Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 49


__ADS_3

Alvano telah kembali dari kamar privasi setelah pembahasan tentang Jonathan. Ternyata memang benar jika Jonathanlah yang mengirim surat tanda maaf untuknya juga Azam, entahlah mereka harus percaya atau tidak dengan surat permintaan maaf dari Jonathan.


tapi setelah mereka kembali menyelidiki, mereka dibuat kaget dengan kabar yang mereka dapat jika Jonathan sedang koma dirumah sakit akibat kecelakaan setelah kembali dari rumah utama yang Azam tinggal.


Apakah Jonathan takut untuk mengatakan maaf secara langsung padanya dan Azam sehingga dengan cara mengirimkan sebuah paket berisi surat permintaan maaf untuk mereka? atau justru ini sebuah rencana Jonathan untuk kembali menyakiti keluarganya?.


"Tapi jika dipikir-pikir. Apa alasan Jonathan menyakiti keluargaku kembali?, dulu kami perang hanya karna mereka menginginkan Ayu, tapi sekarang Ayu sudah ada ditangan mereka sekaligus adiknya. Lalu apa lagi alasan Jonathan untuk menyakiti keluargaku?"gumam Alvano kembali berfikir sambil berjalan kearah kamarnya.


"Namun kabar yang Reza dan Dion dapatkan jika Jonathan menyiksa William adik Ayu karna telah menyakiti Elina dan Mami itu memang benar adanya, lalu apa mungkin permintaan maaf itu atas dasar karna melukai Elina dan Mami? Jika pun benar, apakah Jonathan tulus mengatakan maaf itu?"lanjutnya lalu membuka pintu kamarnya dan ternyata istrinya masih tertidur dengan posisi miring ke kiri menghadapnya.


Alvano menutup pintu kamarnya dengan perlahan lalu menghampiri Elina dan duduk dilantai menyamakan wajahnya dengan wajah Elina yang tenang dalam tidurnya membuat Alvano tersenyum.


"Cantik banget istrinya Alvano"bisiknya dengan tangan mengusap pipi Elina yang putih mulus, sangat lembut ditangan Alvano yang berurat.


"Ay.. bangun sayang"lanjutnya membangunkan Elina dengan menusuk pelan pipi gembul istrinya.


"Hai.. bangun sayang"bisik Alvano kembali dan kali ini dia meniup wajah Elina dari dahi hingga bibir dengan tangan masih aktif menusuk pipinya.


"Emmhh.. "lenguh Elina yang menolak untuk bangun dan kini justru merubah posisi menjadi terlentang membuat Alvano geleng-geleng kepala.


"Dasar bumil. Kalo gak males mandi pasti males untuk bangun tidur"gumam Alvano lalu bangkit dan duduk diranjang sebelah Elina dimana tempatnya tidur.


"Hai.. bangun Ay. Kamu gak mau ikut pengajian hmm?"tanya Alvano dengan mengusap pucuk kepala Elina.


"Ihh.. nanti mas.. aku masih ngantuk"jawab Elina kesal dan kini justru memeluk gulingnya.


"Kok nanti. Ini udah jam 12 loh, kita udah dipanggil Mami untuk makan siang loh"ucap Alvano dengan mengkambing hitamkan Maminya agar Elina mau bangun.


"Mami?"tanya Elina yang perlahan membuka matanya menatap Alvano yang mengangguk diatasnya.


"Aaa.. masih ngantuk"dengan sebal Elina menghentakan kakinya dan tangannya memukul ranjang membuat Alvano terkekeh melihat istrinya yang kesal.


"Nanti tidur lagi kalo udah selesai pengajiannya. Sekarang makan siang dulu terus mandi"ucap Alvano membujuk Elina yang cemberut namun dia tetap menurut dengan turun dari ranjang menuju kamar mandi.


"Mau ngapain? kan makan siang dulu kita?"tanya Alvano heran menatap Elina menuju kamar mandi.


"Aku mau mandi dulu aja. Makannya nanti aja setelah mandi"jawab Elina dengan nada kesalnya dengan terus melangkah ke kamar mandi membuat Alvano geleng kepala dengan tersenyum melihat tingkah istrinya yang kesal.


Setelah Elina masuk kedalam kamar mandi, Alvano mengirimkan pesan pada Azam untuk memesankan makanan sesuai dengan daftar makanan yang Alvano kirimkan barusan dan dia juga mengatakan jika dia yang akan membayarnya nanti, tak lupa dia juga mengatakan jika Natazalah yang memesankan makanan didepan Elina jika bertanya nanti, jika tidak sih tak masalah.


setelah disetujui oleh Azam, Alvano menuju kopernya mengganti batiknya menggenakan kaos biasa berwarna hitam dengan gambar bunga mawar putih disudut kanan dadanya, selesai memakainya Alvano kembali menuju ranjang untuk menunggu Elina mandi sambil bertukar pesan dengan sang Papi.


tak lama, pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Elina yang sudah lengkap dengan baju tunik putih dengan celana senada dengan bahan sangat lentur sambil menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.


Dia melangkah menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya menggunakam alat pengering rambut tanpa memerdulikan Alvano yang menatapnya sedari keluar kamar mandi. Aroma Lavender begitu menyengat saat Elina melewatinya membuat darah Alvano berdesir mencium aromanya.


"Ya Allah. Tahan.. tahan.. "batin Alvano menatap sesekali menatap Elina lalu beralih menatap ponselnya.


Elina menghampiri suaminya yang masih terlihat fokus pada ponselnya namun wajahnya gugup melirik Elina yang menghampirinya membuat Elina mengerutkan dahinya melihat wajah suaminya gugup.


"Mas kenapa?"tanya Elina lalu tangannya terulur menyentuh dahi suaminya.


"Kenapa memangnya? ini ngapain tangannya sayang?"tanya Alvano yang merasakan tangan Elina dari dahi memutari wajahnya hingga turun ke leher.


"Enggak panas kok. Tapi kok wajah mas merah mana gugup gitu lagi"ucap Elina membuat Alvano mengusap pipinya yang terasa panas apalagi saat mendapati kancing baju Elina yang belum terpancing bagian atas sehingga memperlihatkan dadanya yang menyembul dari tempatnya.


'Sial! kenapa harus liat bola basket sih? kan punya gue bereaksi, gak mungkin gue terkam bini gue sekarang, bisa-bisa gue kena amuk Mami karna kelamaan turun' batin Alvano dengan sesekali melirik dada Elina.


"Mas!"panggil Elina dengan nada kesalnya sambil menepuk bahu Alvano sedikit keras.

__ADS_1


"Aduh... sakit sayang"ringis Alvano merasakan tabokan Elina yang sedikit terasa meski tak sakit sih.


"M-maaf mas. Sakit banget ya?"tanya Elina panik sekaligus merasa bersalah.


"Sakit banget sayang. Apalagi kamu mukulnya benar luka sayatan aku"jawab Alvano beralasan menatap sambil mengusap. lengannya.


Ya 1 minggu lalu Alvano kembali mendapatkan penyerangan menggunakan pisau menyayat lengannya dari seseorang entah suruhan siapa, karna saat dilacak mereka menggunakan motor tanpa plat nomor sehingga sulit untuk dicari oleh Dion ataupun Reza dan saat berhasil ditemukan orang tersebut justru bunuh diri dengan melompat dari atas jembatan karna terlalu setia pada sang tuan.


"Maaf mas.. apa sakit sekali?"tanya Elina khawatir bahkan matanya berkaca-kaca membuat Alvano tak tega.


"Enggak sayang, hanya nyeri sedikit. Tapi kalo mau sembuh total kamu harus cium aku dulu"ucap Alvano mencari kesempatan.


"C-cium dimana?"tanya Elina sedikit ambigu membuat Alvano menelan ludahnya.


"Sini, sini, sini, sini dan sini"jawab Alvano menunjuk dahi, kedua pipinya, hidung dan bibirnya dan dituruti oleh Elina.


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


"Emhh.."lenguh Elina saat dirinya mengecup bibir Alvano namun dilum*t oleh sang empu.


lalu Alvano langsung melepasnya saat merasa Elina kehabisan nafas dan ibu jarinya terulur untuk mengusap bibir istrinya yang lembut dan manis menurutnya.


"Bibir kamu manis. Makasih"bisik Alvano lalu mengecup pipi kanan Elina yang blussing dan dia turun dari ranjang dengan tangan terulur meminta tangan Elina dan disambut oleh Elina.


"Loh. Elvi belum keluar?"tanya Alvano dibalas gelengan oleh mereka.


"Papi udah telfon keduanya sedari tadi tak diangkat, bahkan Aiden udah kesana untuk memanggilnya tapi tak ada suara apapun dari dalam"jawab Azam membuat Alvano terkekeh dengan duduk disamping istrinya.


"Papi kaya gak pernah muda aja. Papi kan tau kalo kamar Elvi kedap suara jadi mana mungkin Aiden akan dengar dan lagi Al yakin kalo Elvi akan keluar dengan kondisi habis keramas dan pincang. Lihat aja"ucap Alvano membalas ucapan Papinya yang menatapnya kesal sementara Alvano terkekeh.


"Mas!!.. kok ngomongin itu sih? ada anak-anak disini"bisik Elina sambil mencubit perut suaminya yang sixpack.


"Akhh...sakit sayang"ringis Alvano tangannya terulur menggosok perutnya yang dicubit oleh Elina.


"Makanya kalo ngomong di kontrol"jawab Elina kesal dan tak peduli saat Alvano meminta maaf padanya sambil memeluk pinggangnya dengan wajahnya dia duselnya dileher istrinya mengecupnya berkali-kali tanpa meninggalkan bekas.


"Bucin terusss..."ucap Aiden kesal melihat kelakuan kakak sulungnya.


"Serah kakak lah mau ngapain aja, udah sah ini"jawab Alvano telak membuat Aiden mematap kakaknya sebal.


"Ini kapan makannya sih? El laper"keluh Nasyla yang sudah lapar sedari tadi.


"Sabar sayang. Tunggu kak Elvina dulu ya"ucap Nataza menenangkan putri bungsunya.


"Tapi Lala udah laper banget Mami, kan dari pagi belum sarapan karna bantu kak Elvina dandan juga"jawab Nasyla jujur.


karna memang dia yang membantu MUA mendandani kakaknya karna make up MUA pilihan kakaknya tak sesuai dengan harapan sang kakak, sehingga Nasyla lah yang mendandani sang kakak karna dirinya yang pintar dalam urusan make up.


"Siang semua. Maaf kita telat"ucap Elvina dengan berjalan pincang.


"Kenapa jalannya gitu? kaki kamu sakit?"tanya Alika menggoda Elvina yang ternyata biasa saja tak malu-malu kucing seperti wanita pada umumnya setelah melakukan naninu.

__ADS_1


"Ouh ini. Tadi sempat kegelincir di kamar mandi tante, terus mas Dimas sempat urut kaki El biar bisa jalan lagi. Udah mendingan sih gak sesakit tadi sebelum diurut"jawab Elvina dan duduk dibangkunya dibantu oleh Dimas.


"Kok bisa kegelincir sih? bukannya kamar mandi hotel harusnya aman yah gak licin? kok kamu bisa kegelincir?"tanya Bunda Ayu sepertinya mulai tak suka dengan pekerja dihotel mereka.


"Tadi waktu habis mandi gak sengaja handuk yang aku pegang senggol botol sabun mandi sampai tumpah semua Oma jadinya aku kegelincir deh"jawab Elvina dengan menatap Omanya yang terlihat kesal.


"Kamu gak apa-apa kan El?"tanya Elina menatap adik iparnya yang tersenyum menggeleng padanya.


"Enggak apa-apa kok kak. Cuma linu sedikit terus nanti dikompres juga udah baikan"jawab Elvina menangkan kakak iparnya yang terlihat khawatir.


"Ya sudah. Sekarang kita makan siang dulu setelahnya siap-siap untuk acara pengajian"perintah Ayah Tama pungkas membuat mereka diam lalu memakan makanan mereka masing-masing.


selesai makan, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap ke acara pengajian yang sebentar lagi akan dimulai. Alvano langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan sekalian wudhu untuk melaksakanan sholat dhuhur.


Alvano keluar dari kamar mandi dengan koko putih dan celana bahan hitam dan melihat Elina sudah siap dengan mukenanya, lalu mereka melaksakan sholat dhuhur bersama.


selesai sholat dhuhur, mereka mulai bersiap lebih tepatnya Elina yang bersiap, dia duduk didepan meja rias untuk meras tipis wajahnya tanpa make up, hanya bedak dan lip tint agar tidak pucat lalu memakai jilbab putih senada dengan bajunya meski ada sedikit corak hitamnya.


Alvano menghampiri Elina untuk mengambil peci hitam dan jam tangannya diatas meja rias. Setelahnya dia menatap istrinya yang begitu cantik mengenakan hijabnya, meski belum rapi seperti wanita muslim diluar sana namun Alvano senang melihat istrinya tertutup seperti sekarang.


"Mas"panggil Elina menatap Alvano yang tersenyum padanya.


"Cantik kalo pakai hijab gini"puji Alvano membuat Elina tersenyum malu.


"Makasih mas, kamu juga ganteng banget"jawab Elina menatap kearah cermin didepannya melihat suaminya yang tersenyum manis padanya. Namun dihatinya bertanya-tanya apakah dia pantas mengenakan hijab?.


"Ya udah yuk turun. Yang lain udah nunggu di aula"ajak Alvano diangguki oleh Elina dan membantunya bangun dari duduknya lalu keluar dari kamarnya.


kini meraka telah berada di aula dimana semua telah duduk lesehan diatas karpet bulu yang disediakan oleh pihak hotel khusus untuk pemilik hotel. Ya sebenarnya duduk dikursi juga tak masalah namun kata Bunda Ayu lebih enak dan nyaman duduk lesehan saja, Mau melawan takut dosa gaes.


"Kamu duduk disini dulu yah. Aku ambil minum dulu"pamit Alvano sebelum pergi meninggalkan Elina bersama adik-adiknya.


setelah kepergian Alvano, Elina banyak mengobrol dengan adik-adik iparnya dan juga teman-teman Elvina, mereka seru dan asik menurut Elina, bahkan canda tawa terdengar paling heboh ditempat mereka yang lain hanya menatap mereka dengan geleng-geleng kepala apalagi para lelaki.


"Kak El, berapa usia babynya?"tanya seorang teman Elvina yang terlihat bermake up menor.


"Alhamdulillah jalan 6 bulan"jawab Elina diangguki oleh mereka.


"Wihh...sebentar lagi babynya lahir dong?"tanya seorang lagi diangguki oleh Elina.


"Kalo aku lihat-lihat sih ya, anaknya kak Elina ini bakal cewek deh dan nanti anak keduanya juga cewek lagi dan yang ketiga baru cowok"tebak seorang teman Elvina yang memang katanya bisa membaca masa depan dan semua yang dia katakan semua menjadi nyata.


"Masa sih?"tanya Alvano yang tiba-tiba muncul disamping Elina membuat mereka terkejut.


"Kak Al. Maaf kak bukan maksud aku.. "ucapan gadis tersebut terpotong saat seorang MC telah mengumumkan jika acara pengajian akan dimulai.


mereka kembali ketempat masing-masing dan Elina kembali memikirkan ucapan teman Elvina tadi, padahal dirinya berharap jika anak pertamanya akan laki-laki agar bisa menjaga dan melindungi adik-adiknya kelak, tapi jika benar anak pertamanya perempuan dia juga tak masalah sih kan dia tetap anaknya.


Alvano yang melihat raut wajah istrinya berubah merasa aneh, ada apa dengan istrinya ini? kenapa tiba-tiba wajahnya murung seperti sekarang? apa karna kepikiran ucapan teman Elvina tadi atau karna hal lain?.


"Gak perlu dipikirkan sayang. Ucapan manusia belum tentu menjadi nyata, bisa jadi palsu dan hanya omong kosong belaka atau bahkan sebuah kebetulan aja. Lagian mau anak pertama kita laki-laki atau perempuan itu sama aja, karna mereka adalah anak kandung kita. Yakinlah sama Allah, karna dia yang paling tau akan skenario kehidupan umatnya. Jangan dipikirkan lagi oke dan jangan jadi beban pikiran untuk kamu"bisik Alvano menjelaskan pada istrinya yang langsung tersenyum.


"Udah ya, jangan dipikirin lagi. Nanti kamu sakit lagi dan aku gak mau itu terjadi"lanjut Alvano lalu menarik Elina kedalam pelukannya dan mulai mengikuti acara pengajiannya dengan tenang.


Gadis tadi yang meramal anak Elina dia merasa kesal dan cemburu melihat Alvano yang memeluk Elina dengan begitu mesranya didepan semua orang, bahkan semua yang melihat itu merasa iri pada pasangan itu.


Namanya Adalah Anjani, gadis yang memiliki ahli meramal seseorang sejak dirinya masih kecil. Gadis tersebut memang suka pada Alvano sejak lama saat masuk dunia perkuliahan sampai sekarang dan berharap akan menikah dengan Alvano. Namun harapannya hancur saat mengetahui Alvano telah menikah dengan wanita lain yang kini menjadi istri sahnya.


Anjani memendam perasaannya sendiri sejak lama pada Alvano karna dirinya hanya anak orang tak punya, dia merasa malu jika harus memiliki hubungan dengan Alvano dan dia juga takut akan menjadi bahan cacian orang-orang terutama tetangganya jika sampai menikah dengan Alvano.

__ADS_1


hingga kabar menyakitkan itu datang dan dia justru bertemu dengan seorang pria yang memiliki sifat yang sama dengan Alvano meski dia tidak sedingin dan sekaku Alvano. Kini mereka telah menjalin hubungan pertunangan dan dua bulan lagi akan menikah.


__ADS_2