
Setelah 1 minggu lebih Elina dirawat dirumah sakit, hari ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang bersama baby Aqeela tentunya yang berada dalam gendongannya.
kini mereka tengah dalam perjalanan pulang kerumah dengan baby Aqeela ada di gendongan Elina yang tengah tertidur namun bibirnya tersenyum kala mendengar ucapan-ucapan Bundanya yang mengajaknya berbicara.
Alvano yang melihat itu tersenyum hangat, dia bahagia melihat Elina yang begitu bahagia dengan lahirnya bayi mungil ditengah-tengah mereka. Dia bersyukur jika Allah masih memberikan kesehatan dan keselamatan pada anak dan istrinya.
"Anak ciapa cih ini hmm.. kok cantik banget cih?"tanya Elina pada anaknya yang tersenyum tipis mendengar pertanyaan Bundanya. Alvano juga turut tersenyum mendengarnya.
"Anak Ayah sama Bundalah, masa anak orang"jawab Alvano membuat Elina menoleh lalu mereka tertawa pelan dan kembali menatap baby Aqeela.
"Lihat deh mas, Aqeela buka mata"ucap Elina menunjuk anaknya yang membuka mata sebentar lalu kembali tertidur dengan senyum yang selalu merekah dibibir mungilnya.
Alvano menjulurkan tangannya untuk mengusap pelan pipi lembut anaknya, lalu dia kembali fokus pada stir mobilnya seraya tersenyum menatap putrinya yang begitu lucu.
tidak lama , akhirnya mereka sampai dihalaman mansion dan didapan sana semuanya tengah berdiri untuk menyambut kedatangan malaikat kecil mereka yang telah mengambil hati semuanya.
Alvano turun dari mobilnya lalu memutari mobilnya sendiri untuk membukakan pintu sebelahnya dan Elina perlahan keluar.
baru saja keluar. Aqeela sudah direbut duluan oleh Elvina yang sepertinya sudah tak sabar anaknya segera lahir. Semua yang menyaksikan itu ikut tersenyum senang, apalagi saat Elvina yang terlihat begitu menyayangi Aqeela.
Namun tindakan selanjutnya membuat semua yang disana terkejut, bagaimana tidak. Elvina justru mencubit dengan kencang pipi Aqeela yang b|ubah memerah dan bayi itu langsung menangis dengan keras membuat Alvano kembali mengambil alih dan memberikannya pada Elvina untuk ditenangkan.
"Ck. Orang lagi enak-enak bobo baby Sakhinya, tapi kakak malah main rebut aja kaya rebut boneka dan cubit-cubit pipinya lagi. Ya jelas gak nyaman dan nangis dong, kan kasihan jadi kejer gitu babynya. Kalo kakak pengin bayi, tinggal minta aja sama kak Dimas"celetuk Aiden membuat semua disana memandang kearahnya dengan tatapan tajam.
"Apa?"tanya Aiden yang merasa ditatap dengan tajam oleh semua orang.
"Ihh.. kak Ai lupa apa gimana sih? kak Elvi lagi hamil tau, kak El udah pasti sangat sensitif dengan omongan-omongan orang, nanti kalo dia nangis gimana? mau tanggung jawab?"bisik Nasyla mengingatkan kakaknya dengan geplakan di bahunya.
Benar saja, baru saja Nasyla berucap. Elvina sudah menekuk wajahnya dan berlari kedalam rumah membuat disana menatap Aiden tajam, sementara yang ditatap hanya cengengesan.
Dimas yang melihat istrinya berlari, Ia segera mengejarnya dan menenangkannya. Aiden juga turut masuk kedalam untuk meminta maaf pada kakaknya, sunggung dia lupa jika Elvina tengah mengandung, karna Elvina yang memakai hoodie kebesaran milik Dimas membuat perutnya yang sedikit membuncit tak terlihat.
Semuanya juga masuk kedalam dan membantu Dimas menenangkan Elvina yang pastinya masih menangis dikamarnya.
"Kak El"panggil Aiden setelah mengetuk pintu kamar Elvina yang terbuka sedikit.
"Kak El. Maafin Aiden ya? Ai minta maaf banget sama kakak, gak ada niatan apapun atau sengaja melupakan kalo kakak lagi hamil. Tapi Ai memang benar-benar lupa sumpah kalo kakak lagi hamil. Kenapa Ai bisa lupa? ya karna kakak pake hoodie kak Dimas yang gede banget ini dibadan kakak, dan otomatis perut kakak yang masih imut ini gak akan kelihatan dong kalo pake hoodie segede ini. Maafin Aiden ya kak El, Kak Dimas"jelas Aiden membuat Dimas tersenyum, dia tau maksud adik iparnya ini.
Hormon ibu hamil memang suka sekali berubah-ubah, seperti sekarang contohnya. Elvina langsung saja tersenyum dan memeluk Aiden setelah penjelasan Aiden tadi. Tapi bukan itu masalahnya.
"Gak perlu minta maaf kok. Kakak nangis bukan karna kamu, tapi karna kak Dimas"ucapan Elvina membuat yang ada disana bingung, apa salah Dimas?.
"Kok aku? aku kenapa memangnya?"tanya Dimas dengan menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Itu tadi. Saat aku gendong Aqeela kan aku bilang kalo aku mau baby perempuan juga, tapi kamu justru bilang kalo kamu maunya baby laki-laki bukan perempuan"jawab Elvina membuat yang disana terkekeh mendengarnya, sementara Dimas terkejut mendengarnya. Astaga! karna masalah itu istrinya menangis.
"Turuti aja dulu, siapa tau nanti pas lahir laki-laki kan?"bisik Alvano yang masih disana untuk menyaksikan kembarannya yang tengah bermain drama.
"Iya sayang, maaf ya. Maksudnya aku tuh, anak pertama kita itu perempuan terus anak kedua kita laki-laki gitu, gak ada maksud mau laki-laki duluan. Tapi kalo Allah kasih anak ke kita kebalikannya juga gak apa-apa, kan semuanya Allah yang tentukan dan mau laki-laki atau perempuan anak pertama kita itu sama aja, yang penting anak kita dan kamu selamat juga sehat nanti paska lahiran"jelas Dimas seraya mengusap pipi Elvina.
"Gak mau. Pokoknya anak pertama kita cewek bukan cowok"tolak Elvina dengan memukul lengan Dimas membuat yang disana geleng-geleng kepala.
"Iya nak. Nanti anak pertama kalian perempuan kok. Udah ya, jangan nangis terus, nanti cantiknya ilang"ucap Nataza menenangkan putrinya yang hanya mengangguk.
__ADS_1
Lelah Aiden berbicara panjang lebar, tapi justru bukan karna dirinya kakaknya menangis melainkan suaminya sendiri yang membuat jengkel. Tapi tak apa, dia senang jika kakaknya tidak marah padanya dan tidak tersinggung dengan ucapannya.
semuanya kembali ke kamar masing-masing, termasuk Alvano yang langsung masuk ke kamarnya dengan mengunci pintu kamar. Dia melihat Elvina tertidur diatas ranjang sementara baby Aqeela didalam box bayinya juga tertidur dengan lelap, tapi bibirnya terus bergerak kecil seperti mencari ASI.
"Hai Sweetienya Ayah, sweet dreams ya bobonya. Love you baby"bisik Alvano pada putrinya yang menggeliet pelan lalu tertidur kembali membuat Alvano tersenyum.
Alvano kembali beralih pada Elina yang tertidur dengan nyenyak, lalu dia naik keatas ranjang dengan pelan menghampiri Elina dan merebahkan dirinya disamping Elina yang masih nyenyak.
"Terimakasih banyak Ay. Terimakasih karna kamu sudah hadir didalam hidup aku, terimakasih sudah mengisi hari-hariku dan melengkapiku, terimakasih banyak karna sudah banyak memberikan kebahagiaan untukku, termasuk berjuang untuk menghadirkan Aqeela di tengah-tengah kita. Rasanya tak cukup bagi aku untuk mengucapkan semua yang aku rasakan padamu, yang pasti I Love You Elina Pamela Jordan"bisik Alvano seraya mengecup dahi Elina lembut.
" I Love you more"jawab Elina membuat Alvano terkejut lalu kembali tersenyum, kemudian dia menarik Elina kedalam pelukannya.
"Tidurnya bohongan hmm?"tanya Alvano dengan menundukkan wajahnya menatap wajah istrinya.
"Enggak. Tadi emang udah tidur, tapi pas ngerasa ada gerakan diranjang jadi kebangun dan pura-pura bobo aja"jawab Elina membuat Alvano terkekeh lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
"Berarti tadi dengar semua yang aku bilang?"tanya Alvano kembali dibalas anggukan oleh Elina.
Alvano menarik Elina kedalam pelukannya dan dirinya semakin mendekatkan tubuhnya pada istrinya. Rasanya nyaman sekali saat berdekatan dengan istrinya seperti ini, apalagi saat istrinya menenggelamkan wajahnya didada bidangnya dengan lengan kekarnya yang menjadi bantalnya.
"Bobo lagi gih, aku tau kamu capek"bisik Alvano membuat Elina tersenyum lalu mengangguk.
tak lama, suara dengkuran halus keluar dari bibir Elina membuat Alvano tersenyum. Elina memang mudah sekali tertidur jika dalam didalam pelukannya seperti ini.
"Sweet Dream cantiknya Al"bisik Alvano seraya mengecup pucuk kepala Elina dan dirinya ikut memejamkan matanya menyusul istri dan anaknya ke alam mimpi.
****
Sore hari telah tiba, dimana mansion mewah Alvano ketadatangan semua sanak saudara, tetangga, teman dan para sahabat dari orang tua baru itu datang untuk melihat anak mereka yang baru saja lahir.
apalagi Aqeela yang saat pemotongan rambut, dia justru tidur dengan nyenyak di gendongan sangat Ayah, Aqeela sesekali membuka matanya dengan lidah yang dikeluarkan, kemudian bayi itu tersenyum manis saat pemotongan rambut lalu kembali tertidur membuat mereka yang ada disana tersenyum gemas melihatnya.
"Ihhh... anaknya Elina lucu banget sih, gemes gue"bisik Yolanda pada Sarah yang mengangguk setuju.
"He'em. Lucu, cantik, imut dan senyumnya indah banget tadi sama seperti Elina. Jadi gak kebayang gimana nanti besarnya akan secantik apa Aqeela"sahut Sarah setuju dengan ucapan Yolanda.
"Kebayang gak kalo nanti gedenya Aqeela berjodoh sama anak kamu ini?"tanya Yolanda menatap putra Sarah yang tertidur di gendongan Ibunya.
Ya Reza dan Sarah sudah menikah setelah 1 bulan menikah nya Alvano dan Elina. Namanya kuasa Allah tidak ada yang tau, karna Sarah dan Reza lebih dulu diberi momongan dibanding Alvano dan Elina, setelah satu minggu Sarah hamil Elina juga turut hamil.
Sarah melahirkan putranya sekitar 1 bulan lalu dengan diberi nama Aditya Putra Alreza, ya karna dia anak dari Reza dan nama Alreza diambil dari nama Ayahnya yang bernama Alfarizi.
"Kalo aku sih gak masalah dan aku justru seneng bisa besanan sama sahabat aku. Tapi ya tergantung sama para Ayah itu, tau sendiri gimana posesif nya mereka sama anak-anak mereka apalagi Alvano yang anaknya cewek"jawab Sarah diangguki oleh Yolanda.
"Ya semoga aja anak aku lahir cewek, biar nanti aku jodohin dia sama Adit"celetuk Yolanda membuat Sarah menghela nafasnya. Ya, Yolanda tengah mengandung anaknya bersama Dion dan usia kandungan 6 bulan.
"Udah ah. Lagian semua tergantung sama Allah, kalo emang mereka jodoh kita bisa apa dan kalo enggak jodoh juga kita gak bisa maksa untuk mereka berjodoh"ucap Sarah seraya menepuk pelan pantat Adit yang terlihat gelisah dalam tidurnya karna suara MC.
"Kita kedepan yuk, kasihan Adit tidurnya terganggu gara-gara suara MC"ajak Sarah dengan menuntun Yolanda menghampiri suami mereka.
beralih pada Elina yang tengah menggendong Aqeela bersama dengan Alvano disampingnya setelah selesai pemotongan rambut. Tak lama seseorang datang dengan mengirimkan 2 buah kado pada Alvano untuk Aqeela dan orang tersebut mengatakan jika paket tersebut dari Jonathan dan Vincent.
setelah orang itu pergi, Alvano membuka kotak kado dari Jonathan terlebih dahulu karna terlihat cukup besar ukurannya. Disana, Alvano melihat banyak mainan anak perempuan, boneka berukuran sedang berbentuk doraemon, beberapa pasang set lengkap bakalan bayi, beberapa hiasan rambut lucu. dan sebuah kalung dan gelang berwarna perak bertuliskan huruf 'A'.
__ADS_1
Alvano tersenyum melihat hadiah dari Jonathan dan membaca sebuah surat dibalik tutup kadonya, disana Jonathan mengatakan tidak bisa hadir menyaksikan tasyakuran dan aqiqah anaknya, karna saat ini Jonathan berada di Jepang bersama dengan Vincent mengurus bisnis orang tuanya yang selama ini di kerjakan oleh Vincent.
kemudian dia membuka kotak kado dari Vincent, disana Alvano dapat melihat banyaknya peralatan mandi anak, pakaian bayi lengkap khusus bayi, hiasan rambut yang lucu-lucu dan ada 2 set perhiasan asli khusus bayi yang terbuat dari berlian murni. Jujur Alvano ingin menolak barang mahal seperti ini, apalagi semua perhiasan ini terbuat dari berlian murni yang harganya sudah pasti sangat mahal.
"Ini dari siapa Al?, ini asli berlian?"tanya Nataza diangguki oleh Alvano.
"Iya Mi. Ini asli berlian murni dan ini semua dari Jonathan dan Vincent. Mereka tidak bisa datang langsung kesini karna sedang berada di Jepang mengurus perusahaan, maka dari itu mereka mengirim semua ini lewat kurir paket sebagai ucapan selamat dan maaf karna bisa tidak datang"jelas Alvano membuat Nataza tersenyum menatap putranya yang terlihat gelisah.
"Untuk sekarang, kau simpanlah semua perhiasan ini dengan aman. Nanti saat mereka. kembali ke indonesia dan sempatkan kemari atau kau yang kesana, kau bisa kembalikan ini dan katakan maaf terlebih dahulu dan jelaskan maksudmu mengembalikan perhiasan ini agar mereka tak tersinggung. Mami tau maksud mereka baik dengan mengirimkan semua ini, tapi jika barangnya semahal ini Mami merasa tak enak jika menerimanya"saran Nataza diangguki oleh Alvano.
"Aku ke kamar dulu ya Mi, mau simpan ini dulu"pamit Alvano lalu pergi meninggalkan semua yang ada disana.
Aqeela yang berada di gendongan Oma Ayu tertidur dengan nyaman, bayi itu memang lebih banyak tidur jika pagi sampai sore, namun jika malam hari anak itu akan terjaga membuat kedua orang tuanya juga terjaga demi menemaninya yang tidak mau tidur.
Elina yang baru saja dari kamar mandi dikamarnya berhenti ditengah tangga, dia tersenyum bahagia juga haru karna melihat bagaimana bahagianya keluarganya sekarang apalagi dengan kehadiran Aqeela menambah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
setelah banyaknya rintangan bahkan hingga badai yang mereka lewati, kini semuanya berakhir dengan bahagia dan penuh suka cita tanpa adanya sebuah peristiwa lain yang membuat kebahagiaan itu hilang dan berharap jika semua itu tidak akan terjadi.
"Ngapain disini hmm?"bisik seseorang yang sangat familiar bagi Elina yang telah mengisi hari-harinya dengan penuh cinta, kasih sayang dan cerita baru dalam hidupnya. Dia Alvano, suaminya.
dengan posisi memeluk Elina dari belakang dengan meletakkan dagunya dibahu Elina. Dia tersenyum turut tersenyum memandang orang-orang dibawah sana yang terlihat bahagia.
"Lagi liatin mereka. Bahagia aja bisa lihat mereka tertawa dan tersenyum bahagia seperti itu, apalagi setelah adanya Aqeela mereka terlihat sangat bahagia dan aku berharap semoga kebahagian ini akan terus ada"jawab Elina seraya mengusap punggung tangan Alvano di perutnya.
"Amin"ucap keduanya bersamaan lalu tersenyum bahagia seraya memandang putri kecil mereka yang menjadi rebutan semua orang, namun dia tetap anteng dalam tidurnya.
"Terimakasih karna sudah hadir dihidup aku, mengisi kekosongan hati aku, merubah hidupku menjadi lebih berarti serta berwarna dan menjadikan aku sosok pria yang paling beruntung memiliki kamu, Wanita hebat yang pernah aku temui. Tolong jangan pernah tinggalkan aku, tetaplah bersamaku, selalu disampingku apapun terjadi, menemaniku hingga tua nanti dan aku berharap jika nanti Allah akan mengambil nyawa kita bersama agar aku bisa selalu bersama dengan dirimu dihidup dan matiku"bisik Alvano membuat Elina tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
Elina mengangguk lalu berbalik badan memeluk Alvano dengan erat, dibalas pelukan dengan tak kalah erat pula oleh Alvano dan menenggelamkan wajah di ceruk leher Elina.
"Terimakasih karna sudah menjadi perisaiku, menjadikan aku ratu pertama yang singgah diistana hatimu, terimakasih karna memberikan aku cinta yang begitu besar dan aku beruntung bisa mengenal dan memilikimu seutuhnya. Aku janji, Aku tak akan pernah meninggalkan kamu, meski bagaimanapun kondisinya nanti, aku akan selalu bersamamu untuk selalu menemanimu hingga menua bersama. Aku juga berharap jika Allah selalu mempersatukan kita kembali diakhirat ataupun kehidupan selanjutnya"jawab Elina dengan tetes air mata bahagia mengalir dari mata indahnya, sama seperti Alvaro juga ikut menangis bahagia.
"I Love You Elina Pamela Jordan Aditama"bisik Alvaro lalu mengecup dahi serta ubun-ubun istrinya dengan lembut.
"I Love You More Alvano Fauzan Aditama"balas Elina lalu mengecup bibir tipis suaminya dan kembali memeluknya erat.
keduanya tersenyum lalu melepas pelukan mereka dan melangkah turun menghampiri putri mereka. Sekarang waktunya mereka untuk melaksakan foto bersama.
Aqeela diambil alih oleh Elina yang duduk di tempat yang sudah disiapkan untuk berfoto dan disebelahnya ada Alvano yang duduk menatapnya, lalu fotografer meminta orang tua Alvano dan Oma dan Opa untuk berdiri disamping kanan dan dan kiri mereka.
dengan berbagai gaya mereka lakukan dengan bergantian posisi tempat. Kini giliran Adam dan keluarga yang berfoto bersama mereka lalu bergantian dengan sahabat-sahabat keduanya bersama pasangan masing-masing.
kini hanya sesi foto keluarga kecil Alvano, hanya bertiga saja. Dirinya, istrinya dan putri kecilnya yang tertidur dengan nyenyak. Banyak gaya yang fotografer berikan pada keduanya dan mereka diminta memilih 4 foto yang akan dicetak dengan gratis oleh fotografer untuk dipajang. Semua begitu antusias memilih foto-foto paling bagus untuk dicetak dan dipajang, termasuk Oma Ayu yang terlihat begitu bahagia.
"Semoga kebahagiaan ini tidak akan pudar meski diterjang badai sekalipun, dengan kekuatan cinta serta keyakinan pada Allah maka semuanya akan baik-baik saja dan selalu bahagia"ucap Elina didalam hatinya seraya tersenyum memandang semua yang ada disana yang terlihat tertawa bahagia. Pelukan di pinggangnya dia rasakan dari samping kanan oleh Alvano lalu kecupan manis dia dapatkan dari suaminya itu dan keduanya kembali menatap Putri mereka yang menjadi rebutan semua keluarga serta sahabatnya.
Tamat....
**Assalamu'alaikum gaes. Makasih banyak buat kalian semua yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita aku dan buat kalian bosen dengan jalan ceritanya.
Makasih banyak untuk dukungan kalian selama ini, makasih untuk like, komen dan hadiahnya. Jujur aku beruntung bisa kenal kalian sebagai pembaca setia aku.
Semangat terus, jangan lupa untuk baca cerita baru aku yang mungkin akan aku up sekitar bulan depan untuk lanjutan cerita 'Menikah Karna Kalung Peninggalan Nenek' sesuai janji aku dulu kalo aku akan buat kelanjutannya.
__ADS_1
jadi jangan lupa untuk selalu setia tunggu cerita selanjutnya. Tetap semangat, jaga kesehatan dan selalu happy gaes. Bye love you all ❤**