
1 bulan berlalu. kini persiapan pernikahan Alvano dan Elina sebentar lagi selesai, mereka akan menikah esok hari dan sekarang mereka sedang menjalani masa pingit, ya sebuah tradisi yang selalu dijalankan secara turun-temurun ke anak cucu mereka. Menjelang hari pernikahan mereka, calon mempelai prialah yang paling uring-uringan karna harus jauh dari calon istrinya. bahkan berkomusikasi saja tidak boleh oleh Oma Ayu dan Mami Nataza membuatnya semakin tak fokus dan terus merasa bosan dirumah maupun dikantornya
bahkan kini Alvano sedang didalam ruangannya, dia harus berangkat ke kantor karna banyak berkas yang harus dia tanda tangan dan beberapa pertemuan dengan kliennya diberbagai tempat, tapi menurutnya itu semua membosankan hingga dia tidak tau harus berbuat apa dan melakukan apa?, dia bingung dengan hidupnya tanpa mendengar suara Elina semuanya terasa hambar dan sepi
Tok... tok... tok...
suara ketukan pintu membangunkan Alvano yang sedang memejamkan matanya dengan bersandar disandarkan kursinya, dia melihat kearah pintu dan melihat Asisten Dion masuk kedalam rungannya
"Permisi bos, apa saya menganggu waktu anda?"tanya Asisten Dion merasa tak enak karna melihat Alvano yang terlihat lesu dan tentu saja wajahnya yang sedikit pucat
"Tidak. Ada apa?"balas Alvano sambil menernakkan duduknya
"Baiklah, Saya hanya memberitahukan jika anda akan ada pertemuan dengan perusahaan xxxx di restoran xxx nanti saat makan siang"jelas Asisten Dion
"Hmm. Siapa yang akan mewakili perusahaan xxxx?, aku dengar tuan Handrik tidak bisa hadir karna sedang perjalanan bisnis ke Paris?"tanya Alvano merasa ada yang aneh disini
"Pertemuan nanti akan digantikan oleh putra tuan Handrik bos, untuk sementara waktu perusahaannya dipegang olehnya meskipun pernah hampir bangkrut karna putranya selalu korupsi dan selalu berbuat sesuka hati, tapi dia tetap berhasil mendirikan kembali perusahaan Ayahnya dengan meminta bantuan keperusahaan kakeknya"jelas Asisten Dion dengan membaca laporan ditabnya
"Hmm baiklah. kau atur saja semuanya"balas Alvano lalu bangkit menuju kamar pribadinya
"Dion. tolong jam 10 bangunkan aku ya, kepalaku sekarang sakit"lanjutnya dan meninggalkan Asisten Dion yang menatap punggung Alvano
"Baik bos, selamat beristirahat"balas asisten Dion mendapat acungan jempol Alvano sebelum masuk kedalam kamar pribadinya
Asisten Dion keluar dari ruangan Alvano dan menutup pintu dengan rapat, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomer telfon Nataza, setelah dapat dia menelfonnya dan memberitahukan kondisi Alvano sekarang
"Halo Mami Assalamualaikum . Maaf mengganggu Mami, Dion hanya ingin memberitahukan kondisi Al Mi, sepertinya dia sakit Mi, soalnya wajahnya pucat dan dia bilang kepalanya juga sakit"jelas Dion, ya semua sahabat Alvano dianggap anak oleh Nataza dan Azam dan mereka diharuskan memanggil Mami dan Papi sama seperti Alvano
"Iya, Dion tunggu diloby kantor ya Mi. Assalamualaikum"ucap Asisten Dion lalu melangkah menuju lift. baru saja akan masuk ke lift dia melihat Yolanda sedang bersama Guntur, sekertarisnya
"Ngapain sih mereka pake ketawa-ketawa segala?, apa Guntur suka sama Yola?. Gak!, Yola hanya punya gue, Guntur gak bisa ambil Yola dari gue"gumam Dion lalu melangkah masuk kedalam lift meninggalkan mereka, biar saja nanti dia tanyakan pada Yolanda
Dion berlari menuju loby, dan pas sekali mobil Nataza baru saja berhenti dan pemilik mobil pun keluar dari mobil. Dion segera menemui Nataza dan menawannya menuju ruangan Alvano, dapat Dion lihat guratan kekhawatiran diwajah Nataza saat ini, bahkan tangannya bergetar sambil menggenggam erat tasnya karna khawatir memikirkan Alvano
"Dion, putraku baik-baik saja kan?, kalian tidak menyembunyikan sesuatu dari aku kan?"tanya Nataza menatap Dion khawatir dan takut
"Al baik-baik saja Mami, mungkin saja dia kelelahan karna selama 1 minggu ini dia lembur dan pulang selalu ke apartemen lewat tengah malam. Maklumkan saja Mami, dia sedang masa pingit dan dia juga harus menyelesaikan semuanya belum hari-H. Jadi mami tak perlu terlalu khawatir ya, nanti Mami juga ikut sakit"jelas Dion mencoba menenangkan Nataza
"Kau benar, tapi kenapa juga harus lembur coba dan lihat sekarang dia sakit disaat hari pernikahannya 1 hari lagi"balas Nataza yang saat ini hanya mereka berdua didalam lift menuju ruangan Alvano
sampai didepan ruang Alvano. Nataza langsung masuk kedalam ruangan Alvano dan melangkah menuju kamar pribadinya, disana dia melihat Alvano sedang meringkuk diatas ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya, Alvano juga menggigil dingin
"Al, sayang. Ini Mami nak"bisik Nataza dengan mengelus kepala Alvano dan sesekali memijit pelan dahinya yang panas
"M-Mami... d-dingin Mi"gumam Alvano dan membalik tubuhnya menghadap Nataza lalu memeluk perut Maminya mencari kehangatan
"Iya sayang, Mami tau nak. Kita pulang ya"ajak Nataza dan meminta Dion membantunya membawa Alvano pulang
Dion dan pak Imam supir pribadi Nataza membawa Alvano menuju mobil dan membawanya pulang. Alvano hanya memejamkan matanya dan terus saja menggigil dan mengigau memanggil Elina, sampainya dimobil mereka langsung kembali kerumah utama dan kantor akan diurus oleh Dion
"Be, pak bos kenapa?"tanya Yolanda yang tiba-tiba muncul disamping wajah Dion
__ADS_1
"Astagfirullah Be, ngagetin tau gak"ucap Dion terkejut dengan memegang dadanya
"Hehe..maaf be. Ouh iya pak bos kenapa?, kok pucat gitu wajahnya?, terus kenapa juga panggil-panggil Elina?, mereka kan lagi dipingit kenapa pak bos nyariin Elina?, emangnya pak bos gak tau kalo mereka lagi di pingit?, atau malah pak bos ngira kalo Elina marah sama dia makanya pak bos panggil-panggil Elina?"cecar Yolanda membuat Dion memijit pelipisnya karna pusing mendengar pertanyaan kekasihnya ini
"Be, bisa tanya satu-satu gak?, bingung aku mau jawab yang mana dulu"keluh Dion dengan menangkup kedua pipi cubby Yolanda
"Iya maaf be. Aku kan kepo"balas Yolanda terkikik
"Sekarang kita masuk oke. Aku lagi banyak kerjaan"uvap Dion dengan merengkuh pinggang Yolanda
"Siap ayok"balas Yolanda dan tanpa Dion duga Yolanda justru mengecup pipinya
"Semangat kerjanya sayangku"bisik Yolanda lalu berlari ke kamar mandi meninggalkan Dion yang masih mematung diambang pintu masuk dengan senyum manis mengembang indah diwajah tampannya
'Akhh...sialan!!!...gue baper!!!' teriak Dion didalam. hatinya dengan melangkah cepat meniru ruangannya
****
ditempat lain, Kini Alvano sedang diperiksa oleh dokter pribadi keluarga Aditama, meskipun memejamkan mata tapi bibirnya terus bergumam memanggil Elina dan Elina, membuat semua anggota keluarga bingung sekarang
"Bund!, ini gimana ya?, Aza bingung Bund. Gak mungkin Aza minta Elina kesini untuk ketemu Al, kan mereka masih masa pingit, tapi kalo enggak ketemu Al panggil-panggil terus bahkan dokter menyarankan untuk membawa Elina kemari supaya demam Al turun"ucap Nataza dengan terus mondar-mandir didepan pintu kamar Alvano
"Bunda juga bingung sayang. Tidak mungkin kita membawa Elina itu pamali"balas Bunda Ayu yang ikut mondar-mandir dibelakang Nataza
"Mami sama Oma ngapain sih?,mondar-mandir mulu dari tadi,mana kaya kereta gitu urutan"celetuk Aiden lelah melihat Maminya dan Omanya yang terus mondar-mandir dan berbincang secara bersautan
"Gak ngapa-ngapain, lanjut aja mainnya"balas Bunda Ayu bingung
"Bund!, Elina telfon aku. Gimana ya Bund kalo dia tanya soal Alvano?, aku bingung mau jawab apa?"tanya Nataza yang masih dalam bingungnya
"Gini aja, Gimana kalo kamu minta Elina untuk buat rekaman suaranya, nah nanti kamu kirim kalimat yang harus Elina rekam, nanti kirim lagi ke kamu lalu kita kasih ke Al gimana?"tanya Bunda Ayu setelah menemukan ide
"Kita setuju Bunda!!"seru Alika dan Azam yang muncul dibelakang Nataza
"Good ayo lakukan Za"pinta Bunda Ayu dibalas anggukan oleh Nataza
Nataza mengangkat telfon tersebut dan segera mematikannya dengan alasan hendak pergi dan dia juga mengirimkan pesan serta kalimat yang harus Elina buat rekaman suara untuk Alvano dan dalam hati dia terus berharap semoga ini berhasil sampai besok hari-H Al sudah mendingan dan sehat
****
Dirumah Elina, dia sedang bingung saat ini, kenapa calon mertuanya meminta rekaman suaranya dengan mengirimkan kalimat yang harus dia baca, tapi tak apalah lagi pula dia juga ingin tau kondisi Alvano meskipun hanya lewat Maminya, yang penting sedikit rasa rindunya terobati. Semoga firasatnya yang tak enak tentang Alvano hanya palsu dan Alvano baik-baik saja
setelah mengirimkan rekaman suaranya pada calon mertuanya, Elina memilih duduk diayunan yang terletak ditaman rumahnya dan lamunannya datang membayangkan Alvano yang akan mengucapkan ijab kobul dan menjadi suami sahnya
lamunan Elina buyar saat tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya membuat Elina menengok dan melihat mantan seniornya diSMA ada dirumahnya bahkan dengan beraninya dia masuk keruangan
"K-kak Diego ngapain kakak disini?"tanya Elina gugup, dia takut jika kakak senioritas ini akan melakukan sesuatu padanya
"Aku kesini pengin ketemu kamu lah, emang mau ngapain lagi coba kalo aku kesini?"balas Diego dengan terkekeh dengan tak sopannya dia meremat pinggang Elina
"Jangan kurang ajar ya kak"sentak Elina saat Diego menyentuhnya, sementara sang Diego hanya tertawa
__ADS_1
"Tenanglah cantik, aku kesini hanya rindu padamu. Aku ingin bermain denganmu saja tidak lebih, lagi pula kau suka kan jika bermain denganku. ayolah tak perlu kau malu-malu cantik"ucap Diego dengan mencengkeram kuat lengan Elina dan menyeretnya ke kamar Elina
"Lepasin kak, aku gak akan pernah mau sama kakak meskipun kakak maksa sekalipun aku gak akan pernah mau. karna aku gak pernah cinta sama kakak dan aku juga gak mau punya kekasih apalagi suami mantan napi yang sudah bunuh ayah dan ibuku. Aku gak akan sudi"teriak Elina saat dia diseret dengan tangan sebelah mencoba menelfon Alvano
"Diam!!, kau hanya perlu diam El dan nikmati semua permainanku. Kau tak tau apa yang terjadi dan lebih baik sekarang diam"bentak Diego dan menampar pipi Elina keras hingga mengeluarkan darah dari hidung dan bibirnya dan tak lama kesadarannya mulai menghilang
'Al, tolong aku Al' teriak Elina dalam hati
****
"Elina!!!"teriak Alvano langsung bangun dari tidurnya, astaga dia memimpikan Elina dalam bahaya, dia harus kesana sekarang, tapi baru saja bangun dia sudah hampir jatuh untung saja Aiden dan Azam datang menangkap tubuhnya
"Kau mau kemana boy?, kau ini masih sakit"tanya Azam yang merasa jika ada yang tak beres
"Aku harus pergi menemui Elina Pi. Al mimpi kalo Elina dalam bahaya sekarang. Elina mau diperkosa sama seseorang dan dia teriak minta tolong manggil Al. Al harus kesana Pi"jelas Alvano dan memaksa untuk pergi dari rangkulan Azam dan Aiden
"Kita kesana bersama ya, Papi akan temani kamu"ucap Azam dan diangguki oleh Alvano
"Aiden ikut ya Pi. Kak?"tanya Aiden
"Baiklah. Ayo dan yah ajak Opa juga oke"ucap Azam
"Kenapa harus bawa Opa?"tanya Aiden
"Kata kakakmu calon istrinya kan dalam bahaya, nah kakakmu kan jago bela diri sekalian saja olahraga jadi ajak saja Opa"balas Azam yang kini mereka sudah sampai didalam mobil
"Baiklah. Opaaa...ikut kami"teriak Aiden saat melihat Ayah Tama sedang duduk dikursi santai depan rumah
"Mau kemana?"tanya Ayah Tama
"Berburu Ayah"balas Azam dengan menarik turunkan alisnya, sementara Ayah Tama hanya tersenyum lalu mengangguk mengerti
mereka segera pergi kerumah Elina dengan Alvano yang terus menerus menelfon Elina, jika kalian bertanya kemana para wanita Aditama, ya mereka sedang ke rumah sakit memeriksa kandungan Alika
"Diangkat kak?"tanya Aiden penasaran karna sedari tadi kakaknya itu terus bermain ponselnya
"Gak hanya berdering"balas Alvano
5 menit kemudian mereka sampai dirumah Elina, dan melihat mobil tergeletak di depan pagar rumah Elina, dengan segera Alvano berlari turun dari mobil dan menuju ke kamar Elina
dengan paksa dia mendobrak pintu kamar bersama Azam dan Aiden sementara Ayah Tama memberi ancang-ancang, dan pintu kamar langsung terbuka dan mereka terkejut seorang pria tengah mengunjungi Elina dibawahnya dengan mengikat tangan dan kaki Elina yang tak sadarkan diri dengan darah yang masih menetes dari hidungnya dan bekas lebam tamparan dipipinya
baju yang sudah sobek dari leher hingga dada dan bawahan hanya tersisa ce saja. Amarah Alvano meledak sekarang dan dengan segera dia menendang Diego dan menghajarnya, meski tubuhnya belum pulih tapi dia harus menyelamatkan Elina
"Kurang ajar kau hah!!, beraninya kau menyentuh milikku hah!!, bajingan kau!!,keparat!!"teriak Alvano dengan terus memukul Diego hingga bersumpah darah diwajahnya
"Cukup Boy, biar dia urusan Ayah dan Opa, kau bantu saja Elina"ucap Azam membuat Al melepas Diego dan berlari menuju ranjang
"El!. Bangun sayang. Ini aku Alvano"ucap Alvano dengan melepas semua ikatan ditangan dan kaki Elina, setelah lepas dia meletakkan kepala Elina dipahanya
"Bangun sayang, ini aku Alvano sayang. Bangun aku mohon El"bisik Alvano dengan mengecup dahi Elina
__ADS_1
"Kita kerumah sakit"bisik Alvano dan segera menggendong Elina dan membawanya kerumah sakit