Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Penembakan


__ADS_3

1 minggu sudah Alvano dirawat dirumah sakit, dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Tapi tidak dengan Azam, ya mengingat kemarin anaknya mengeluh sakit dikepalanya, membuat Azam takut dan was-was sekarang


tapi karna rengekan Elvina yang meminta Alvano untuk pulang, akhirnya Azam mengalah dan memulangkan Alvano. Saat diperjalanan, mereka tampak bahagia dan begitu ceria, terlebih lagi Elvina yang selalu menempel kepada kakaknya dan tak ingin berjauhan. Azam dan Nataza hanya menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Elvina yang terus menempel kepada Al bagai perangko. Saat ini mereka sedang berada disebuah restoran karna memang sudah jam makan siang


"El sayang?"panggil Nataza kepada Elvina yang begitu menyulitkan Alvano saat berjalan


"Yes Mami"balas Elvina dengan menatap Maminya


"El jalan sendiri ya nak?, kasihan Kakak Al susah jalannya, dan nanti jatuh kalo El selalu memeluk kakak Al dari depan begitu. Kakak kan baru keluar dari rumah sakit, nanti kakak sakit kalo El jalannya seperti itu"tegur Nataza dengan mengusap pipi Elvina


"Yes Mami, i'm Sorry and Im Sorry brother"balas Elvina dengan menunduk lalu memeluk Nataza


"It's okay Princess, next time don't do it again. Ok"ucap Nataza membalas pelukkan Elvina


"Ok Mami"jawab Elvina dengan senyum kembali mengembang


"Mari makan?"ajak Azam dengan menggandeng Alvano dan Nataza menggandeng Elvina dibelakangnya


Sampainya didalam, mereka disambut dengan ramah oleh pemilik restoran dan para pegawai disana, pemilik restoran tersebut adalah sabahatnya sendiri yaitu milik Bayu dan Bayu sendiri yang menyambut kedatangan mereka


"Suatu kehormatan untuk kami , karna anda sudah bersedia makan direstoran milik saya ini. Selamat datang Tuan dan Nona Aditama"sambut Bayu dengan membungkukan badannya dan diikuti oleh pegawai yang lain


"Gak usah seformal itu juga, Lo ini sahabat gue atau karyawan gue?"tanya Azam lalu memeluk Bayu, karna hampir 1 bulan tak bertemu


"Ya gue sahabat lo sekaligus karyawan lo"balas Bayu dengan tawa ringannya


"Ayo masuk"lanjutnya dengan menggandeng kedua anak Azam dan Nataza


saat mereka masuk kesebuah ruangan yang cukup luas dan indah memperlihatkan suasana hutan dan kolam buatan di samping ruangan mereka. Azam cukup kagum dengan restoran sahabatnya ini, terlihat sederhana dari luar, namun mewah didalam






cukup nyaman dan tempatnya juga strategis, tak terlalu jauh dengan perkotaan dan hutan mampu membuat para pengunjung betah disana, terutama anak-anak yang terdapat kolam ikan dan air terjun buatan serta gazebo yang kini ditempati oleh Azam, Bayu dan Nataza




"Papi kita jangan pulang ya?, kita nginep ya?"ucap Elvina yang kini berada ditengah jempatan menatap ikan-ikan berenang

__ADS_1


"Heh! inikan restoran bukan vila apa lagi hotel, pasti akan tutup tentunya. Kita gak mungkin nginep disini, kamu mau dikurung disini sama Om Bayu?"tanya Azam dengan menyeruput kopinya


"Gak mau dikurung disini, aku mau pulang aja. Tapi dirumah bikin kolam kaya gini sama jembatannya ya Pi?"balas Elvina dengan mengajukan permintaan, setelah mendapat anggukan dari Azam, mereka kembali melanjutkan bermain


setelah selesai makan, mereka kembali melakukan perjalanan pulang kerumah. Saat sedang asik berceloteh dan bernyanyi, tiba-tiba suara tembakan terdengar nyaring dan mengenai kaca mobil depan sebanyak 4 kali dan selalu meleset,hingga yang terakhir mengenai lengan kiri Nataza, Azam yang terkejut langsung berhenti seketika,dapat Azam lihat dengan jelas jika sebuah mobil tengah menodongkan pistol kearah mobilnya


"Kalian gak papa sayang?"tanya Azam kepada kedua anaknya yang sedang memeluk lutut mereka karna takut


"Kami gak papa Papi?, tapi Mami!"balas Alvano dan melihat lengan Nataza berdarah, karna Nataza hanya mengenakan gaun tanpa lengan



"Sayang?... Astaghfirullah..lengan kamu?"ucap Azam panik dan khawatir tentunya


"Gak papa mas..sstt..cuma peluru meleset aja, gak papa kok"balas Nataza dengan menahan perih


"Gak papa gimana?, kamu luka dan kamu juga nahan sakit. Pokoknya kita balik kerumah sakit"ucap Azam dengan memutar balikkan mobilnya karna memang mereka belum jauh dari rumah sakit


20 menit perjalanan kerumah sakit dengan kecepatan diatas rata-rata, akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Azam langsung menggendong Nataza dan membawanya keruang IGD untuk diperiksa


"Papi?. Mami gak papa kan?. Mami baik-baik aja kan Pi?"tanya Alvano yang menangis dengan memeluk Elvina


"Mami gak papa kok. Mami baik-baik aja"balas Azam memeluk kedua anaknya


tak lama, Bunda Ayu, Ayah Tama dan yang lainnya datang dan kedua sahabat Azam, terutama Bayu yang begutu terkejut, baru saja Azam dan keluarganya pergi dari restonya tiba-tiba mendapat kabar buruk


"Aku belum tau Yah, karna dokter belum keluar dari tadi"jawab Azam dengan menghapus air matanya


"Gimana ceritanya sih Zam?, bukannya lo baru aja keluar dari resto gue dengan aman-aman aja?, kenapa tiba-tiba kejadian kaya gini?"tanya Bayu dengan bingung


Azam langsung menceritakan kronologi yang terjadi saat mereka hendak pulang tadi, dan semua terkejut mendengarnya terutama Ayah Tama, Bayu, Brian, Irfan dan Adam mengepalkan tangannya mendengar cerita tadi


Adam langsung mengambil hpnya dan menelfon anak buahnya, sama halnya dengan Bayu, dia menelfon Alex untuk melacak siapa pelakunya atau mungkin persembunyiaannya, tak lama dokter keluar dari ruang pemeriksaan membuat atensi mereka teralihkan


"Gimana keadaan istri saya dok?"tanya Azam cepat dan dibalas senyum oleh dokter


"Kondisi Nona baik-baik saja, hanya sekarang Nona masih dalam pengaruh obat bius seusai dijahit lengannya. Untuk luka tembaknya tidak terlalu parah, hanya tergores saja dan tidak terlalu dalam sehingga memerlukan operasi. Hari ini juga Nona bisa pulang jika sudah 2 jam setelah Nona sadar dan Nona akan dipindahkan keruang rawat saat ini juga"jelas dokter diangguki oleh Azam


Nataza dikeluarkan dari ruang IGD dan di pindahkan keruang rawat VIP sesuai permintaan Azam, setelah para suster dan dokter keluar,mereka mulai masuk untuk melihat kondisi Nataza, tak lupa Azam mengucapkan terimakasih kepada dokter


"Terimakasih Dok"balas Adam


"Sama-sama,kalau begitu saya permisi"pamit dokter pergi dari sana


"Mami?"pekik anak-anak kepada Nataza yang masih belum sadarkan diri

__ADS_1


"Ssuutt..kalian gak boleh berisik disini sayang, ini kan rumah sakit. Mami masih perlu istirahat, jadi biarkan Mami istirahat ok"ucap Azam memberi pengertian


"Ok Papi"balas kedua anaknya


"Zam?"panggil Adam dan keuar dari ruangan. Azam yang mengerti, dia langsung pamit kepada semuanya dan tak lupa mencium dahi Nataza. Azam keluar dari ruangan dan menghampiri Adam yang menunggu dibangku tunggu


"Ada apa Bang?"tanya Azam serius


"Kau kenal dengan Fredi?"tanya Adam menatap mata biru Azam dengan serius


"Fredi?, sepertinya aku pernah mendengar nama itu bang, terdengar tidak asing bagiku"balas Azam dengan menatap Adam yang sedang berfikir


saat mereka tengah larut dengan pikiran mereka masing-masing, mereka dikejutkan dengan kehadiran Ayah Tama, Irfan dan kedua sahabat Azam yang berdiri dihadapan keduanya dengan wajah datarnya


"Kenapa disini?"tanya Ayah Tama, karna Nataza sudah sadar dan mencarinya


"Kalian ini, bikin kaget aja"kesal Azam dengan berdiri dari duduknya, tapi tangannya dicekal oleh Adam


"Kita masih perlu bicara soal penembakan tadi Zam, duduk lagi"pinta Adam dan Azam hanya menurut


"Maksudmu?, kau sudah tau siapa yang menembak mobil Azam?"tanya Ayah Tama dan diangguki oleh Adam


"Siapa?"tanya mereka serempak, hanya Adam dan Bayu yang diam


"Anak buah Fredi"balas Adam dan Bayu bersamaan


"What?Fredi?"pekik Ayah Tama tak percaya


"Ayah!, ini rumah sakit!"ucap Azam memperingati Ayahnya yang seperti wanita ketika terkejut, berteriak


"Maaf boy, Ayah kaget"balas Ayah Tama dengan cengirannya


"Ayah kenal dengan Fredi?"tanya Bayu dengan menunjukkan foto Fredi kepada Ayah Tama


"Dia adalah sahabat Ayah waktu SMA, tapi persahabatan kami hancur, karna dia menuduh Ayah yang telah membunuh putrinya yang berusia 15 tahun saat itu. Sebelum kejadian memang putrinya mengerjakan tugas kelompok dirumah kami bersama dengan Azam, saat akan pulang. Azam sempat menawarkan untuk menganternya, tapi dia menolak dan mengatakan sudah dijemput oleh sopirnya


dan memang saat itu ada sebuah mobil datang kerumah kami untuk menjemput Lila, kami tak curiga karna laki-laki tersebut berpakaian seperti sopir dan memanggil Non Lila, jadi kami biarkan mereka pergi. Pagi harinya, ada 2 orang polisi datang untuk menangkap Ayah dan mengatakan Ayah yang sudah membunuh putri Fredi yaitu Lila, dan ada foto palsu yang memperlihatkan Ayah mencekik Lila, tapi tempat terjadinya berbeda, didalam foto bukan rumah Ayah, tapi polisi mengatakan jika itu rumah Ayah dan mengatakan jika Ayah mengancam Azam untuk tidak mengatakan apapun"jelas Ayah Tama


"Lalu Ayah bebas karna jaminan?"tanya Adam


"Tidak, Ayah bebas karna anak buah Ayah mendapat bukti yang akurat, jika Ayah tak membunuh siapapun dan melakukan apapun dengan Lila. Tapi Fredi kekeh dengan tuduhannya, jika Ayah yang melajukan semua kejahatan itu. Hingga saat ini dia masih menuduh Ayah yang membunuh Lila"balas Ayah Tama


"Ayah tadi bilang jika Om Fredi memiliki bukti foto,dimana Ayah mencekik Lila. Sementara Ayah memiliki bukti, jika bukan Ayah pelakunya ,sehingga Ayah bisa bebas. Menurutku ada orang ketiga yang sengaja memfitnah Ayah, agar hubungan persabahatan kalian hancur dan saling menyakiti seperti saat ini. Ouh jangan-jangan Jeff adalah orang suruhan Om Fredi untuk menyakiti keluarga kita"jelas Azam dan diangguki oleh semuanya


"Kau benar Zam, dan mungkin saja orang ketiga itu berteman dengan Fredi dan selalu menyalakan api kebencian di hati Fredi untuk Ayah"balas Adam dan disetujui oleh yang lainnya

__ADS_1


"Baiklah, bersiaplah untuk bermain semuanya, karna kita kedatangan tamu baru saat ini"ucap Azam dengan senyum smirknya, dan yang lain ikut tersenyum paham apa yang Azam katakan


__ADS_2