
Elina mematunvmg ditempatnya karna ucapan Alvano barusan. Astaga!, apa Alvano baru saja mengungkapkan perasaan pada dirinya, jika iya!, sungguh tidak romantis dan tidak menyenangkan sekali karna Alvano mengungkapkan di rumah sakit dengan keadaan terbaring lemah, bahkan dia baru saja sadar dari obat bius. Dasar gunung Everest, tidak tau tempat dan tidak ada romantisnya sama sekali, wajahnya saja datar seperti tripleks, mengungkapkan perasaan tanpa ekspresi hanya Tuan Muda Alvano yang terhormat, tidak peka
"Hai!, Elina!"panggil Alvano melambaikan tangan didepan wajah Elina
"Ah..iya.. bagaimana?, ada apa?"tanya Elina membuat Alvano menghela nafas pelan
"Aku tidak memaksakan perasaanmu padamu, aku tau aku orang yang cuek,kaku dan dingin terhadap wanita, aku juga tidak romantis. Tapi jujur aku suka padamu saat pertama kali bertemu denganmu saat itu, dan aku juga cinta padamu El, setelah aku bertemu denganmu. aku tak bisa melupakan wajahmu bahkan suaramu selalu aku dengar dimanapun aku berada. Aku mencari tau semua tentang kamu secara diam-diam karna aku ingin tau lebih banyak tentang kamu. Aku minta maaf"jelas Alvano membuat Elina bingung harus menjawab
"Emm.. Tuan, saya permisi dulu"pamit Elina langsung berlari keluar ruangan Alvano
Alvano yang menatap kepergian Elina hanya tersenyum kecut dan menghela nafasnya kasar. Pertama kali mencintai seseorang dan mengakui perasaannya, tapi justru diabaikan dan bahkan bisa saja ditolak saat itu juga. Miris sekali hidupnya ini, tapi dia akan tetap berjuang mendapatkan cinta Elina meskipun harus terluka
"Kak Al!"panggil Elvina yang tiba-tiba ada didepan wajahnya
"Ngapain sih?,kenapa mukanya pake deket banget lihatnya?"tanya Alvano kesal menatap kembarannya itu
"Hais.. kakak ini yang kenapa?, dipanggil entah sudah beberapa kali, tapi kakak tetap diam melamun dengan tatapan kosong, bahkan senyum kecut kakak tunjukkan. Ada apa?,apa ada hubungannya dengan kak Elina?"tanya Elvina menatap Alvano dengan mengkerutkan dahinya
"Apaan, gak ada kok"balas Alvano mengelak untuk jujur pada kembarannya
"Kakak tidak bisa bohong padaku ya, aku ini kembaranmu, aku tau kau sejak aku lahir. Jadi aku tau kau pasti melamun karna kak Elina kan?, aku tadi melihat kak Elina berlari keluar dari sini dengan terburu-buru, bahkan tadi hampir saja jatuh dari tangga karna berlari untung saja Papi dengan sigap menangkapnya"jelas Elvina sengaja sedikit berbohong untuk memancing Alvano
"Lalu Elina bagaimana?, apa dia tidak apa-apa?, dia tidak terluka kan?"tanya Alvano panik dengan melepas paksa infus ditangannya
"Tenangkan dirimu kak. Kak Elina baik-baik aja kok, hanya aja kakinya sedikit terkilir tadi"balas Elvina bohong
"Tapi tidak parah kan?, perlu dibawa ke dokter tulang gak?, apa perlu aku panggilkan dokter tulang?"tanya Alvano semakin cemas dan Elvina yang melihat itu ingin sekali tertawa
"Jawab El, Elina tidak apa-apa kan?"tanya Alvano memaksa, lalu dengan cepat dia turun dari bankar membuat Elvina terkejut
"Ehh.. kakak mau kemana?, kakak baru aja sadar, jangan kabur. Kak Elina baik-baik kak, kakak tenang jangan seperti orang gila seperti ini"cegah Elvina menatap Alvano yang sedang menatap kesal padanya
"Kau mengerjaiku?"tanya Alvano dengan tatapan mengintimidasi
"Mana ada aku mengerjaimu, aku mengatakan apa adanya, dan memang benar kak Elina baik-baik saja"balas Elvina jujur sekarang
"Baiklah, buktikan padaku jika kau tidak bohong. Bawa aku pergi dari sini dan antar aku kerumahnya"pinta Alvano membuat Elvina mendelik
"Yang benar saja kak, aku akan kena marah oleh Oma nanti kalo aku membawamu pergi, bahkan luka jahitan belum kering, kalau ada apa-apa denganmu nantinya, aku yang kena omel Oma"balas Elvina dengan memulangkan tangannya didada
"Ya baiklah jika kau tidak mau, aku bisa pergi sendiri kesana"ucap Alvano dan langsung dibalas cubitan kecil dipunggungnya oleh Elvina
"Jangan cari masalah ya kak!, aku yang akan di ceramahi panjang kali lebar kali tinggi kali luas kali alas oleh Oma nanti"balas Elvina dengan wajah kesalnya
"Ayolah El, aku khawatir pada Elina. Aku takut dia kenapa-kenapa"ucap Alvano dibalas helaan nafas oleh Elvina
__ADS_1
"Kakakku sayang, kembaranmu tersayang, saudaraku yang super baik dan terkasih dengarkan aku ya. Kakak Elina baik-baik saja, dia sudah pulang diantar oleh paman Alex, jadi kakak tidak perlu khawatir oke"balas Elvina memaksakan senyumnya
"Apa ucapanmu bisa dipercaya?"selidik Alvano
"Terserah padamu saja lah kak, aku lelah meladeni dirimu. Aku sudah mengatakan jujur tapi kau tidak percaya, ya sudah terserah padamu. Aku mau pulang dan tidur"balas Elvina melangkah keluar dari ruangan Alvano
"Hai jangan tinggalkan aku, dasar kembaran tidak punya akhlak kau"celetuk Alvano kesal
"Terserah apa katamu, bye"balas Elvina masuk kedalam mobilnya dan diikuti oleh Alvano
"Kak Al!, apa kau tidak ingin telfon kak Elina atau bertanya tentang keadaannya sekarang?, aku pikir kakak akan peka terhadapnya, tapi sekedar menelfonpun tidak"ucap Elvina dengan menatap Al disampingnya yang terus melihat foto profil Elina
"Kalo kangen telfon, kalo gak sekalian aja video call, jangan cuma ditatap aja produknya gak bakal dateng juga kalo dipantengin doang"sindir Elvina
"Bisa diem gak?"tanya Alvano dengan tatapan tajam membuat Elvina menyengir kuda
"Ya baiklah aku diam, tapi ingat ya kak jangan banyak bergerak karna uring-uringan memikirkan kak Elina, nanti luka kakak gak akan kering kalo kakak banyak. gerak
"Ya baiklah bawelku"balas Alvano pasrah
Pagi harinya
Alvano sudah bersiap berangkat ke kantor dengan pakaian formalnya, kini hanya memakai pomade dan jam tangannya lalu melangkah keluar kamar dan turun menuju meja makan, disana keluarganya sudah berkumpul menunggunya
"Selamat Pagi semua, maaf Al telat"ucap Alvano mencium pipi Azam dan Nataza
"Terimakasih Mami"ucap Alvano dan mencium pipi Maminya
"Sama-sama sayang"balas Nataza
Alvano membuka amplop tersebut dan terdapat sebuah surat didalamnya, dengan segera Alvano membukanya dan membacanya, ternyata sirat itu dari Elina yang memang sengaja Asisten Dion kirimkan pada Alvano, karna Asisten Dion tau jika Alvano menyukai Elina
'*Jakarta, 23 April 2021
Kepada,
Yth. Tuan Alvano Fauzan Aditama
di Aditama Crop
Dengan hormat,
Melalui surat ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Elina Pamela Jordan
__ADS_1
Divisi : Marketing
Memberitahukan bahwa saya tidak dapat masuk kerja pada hari ini Jum'at, 23 April 2021 , karna nenek saya meninggal dunia semalam
Maka saya mohon agar Tuan Alvano dapat memberikan saya izin
Demikian surat izin ini saya sampaikan, dan atas izin yang diberikan kepada saya, saya ucapkan terima kasih.
Hormat Saya
Elina Pamela Jordan*
setelah membaca surat tersebut, Alvano mengambil hpnya dan menghubungi Elina, namun sama sekali tidak bisa dihubungi bahkan dari semalampun tetap tidak bisa dihubungi
"Kak Al kenapa sih mondar-mandir terus?,itu muka kaya cemas banget ada apa?"tanya Nasyla yang sedari tadi memperhatikan Alvano
"Mami, Papi, Al berangkat dulu ya, ada meeting dadakan sama klien. Assalamualaikum"pamit Alvano tanpa membalas ucapan adik bungsunya
"Kakak pamit ya boy, princess"pamit Alvano kepada adik-adiknya tak lupa mengecup dahi mereka lalu berlari keluar menuju mobilnya
"Kak Al kenapa sih Mi?, kok kaya cemas banget gitu?"tanya Nasyla yang kepo kepada Maminya
"Entahlah, tanyakan saja nanti pada kakak Al kalau tidak pada Asisten Dion"balas Nataza dengan mengusap pipi putri bungsunya
ditempat lain, Elina sedang menahan tangis karna kepergian nenek satu-satunya yang merawatnya sejak kecil, niat dia merantau kejakarta untuk mencari uang demi pengobatan neneknya selama 2 tahun ini, tapi justru takdir Allah berkata lain, Allah sudah mengambil neneknya sebelum Elina sempat membahagiakannya
"Kakak, Nenek ninggalin kita... hiks...Rania mau nenek"tangis Rania adik Elina
"Sayang, nenek kan sudah bahagia disamping Allah Nia tidak boleh menangis seperti ini sayang, nenek pasti akan ikut menangis melihat Nia menangis. Allah sayang sama nenek, maka dari itu Allah mengambil nenek duluan dari kita, Allah ingin nenek tidak sakit lagi jadi Allah membawa nenek bersamanya untuk mengobati sakit nenek. Sudah ya sayang. jangan menangis"ucap Elina mencoba kuat dihadapan adiknya meski hatinya sakit, sangat sakit
"Kamu kuat Lina, saya yakin kamu wanita hebat yang bisa menghadapi segala cobaan dalam ujian hidupmu"ucap tetangga Elina yang menjadi saksi kematian nenek Elina
"Terimakasih bu, Terimakasih juga sudah menjaga nenek dan adik saya selama saya merantau dijakarta"balas Elina dengan memeluk Rania
"Tidak masalah, kalau begitu kami permisi Lina"pamit mereka hanya hanya dibalas cium tangan dan senyum terpaksa dari Elina
Elina menatap nisan neneknya dan mengelusnya lembut, lalau bergantian menatap Rania yang masih menangis didalam pelukkannya
"Nenek, aku meminta izinmu untuk membawa Rania pergi ikut aku kejakarta ya, Rania pasti kesepian disini sendirian tanpa nenek. Aku akan kembali lokakarya besok setelah 7 hari nenek pergi, aku janji akan menjaga Rania seperti aku menjaga nyawaku sendiri dan aku akan menyekolahkan dia sampai dia sukses seperti impian nenek dulu. Kami pergi dulu ya bel, selamat beristirahat disana. Assalamualaikum nek"ucap Elina lalu mencium nisan neneknya dengan menuntun Rania pergi dari sana membawanya pulang
Dikantor, Alvano sama sekali tidak bisa fokus, bahkan saat meetingpun dia tidak bisa mendengarkan penjelasan kliennya dan bawahannya, pikirannya melayang memikirkan Elina hingga dia mengakhiri meeting di tengah jalan dan kembali ke ruangannya untuk mengistirahatkan tubuhnya dikamar pribadinya
"Entah kenapa, bayangan gadis itu selalu menghantuiku, bahkan saat aku mencoba fokus sekalipun tidak bisa karna bayangannya selalu muncul dipikiran, mata dan telingaku"gumam Alvano dengan menatap langit-langit kamar pribadinya
"Semoga saja dalam 1 minggu ini aku bisa membuktikan jika aku memang benar-benar jatuh cinta padanya, aku bahkan tak bisa tenang saat dia tidak ada kabar, entah bagaimana kabarnya sekarang, semoga saja dia baik-baik saja dan bisa kembali dan aku akan mengungkapkan perasaanku ini padanya meskipun aku tak tau dia memiliki kekasih atau tidak, yang jelas aku sudah katakan dan aku lega"ucap Alvano duduk ditepi ranjang dan menatap pantulan dirinya dicermin
__ADS_1
"Semangat Alvano, kau tampan, kau kaya, kau pintar, kau baik, kau hebat,kau menawan, kau setia, kau cinta padanya dan kau juga sayang padsnya, jadi kau pasti bisa membuat dia cinta padamu juga dengan apa yang kau miliki, kau dapatkan dan keahlianmu mendapatkan cinta seseorang. Semangat dan terus berjuang!, jika tidak bisa maka mundur dan bergilah dan menjadi sadboy saja"ucap Alvano dengan semangat dan diakhiri dengan wajah sedihnya karna takut penolakan
"Tidak masalah ditolak, aku bisa mendapatkan wanita lain, tapi akan susah jika mencari seperti dirinya... Aku tak ingin yang lain, aku ingin dia. Mami... Al mau dia..."rengek Alvano sambil menutup wajahnya dengan bantal