
Pagi ini hujan turun dengan derasnya hingga jalanan depan rumah mewah Alvano terandam mungkin tingginya mencapai betis orang dewasa, tidak seberapa namun menyulitkan pengendara yang ingin lewat dan orang-orang yang ingin keluar rumah seperti dirinya saat ini
"Hufh... gak ada hujan ngeluh, ada hujan ngeluh juga. Manusia memang selalu begitu tak pernah bersyukur, sekarang terlalu banyak air mereka mencaci hujan dan membenci turunnya hujan, nanti gak ada hujan rela panas-panassan melakukan segala hal agar hujan turun, bahkan pawang hujanpun mereka panggil untuk menurunkan hujan"gumam Elina menatap orang-orang yang lewat depan rumahnya marah-marah karna sulit jalan dan pengendara bermotor yang mendumel karna motornya mogok akibat knalpotnya kemasukan air banjir
"Ay!, sarapan yuk sayang"panggil Alvano yang baru masuk kedalam kamar untuk mengajak Elina sarapan
"Ngapain disini?"tanya Alvano dengan memeluk Elina dari belakang yang sedang menatap keluar balkon kamar mereka melihat suasana luar yang tergenang oleh air banjir
"Lagi lihatin meraka yang dari tadi marah-marah sama ngedumel gak jelas karna banjir dan hujan deras"jawab Elina membuat Alvano mengangguk
"Biarin aja lah, orang kaya mereka itu gak pernah bersyukur atas apa yang Allah berikan pada kita, hujan adalah berkah dan panas juga berkah. Mereka yang suka ngomel, ngedumel gak jelas dan marah-marah karna hujan dan panas itu temannya setan"jelas Alvano terkekeh pada akhir kalimatnya saat mengatakan 'setan'sama dengan Elina yang terkekeh
"Udah yuk ah, kita sarapan aja sekarang, tidak ada gunanya membicarakan orang-orang seperti mereka"ajak Alvano diangguki oleh Elina dan mereka turun kelantai dasar menuju meja makan
sampainya dimeja makan, Alvano menarik kursi untuk Elina disambut senyum hangat dan ucapannterimakasih dari Elina, giliran Elina yang melayani Alvano dengan mengambil sarapan untuk suaminya lalu dirinya sendiri. Setelah menyiapkan makananmya kini saatnya mereka untuk sarapan, namun baru 1 suapan masuk kemulutnya Elina langsung membekap mulutnya dan berlari ke kamar mandi dapur untuk memuntahkan semua isi perutnya
Alvano yang melihat Elina berlari segera menyusulnya ke kamar mandi dapur dan melihat Elina yang tengah berjongkok mengeluarkan semua isi perutnya sambil memegangi perutnya, Alvano menghampiri istrinya dengan ikut berjongkok disamping Elina lalu memijit tengkuk istrinya pelan agar rasa muanya mereda
Elina yang lemas langsung terduduk bersandar didinding dengan wajah yang berubah pucat, tak tega Alvano segera menggendong Elina ala bridal style menuju kamar mereka menggunakan lift. Sampainya dikamar, Alvano mendudukan istrinya diranjang dengan bersandar pada sandaran ranjang lalu dia melangkah menuju nakas mengambil minyak angin untuk digosokkan diperut istrinya itu
"Aku ke dapur sebentar ya, bikin jahe anget buat kamu. Kamu disini istirahat"ucap Alvano dengan mengusap pipi mulus Elina yang terasa dingin, sementara Elina hanya mengangguk sebagai jawaban karna dirinya terlalu lemas untuk bersuara
Alvano turun kedapur menghampiri bi Ani yang sengaja Nataza pindahkan kerumah putranya untuk memantau makanan yang dikonsumsi menantu dan putranya. Alvano meminta bi Ani membuatkan jahe hangat untuk Elina dan dia yang akan membawa sendiri ke kamarnya
"Ini den jahe hangatnya"ucap bi Ani dengan menyerahkan segelas jahe hangat
"Makasih banyak bi"ujar Alvano menerima jahe hangat tersebut
"Sama-sama den, kalo gitu bibi permisi"jawab bi Ani diangguki oleh Alvano lalu dia kembali kekamarnya dengan membawa jahe hangat ditangannya
sampainya dikamar, Alvano meletakkan jahe hangatnya di nakas dan melangkah menghampiri Elina yang ternyata benar-benar tidur dengan lelap, ingin membangunkan tapi tak tega, tapi jika tak dibangunkan jahe hangatnya akan dingin nanti
"Ay!, bangun sayang"panggil Alvano dengan mengecupi pipi dan bibir manis Elina
"Bangun sayang, jahe hangatnya udah jadi"panggil Alvano dengan menarik pelan hidung Elina dan kali ini berhasil
"Minum ya biar perutnya enakan dan gak mual lagi, nanti tinggal diisi makanan"ujarnya dengan menyodorkan gelas jahe hangatnya pada Elina dan diterima oleh Elina
"Udah... makasih mas"ucap Elina dibalas anggukan oleh Alvano
"Makan ya, aku ambilin"ucapan Alvano langsung dibalas gelengan cepat oleh Elina
"Gak mau mas..mual"jawab Elina dengan membekap mulutnya
__ADS_1
"Kamu tetap harus makan sayang, kalo kamu gak makan nanti kamu bisa dan baby juga ikut sakit. Makan ya biar keisi perutnya"ucap Alvano membuat Elina pasrah mengangguk
"He'em, tapi sedikit aja"jawab Elina dengan menunduk
"Gak papa, kalo tetep mual nanti kita kedokter dan sekarang kamu makan yang buat kamu gak mual aja. Mau makan apa, aku ambilan sekarang"ucap Alvano dan tangannya terulur menyentuh dagu Elina untuk menatapnya lalu mengecup bibir Elina lembut dan sedikit ********** kemudian melepasnya untuk mengambil nafas
"Mau makan apa?"tanya Alvano sambil mengusap bibir soft pink Elina yang sedikit basah karna salivanya
"Telor sosis tapi didadar dan kamu yang goreng sendiri"jawab Elina dengan semangat disanggupi oleh Alvano
"Oke aku buatin, tunggu sini aja jangan kemana-mana ya aku kebawah dulu bikin telur sosis dadar buat kamu"ucap Alvano lalu pergi kelantai bawah setelah diangguki oleh Elina
sampainya dilantai bawah Alvano menuju dapur mengambil dua butir telur ayam dan dua biji sosis ayam. Alvano memecahkan telur lalu memasukkannya kedalam mangkuk kecil begitu juga dengan sosis yang dia potong-potong tipis lalu memasukkannya kedalam mangkok yang sama, Alvano mengambil garam sedikit dan mas*ko setengah bungkus lalu dikocoknya telur dan sosis hingga rata, setelahnya Alvano menyiapkan teflon kecil diisi minyak sedikit dan kompor dia nyatakan dengan api kecil sampai panas, setelah panas Alvano baru memasukkan telur sosis tersebut kedalam teflon
saat asik menggoreng telur sosis untuk Elina, suara bel rumah membuatnya menoleh dan meminta bi Ani membuka pintu dan diangguki oleh bi Ani yang langsung pergi kearah pintu dan membukanya dan yang bertemu adalah keluarganya termasuk Oma dan Opanya,Alika beserta keluarga juga ikut bersama orang tua dan adik-adiknya
"Assalamualaikum"ucap mereka saat memasuki rumah Alvano
"Waalaikumsalam"teriak Alvano dari arah dapur dan mematikan kompornya karna takutnya sudah matang lalu memindahkannya kepiring bersama nasi yang sudah disiapkan
"Den, tuan muda bersama keluarga dan tuan besar bersama nyonya besar datang den"ucap bi Ani melaporkan siapa yang bertamu
"Iya bi.Makasih banyak ya, suruh mereka duduk dulu aku mau ngasih ini ke istri aku sebentar"jawab Alvano diangguki oleh bi Ani dan kembali menghampiri Opa tama dan yang lainnya diruang keluarga
Alvano menuju kamarnya sambil membawa nampan berisi makanan untuk Elina menggunakan lift sampainya disana Alvano menyerahkan masakannya pada Elina yang langsung diterima dengan senang oleh Elina
"Siap Ayah"jawab Elina menirukan suara anak kecil membuat Alvano tertawa pelan lalu menggeleng
"Ouh iya, aku kebawah dulu ya ada Opa dan yang lainnya dibawah"ucap Alvano membuat Elina membulatkan matanya
"Serius?!"tanya Elina diangguki oleh Alvano, dengan segera Elina meletakkan piring dimeja nakas berniat turun dari ranjang
"Etss...."cegah Alvano dan mendudukan Elina kembali ke ranjang
"Apa?"tanya Elina
"Mau kemana?"tanya balik Alvano dengan memeluk pinggang Elina dari belakang
"Ya ketemu keluarga kamu dong, aku gak enak kalo gak turun, masa iya mertua kerumah aku malah asik dikamar sih, gak sopan tau"jawab Elina membuat Alvano menggeleng
"No Ay, kamu gak boleh kemana-mana dulu, kamu kan masih lemes dan kamu juga baru isi perut kamu cuma sedikit. Jadi kamu habisin makanan kamu dan istirahat"larangnya membuat Elina cemberut bahkan air matanya turun
"Hiks.. mau kebawah"ucap Elina dengan tangisnya membuat Alvano mendenguskan nafasnya pelan, air mata Elina adalah kelemahan untuknya
__ADS_1
tangan Alvano terulur mengusap pipi Elina yang basah lalu mengecup kedua matanya dan terakhir bibir manisnya, Alvano menatap mata Elina yang masih berkaca-kaca dengan senyum dibibirnya memperlihatkan gigi taringnya
"Ya udah kita kebawah, tapi nanti setelah habisin makanannya"ucap Alvano membuat Elina menunduk dan Alvano tau jika istrinya ini tak ingin lagi makan padahal sisa sedikit dan akhirnya Alvano yang habiskan makanannya
"Bercanda honey, ayok kebawah"ujar Alvano dengan menuntun istrinya turun kelantai dasar menuju ruang keluarga yang terdengar ramai
sampainya disana, Alvano dan Elina segera menyalami mereka yang lebih tua lalu duduk setelah selesai salaman. Ya mereka membahas tentang keluarga mereka dan masalah Daren adik Diego, Elina yang mendengarnya langsung saja meremas tangan Alvano kuat dengan tangan kanan meremas ujung meja kaca disampingnya
jujur Elina ingin menghilangkan rasa takutnya pada Diego ataupun Daren dan Ayu, tapi kejadian dimasalalu begitu sulit untuk Elina lupakan, kejadian demi kejadian dia lalui karna dekat dengan mereka bahkan Daren sendiri dulu pernah mencoba membunuhnya dengan menenggelamkannya kelautan bebas karna Daren ingin membalaskan sakit hatinya Diego yang ditolak olehnya dulu
saat sedang asik mengobrol tiba-tiba suara tembakan terdengar diluar rumah Alvano membuat Elina memeluk Alvano erat dari samping karna takut, dengan segera Alvano merubah posisi menjadi menghadap istrinya dan memeluk pinggang istrinya erat sambil membisikkan kata-kata untuk tenang
Dor... Dor..
suara tembakan bersahutan diluar sana, Azam, Opa Tama, Adam, Alvano dan Irfan segera bangkit menuju halaman rumah mewah Alvano, meski kondisi jalan yang tergenang banjir tak pernah menyurutkan semangat musuh untuk menyerang
Sementara diruang keluarga, Nataza dan Bunda Ayu membawa putri dan cucu mereka kekamar Alvano yang dirancang khusus agar para musuh sulit masuk atau mencelakai mereka ketika sedang beristirahat, kamar Alvano adalah tempat paling aman, selain kedap suara disana juga terdapat beberapa senjata tersembunyi dan ruang rahasia yang sengaja Alvano buat untuk dia dan istrinya bersembunyi, tak ada yang tau kecuali Alvano dan Elina saja
"Tenang nak.. Mami dan Oma disini, semuanya ada disini menjagamu, jangan takutnya... kasihan calon anakmu kalo kamu ketakutan seperti ini... tenang sayang, tarik nafas... buang nafas.. tarik nafas kembali... buang nafas kembali, terus lakukan seperti itu sampai kau tenang"jelas Nataza sambil mengusap perut Elina lembut
"Udah tenang hmm?"tanya Nataza diangguki oleh Elina seraya tersenyum tipis
kembali dihalam rumah, kini keluarga Aditama berkumpul didepan pintu masuk rumah Alvano dan musuh bisa kalian tebak siapa, Yap dia Daren dan juga kekasihnya Ayu mantan sahabat Elina, bisa dibilang begitu karna tak ada lagi kata sahabat diantara mereka setelah berpisah karna seorang pria
"Dimana Elina?!!"seru Ayu dengan wajah sok garangnya
"Buat apa kau cari Elina kemari?, kau tanyakan saja pada suaminya itu dimana dia"jawab Alvano dengan senyum smirknya sambil memainkan belati ditangan kanannya sementara tangan kirinya pedang samurai kesayangannya sama seperti Nataza
"Cih!, kau ini siapa sebenarnya lalu untuk apa kami tanya kekasihnya, lagi pula kami tak kenal siapa kekasihnya"sengut Ayu membuang mukanya. dia terpesona melihat ketampanan Alvano yang sedang tersenyum smirk seperti itu
"Tak kenal ya?, makannya kenalan mba biar kenal. Kata orang tak kenal maka tak sayang, makanya kenalan dulu baru pacaran"jawab Adam mendapat geplakan ringan dipundaknya oleh Azam
"Heh bodoh!!, dia suaminya Elina yang kita cari. Dasar Ayu bodoh!!"ucap Daren dengan nada kesal membuat Ayu membulatkan matanya tak percaya
"Pfftt... Hahaha.. dia suami Elina?... Hahaha... sungguh bodoh sekali kau ini memilih gadis jelek dan kampungan seperti Elina, apa jangan-jangan kau diguna-guna oleh Elina sehingga kau terpikat pada wajah buruk rupanya itu dan kalian menikah lalu punya anak yang buruk rupa juga iya?...jika iya...nasibmu sungguh buruk sekali. Hahahaha..... "tawa Ayu membuat Alvano mengeratkan giginya bahkan wajahnya memerah marah dengan lehernya terlihat dengan jelas jika dia menahan marah
"Ckckck... Ayu... Ayu... mengaku sahabat tapi ternyata seorang penghianat yang mencelakai sahabatnya sendiri demi pria bodoh seperti Diego itu, apa bagusnya pria seperti Diego hah?, oke aku akui jika Diego memang tampan, kaya dan lulusan D3, kau tau Diego menyandang gelar D3 itu karna sogokan, dia kaya harta milik orang tuanya, tampan karn oprasi plastik, pengangguran, pemabuk, tukang judi,penggila obat terkadang dan satu lagi fakta yang kau perlu tau Ayu, jika kau menikah dengannya kau tak akan pernah punya anak karna dia mandul. Kau mau bukti, baca ini"jelas Alvano melemparkan kertas yang tertancap pada belatinya kearah mobil Daren
Ayu mengambil kertas tersebut dengan bodohnya dia mengembalikan belatinya pada Alvano, Ayu membaca surat keterangan dokter atas nama Diego Arthur dan cap rumah sakit juga tanda tangan dokter lengkap disana, Ayu yang membaca itu syok pantas saja selama 1 tahun berhubungan dengan Diego berkali-kali dan berharap dia hamil tanpa meminum pil terkutuk itu dia tetap tak hamil-hamil
"Dimana Diego?"tanya Ayu membuat Alvano saling pandang pada Papi dan Opanya lalu tersenyum kembali
"Kau tau tempat peristirahatan terakhir hmm?, ya disitu lah dia"jawab Alvano enteng
__ADS_1
"Kalian membunuhnya hah?!!,kalian membunuh kakakku?!!"tanya Daren dengan berteriak kencang
"Tenang bro... santai dulu... kami tak membunuhnya, dia yang memang sudah sakit jantung kok, ya sebenarnya aku ingin menghabisinya karna hampir memperkosa istriku, tapi aku tak tega karna dia sedang sakit parah. Kami bawa dia kerumah sakit untuk melakukan pengobatan, tapi dia hanya bertahan dua minggu dirumah sakit setelah mengatakan maaf padaku dan istriku dia langsung mati"jelas Alvano membuat Ayu membekap mulutnya terkejut dan Daren terdiam