Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Jangan Tinggalkan Bunda


__ADS_3

Dirumah Azam. Opa Aditya begitu khawatir dan bingung, kenapa cucunya dan cucu menantunya tidak ada rumah?, dan mereka pergi meninggalkan anak mereka serta Devina bersama bi Imah dan bi Ani di rumah.


Opa mencoba menghubungi Azam, tapi hpnya ada di meja ruang keluarga, lalu beralih menelfon Nataza, tapi hpnya ada meja dekat vas. Kenapa semuanya tak bisa dihubungi, bahkan menantu dan putranya tak bisa dihubungi.


Karna tak bisa menghubungi siapapun. Opa Aditya pergi ke kamar cicitnya dan bermain dengan mereka. Tapi baru membuka pintu sedikit, dia mendengar suara bi Ani dan bi Imah sedang berbicara dengan lirih, terdengar dari nada suaranya jika dia takut, panik, cemas dan sedih. 'Ada apa sebenarny**a?' batin Opa Aditya penasaran, lalu dia memasang menajamkan pendengarannya dengan menempelkan kupingnya di pintu


'Aduhh...bii..saya takut kalo terjadi sesuatu dengan Non Aza bi..ini salah saya, kenapa saya bisa lupa jika Non Aza sangat sensitif jika seseorang membahas tentang keluarganya. Ihhh bodoh sekali saya bi..bodoh..bodoh...Aden juga ikut sakit. Ini semua salah saya bi..."ucap bi Ani dengan sedikit berbisik, karna anak-anak sudah tidur


"Udah dong Ani, ini bukan salah kamu. Lupa kan wajar kita sebagai manusia. Kita berdo'a aja sekarang sama Allah SWT, semoga Non Aza sama Den Azam baik-baik saja dirumah sakit"jawab Bi Imah memeluk bi Ani menenangkannya


"Semoga aja bi, Ya Allah semoga Non Aza dan Den Azam gak papa ya Allah, angkatlah sakitnya ya Allah. Ini semua salah Ani, maafin Ani ya Allah, karna mulut ceroboh Ani sudah buat Non sama Aden masuk rumah sakit"do'a bi Ani dalam pelukkan bi Imah


Opa Aditya yang mendengar itu langsung membulatkan matanya, kenapa tak ada yang memberitahunya tentang masalah ini?, kenapa mereka menyembunyikan tentang kondisi cucunya darinya?


"Apa maksud ucapan kalian?"tanya Opa Aditya menatap kedua maid disana dengan tatapan tajam dan membuat bi Ani dan bi Imah terkejut karna kedatangan Opa Aditya


"T-tu-tuan. Besar!!"ucap keduanya terkejut,kenapa tuan besar tiba-tiba disini


"Jawab pertannyaanku Imah?, Ani?"pekik Opa Aditya yang sudah terlanjur kecewa, karna tak ada yang memberitahunya sama sekali


"Oaa..Oaaa..."tangis Devina membuat Opa Aditya beralih menatap cicitnya yang terkejut karna suaranya, lalu dia menggendong Devina untuk menenangkannya


"Cup...cup...cucu Opa terkejut ya nak ya?", maafkan Opa ya sayang?. Kalian!. Setelah Devina tidur, temui aku di ruang keluarga, jawab jujur pertannyaanku. Jika tidak aku akan melempar kalian hidup-hidup ke kandang singa milik Azam"ancam Opa Aditya setelah Devina tenang


"B-Baik Tuan Besar"jawab keduanya menunduk takut


Setelah kepergian Opa Aditya, bi Imah dan bi Ani mendudukan dirinya di kursi tunggu sebelah box bayi dan menghembuskan nafasnya lega lalu saling tatap mengingat perkataan Opa Aditya tentang memasukan mereka ke kandang singa milik Azam jika tidak jujur tentang kondisi Azam dan Nataza saat ini. Mereka berharap jika Devina tidak tidur sekarang, agar mereka bisa lolos hari ini untuk mempersiapkan diri besok untuk berhadapan dengan makhluk yang lebih seram dari singa


Dirumah sakit. Bunda Ayu dan yang lain dibuat begitu cemas sekarang, bagaimana tidak. Saat ini kondisi Nataza menurun dan sempat kejang hingga membuat tim dokter panik.


Entah kenapa, perasaan Bunda Ayu begitu tak enak tentang Nataza saat ini, dia merasa akan ada hal yang terjadi dengan menantunya. Bunda Ayu menggeleng menepis perasaan itu dan berdo'a semoga menantunya baik-baik saja

__ADS_1


didalam rungan, tim dokter sedang berusaha menormalkan detak jantung Nataza dengan alat bantu kejut jantung, mereka berharap setelah ini jantung Nataza bisa berdetak dengan normal. Setelah 20 menit berusaha dengan alat kejut jantung, akhirnya denyut jantung Nataza kembali normal dan warna tubuhnya tidak berubah pucat


Dokter tersebut keluar menghampiri Bunda Ayu dan yang lainnya yang sedang duduk cemas di kursi tunggu depan ruang ICU. Bunda Ayu yang melihat dokter pun langsung berdiri menghampirinya


"Dok, Gimana keadaan menantu saya?"tanya Bunda Ayu berharap


"Alhamdulillah, kondisi Nona sudah stabil Nyonya, memang tadi sempat membuat kami panik karna denyut jantungnya melemah, tapi Alhamdulillah Nona selamat"jelas dokter membuat yang disana bernafas lega


"Alhamdulillah, Kapan menantu saya sadar dok?"tanya Bunda Ayu


"Untuk saat ini, kami belum bisa memastikan kapan Nona akan sadar. Kita tunggu saja Nyonya, Jika besok Nona belum sadar. Kami hanya bisa mengatakan jika Nona koma Nyonya"jawab dokter tersebut lalu berlalu pergi keruangannya


"Gak mungkin kan Alika?...Gak mungkin kan menantu Bunda koma kembali karna traumanya?...Bunda gak mau kehilangan menantu Bunda Alika. Bunda gak mau..."tangis Bunda Ayu dalam pelukkan Alika yang ikut menangis


"Bunda...kita gak bisa mencegah apa yang akan terjadi dan yang sudah terjadi, kita ini hanya bisa berdo'a sama Allah semoga kak Aza besok sadar dan ingatannya gak hilang Bunda. Bunda gak boleh sepertu ini, kak Aza akan sedih lihat Bunda seperti ini, dia gak suka lihat air mata Bunda jatuh begitu saja karna nangisin dia. Bunda ingat bukan, saat kak Aza dirawat disini dan Bunda menangis didepannya?"ucap Alika dengan mengelus punggung Bundanya dengan sesekali mengecup pucuk kepalanya


'Bunda kenapa nangis?"


"Bunda...jangan buang air mata Bunda hanya untuk Aza. Aza gak papa kok Bunda"


"Bunda gak boleh nangis"


"Bunda, air mata Bunda berharga banget buat Aza, jangan jatuhin lagi ya?. Aza gak suka lihat


air mata Bunda jatuh"


"Bunda jelek ah kalo nangis, Pasti Aza jelek kalo Bunda juga jelek"


"Bunda...Nanti kalo Bunda nangis air matanya jangan dibiarin jatuh ya?, simpan di wadah kecil. Soalnya Aza mau simpan, sebegitu berharganya air mata Bunda buat Aza, Aza gak akan buang apa lagi buat nyiram tanaman, kan sayang air matanya...."


"Bunda?. Aza sayang banget sama Bunda, Bunda adalah ibu terhebat untuk Aza selamanya, Bunda wanita spesial yang ada dihati Aza. Makasih Bunda udah sayang sama Aza. I Love You Bunda"

__ADS_1


beberapa ucapan Nataza yang selalu diingat Bunda Ayu saat dia menangis. Nataza yang selalu menghapus air matanya disaat dia menangis, dia rindu sentuhan, ucapan manis, pelukkannya, kasih sayangnya, cintanya yang tulus untuknya, dan perhatiannya. 'Bunda rindu Za, bangun sayang, jangan tinggalkan Bunda' batin Bunda Ayu


"Bund. Kita harus kasih tau Ayah tentang kondisi kak Aza"ucap Alika dan di angguki oleh Bunda Ayu, dan meminta Brian untuk pergi keruangan Azam menemui Ayah Tama


Brian menganggukan kepelanya lalu melangkah pergi keruang rawat Azam, sampainya disana, Brian membuka pintu dan melihat Ayah Tama sedang memangku laptop dengan kaca mata bertengger di hidung mancungnya


"Assalamualaikum Yah?"ucap Brian lalu menutup pintu ruangan Azam


"Waalaikumsalam. Brian, kemari nak?"pinta Ayah Tama dengan melepas kaca matanya dan tangannya menepuk sofa disebelahnya


"Ayah...Emm..ada yang ingin aku beritahu kepadamu tentang...."ucapan Brian menggantung dengan menatap Azam yang belum sadarkan diri


"Tentang apa?...Aza?"tebak Ayah Tama dan diangguki oleh Brian


"Aza kenapa?, ada apa sama menantu Ayah?"tanya Ayah Tama dengan memindahkan laptop yang tadi dipangkuannya keatas meja didepannya


"Kata dokter kak Aza koma kalo sampe besok gak sadarkan diri Yah, Karna luka benturan dikepalanya cukup keras dan bisa jadi setelah sadar kak Aza hilang ingatan"jawab Brian membuat Ayah Tama memegangi dadanya terkejut dan jantungnya mulai berdetak begitu cepat


"Ayah..Ayah gak papa kan?, Aku panggilin dokter ya?"tanya Brian lalu berdiri hendak memanggil dokter, tapi tangannya dicekal terlebih dahulu oleh Ayah Tama


"Ayah gak papa, Ayah baik-baik aja. Jangan khawatir"ucap Ayah Tama dengan mengatur nafasnya


"Beneran Ayah gak papa?"tanya Brian kembali dengan menatap wajah Ayah Tama yang mulai berkeringat dingin


"Ayah gak papa nak, ini sudah sembuh,tidak sesak seperti tadi"jawab Ayah Tama dengan mengelus wajah Brian lembut


"Ya sudah, sekarang Ayah duduk aja disini ya, istirahat. Aku mau ke Bunda dulu, soalnya Alika kembali keruangan Irfan ditemani Bayu"ucap Brian dan diangguki oleh Ayah lalu pergi dari sana


Ayah Tama melangkah mendekati ranjang putranya yang masih memejamkan matanya, meskipun sudah stabil, tapi Azam belum juga mau membuka mata sedari tadi. Sudah ada 5 jam lebih Azam belum sadarkan diri, membuat Ayah Tama takut akan kehilangan putranya dan menantunya juga, Lalu menggenggam tangan Azam dan menciumnya


"Bangunlah nak, Kau tak lelah terus tidur seperti ini?. Bangun nak, Istrimu sedang membutuhkan dirimu saat ini. Bangun Zam, Ayah ingin memelukmu dengan erat saat ini. Ayah rindu dengan kenakalanmu, bangun nak?"ucap Ayah Tama lalu mencium dahi Azam dan pergi kesofa bad di ujung ruangan untuk tidur

__ADS_1


__ADS_2