Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 38


__ADS_3

Setelah beristirahat selama 1 jam, Elina bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. 10 menit lamanya dia mandi dan kini dia sudah bersih dan cantik menggukan dressnya lalu turun kelantai bawah menemui suaminya yang entah kemana.


sampainya dibawah, dia melihat ibu mertuanya didapur bersama bi Asih dan bi Mirna tengah memasak sesuatu yang membuatnya menelan ludahnya, tanpa sadar air liurnya hampir menetes haya mencium baunya saja.


"Mami"panggil Elina berdiri disamping Nataza yang tengah memasak tumis brokoli kesukaannya dan Elina menghirup dalam bau harum sayur brokoli tersebut membuat Nataza menggeleng.


"Ya sayang"jawab Nataza yang asik mengolak-alik tumis brokoli diatas wajan


"Mami masak tumis brokoli?"tanya Elina dengan mata berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan


"He'em, Mau coba?"tanya Nataza dibalas anggukan oleh Elina, dia memberikan sendok pada Elina yang berbinar dan langsung mencicipi tumis brokoli tersebut dengan cepat.


"Pelan-pelan sayang, nanti terse.... "belum selesai berbicara Elina sudah batuk duluan karna tersedak membuat ketiga wanita disana terkejut dan langsung kocak-kacir panik mencari gelas dan air minum, namun sudah keduluan oleh Nataza


Uhuk...uhuk...uhuk...


dengan cepat Nataza mengambilkan air putih dan memberikannya pada Elina yang langsung mengambil gelas tersebut dan meminum airnya hingga tandas, dia menghela nafasnya lega karna sakit didadanya hilang meski hanya tersisa nyeri ditenggorokannya.


"Udah mendingan?, masih sakit gak?"tanya Nataza khawatir dibalas gelengan oleh Elina membuat Ibu mertuanya lega.


"Maaf Mi, udah buat Mami dan bibi khawatir"ucap Elina justru mendapat usapan lembut dipipinya.


"Jangan diulang lagi ya sayang, Mami takut kamu dan baby kenapa-napa dan Mami gak tau harus berbuat apa"jawab Nataza dengan memberikan peringatan.


"Iya Mi, maaf"ucap Elina yang langsung mendapat pelukan oleh ibu mertuanya lalu mereka melepas pelukan mereka saat mendengar suara langkah kaki dari arah taman belakang.


Terlihat Alvano bersama Azam datang dari taman belakang sambil membawa sekarung buah rambutan, mangga, pisang, kelengkeng dan buah anggur, sayuran kobis, wortel, cabai merah dan hijau, dan lainnya menuju dapur. mereka meletakkan semua yang mereka panen didapur dan akan diberikan pada panti asuhan nanti siang sebagai bahan sembako.


"Kamu udah bangun sayang? baru aja aku mau ke kamar bangunin kamu"ucap Alvano menuju wastafel mencuci tangannya dan melapnya hingga kering lalu menghampiri Elina memberikan usapan lembut dikepalanya.


"He'em, tadi aku kenangan juga nyariin kamu, tapi pas cium aroma masakan Mami gak jadi deh cari kamu"jawab Elina dengan cengirannya sementara yang lain hanya geleng kepala.


"Ya udah, kamu sarapan ya. Aku suapin kamu makan sampai tandas satu piring"ucap Alvano diangguki oleh Elina yang langsung menuju meja makan sementara Alvano mengambil makanan untuk Elina pada sang Mami.


Alvano kembali duduk disamping Elina sementara Azam duduk didepannya sambil memakan buah mangga yang dia petik, Elina menghabiskan makanannya dengan nikmat bahkan dia menggoyangkan badannya saat lidahnya menyentuh tumis brokoli buatan mertuanya.


"Enak?"tanya Alvano memperhatikan wajah Elina yang berbinar.


"He'em.. enak banget. Aku juga lagi pengin tumis brokoli buatan Mami dari kemarin, tapi gak enak karna kemarin Mami demam, jadi ditahan deh"adu Elina dengan wajah cemberut.


"Sayang, kalo kamu mau sesuatu atau ngidam sesuatu ngomong aja langsung sama Mami. Jangan kamu tahan keinginan kamu itu, jujur saja ya sama Mami atau suami kamu, kan kasihan baby nanti ngiler karna keinginannya tidak terkabulkan oleh Bundanya ini. Paham sayang"jelas Nataza lembut sambil mengusap pipi Elina dan dibalas anggukan kepala oleh Elina sembari tersenyum.


Setelah sarapan Elina duduk bersandar pada bahu Alvano yang tengah memainkan laptopnya, sementara dirinya memainkan ponsel milik suaminya itu dengan serius karna dia baru saja mendownload mainan baru disana dan saat dia ingin memainkan permainan lainnya, sebuah pesan masuk muncul diponsel Alvano


Ting...

__ADS_1


Elina melirik suaminya yang begitu fokus dengan laptop sementara Azam dan Nataza sedang berbincang bersama Elvina membahas pernikahannya bulan depan.


Elina membuka pesan tersebut dan dia membaca pesan yang masuk keponsel suaminya dan dia terkejut, sehingga secara refleks melemparkannya keatas meja kaca membuat mereka yang disana menatapnya terkejut.


"Ada apa sayang? hai kenapa seperti ketakutan seperti itu?"tanya Nataza melihat Elina yang memeluk putranya dengan erat.


"I-itu"tunjuk Elina pada ponsel Alvano yang langsung diambil oleh Azam dan Ia membacanya dengan teliti.


'Aku tengah terbang menuju Indonesia Al, bersiaplah untuk kematian istri dan calon anakmu karna kau tak mau melepaskan kekasihku Ayu, maka aku mengambil keputusan ini. Kau akan melihat secara langsung didepan matamu sendiri bagaimana aku membunuh orang tercintamu Alvano. Bersiaplah!' pesan yang ternyata dari Jonathan Richard dikirim dengan sebuah video menampilkan dimana kepala kambing yang masih terlihat segar dengan darahnya yang masih menetes membasahi lantai.


Alvano langsung memeluk erat istrinya yang terlihat ketakutan, bahkan Alvano dapat merasakan jika bahu Elina bergetar dia menangis tanpa suara didalam pelukannya. Kini Alvano harus bertindak karna nyawa istri dan calon anak mereka tengah menjadi ancaman, tapi bagaimana caranya, bahkan Jonathan seorang pembunuh bayaran yang begitu sulit ditangkap oleh siapapun termasuk pasukan terlatih sekalipun.


"Sayang, kamu disini saja sama Mami sebentar ya. Aku dan Papi keruang kerja dulu sebentar"pamit Alvano diangguki oleh Elina yang langsung memeluk mertuanya


Alvano dan Azam kini tengah menghubungi Reza yang ada diluar negeri sana dan juga yang lainnya termasuk Adam meminta bantuan anak buahnya, dengan senang hati mereka mengirimkan anak buah mereka dan tentu saja peperangan seperti ini tak akan dilewatkan oleh Adam yang notabenya seorang mafia no 2 didunia.


semua rencana tengah disusun dengan matang dan persiapan tengah disiapkan oleh Alex, Ben, Maxim, dan Handrik dimarkas utama milik Azam. Hingga 2 jam lebih mereka bertukar pendapat akhirnya mereka menemukan titik terang yang memutuskan mereka akan berperang 3 hari lagi sesuai pesan yang Jonathan kirimkan pada Alvano jika Ia akan tiba 2 hari lagi dan 1 hari kemudian dia akan menyerang markas.


tapi mereka perlu lebih waspada karna Jonathan susah ditebak, bahkan jika mungkin mereka akan menyerang hari itu juga dimana dia datang ke Indonesia bersama pasukan pembunuh bayarannya.


"Bersiaplah kapan saja. Jaga diri baik-baik dan selalu waspada pada setiap kemungkinan yang akan terjadi maupun sudah terjadi"ucap Alvano tegas diangguki oleh yang lain lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


setelah berbincang tadi, kini Alvano dan Azam kembali kekamar masing-masing bersama istri mereka. Alvano tengah menemani Elina memilih makanan yang dia idamkan melalui online sambil memakan buah mangga yang Alvano dan Azam petik dikebun belakang tadi, sebenarnya Elina ingin beli diluar tapi Alvano melarangnya dan beralasan jika orang yang menerornya sedang berkeliaran disekitar sini membuat Elina menurut.


"1 minggu lagi dia akan masuk usia 3 bulan, aku gak sabar nunggu dia lahir kedunia dan main sama kita semua disini, pasti semuanya happy banget"ucap Alvano yang sedang merebahkan tubuhnya diranjang dengan kepala dipaha Elina sebagai bantal dengan kepala menghadap perut dan mengecupnya lembut.


"He'em, tapi dia kan masih lama lahirnya. Jadi mas harus sabar oke"sanggah Elina diangguki oleh Alvano yang kembali mengecupi perutnya.


Tok... tok... tok...


"Siapa?"tanya Alvano dengan teriak pelan.


"Mirna Tuan, saya anter paket punya non Elina"jawab bi Mirna ikut teriak pelan didepan pintu kamar.


"Sebentar"Alvano melangkah menghampiri pintu dan membukanya, ya karna bi Mirna tak mungkin bisa membuka pintu kamar Alvano sendiri.


Ia melihat bi Mirna tersenyum padanya sambil menyodorkan paket milik Elina pada Alvano, setelah diterima bi Mirna kembali kedapur sementara Alvano menghampiri Elina untuk membuka paketnya


dengan semangat Elina membuka paketnya, dengan perlahan dan hati-hati tentunya Elina membuka paketnya yang ternyata berisi rica-rica siput laut membuatnya berbinar dan langsung mengambil mangkuk didalam baki yang bi Mirna tadi bawa sesuai perintah Alvano, entahlah dia bahkan jijik pada siput dan sekarang dia justru ingin memakannya.


terlihat dengan jelas dia menikmati makanannya kali ini, rica-rica siput laut dengan rasa yang pas membuatnya semangat dan senang kali ini. Alvano hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang nyidam makan begitu lahap dan nikmat, bahkan saat dia goda meminta sedikit tak dibolehkan oleh Elina, tapi dia senang karna Elina lebih banyak makan sekarang, dan tubuhnya lebih berisi dan sehat dibanding dulu saat usia kandungan 1 bulan banyak muntah dan lemas membuatnya khawatir.


Ting...


sebuah pesan masuk keponselnya yang tergeletak dinakas sampingnya, Ia membuka ponselnya dan melihat siapa pengirim pesan tersebut yang ternyata nomer tidak dikenal kembali, dia tau siapa yang mengirim pesan dengan nomer tak dikenal juga nomer luar negeri. Jonathan Richard, siapa lagi jika bukan dia.

__ADS_1


'Aku diindonesia Alvano. Bersiaplah untuk kematian istri dan calon anakmu itu sebentar lagi. Hahahaha'.


pesan masuk tersebut membuat Alvano meremas ponselnya dengan kuat bahkan tangan lain tanpa sadar mengepal hingga otot tangannya terlihat jelas oleh Elina yang menatap suaminya heran, ingin bertanya tapi dia takut saat melihat wajah Alvano yang merah menahan amarah,rahangnya yang mengeras dan nafasnya yang memburu.


tanpa bicara Alvano keluar dari kamarnya meninggalkan Elina yang menatapnya khawatir juga bingung, dia masuk keruang kerjanya kemudian membanting semua yang ada disana meluapkan segala yang dia rasakan saat ini.


"Aaarrggghhh....Sampai lo sentuh istri dan anak gue! Gue pastikan kepala dan badan lo akan terpisah saat itu juga Jonathan!!!"teriak Alvano didalam ruang kerjanya membuang buku-buku dirak buku dan beberapa benda diatas nakas juga dalam lemari.


diluar ruang kerja, Elina terus mengetuk dan menggedor pintu ruang kerja Alvano, namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam sana, ya karna ruangan Alvano kedap suara jadi otomatis tak dapat didengar entah dari luar ataupun dari dalam.


"Ya Allah.. apa yang harus El lakukan? ruang kerja mas Al kedap suara, jelas saja dia tidak dengar ucapan El, mas Al juga gak angkat telfon El. Gimana ini?"gumam Elina kembali berfikir bagaimana caranya dia menenangkan Alvano


"Masuk aja lah. Bismillah semoga mas Al gak tambah marah karna El masuk"ucap Elina sambil menekan tombol pasword dipintu masuk ruang kerja tersebut dan benar, Ia langsung saja masuk kedalam


Elina melihat ruangan yang awalnya rapi, bersih dan wangi kini berubah dalam sekejap, ruangannya berantakan dengan buku-buku dilantai, kotor karna tempat sampah yang tumpah dan kini berbau lumayan menyengat dari tempat sampah.


Ia melangkah menuju ranjang size di ujung ruangan dan benar tebakannya, jika Alvano ada disana tengkurap diatas ranjang dengan matanya yang sembab masih berair, tubuhnya yang bergetar karna sesegukan,wajahnya sudah pucat dan suhu tubuhnya naik.


"Mas..bangun mas"panggil Elina menggoyangkan pundak Alvano pelan.


"Mas, bangun yah. Kamu demam ini, kita ke kamar ya"ucap Elina lalu keluar untuk menemui Papi mertuanya yang sudah datang karna tadi pergi kerumah Adam menjenguk Dinda yang sakit akibat kehujanan sepulang mengaji.


"Mi... dingin"gumam Alvano dengan meremas seprai lalu meringkuk memeluk lututnya.


Azam, Nataza,Elina dan Ben datang keruang kerja Alvano dan memindahkannya kekamarnya dengan dipapah oleh Azam dan Ben, sementara Nataza dan Elina mengikuti dibelakang mereka yang membawa Alvano.


sampainya dikamar, langsung saja Ia direbahkan diranjangnya dengan perlahan dan digantikan bajunya oleh Elina dengan yang kering, karna yang tadi sudah basah karna keringat.


selesai diganti, Alvano diberi kompres oleh Nataza sementara Elina memberikan minyak hangat dibadannya sampai telapak kaki, setelahnya mereka keluar membiarkan Elina menjaga Alvano untuk istirahat.


"Cepat sembuh mas, aku takut kalo kamu sakit kaya gini, jangan pernah tinggalin aku. I love you mas"bisik Elina membuat senyum tipis muncul dibibir Alvano lalu merubah tidurnya menjadi menyamping dan memeluk Elina membawanya kedalam dada bidangnya yang hangat hingga keduanya tertidur bersama berpelukan


Prang.....


suara kaca pecah terdengar dari lantai bawah membuat Azam yang tengah telfon diruang tamu dengan Alex seketika terkejut dan terdiam


Azam mendekati suara pecahan tersebut sambil melakukan panggilan video call dengan Alex yang ada dimarkas utama. Azam melihat sebuah kertas putih yang digulung dengan batu besar didalamnya membuat Azam waspada


"Kalian cari pelaku pelemparan batu ini sekarang"perintah Azam pada semua penjaga yang datang saat mendengar suara pecahan kaca


"Baik tuan"jawab mereka serempak dan pergi ke halaman dan keluar rumah


Azam membuka gulungan kertas tersebut dan melihat isinya yang bertuliskan 'BERSIAPLAH UNTUK KEMATIAN ISTRI DAN ANAKMU SAAT INI JUGA DIDEPAN MATAMU SENDIRI ALVANO FAUZAN ADITAMA' dengan darah diujung kertas dan nama pengirim surat tersebut yang tak lain Jonathan Richard membuat Azam memberikan perintah tegas pada semua anak buahnya dan Adam yang ada dirumah Alvano dan dimarkas saat ini juga.


"Tuan... kami tidak menemukan pelakunya, tapi kami menemukan ini disamping tembok pembatas rumah ini"lapor seorang anak buah Azam yang memberikan sebuah daun yang ditulis dengan darah

__ADS_1


"AKU DATANG ALVANO. BERSIAPLAH UNTUK BERMAIN DENGANKU " isi dari daun tersebut membuat Azam memerintahkan Alex untuk melacak keberadaan Jonathan saat ini juga


__ADS_2