Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Akan dimulai


__ADS_3

Malam hari telah tiba, sang rembulan memperlihatkan wujudnya yang begitu indah dan menenangkan, membuat Nataza betah duduk didepan jendela menatap rembulan. Senyumnya mengembang saat salah satu bintang jatuh, antara percaya dan tidak, tapi dia mencoba memejamkan mata dan berharap saja dia bisa segera pulang dan hidup bahagia bersama dengan keluarganya. Nataza seharusnya pulang sore ini, namun tadi sempat muntah beberapa kali membuat dokter meminta tetap disana selama 1 malam saja


"Sayang?"panggil Azam yang baru keluar dari kamar mandi tak melihat istrinya di ranjang pun beralih menatap seisi rungan dan menemukan istrinya tengah menatap bulan dengan senyum diwajahnya


"Kenapa disini?"tanya Azam langsung memeluk dari belakang dengan mencium pipi Nataza lama


"Gak papa, lagi pengin lihat bulan aja. Cantik ya mas?"tanya Nataza membuat Azam menatap bulan yang menjadi objek pembahasan mereka lalu beralih kembali kepada Nataza yang tengah tersenyum cantik


"Gak lebih cantik dari kamu, cuma kamu yang paling cantik dibumi ini. Gak akan ada yang lain selain kamu"puji Azam dengan mengeratkan pelukannya


"Dihh..gombal!"balas Nataza dengan wajah yang memerah


"Aku gak gombal kok, emang itu nyata, semua yang aku ucapkan itu nyata adanya. Entah itu tentang orang lain atau kamu, semua nyata. Kaya cinta aku ke kamu, itu semua nyata bukan sekedar omongan belaka"ucap Azam dengan semakin gencar menciumi pipi Nataza yang merah lalu mengigitnya pelan


"Kenapa digigit sih?, kan sakit?"rengek Nataza dengan bibir cemberutnya membuat Azam terkekeh


"Pipi kamu itu enak kalo dimakan, makannya aku gigit kaya bakpao soalnya"balas Azam dengan menggigit kembali pipi istrinya sedikit keras


"Ihh... sakit mas"rengek Nataza mulai kesal


"Ok..ok..maaf ya, tapi aku gak akan pernah berhenti untuk gigit pipi kamu kalo kamu tambah cubby kaya gini"balas Azam, ya selama 2 minggu ini. Azam menyadari perubahan pada istrinya, yaitu pipi lebih berisi dan pa****ra lebih besar


"Aku gendutan ya?"tanya Nataza cemberut, entah kenapa sifatnya kadang berubah-ubah


"Gak kok, lebih tepatnya lebih berisi dari sebelumnya, tapi aku suka karna lebih sexy dan menggoda"bisik Azam diakhir kalimatnya membuat Nataza menahan nafas


"Kamu gak cek pake testpack yang?"tanya Azam penasaran


"Aku takut mas, karna dua minggu yang lalu aku juga cek masih negatif. Aku takut buat kamu kecewa"jawa Nataza dengan menundukkan wajahnya


"Gak papa kalo masih negatif, kan kita bisa usaha terus dari pagi sampe malam, tanpa kenal lelah dan tetap berdo'a supaya kita diberi kepercayaan lagi. Kamu gak boleh negatif tinking dulu, siapa tau allah kasih lebih buat kita. Mungkin kembar lagi juga bisa"ucap Azam dengan mengedipkan sebelah matanya


"Yeee..itu sih mau kamu dari pagi sampe malem. Nanti ujung-ujungnya aku juga yang tepar"balas Nataza membuat Azam tergelak


"Orang kamu aja menikmati kan?, sampe bilang 'lebih dalam' itu siapa yang ngomong kalo bukan kamu"ejek Azam


"Salah siapa bikin ketagihan"bisik Nataza lalu berbalik ke ranjangnya


"Kamu goda aku?"tanya Azam dengan seringai diwajahnya


"Gak!. Aku masih sakit mas, kalo kamu mau buat sekarang, mending jangan. Karna ini rumah sakit dan aku masih sakit, siap aja di sembur suwuk sama Bunda dan Ayah"jawab Nataza membuat Azam memberengut kesal


"Dihh...gak akan ya!, aku gak akan juga gempur kamu sekarang, karna aku gak tega dan tambah kamu sakit"balas Azam dan berlalu menuju sofa bad

__ADS_1


"Ya udah, bobo aja sekarang. Besok kamu kan mau ketemu ada meeting"ucap Nataza dengan kesal


"Iya...iya... aku tidur. Tapi beri satu kecupan, di pipi aja"pinta Azam dengan memajukan wajahnya


"Ok"balas Nataza dan memajukan wajahnya lalu mengecup pipi Azam dan kembali ketempat semula


"Selamat malam honey"bisik Azam dengan mengecup dahi Nataza


"Selamat malam juga my husband"balas Nataza dengan memejamkan matanya


Azam kembali ke sofa badnya, dan menarik selimut untuk memberi kehangatan, tak lupa dia membaca doa terlebih dahulu dan mulai masuk kealam mimpinya


pagi harinya. Azam berkumpul bersama dengan Ayah Tama, Irfan, Adam,Bayu dan Brian. Bayu dan Brian tetap mengerjakan kantor meski harus membantu Azam diluar kantor


"Bagaimana rencana mengeluarkan Fredi dari sarangnya?. Aku mendapat kabar dari anak buahku, mereka mengatakan jika Fredi ada dikota ini dan sedang menyusun rencana menyakiti keluarga Ayah, terutama Azam yang pernah berteman dengan Lila"ucap Adam dengan menyerahkan kertas bukti kepada Azam


"Jangan sampai mereka mengincar anak-anak dan istriku untuk membalas dendam padaku dan Ayah"ucap Azam setelah membaca kertas bukti ditangannya


"Kau benar Zam. Hanya saja Fredi adalah orang yang sama liciknya dengan Baron ,sehingga sedikit susah untuk menangkapnya dan menjebaknya"balas Ayah Tama dengan memijik pangkal hidungnya


"Begini saja!"ucap Adam dengan membisikkan rencananya dan senyum mereka mengembang seketika setelah memdengar rencana Adam


"Rencana bagus boy"puji Ayah Tama


"Ehh..Zam!, sini sarapan dulu sayang"ucap Bunda Ayu lalu melangkah kesofa bad dan mengambil makanan untuk Azam. Bunda Ayu kembali duduk bersama dengan Ayah Tama dan yang lainnya disana


"Ini, sarapan buat kamu, ini buat yang lainnya"lanjut Bunda Ayu dengan memberikan satu piring makanan kepada Azam dan kembali duduk disofa bad


"Makasih Bund"ucap Azam dan dibalas anggukan oleh Bunda Ayu dengan senyum cantiknya


"Habis rapat kantor atau ada rapat masalah sama mereka mas?"tanya Nataza kepada Azam dengan menunjuk para lelaki yang duduk disofa bad dengan dagunya


"Bahas masalah kantor sama masalah dengan mereka juga sekalian tadi. Tapi udah kelar kok, tinggal rencananya aja""balas Azam dengan meletakkan piring di atas nakas dan melangkah mengambil air


"Zam?"panggil Brian kepada Azam yang tengah minum


"Hmm"balas Azam dengan deheman


"Lo perhatiin gak sih?, kalo kak Aza kelihatan lebih berisi gitu badannya?, dan yang menjadi perhatian gue dari tadi adalah perutnya, kelihatan lebih buncit gak sih dari sebelumnya?, kaya lagi hamil gitu?"tanya Brian dengan mata masih menatap perut Nataza lalu beralih menatap Azam yang menatap Nataza


"Ya gue juga rasain itu, tapi gue gak mau aja dia sedih, karna 2 minggu lalu sempet coba masih negatif, tapi gak tau sekarang"balas Azam dengan menatap Nataza sendu


"Kenapa gak coba panggil dokter kandungan aja kesini untuk periksa, kan masih dirawat disini sampai nanti sore. Dicoba aja semoga positif"ucap Ayah Tama memberi saran

__ADS_1


"Hmm...Ayah benar, nanti akan aku coba"balas Azam


Drrt..Drrt...


Azam langsung mengambil hpnya yang dia simpan di saku kemejanya, dan melihat nama yang tertera membuat Azam mengkerutkan dahinya 'Kenapa pak Irman telfon gue?'batin Azam, lalu segera mengangkatnya


"Hallo pak?"ucap Azam dengan sedikit menjauh dari semuanya


"....."


"Apah!!!"pekik Azam membuat semua yang disana langsung diam dan Brian menyemburkan air yang baru saja masuk kemulutnya ke arah Bayu yang tepat didepannya


"Sialan lo Yan!!"kesal Bayu dengan mengambil tisu diatas meja dan pandangannya teralih ke arah Azam yang wajahnya berubah marah


"...."


"Kita akan kesana sekarang"balas Azam dengan mematikan hpnya


"Kenapa?"tanya Ayah Tama


"Markas kita diserang oleh anak buah Fredi, kita harus ke markas segera. Dia sempat menyerang pak Irman karna dia tau pak Irman adalah sopir Opa dan mengatakan akan menghabisi Opa jika pak Irman tidak menunjukkan markasku. Sial!, mereka mulai bermain-main denganku dengan mengancam orang lemah"ucap Azam membuat yang lain terkejut


"Lalu pak Irman bagaimana?"tanya Ayah Tama


"Pak Irman selamat, karna dia bisa menghindari anak buah Fredi dengan sembunyi di pom bensin.Tak apa dia tau dimana markasku, dengan begitu kita akan bermain dengan mudah dan menyerahkan nyawa mereka kepadaku"ucap Azam dengan seringai diwajahnya lalu beralih ke Nataza yang terlihat khawatir dan takut


"Its ok honey, semua akan baik-baik saja"ucap Azam dengan mengecup bibir Nataza lembut


"Aku pergi dulu ya, kamu disini aman sama Ayah, Irfan dan Bang Adam. Aku pergi dulu"pamit Azam dan malangkah menghampiri Adam


"Bang titip Aza sebentar ya, aku akan segera kembali setelah semua ini selesai"ucap Azam lalu memeluk Adam


"Berhati-hatilah, Abang disini akan menjaga adik Abang sendiri. Kau tak perlu khawatir soal itu"ucap Adam dan melepas pelukannya


Azam.bersama dengan Bayu dan Brian pergi ke markas dengan mengendarai mobil diatas rata-rata, sampainya disana. Anak buah Azam datang dari beberapa penjuru yang berjaga di luar dan didalam, karna Azam meminta anak buahnya tidak menyerang terlebih dahulu, berakting saja seperti markas kosong sampai dia datang


"Ada yang terluka atau tertangkap?"tanya Azam tegas kearah anak buahnya terutama Maxim sebagai ketuanya


"Kami semua aman Tuan Muda. Alex sudah menempatkan kami ditempat aman sehingga kami selamat dan tetap aman"jelas Maxim dengan menundukkan kepalanya


"Bagus!, bersiaplah untuk berperang!"titah Azam dengan mengangkat pedang samirainya dan beberap pistol di jas anti pelurunya


"Siap Tuan Muda"balas semua anak buah Azam serempak, mereka langsung keluar dari persembunyian dengan mengendap-endap ke arah pintu belakang markas dan yang lain berpencar malalui beberapa sisi

__ADS_1


__ADS_2