkan pukul 09.30 pagi, dengan segera dia melangkah pergi ke kamar mandi. Tapi baru akan melangkah dia sudah meringis perih pada miliknya membuatnya kembali duduk ditepi ranjang sambil memegang erat selimutnya


Melihat istrinya yang kesakitan, Alvano segera menggendong Elina ala bridal dan membawanya ke kamar mandi, sampainya didalam Alvano merebahkan Elina didalam beth up dan mengisinya menggunakan air hangat


"Mandi ya, aku keluar dulu mau telfon Papi"ucap Alvano dan mengecup dahi Elina sebelum pergi


"He'em"balas Elina mengangguk


setelah Alvano keluar, Elina menghela nafasnya lega dengan memejamkan matanya mencoba merilekskan dirinya dan rasanya nyaman hingga membuat dia tertidur disana, mendengar gedoran pintu dari luar membuat Elina membuka matanya dan segera bangkit keluar dari kamar mandi meski harus pelan karna rasa perih diintinya meski sudah sedikit mendingan tidak sesakit sebelum berendam


"Ay!, udah sele... "ucapan Alvano terhenti saat pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka membuat Alvano bernafas lega


"Maaf ya lama, aku ketiduran didalam"ucap Elina dengan tersenyum kikuk


"Astaga Ay, kamu bikin aku khawatir aja. Aku pikir kamu kenapa-napa didalam karna lama dan juga gak ada suara air sama sekali"balas Alvano sambil mencubit pelan pipi cubby Elina


"Hehe.. maaf, soalnya nyaman banget berendam sampai gak sadar kalo ketiduran"ucap Elina cengengesan


"Lain kali jangan diulang ya, aku takut kamu sakit karna terlalu lama berendam, hampir 1 jam loh kamu dikamar mandi"cicit Alvano sambil mengusap kepala Elina


"Siap mas, gak lagi kok"balas Elina menunjukkan senyum manisnya membuat Alvano langsung saja menyambar bibir manis Elina


"Sarapan gih, makanan udah dateng tuh disamping sofa. Aku mau mandi dulu ya"ucap Alvano lalu mencium pucuk kepala Elina sambil menghirup aroma lavender dari rambut Elina dan pergi ke kamar mandi


Elina segera memakai pakaiannya dan duduk disofa menatap makanan dimeja kecil depan sofa, ada seafood,chicken katsu, nasi putih, sup ikan tuna, salad buah, jus alpukat dan mocacino membuat Elina menggelengkan kepalanya melihat makanan sebanyak ini, apakah akan habis nanti oleh mereka, tapi perutnya lapar dan dia yakin pasti akan habis makanan sebanyak ini olehnya


"Kenapa belum sarapan?"tanya Alvano yang tiba-tiba muncul disamping Elina yang sudah lengkap mengenakan pakaian casualnya


"Nunggu kamu selesai mandi"jawab Elina dan berdiri mengambil piring Alvano dan menuangkan nasi disana


"Mau pake apa?"tanya Elina menatap Alvano yang tersenyum menatapnya


"Chicken katsu aja"balas Alvano membuat Elina mengernyit, apakah enak jika chicken katsu disandingkan dengan nasi?, pikirnya dan mengambil chicken katsu diatas piring berisi nasi lalu memberikannya pada Alvano


"Makasih sayang"ucap Alvano tersenyum


"Sama-sama mas"balas Elina dengan mengambil sarapannya sendiri


"Nanti sore jam 13.30 siap-siap ya kerumah Papi, kita harus dateng ke acara tunangan Dimas dan Elvina meski mereka larang kita dateng karna kita baru aja nikah, tapi Elvi itu kembaran aku dan gak mungkin aku gak dateng kecacatan tunangannya"jelas Alvano sebelum memakan sarapannya


"Iya mas, nanti kita dateng kesana. Kemarin Elvi juga sempet chat aku dan minta aku dateng dampingi dia"balas Elina dengan menatap Alvano


"He'em, semoga aja Mami gak ngomel karna aku bawa kamu dateng juga kesana"ucap Alvano sedikit cemas membuat Elina terkekeh

__ADS_1


"Gak akan mas, nanti kalo Mami ngomel aku bantu jelasin ke Mami"balas Elina dibalas anggukan oleh Alvano sambil tersenyum dan tangannya terulur untung menggenggam tangan Elina dan menciumnya sayang


__ADS_2