
Seperti pagi-pagi biasa, Elina menyempatkan olahraga dan jalan-jalan keliling kompleks bersama suami, kedua mertuanya,Opa dan Oma,juga adik-adiknya. Mereka berlari. sambil sesekali berjalan dan bercerita yang kadang membuat mereka tertawa
Nasyla yang memang paling malas untuk olahraga dari yang lain sudah merengek lelah, padahal mereka baru berlari setengah kompleks. Dari pada anak itu terus merengek, mereka memilih untuk istirahat ditepi taman dan Nasyla langsung menenggak air minum dibotolnya hingga tandas membuat Aiden kesal, karna Aiden melupakan botol minumnya dirumah dan berencana meminta pada Nasyla, tapi. justru gadis itu hanya tersenyum kikuk karna melupakan kakaknya
"Hehe..maaf kak. Lala lupa kalo kakak minumnya barengan sama Lala"ucap Nasyla membuat Aiden ingin sekali menceburkan adiknya kedalam sungai amazon
"Udah habis juga, jadi lupain"balas Aiden dengan meminta milik Maminya yang sengaja membawa 3 botol dalam tasnya untuk Aiden, dia dan Azam, Nataza yakin pasti akan seperti ini kejadiannya jika mengajak Nasyla olahraga
Elina duduk disebelah Alvano dengan memijit kaki sebelah kanannya yang tiba-tiba sakit dipergelangan kakinya, karna sempat keseleo saar lari tadi bersama Nataza sebab menghindari seekor kucing yang tiba-tiba muncul dari semak-semak dan lari didepannya, membuat kakinya tak siap untuk berhenti dan hampir saja jatuh jika saja Alvano tak menangkapnya, sementara Nataza langsung menghentikan kakinya cepat dan tarikan pelan oleh Azam sehingga dia aman
"Kenapa? sakit kakinya?"tanya Alvano menatap Elina lalu menatap kaki Elina
"Hanya sedikit mas, tapi gak papa kok"balas Elina menatap kakinya yang dipijit pelan oleh Alvano
"Aku lihat kakinya sebentar. Kalo sakit tahan oke"ucap Alvano dibalas anggukan oleh Elina
Alvano melepas sepatu Elina juga kaos kakinya, Alvano terkejut melihat pergelangan kaki Elina yang biru memar, Alvano menyentuh pelan kaki Elina dan istrinya sudah meringis sakit
"Kaki kamu udah kaya gini, tapi kamu bilang gak papa. Mau berubah bengkak kakinya?"tanya Alvano kesal
"Akhh.. sakit mas"ringis Elina saat Alvano menurunkan pelan kakinya dari pangkuan Alvano
Alvano berjongkok memunggunginya lalu menepuk pundaknya sendiri meminta Elina untuk naik kepunggungnya, tapi Elina bingung bagaimana naiknya kakinya saja sakit untuk berdiri
"Kenapa diam?, ayo naik"pinta Alvano dengan membantu Elina berdiri
"Pegang pundak aku Ay"ucap Alvano dituruti oleh Elina dan perlahan Alvano mengangkatnya saat merasa posisi Elina pas dipunggungnya
"Kita pulang"lanjutnya dengan melangkah pergi
"Tap..."ucapan Elina terputus saat suara Nataza menghentikan langkah Alvano
"Kalian mau kemana?, terus El kenapa kakinya biru gini?"tanya Nataza menatap kaki Elina yang memar
"Kita mau pulang duluan Mi, kaki El kayaknya keseleo saat tadi mau jatuh karna rem mendadak gara-gara kucing"balas Alvano menatap Elina dari samping lalu tersenyum
"Ya sudah, pelan-pelan aja jalannya, kita masih mau jalan-jalan dulu sekitar sini. Hati-hati"ucap Nataza dibalas anggukan oleh Alvano
"Pi, Opa, Oma kita duluan pulang ya. Kalo mau tanya, tanya aja sama Mami, kami pergi dulu. Assalamualaikum"pamit Alvano dan pergi dari sana
"Waalaikumsalam"jawab semuanya bersamaan menatao Alvano dan Elina yang mulai menjauh dari mereka
Alvano menikmati saat berdua seperti dengan istrinya, sedari tadi dia tersenyum tipis sambil menatap Elina dari samping, Elina juga tersenyum saat Alvano menoleh menatapnya sesekali dia mencium pipi Alvano membuat wajah suaminya memerah malu, tak jarang ada orang yang berpapasan dengan mereka memberi senyum dan kekehan
"Mas"panggil Elina menatap Alvano yang menatapnya dari samping
"Kenapa?"tanya Alvano dengan terus melangkah meninggalkan taman
"Boleh beli itu gak?"tanya Elina sambil menunjuk gerobak penjual bubur ayam
__ADS_1
"Boleh, sebentar"balas Alvano dan melangkah ke penjual bubur ayam
sampainya disana, Alvano menurunkan Elina dikursi yang disiapkan oleh penjual. Alvano menghampiri penjual tersebut dan memesan dua porsi bubur ayam dan sekalian dia membayarnya, hufh...Alvano menghela nafas lega karna ada uang disaku celana olahraganya
"Loh mas, kok kamu yang bayar?,aku kan bawa uang buat bayar tadi"ucap Elina dibalas senyum oleh Alvano
"Gak papa, tadinya aku kira gak bawa uang tapi setelah aku cek ternyata ada uang pas sama harga 2 mangkok disaku, langsung buat bayar deh"balas Alvano membuat Elina menggelengkan kepala
"Permisi mas, mba. Ini buburnya"ucap penjual bubur dengan meletakkan bubur ayamnya dimeja
"Makasih banyak pak"ucap keduanya bersamaan hanya diangguki oleh penjual bubur lalu pergi dari sana
mereka makan dengan hikmat, hanya dentingan sendok yang terdengar dimeja mereka. Hingga datang beberapa anak muda yang membawa tas dan juga buku ditangan merek, mungkin seorang mahasiswa yang ingin makan juga disana, gadis-gadis tersebut sibuk memandang ke meja mereka lebih tepatnya menatap Alvano yang sepertinya sedang mencari air minum, Elina yang sedang mengeluarkan air minumnya didalam tasnya terhenti saat gadis-gadis itu menyodorkan botol air mereka pada Alvano, Elina hanya menatap sinis mereka yang tersenyum mengejek pada Elina
"Ini kak minumnya"ucap gadis tersebut setelah membuka tutup botol airnya pada Alvano
"Makasih, tapi maaf saya bawa sendiri. Sayang minum aku"jawab Alvano meminta air dari Elina yang hanya mengangguk dan memberikan botol minum Alvano dengan wajah datarnya
"Makasih Ay"ucap Alvano hanya dibalas lirikan oleh Elina lalu melanjutkan makannya lagi, Alvano hanya menghela nafas saat sudah jelas Elina sedang cemburu
"No need to be jealous honey, they are nothing compared to you, you are the only owner of my heart"ucap Alvano pelan membuat Elina menahan senyumnya sementara gadis tadi hanya diam menatap mereka berdua
"Ngapain masih disini?"tanya Elina dengan wajah datarnya
"Ngapain lagi kalo bukan nemenin mas nya"balas gadis itu tak tau malunya, sementara teman-temannya hanya menepuk jidatnya mereka dan menutup wajah mereka menggunakan buku malu ditatap sinis oleh Elina
"Ngapain sih pake panggil-panggil mereka?, gue kesini mau kenalan sama mas nya, lagian dia gak pantes sama cewek modelan kaya lo"ucap gadis itu membuat ketiga temannya meringis takut
"*Gila lo Amel, cari mati sama tuan Alvano pake bilang gitu ke bininya"
"Aduh Amel!!,mulut lo gak disaring banget sih"
"Amel gila emang, heran gue cari masalah terus hidupnya*"
batin ketiga temannya saat gadis bernama Amel ini menghina Elina, Elina yang melihat Alvano memejamkan mata dia tau jika suaminya sedang menahan marah sekarang
Alvano pindah kesamping Elina dan merengkuh pinggang istrinya dengan kembali memakan buburnya untuk meredakan maraknya saat melihat Elina yang tersenyum padanya seakan melarang dia untuk meluapkan amarahnya sekarang. Gadis bernama Amel ini tetap mengikuti Alvano dan memeluk lengan kekarnya sehingga Alvano berhenti untuk makan, dia terus berusaha menjauhkan tangan Amel dari lengannya dengan mendorong gadis itu hingga terjatuh,Amel kembali mendekati Alvano dan duduk dikursi sampingnya sambil merangkul kembali lengannya membuat Elina kesal dan bersiap mengatakan sesuatu
"Ouh ya?, memangnya anda pantas bersanding dengan suami saya?. Anda tau siapa suami saya ini?, dia Alvano Fauzan Aditama putra dari tuan Azam Faturrizky Aditama. Jika anda merasa pantas bersanding dengan suami saya syaratnya mudah dan syaratnya adalah harus punya malu, penurut, penyayang, tidak menghina orang lain, tidak menindas orang yang lemah, tidak merendahkan orang lain, dan satu lagi, dia masih perawan. Aku yakin kau tidak punya itu semua, karna sudah terlihat jelas sifatmu itu yang keras, pembangkang,suka menyakiti orang lain termasuk ketiga temanmu itu, kau juga gadis yang arogan, sombong, keras kepala dan lagi kau egois, semuanya sudah terbaca diwajahmu itu. Aku tidak yakin suamiku ini tidak akan betah jika dia menikah denganmu yang hanya suka foya-foya menghabiskan duit orang tua dan gonta-ganti pasangan sebagai teman sexmu, betul atau tidak nona?. Jika betul. kau boleh membawa suamiku, tapi jika tidak kau lepaskan suamiku dan pergi dari sini"ucapan Elina membuat Alvano membulatkan matanya menatap Elina mengangguk menenangkannya
"Sial!!. Dari mana perempuan ini tau semua tentang gue? gue gak kenal dia, tapi kenapa dia tau gue?, siapa dia sih? cenayang bukan tapi kenapa ucapannya benar semua, tapi kalo gue jawab benar gue yang malu sendiri mana banyak orang lagi, dan kalo gue jawab salah gue harus lepasin tuan Al...gue bingung!!"batin Amel menatap Alvano yang sedang menatap Elina
"T-tidak.. i-itu semua bohong..ka-kau bohong, k-kau salah. Kita tak saling kenal tapi kau -kau mengatakan...kau mengatakan semua itu didepanku, aku tidak segila itu, aku masih gadis kok, aku masih perawan"jawab gadis itu membuat Elina tersenyum
"Jadi aku salah kan?, sesuai ucapanmu tadi lepaskan suamiku dan pergi dari sini dengan cara baik-baik nona"ucap Elina membuat gadis itu kesal dan bersiap menampar pipi Elina namun dicegah terlebih dahulu oleh Alvano
"Jangan coba-coba kau sentuh istriku dengan tangan kotormu itu *****. Jika kita bertemu lagi nanti dan berani mendekatinya atau menyakiti keluargaku termasuk istriku. Akan aku pastikan kau sudah ada dineraka saat itu juga"ancam Alvano lalu menggendong Elina ala bridal style minggalkan mereka yang masih merinding takut atas ancaman Alvano, sementara Amel diam membeku ditempatnya menatap Alvano takut
"Dasar cewek pelakor. Gak punya malu dan gak tau diri, cantikan istrinya dibanding dia dan semua yang diucapkan oleh istri tuan Alvano tadi benar, soalnya Ameljawab tidaknya aja gagap takut kalo semua orang tau kalo dirinya seorang ***** yang memiliki sifat buruk dan kita gak akan mau punya temen kaya lo lagi, kita udah muak selalu diperintah sama lo manusia yang ga punya hati"ucap teman Amel dan pergi meninggalkan gadis itu sendirian
__ADS_1
"Akan gue bales kalian bertiga dan gue gak akan biarin kalian bertiga hidup tenang"teriak Amel dengan menendang gerobak bubur ayam tersebut
"Heh neng, gerobak saya rusak itu. Ganti rugi sekarang!!'ucap penjual bubur Ayam dengan mencekal tangan Amel
"Lepasin gue tua bangka. Jangan lo sentuh tangan gue sama tangan kotor lo itu dan gue gak akan pernah ganti rugi apapun ke lo, gue gak peduli sama gerobak sampai lo ini. Minggir"ucap Amel mendorong penjual bubur ayam hingga terjungkal dan Amel kabur dari sana
*****
Dirumah, Alvano langsung mengkompres kaki Elina menggunakan es batu yang tertutup kain handuk. Elina hanya blingsetan ke kanan dan kekiri lalu menggigit bantal gulingnya saat Alvano menempelkan es batu di kakinya, rasa linu dan nyeri bercampur jadi satu, Alvano hanya terkekeh melihat Elina yang menggigit bantal guling dengan wajah merah dan mata terpejam menahan sakit
"Udah ah mas.. sakit..."ucap Elina lirih karna suaranya teredam oleh bantal gulingnya
"Sedikit lagi oke. Setelah ini kamu gak boleh jalan dulu dan setiap hari harus dekompresi gini supaya memar kamu hilang dan bisa dibenerin kakinya"jawab Alvano terus menempelkan es batu tersebut dengan perlahan
"Selesai"ucap Alvano melangkah ke kulkas yang memang disiapkan khusus oleh Alvano dikamarnya lalu memasukkan kembali es batu tadi dan menjemur handuk yang membalutnya
"Mas!"panggil Elina menatap Alvano yang sedang membersihkan tangan basahnya dengan handuk kecil
"Kenapa hmm?"tanya Alvano menatap balik Elina yang tersenyum
"Pengin strowberi"balas Elina pelan membuat Alvano mengernyit, bukannya istrinya ini tak suka strowberi,kenapa tiba-tiba minta strowberi
"Tunggu dulu, coba ulangi lagi siapa tau aku yang salah dengar"ucap Alvano
"Pengin strowberi mas.."balas Elina dibalas wajah bingung dari Alvano yang membuat Elina kesal
"Kenapa sih ekspresinya gitu?"tanya Elina membuat Alvano bergeser dan sedikit maju kehadapan Elina
"Aku bingung aja. Bukannya kamu gak suka sama strowberi yang kata kamu asem, tapi kenapa sekarang kamu minta strowberi?"tanya Alvano dibalas gelengan kepala pelan oleh Elina
"Gak tau, pengin strowberi pokoknya"balas Elina dengan merengek semakin membuat Alvano bingung dengan sikap istrinya
"Iya nanti aku beliin, tapi harus makan nasi dulu biar gak sakit perut nanti,meski kamu udah makan bubur ayam, itu gak akan cukup, kalo kamu gak mau makan nasi dulu, aku gak akan beliin strowberi buat kamu"ucap Alvano diangguki oleh Elina
"Mas yang seger-seger dan gede ya"pinta Elina
"Oke. Nanti makanan kamu diantar sama bi Ani, aku cari strowberi dulu dikebun Opa"balas Alvano dan melangkah pergi dari sana
sampainya dilantai bawah, Alvano menghampiri bi Ani untuk menyiapkan dan mengantarkan makanan untuk Elina ke kamar, setelahnya Alvano pergi kerumah utama dan menghampiri Opa dan Omanya yang ternyata sudah pulang. Alvano langsung mengatakan tujuannya kesana dan menuju ke kebun belakang rumah setelah diberi izin oleh Opanya
"Al!"panggil Oma Ayu yang ada disebelahnya membantu Alvano
"Iya Oma"jawab Alvano
"Oma rasa istri kamu hamil deh Al"ucap Oma Ayu membuat Alvano menghentikan tangannya yang memetik strowberi
"Oma tau dari mana?"tanya Alvano menatap Omanya intens, jujur dia akan sangat bahagia jika itu benar adanya
"Oma hanya menebak saja Al, kau sendiri bilang tadi kan jika Elina minta strowberi yang dia sendiri tak pernah makan karna dia tidak suka dengan rasanya. Tapi tiba-tiba dia minta dan meminta memilih yang besar dan segar, apa itu tak aneh?, dan Oma ini pengalaman Al jadi Oma paham. Tapi lebih baik kamu cek aja kedokteran kandungan jika memang benar Alhamdulillah, jika salah ya bersabar, kan kalian masih pengantin baru karna menikah 1 bulan yang lalu"jelas Oma Ayu dibalas anggukan Alvano dengan wajah tampak berfikir
__ADS_1