
Emosi Azam naik seketika setelah mendengar ucapan Nataza atas apa yang pernah Fredi perbuat padanya. Pantas saja Nataza begitu takut saat melihat Fredi apa lagi menatap Fredi dari jauh saja Nataza sudah ketakutan, selama 7 tahun. Nataza telah hidup normal dan bahagia, dia tak pernah histeris dan ketakutan kembali akan masalalunya, tapi sekarang dia kembali merasakan ketakutan dan histeris kembali setelah melihat Fredi
"Sayang!, tenang oke, kamu aman sayang disini. Ada aku, ada Ayah, ada Bunda, Ada yang lainnya juga yang bakal jaga dam lindungin kamu dari dia. Tenang ya!!..sstt...tenang ada aku disini, aku akan jaga kamu disini, aku gak akan ninggalin kamu, tenang"bisik Azam ditelinga Nataza yang perlahan memejamkan mata
"Sekarang tidur ya, kamu aku akan jaga kamu disini"bisiknya kembali dan tak lama suara dengkuran halus membuat senyum Azam mengembang, istrinya sudah tertidur ternyata
"Sweet dreams my dear"bisik Azam setelah merebahkan Nataza diranjangnya dan mencium pipi serta dahi Nataza lama
Azam.segera melangkah keluar dari kamar dengan pelan agar tak menganggu tidur Nataza. Sampainya di lantai bawah, dia melihat Ayah dan Bundanya sedang berbicara dengan Fredi diruang tamu dan Fredi hanya tersenyum menanggapi ucapan Ayahnya dan Bundanya. Azam segera menghampiri mereka untuk menanyakan soal ucapan Nataza yang benar-benar ketakutan saat membahas Fredi dengannya
"Ouh Zam, kemari nak. Ayah ingin bertanya sesuatu denganmu"ucap Ayah Tama dengan menepuk sofa sebelahnya
"Bagaimana Aza?,dia tidak papakan tadi?"tanya Bunda Ayu terlihat begitu khawatir saat membahas Nataza
"Aza gak papa kok Bund, dia udah tidur sekarang. Tadi emang sempet dia histeris saat ditanya soal Om Fredi, dan dia udah cerita kok meski harus melihat dia kacau kembali dengan luka cakarannya sendiri karna takut"jelas Azam dengan melirik tajam kearah Fredi, sementara Fredi dia hanya diam dan menatap Azam biasa saja seakan tak pernah terjadi apapun antara dia dan Nataza
"Aza cerita apa?, dia udah mau jujur kan?, Ayah hanya takut Aza tertekan karna pertanyaan Ayah kepadanya"ucap Ayah Tama membuat Azam tersenyum dengan manis
"Ayah gak perlu khawatir. Aza gak tertekan sama sekali kok, dia udah mau jujur sama Azam karna pertanyaan Ayah mungkin sempat mengganjal dihatinya membuat dia resah dan tak tenang jika tidak diceritakan, makanya dia berani cerita jujur tadi sama Azam. Ayah, Bunda dan Om bisa denger sendiri video ini, tadi Azam sempet buat video ucapan Aza, biar kalian percaya kalo Aza memang jujur dan dia memang benar-benar takut dengan Om" jelas Azam dengan menekan kata Om dan menatap Fredi tajam
"Emm..saya mau ke kamar mandi dulu ya?, Ayu dimana kamar mandinya?"ucap Fredi mencoba menghindar dari Azam dan Ayah Tama
"Mau ke kamar mandi ya Om?, ada tuh lurus aja naik tangga lurus sedikit pintunya warna hitam, itu kamar mandinya"ucap Azam dengan menunjukkan kamarnya sendiri dan Nataza membuat Ayah Tama dan Bunda Ayu terkejut
"Oh baiklah!, kalo begitu aku tinggal dulu sebentar, permisi"pamit Fredi dengan langkah cepat menaiki tangga
"Kamu ini apa-apaan Zam, kenapa malah kamu tunjukkan kamar kamu dan Aza?, Kalo Aza kenapa-napa gimana karna takut sama Fredi?"ucap Bunda Ayu khawatir dengan ikut melangkah ke kamar Azam
"Tunggu dulu Bund. Azam lakukan ini hanya ingin tau reaksi Fredi, dia akan melakukan apa saat tau itu adalah kamar Aza, jika dia tidak bersalah dia akan langsung kembali bersama kita di sini, tapi lihat sudah hampir 5 menit, dia belum kembali ke mari, aku yakin memang yang dikatakan Aza adalah benar soal Fredi"jelas Azam dengan menatap pintu kamarnya yang tertutup
"Memang apa yang Aza ceritakan padamu, sehingga kau menjadikan Aza umpan agar Fredi mengakui kejahatannya?"tanya Ayah Tama
"Ayah dan Bunda lihat video ini saja, setelah itu kita kekamarku, perasaanku tak enak tentang Aza"ucap Azam dan diangguki oleh keduanya
terlihat jelas dari wajah Bunda Ayu dan Ayah Tana yang terkejut dan marah, Ayah Tama langsung mengembalikan hp milik Azam pada Azam dan menatap Azam dengan tatapan menyesal dan takut sekarang, baru saja Ayah Tama mau berbicara, suara benda menghantam sesuatu membuat mereka terkejut dan saling pandang satu sama lain
"Aza!!"ucap ketiganya bersamaan
__ADS_1
Azam langsung berlari sekencang mungkin menaiki tangga dan menuju ke kamarnya, saat membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya Azam hingga matanya benar-benar bulat sempurna melihat Nataza terluka didahinya dan Fredi tengah mencekiknya hingga wajah Nataza mulai berubah biru. Azam langsung memukul Fredi dari samping dan cekikan dileher Nataza langsung terlepas karna pukulan Azam diwajahnya
Bugh...
Bugh..
Bugh..
pukulan berkali-kali Azam layangkan diwajah Fredi dan perutnya. Kemarahan Azam semakin memuncak melihat Nataza pingsan. Azam langsung saja mengambil belati disaku celananya dan menancapkan tepat di dada kiri Fredi dan Fredi mati seketika dikamar Azam dengan luka tusuk didada dan lebam diwajahnya, tapi Azam tetap memukulinya untuk meluapkan amarahnya
"Cukup Zam, dia sudah mati sekarang. Cukup jangan kotori tanganmu lagi dengan memukulinya. Buang mayatnya dari sini dan minta anak buahmu untuk membersihkan bercak darah ini dan membawa mayatnya"ucap Ayah Tama dengan memeluk Azam
"Aza"ucap Azam dengan beralih kepada Nataza yang pingsan dipelukkan Bunda Ayu, lalu Azam mengambil alih kepala Nataza dan memangkunya
"Bangun Za!, bangun sayang..aku mohon bangun!!. Za tolong bangun Za...Bunda tolong panggil dokter Bund. Bangun sayang!!"ucap Azam dengan air mata yang membasahi pipinya
"Tenangkan dirimu Zam. Aza pasti baik-baik aja, gantilah bajumu sekarang, jika bajumu penuh darah seperti ini, Aza akan khawatir padamu setelah dia sadar nanti"ucap Ayah Tama dengan menepuk bahu Azam
"Permisi"suara seseorang dan suster berdiri didepan kamar Azam yang dipanggil Bunda Ayu tadi
"Dok tolong periksa menantu saya"ucap Ayah Tama
sebelum diperiksa, luka didahinya di bersihkan dan diobati terlebih dahulu dan lebam dilehernya dioles dengan salep oleh suster. Setelah diperiksa dokter tersebut keluar dari kamar Azam
"Sus tolong cek kembali infusnya ya, jangan sampai infusnya lepas"pinta dokter dan diangguki oleh suster
"Bagaimana dok kondisi istri saya?"tanya Azam yang menunggu didepan kamarnya dengan kedua anaknya yang menangis dipelukkannya
"Alhamdulillah Tuan Muda, kondisi Nona baik-baik saja dan kandungan Nona juga sehat dan kuat, meskipun tadi sempat terkejut,tapi sekarang sudah baik-baik saja"jelas dokter dengan senyum cantiknya
"Kandungan dok?, istri saya hamil?"tanya Azam terkejut
"Benar Tuan Muda, apakah anda tak tau jika Nona sedang hamil sekarang?"balas dokter tersebut dengan bertanya pada Azam
"Tidak sama sekali, kami tidak tau dan istri saya juga biasa saja, jadi kami tidak menyadari tentang kehamilannya"jawab Azam dengan wajah bahagianya
"Baiklah, selamat Tuan Muda atas kehamilan istri anda. Kandungan Nona sudah menginjak 3 bulan sekarang"ucap dokter tersebut
__ADS_1
"Alhamdulillah, terimakasih banyak dokter, suster"ucap Azam langsung masuk ke kamarnya
"Baik kalo begitu saya permisi Tuan Besar"pamit dokter dan suster lalu pergi dari rumah tersebut
Azam kini menatap Nataza yang masih memejamkan matanya dengan perban dikepalanya. Azam mengambil tangan Nataza dan mencium punggung tangan istrinya dan dahinya dengan selalu mengucapkan syukur kepada Allah karna kehamilan Nataza saat ini
"Terimakasih ya Allah, kau telah mempercayakan anak lagi pada kami. Hadiah ulangtahun spesial dan paling indah aku dapatkan kali ini, dan maaf karna kami tak menyadari kehadirannya dirahim istriku. Jaga kandungan istriku dan jauhkan kami dari mara bahaya yang mengancam keselamatan kami dan calon anak kami. Amin" do'a Azam,saat ini dia tengah melaksanakan sholat Ashar bersama dengan keluarganya yang lain
"Papi?"panggil Elvina dengan meminta salam pada Azam
"Good Girl and good boy"puji Azam pada kedua anaknya dan disusul oleh Alika meminta salam
"Selamat ulang tahun Papi"ucap Al dan El lalu mencium pipi Azam
"Terimakasih anak-anak Papi"balas Azam dengan mencium kedua pipi Al dan El
"Selamat ulang tahun ya Zam, akhirnya impianmu terkabulkan"ucap Bunda Ayu membuat yang lain mengernyit
"Impian apa?"tanya Ayah Tama penasaran
"Impian Azam adalah mendapatkan ucapan ulang tahun dari anak-anak Azam dan hadiah spesial dari istrinya. Sekarang semua itu terwujud setelah melewati banyak sekali rintangan dan cobaan, dan sekarang kebahagiaan telah datang sekarang"ucap Bunda Ayu dengan memeluk Azam
"Selamat ulang tahun nak. Bunda selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu dan kesejahteraanmu. Amin"lanjutnya dengan mencium dahi Azam
"Terimakasih Bund, Yah. Terimasih karna sudah menjadi orang tua terbaik untuk Azam, terimakasih karna sudah membimbing dan mendidik Azam menjadi anak terbaik untuk kalian, dan terimakasih karna sudah memberikan aku adik dan istri yang begitu cantik dan baik untukku"ucap Azam dengan memeluk Bunda, Ayah, Alika dan anak-anak
"Sudah tugas kami sayang"balas Bunda Ayu
setelah sholat Azam kembali ke kamarnya dan melihat Nataza yang tengah memakan kue dengan menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang
"Mas mau?"tawar Nataza seakan melupakan kejadian tadi siang
"Gak kamu aja, makan yang banyak biar anak kita cepet gede disini"balas Azam dengan mengusap perut Nataza yang sedikit terlihat buncit
"Ehem..pasti!, mas mau anak kembar lagi atau cukup satu aja?"tanya Nataza yang sudah tau jika dia hamil dari kedua anaknya
"Emm...berapa ya?"balas Azam dengan mengetuk dahinya menggunakan telunjuknya
__ADS_1
"Berapa?, kalo aku maunya satu aja baby girl"ucap Nataza dengan memakan kembali kuenya
"Aku ikut kamu aja, yang penting sehat dan lengkap. Jangan banyak pikiran oke dan jangan melakukan tugas berat, tetap dikamar jangan kemana-mana apalagi keluar dari rumah tanpa aku. Mengerti Honey?"ucap Azam dan Nataza hanya menganggukan kepalanya karna mulutnya penuh dengan kue