
1 minggu telah berlalu, kini kandungan Elina telah memasuki usia 9 bulan hanya menunggu hitungan hari saja menuju kelahiran anak mereka. Semuanya sudah disiapkan untuk keberangkatan nanti menuju rumah sakit, termasuk kesiap siagaan anggota keluarga yang sudah standby dirumah Alvano.
bahkan Aiden, Nasyla dan Rania kembali dari luar kota untuk selalu menjaga Elina. Mereka rela homeschooling demi menjaga Elina dan kandungannya. Tanpa diminta oleh Azam atau Alvano mereka sudah berinisiatif sendiri untuk menjaga Elina dan menjadi bodyguard nya kemanapun Elina pergi kecuali jika didalam rumah.
Alvano duduk disamping Elina yang tengah berjemur sembari menatap Rania dan Riza yang tengah berpacaran dibawah pohon cemara dengan menikmati semangkuk es buah berdua.
tidak terasa, jika anak mereka akan segera lahir hanya dalam hitungan hari saja. Menurut dokter anak mereka akan lahir 5 hari, namun bisa jadi lebih cepat bukan karena selama ini Elina sering mengalami kontraksi palsu di setiap pagi dan malam harinya.
entahlah, perasaan Alvano mengatakan jika anaknya ini akan lahir diantara pagi dan malam hari. Jujur diwaktu seperti itu dia takut jika nanti anaknya lahir saat dia sudah pergi kekantor dan malamnya dia belum pulang karna selalu lembur dengan kerjaan.
dia jadi was-was jika dia tidak bisa mendampingi Elina melahirkan nanti karna tugas kantornya yang akhir-akhir ini selalu menumpuk.
lalu saat melahirkan nanti, apakah Elina akan sanggup mengeluarkan anak mereka? karna menurut dokter kondisi tubuh Elina terlalu lemah untuk melahirkan secara normal dan jalan satu-satunya adalah operasi. Tapi Elina menolak secara halus untuk operasi dan tetap memilih melahirkan normal.
ada alasan kenapa Elina tak bisa melahirkan secara normal. sekitar 4 hari lalu mereka menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan dan dokter mengatakan jika tekanan darah Elina cukup tinggi, sehingga dokter menyarankan untuk melakukan operasi Caesar.
"Mas"panggil Elina pada Alvano yang melamun.
"Ah. Iya? kenapa Ay?"tanya Alvano terkejut.
"Mikirin apa sih mas? dipanggil dari tadi diam aja, kenapa?"tanya Elina balik membuat Alvano mengusap wajahnya pelan.
"Enggak apa-apa kok. Kita masuk yuk, udah mulai panas banget nih mataharinya"ajak Alvano mengalihkan pembicaraan lalu mengajak Elina ke dalam mansionnya.
sampainya didalam, mereka duduk diruang keluarga bersama yang lainnya termasuk Opa dan Oma Alvaro turut hadir dan menginap disana demi menjaga Elina dan siap siaga jika Elina melahirkan namun Alvaro tidak dirumah.
mereka berbincang dan bercanda bersama-sama. Semuanya nampak bahagia apalagi sebentar lagi akan ada malaikat kecil diantara mereka dan semua masalah telah berakhir dengan cara yang... ah sudahlah!.
"Mas, aku ke kamar mandi dulu ya, udah kebelet soalnya"pamit Elina pada Alvano yang langsung mencegahnya.
"Aku antar, aku gak bisa biarin kamu sendirian ke kamar mandi, kalo terjadi sesuatu dan aku gak tau. Gak, jangan sampai"ucap Alvano lalu pamit pada yang lain untuk mengantar Elina ke kamar mandi.
Ya, sejak usia kandungan menginjak 9 bulan, Elina selalu bolak-balik untuk ke kamar mandi bahkan saat tidurpun dia harus membangunkan Alvano saat hendak ke kamar mandi untuk mengantarkannya kesana.
Namun, Elina sangat menikmati masa-masa ini, masa dimana dia merasakan menjadi seorang ibu yang sudah dia harapkan sejak awal menikah dengan Alvano.
Jika kalian bertanya bagaimana rasanya, Elina tidak dapat menjabarkannya yang jelas benar-benar nikmat dan dia menikmatinya dengan bahagia penuh suka cita.
"Pelan-pelan"ucap Alvano saat menuntun Elina masuk kedalam kamar mandi dan mendudukan nya diatas kloset, lalu dirinya keluar untuk menunggu diluar.
"Udah sayang?"tanya Alvano dari luar kamar mandi dan mendapat balasan dari Elina.
Alvano menuntun Elina duduk diatas ranjang mereka lalu dia pergi menuju lemari mengambilkan pakaian ganti Elina, karna yang tadi basah karna keringat.
"Mau mandi sekalian gak? udah lengket ini badannya karna keringat tadi pas jemur"tawar Alvano dibalas gelengan oleh Elina.
"Enggak perlu mas, kan baru aja mandi tadi masa mandi lagi"jawab Elina membuat Alvano tersenyum seraya geleng-geleng kepala.
"Ya udah deh. Sekarang pake ini aja ya, ********** gak perlu pake lagi gak apa-apakan?"tanya Alvano dibalas gelengan oleh Elina.
"Lebih sejuk malahan"jawab Elina membuat Alvano tertawa mendengarnya.
"Ada-ada aja kamu. Ya udah, sekarang kamu mau disini atau kembali ke ruang keluarga?"tanya Alvano membuat Elina berfikir lalu tersenyum.
__ADS_1
"Disini aja deh sama Mas. Males mau keluar-luar lagi"jawab Elina diangguki oleh Alvano.
tak lama, suara dengkuran halus terdengar dari Elina membuat Alvano menoleh dan benar saja, jika Elina tertidur dengan bersandar didada bidangnya dengan kedua tangannya masih melingkar erat di pinggangnya.
"Pantes nolak balik ke depan, ternyata udah ngantuk hmm!"ucap Alvano lirih sambil memandang wajah Elina dibawahnya.
dengan mulut sedikit terbuka, pipi yang tertekan oleh dadanya, dan anak rambut yang menempel di dahinya. Terlihat sangat menggemaskan sekali apalagi saat Elina semakin menduselkan wajahnya ke dada bidangnya untuk mencari tempat ternyamannya.
"Usstt...tenang sayang.. bobo lagi oke"bisik Alvano saat berusaha merebahkan tubuh Elina keatas ranjang dan membuatnya menggeliet dengan membuka matanya sedikit.
namun mendengar ucapan Alvano, dia kembali memejamkan mata dan tertidur kembali dengan nyenyak. Ingin sekali Alvano menggigit pipi Elina yang semakin cubby itu, tapi kasihan jika harus terbangun kembali karna terlihat sudah sangat mengantuk sekali.
Alvano turun dari ranjang dan keluar dari kamar menemui yang lainnya diluar. Dia menutup pintu dengan sangat pelan takut membangunkan Elina, setelahnya dia duduk menghampiri yang lain dan duduk sofa single.
"Kemana istrimu? kenapa kau sendirian? bukannya tadi kau mengantarnya ke kamar untuk ke kamar mandi?"tanya Oma Ayu dibalas senyum oleh Alvano dengan menyomot buah apel dimeja.
"Dia tidur Oma. Tadi habis dari kamar mandi aku ajak kemari tapi dia menolak, dan ya sebenarnya dia mengantuk tapi ditahan olehnya sejak tadi. Setelah memelukku ada 5 menit lebih, dia sudah tertidur dengan nyenyak lalu aku tinggal kemari"jelas Alvano membuat yang lain terkekeh.
"Biarkan saja, mungkin semalam dia memang begadang, apalagi untuk usia kandungan 9 bulan, itu akan membuatnya sangat jarang tidur dengan nyenyak karna kurang nyamannya posisi tidur dan rasanya... Ya kau tidak akan mengerti"jawab Oma Ayu dibalas anggukan oleh Alvano.
"Oma benar. Selama hampir 1 minggu ini, Elina memang susah sekali tidur karna terus mencari posisi yang paling nyaman menurutnya. Sempat aku belikan bantal tidur untuknya, namun dia menolak dan menyimpannya didalam lemari, dia lebih memilih memelukku entah dari depan atau belakang. Kadang aku yang kasihan ingin mengubah posisiku menjadi menghadapnya, justru dia menangis menolak agar aku tetap membelakanginya. Hufh..."jelas Alvano dengan menghembuskan nafasnya.
"Yang sabar ya nak. Setelah anak kalian lahir, pasti Elina akan kembali seperti semula saat dirinya belum hamil. Memang, ujian untuk suami saat istri mengandung itu luar biasa, harus selalu sabar dan ikhlas"jawab Azam dengan senyum dibibirnya.
Prang...
suara benda jatuh dari kamar Alvano membuat semua mendelik panik lalu berlari mengikuti Alvano yang sudah lari duluan ke kamarnya. Dengan sekali dorongan Alvano membuka pintu dan melihat Elina yang meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Kita kerumah sakit sekarang"ajak Alvano pada Elina yang hanya merintih sakit di gendongannya.
"Kami ikuti dibelakang Al"ucap Azam diangguki oleh Alvano yang langsung berlari menuju bangku kemudi.
sepanjang jalan, Alvano terus berdoa didalam hati semoga Elina dan bayinya selamat dan sehat. Dia tak bisa membayangkan sesuatu hal terjadi pada istri dan anaknya nanti.
"Mami. Tolong tenangkan Elina Mi, sebentar lgi kita akan sampai"ucap Alvano pada Natalan yang mengangguk lalu mengerjakan tugasnya, meski perjalanan masih setengah jalan, tapi demi menenangkan Elina dia rela berbohong.
"Mami... sakit..."rengek Elina dengan terus mengatur nafasnya.
"Mami tau nak. Tetap tenang, jangan panik oke. Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai rumah sakit"jawab Nataza.
"Kak Al, buruan. Kesihan kak Elina kesakitan"ucap Nasyla yang sudah menangis disamping Alvano.
"Jangan menangis Lala. Kau membuat kakak iparnya semakin panik, tenanglah"pinta Alvano dengan terus fokus pada kemudi.
"Hiks.. Lala takut kak"jawab Nasyla
"Tenanglah Lala, semua akan baik-baik saja"ucap Alvano menenangkan adiknya.
sampainya dirumah sakit. Alvano segera turun dan berlari kecil mengitari mobil dan membuka pintu belakang untuk mengeluarkan Elina. Didepan sana para perawat dan dokter kandungan sudah standby menunggu Elina sesuai perintah Opa Tama.
mobil Azam juga sampai da parkir disamping mobil Alvano, disusul mobil Riza, Dimas dan Adam. Semua keluarga turut hadir mendampingi Elina masuk kedalam rumah sakit.
Alvano terus menggenggam tangan Elina yang semakin erat menggenggamnya, dia tau jika Elina tengah menyalurkan rasa sakit yang dia rasa padanya. Kecupan hangat Alvano berikan pada dahi Elina untuk menguatkannya setelah mereka sampai diruang bersalin. diluar sana, semua keluarga menunggu dengan cemas dan khawatir akan kondisi Elina juga bayinya.
__ADS_1
"Semangat sayang. Aku yakin kamu kuat, kamu pasti bisa. Kamu harus bertahan demi aku, demi anak kita"bisik Alvano pada Elina yang hanya tersenyum tipis padanya dengan nafas yang tersengal.
dokter kembali datang dengan pakaian lengkap, beliau siap untuk membantu Elina bersalin. Elina memejamkan matanya erat sambil terus beristighfar dan berzikir dalam hati, dia berharap dia dan anaknya selamat.
"Pembukaannya sudah lengkap dan persalinan bisa dimulai. Siap bu Elina?"tanya dokter pada Elina yang mengangguk pelan.
"Baiklah. Ikuti intruksi dari saya lalu anda boleh mengejan"ucap dokter dan lagi-lagi diangguki oleh Elina.
Elina mengejan sekuat tenaga untuk mengeluarkan bayinya dengan tangan yang terus menggenggam tangan Alvano kuat, bahkan kukunya sudah menancap di punggung tangan Alvano, sementara tangan kirinya dia cengkramkan kuat pada bantal.
"Hiks.. sakit mas"tangis Elina yang merasa mulai tak kuat lagi untuk mengejan.
"Ayo sayang, kamu pasti kuat, kamu bisa. Kamu harus semangat demi anak kita lahir kedunia ini"bisik Alvano lalu mengecup dahi Elina sayang.
"Ayo bu Elina, kepala bayi anda sudah terlihat. Sedikit lagi"ucap dokter membuat Elina menatap Alvano yang mengangguk lalu tersenyum.
usapan dikepalanya membuat Elina memejamkan matanya lalu kembali menarik nafasnya dalam, dan sekali mengejan dengan teriakan yang memenuhi ruangan berhasil mengeluarkan anak mereka yang tangisannya bersahutan dengn teriakan Elina.
Alvano meneteskan air matanya saat itu juga dan kecupan dia berikan di seluruh wajah Elina, dalam hatinya dia terus berucap syukur pada Allah karna anaknya lahir dengan selamat, sama seperti Elina dan semua keluarga yang menunggu di depan ruang bersalin, mereka turut bahagia saat suara bayi melengking memenuhi ruang bersalin.
"Selamat sayang. Selamat kamu udah jadi Bunda" bisik Alvano lalu kecupan kembali dia berikan didahi Elina yang menangis bahagia lalu memeluk leher Alvano.
"Terimakasih karna sudah berjuang demi anak kita. Kamu hebat, kamu luar biasa Ay. Love you"lanjut Alvano dan kali ini dia mengecup bibir Elina setelah melepas pelukan mereka.
"Selamat pak Alvano dan Ibu Elina. Anak kalian perempuan, sangat cantik dan lucu"ucap dokter lalu memberikan bayi tersebut pada Alvano untuk diazankan.
dengan air mata yang kembali jatuh, Alvano mengumandangkan adzan pada putri kecilnya itu, putri pertamanya, malaikat kecilnya, princessnya dan bidadari kecilnya. Rasa syukur selalu Alvano panjatkan saat melihat wajah cantik anaknya itu lalu kecupan manis dia berikan pada putrinya.
"Selamat datang didunia ini putri Ayah"bisik Alvano lembut ditelinga putrinya.
"Ayah akan memberikanmu nama Aqeela Nabiha Sakhi, yang berarti: perempuan bangsawan yang cerdas dan murah hati, semoga kau suka dengan nama pemberian Opamu ya nak. Nama yang begitu cantik seperti dirimu"bisiknya lagi dan kali ini anaknya membalas dengan senyum yang begitu persis dengan Elina, manis dan cantik dibibir tipisnya.
Elina yang melihat Alvano mengadzani dan memberikan nama pada putrinya turut bahagia, apalagi saat melihat anaknya tersenyum mendengar nama yang Alvano bisikkan padanya, air matanya jatuh tak terhenti. Bahagia, ia sangat bahagia.
selang beberapa saat, semua keluarga turut masuk kedalam ruangan Elina yang sudah dipindahkan ke ruang rawat. Disana semuanya bergantian untuk memandang dan menggendong Aqeela.
"Kak. Aku panggil dedek bayi Sakhi aja ya, lucu soalnya sama seperti dedeknya"izin Nasyla dan Rania yang menyebut namanya bersamaan.
"Boleh saja ya kan kak, asalkan jangan sakti saja"celetuk Aiden mendapat geplakan di pundaknya oleh Rania.
"Ya enggak lah. Dia kan cewek masa sakti sih, aneh banget"senyut Rania tak suka membuat yang disana terkekeh dan geleng-geleng kepala.
"Sini. Biar Nabiha sama Papi"ucap Azam mengambil alih Aqeela ke gendongannya.
"Kok namanya beda-beda sih. Bagus juga Aqeela, lebih lucu dan menggemaskan"ucap Elvina tak suka.
Aqeela be like: Serah dah. Nama gue banyak jadi bebas mau panggil siapa.
"Nama panggilannya terserah kalian, bebas mau siapa aja, tapi khusus untuk kita berdua tetap Aqeela"jawab Alvano diangguki oleh Elina.
"Benar itu"ucap Elvina membenarkan ucapan kembarannya membuat yang lain terkekeh.
"Ishh.. cantik banget sih ponakan gue ini. Wajahnya setengah-setengah dari wajah kalian. Mata, hidung dan alis lebih mirip Alvano yang sipit, mancung dan tebal. Sementara bulu mata, bibir, dahi, pipi, dan dagu lebih mirip Elina yang lentik, tipis, sedikit jenong, cubby dan lagi dagunya kaya buah peach. Lucu banget"puji Riza memandang baby Aqeela, Alvano dan Elina bergantian,
__ADS_1
(ya iyalah kan orang tuanya Riza)
"Jangan pake lo-gue didepan anak bayi"ucap semua disana tegas memandang Riza horor , sementara yang ditatap hanya cengengesan sambil menangkup tangannya memohon ampun.