
Setelah melakukan hukuman tadi, Ayah Tama terlihat tetap santai dan sesekali tersenyum ketika mengingat hukuman yang dia lakukan untuk Ayu tadi, bahkan Ayah Tama dengan santainya menyanyikan lagu kebangsaannya bersama Bunda Ayu 'Hal Terindah' yang dinyanyikan oleh band Seventeen dengan penuh penghayatan dan tanpa perduli bajunya terdapat cipratan darah.
"Opa terlihat bahagia sekali Pi? apa karna hukuman yang dia lakukan pada Ayu tadi?"tanya Alvano berbisik pelan pada Azam yang masih setia menatap tabnya.
"Mungkin saja, Opa mu memang selalu seperti setelah melakukan hukuman pada seseorang, menyanyi dengan penuh penghayatan dan bercanda untuk melupakan semua rasa bersalah dihatinya"jawab Azam diangguki oleh Alvano, kini mereka dalam perjalanan untuk pulang kerumah utama.
"Ben, berhenti sebentar ke supermarket, ada yang ingin aku beli"ucap Alvano tanpa melirik Ben yang tengah menyupir.
"Baik Tuan"jawab Ben lalu mencari supermarket terdekat disekitar sana dan Ben menghentikan mobil bosnya didepan supermarket lumayan besar dan sepertinya baru selesai dibangun.
"Sejak kapan disini ada supermarket? bukannya kemarin tidak ada?"gumam Azam menatap supermarket tersebut bingung.
"Maaf Tuan, sepertinya supermarket ini baru selesai dibangun sudah sekitar 1 bulan ini tuan"jawab Ben yang mendengar gumaman Azam, sementara Azam hanya mengangguk sebagai jawaban menatap supermarket didepannya.
Alvano bersama Ayah Tama turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket tersebut lalu mereka melangkah menuju deretan rak berisi snack berbagai jenis dan rasa, Alvano mengambil beberapa snack tersebut lalu menyimpannya ditroli yang dia bawa.
"Al, Opa kesana dulu ya mau ambil minuman"ucap Ayah Tama diangguki oleh Alvano.
setelah Ayah Tama pergi, Alvano kembali mencari snack dan biskuit untuk ibu hamil, lalu memutari rak tersebut mencari rak dimana terdapat banyaknya susu untuk balita, ibu menyusui, lansia dan ibu menyusui bagian ujung rak membuat Alvano menghela nafas.
kini Alvano melangkah menuju bagian tempat sayuran dan buah-buahan, disana Alvano mencari buah kedondong sesuai pesanan Elina, dia mengambil berbagai macam buah, sayuran dan bumbu dapur, lalu berpindah pada tempat dimana daging-daging berada mengambil ayam dan ikan segar, ya dia sudah seperti ibu rumah tangga yang berbelanja bulanan saat ini.
"Al!"panggil seseorang membuatnya menoleh dan melihat adanya Galang disana.
"Loh kok lo disini? belanja juga?"tanya Alvano kembali memilih ikan segar.
"Enggak, ini supermarket punya gue"jawab Galang membuat Alvano menatapnya.
"Jadi ini supermarket yang lo maksud itu, yang lo bilang pembangunannya tinggal 2% lagi?"tanya Alvano diangguki oleh Galang dengan senyum khasnya yang menampilkan lesung pipinya.
"Keren sih ini, ini bisa mengalahkan supermarket-supermarket lainnya karna bukan hanya besar dan luas, tapi disini juga lengkap dan semuanya tentu ada"puji Alvano dengan tangan menepuk pundak Galang.
"Tentu, gue kan cuma ingin para konsumen puas dan nyaman belanja disini sehingga mereka memilih supermarket ini sebagai langganan mereka"jawab Galang diangguki oleh Alvano.
"Lo belanja bulanan Al? Elina kemana? kok lo yang belanja?"tanya Galang melihat troli Alvano hampir penuh.
"Enggak juga sih, gue belanja ini ya buat bantu Elina juga, biar besok dia gak perlu belanja lagi dan gue juga gak tega biarin dia belanja bulanan kaya gini, paling gue minta bi Ani atau bi Marni buat belanja bulanan kaya gini, kan El lagi hamil juga, jadi gue gak mau ambil resiko besar"jelas Alvano diangguki Oleh Galang.
"Lo bener banget, mending menghindari semua resiko yang akan terjadi nanti. Btw berapa usia kandungan istri lo?"tanya Galang mencomot apel ditroli Alvano dan memakannya langsung.
"Sekitar 2 bulan sekarang"jawab Alvano kembali mengingat gambar calon anaknya tanpa sadar senyumnya mengembang.
"Wow, tinggal 7 bulan lagi anak kalian akan lahir kedunia ini. Akhh.. waktu berjalan begitu cepatnya tanpa kita sadari"desah Galang sambil menatap jam tangannya.
"Hmm.. baiklah, gue pamit ya, udah ditunggu Papi sama Opa didepan"pamit Alvano tak lupa melakukan tos ala persahabatan mereka.
"Siap. Hati-hati bro, titip salam untuk sekeluarga"jawab Galang diacungi jempol oleh Alvano.
Alvano pergi menuju kasir dan membayar semua belanjannya, setelah membayar semua belanjaannya dia keluar dari supermarket tersebut dan masuk kedalam. mobilnya melihat Azam yang masih sibuk dengan tab sementara Ayah Tama sibuk dengan laptopnya.
"Selesai belanjanya? kenapa banyak sekali? kau belanja bulanan?"tanya Azam memicingkan matanya.
__ADS_1
"Ya, sengaja aku sengaja belanja bulanan untuk meringankan bi Marni yang lagi kurang sehat, jadi besok bi Marni gak perlu bulanan dan tetap istirahat dirumah"jawab Alvano diangguki oleh Azam.
"Kita pulang Ben"perintah Azam tanpa menatap Ben didepannya.
"Baik Tuan"jawab Ben dan mulai menjalankan mobil bosnya.
****
sampainya dirumah,. mereka langsung saja masuk kedalam dan terlihat sepi, bahkan bi Ani dan yang lain pun tak terlihat, kemana semua orang? pikir mereka.
Alvano meminta Ben untuk membawa belanjaan kedalam dapur dan membantunya menyimpan semuanya disana, setelah selesai Ben kembali ketempatnya sementara Alvano masuk kedalam kamarnya.
dia membuka pintu kamar dan melihat Elina yang tengah tertidur dengan tenang membuat Alvano menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 15.30 sore, tumben sekali Elina belum bangun jam segini, padahal jika tidur siang jam 13.00 lebih sedikit dia sudah bangun tapi ini. sudah melebihi jam biasanya dia belum bangun.
Alvano membiarkan Elina tetap tidur sebentar karna dia juga harus mandi, apalagi dia tadi habis pulang dari markas tentu saja banyak kuman dan bakterinya dan dia tidak mau sampai istrinya tertular hingga sakit.
setelah mandi, Alvano menghampiri Elina yang masih nyenyak terlelap dalam tidurnya. Ia duduk ditepi ranjang sambil mengusap pipi Elina pelan dan menundukkan wajahnya untuk mencium wajah Elina hingga sang empu terusik, namun hanya menggeluet sebentar kemudian tidur kembali membuat Alvano terkekeh.
"Sayang...bangun yuk, aku udah bawaan kedondong loh pesanan kamu, bangun sayang"bisik Alvano pelan ditelinga Elina dan ajaib mendengar kata kedondong dia langsung membuka matanya.
"Mana kedondong?"tanya Elina dengan semangat membuat Alvano terkekeh.
"Bangun, mandi, terus makan dan aku akan buatin rujaknya untuk kamu. Oke"jawab Alvano dengan mengusap pipi Elina yang terlihat cemberut.
"Mau sekarang...!!"rengek Elina.
"Nanti sayang oke, kan aku baru beli rujaknya dan kamu baru bangun tidur bahkan belum mandi kan?, jadi sekarang mandi oke. Gak makan gak ada rujak kedondong"ucap Alvano pungkas dibalas anggukan oleh Elina yang langsung melangkah menuju kamar mandi dengan wajah cemberutnya.
dengan meminta bantuan Bi Ani, dia bisa membuat rujak kedondong dengan jumlah yang lumayan untuk istrinya, dan kali ini Alvano sengaja menambah beberapa buah seperti bengkuang, mangga muda, jambu air, dan mentimun.
"Wow.. kak Al buat rujak buah?, mau ya enak banget kayaknya?"tanya Elvina yang tiba-tiba muncul didepan Alvano.
"Gak, ini buat Elina yang lagi ngidam, bisa ngambek dia karna kamu minta. Bikin sendiri sana sekalian tuh sama punya Mami katanya dia mau juga tadi"jawab Alvano dengan melenggang pergi begitu saja menuju ruang keluarga, membuat Elvina kesal tapi tetap membuat rujaknya sendiri.
tak lama Elina turun dengan kondisi badan yang sudah segar dan ada bi Mirna yang membawakan nampan berisi piring bekas milik Elina, karna tadi Alvano sempat meminta pada bi Mirna untuk mengantarkan makan untuk Elina kekamar langsung.
Elina melangkah menghampiri Alvano yang tengah menuangkan bumbu rujak yang dia pisah tadi keatas rujak tersebut membuat Elina menelan ludahnya melihatnya.
"Udah selesai sayang"ucap Alvano sambil menyodorkan rujak buatannya pada Elina.
"Wahh.. makasih mas"jawab Elina sambil menerima mangkuk berisi rujak penuh untuknya, kemudian ia mengecup pipi Alvano sebagai hadiah membuat sang empu tak bisa menahan senyum bahagianya.
Elina begitu menikmati rujak buatan suaminya itu, bahkan dia terlihat menggoyangkan badannya ke kanan dan kiri meresapi rasa nikmat dari rujak buahnya. Elina menoleh pada Alvano dan mengambil buah mangga muda lalu menyodorkannya pada Alvano.
"Aaa.. enak tau mas.. aaa"ucap Elina menyuapi Alvano yang menggelengkan kepalanya.
"Gak, kamu aja. Aku gak kuat makan yang asem-asem gitu"jawab Alvano dengan bergidik ngeri membayangkan asamnya rujak buah yang dia buat dan betapa linunya giginya nanti, sementara Elina tertawa kecil melihat suaminya bergidik ngeri seperti itu.
"Ini enak mas, gak asem kok. Coba deh dijamin ketagihan"bujuk Elina dan kali ini berhasil masuk kemulut Alvano yang wajahnya langsung berubah dengan mata terpejam erat bahkan lidahnya keluar menahan asam dari buah mangga muda tersebut.
"Asem banget Ay.... hoek"teriak Alvano dari dapur sambil lalu memuntahkan mangga muda yang badu saja dia telan tadi, sementara Elina hanya tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Maaf mas, aku kan gak tau kalo menurut mas asem. Tapi menurutmu ini enak banget, apalagi kedondongnya"jawab Elina ikut berteriak disela tawanya.
saat mereka sedang menikmati kebersamaan, ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dengan tersenyum hangat, ya dia Daren. Awalnya dia ingin menemui Alvano untuk meminta tanda tangan persetujuan pada berkas ditangannya, tapi melihat Elina yang tertawa lepas membuatnya mengurungkan niat untuk menghampiri Alvano.
"Nanti saja lah, lagian kak Elina lagi bahagia gitu, nanti kalo aku kesana malah bikin kak Elina pingsan lagi"gumam Daren lalu pergi kedepan rumah menunggu diteras rumah.
"Loh, den Daren kok disini? bukannya tadi mau ketemu sama den Al?"tanya bi Ani yang tiba-tiba muncul dari arah taman.
"Ah, iya bi. Tadi Daren udah masuk kok, tapi pas masuk lihat kak Elina ketawa lepas gitu gak jadi deh, takutnya nanti malah pingsan lagi karna lihat Daren"jawab Daren diangguki oleh bi Ani paham.
"Baiklah, nanti bibi bawakan minum ya den buat aden"ucap bi Ani dibalas senyum oleh Daren.
"Makasih banyak bi Ani"cicit Daren.
"Sama-sama den"jawab bi Ani lalu pergi masuk kedalam rumah.
Sambil menunggu, Daren kembali berpikir entah perasaannya yang salah atau memang benar jika keluarga ini masih belum percaya 100% padanya, bahkan termasuk Alvano sendiri masih belum yakin dan percaya jika dia benar berubah.
"Begitu sulitkah kalian percaya padaku? kalian. tersenyum dan tertawa bersamaku, kalian berbicara banyak didepanku seakan kalian menutupi ketidakpercayaan kalian terhadap perubahanku. Aku tau kalian masih tidak percaya padaku meski itu hanya 2% saja. Tapi aku yakin dan percaya masih ada rasa sayang dan cinta kasih untuk anak yatim piatu ini, karna kalian orang-orang yang sangat baik"gumam Daren menatap lurus kedepan.
"Maafkan kami sebelumnya Daren, kami bukan tak percaya padamu, bahkan tak ada niatan sedikitpun untuk tak percaya akan perubahanmu. Tapi sejak ada teror itu, Opa mulai berfikir jika itu kau yang ingin balas dendam atas penyiksaan yang kami lakukan untuk Ayu, karna teror tersebut menyangkut pautkan Ayu dan akan membebaskan Ayu dengan cara apapun termasuk menyakiti Elina dan calon anak kami"ucap Alvano tiba-tiba muncul disamping Daren membuatnya terkejut melihat Alvano disana.
"Kak Al!, kapan disini?"tanya Daren dengan wajah terkejutnya.
"Saat kau bergumam tadi"jawab Alvano lalu duduk dikursi samping Daren.
"Kak Elina mana? bukannya kakak tadi lagi bercanda sama kak Elina?"tanya Daren kembali membuat Alvano menoleh lalu tersenyum.
"Ada didalam bersama adik-adikku. Kau melihatnya tertawa lepas"Alvano menatap Daren yang hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Maksud kak Al tentang teror, teror apa maksudnya?"tanya Daren membuat Alvano kembali menetap kedepan lalu menghembuskan nafasnya pelan, namun dapat didengar oleh Daren.
"Entah kekasih Ayu atau keluarganya aku tak tau siapa, karna sampai saat ini baru terkumpul dua bukti yang mengarah pada orang dekatnya, dia sengaja melakukan teror pada kami melalui surat ancaman untuk melepaskan Ayu dan menyeret nama Elina dan anakku jika tetap tak melepaskan Ayu"jelas Alvano membuat Daren berfikir.
"Apakah ada inisial nama di surat ancaman itu?"tanya Daren sambil mengingat anggota keluarga Ayu.
"Tunggu sebentar, suratnya aku selalu simpan"jawab Alvano lalu merogoh kantong celananya mengambil dompet miliknya, kemudian dia membuka dompet tersebut dan mengambil sebuah surat ancaman lalu menyerahkannya pada Daren
"***KEMBALIKAN AYU PADAKU. DIA MILIKKU, ATAU AKU AKAN MENGHABISI KALIAN SEMUA TERMASUK ELINA DAN CALON ANAKMU"
^^^~J. R***.~^^^
"~J. R.~. Sebentar kak, aku seperti mengingat nama seseorang"ucap Daren sambil mengetuk dahinya.
"Jonathan Richard. Ya dia kekasih Ayu saat di Amerika, dia seorang buronan polisi sampai sekarang belum bisa ditemukan tempat persembunyiannya"lanjutnya dengan wajah berbinar lalu kembali redup saat mengucapkan kalimat terakhir
"Jonathan Richard bukannya seorang pembunuh bayaran yang sangat sadis juga kejam, namanya sudah terkenal dimana-mana sebagai ancaman semua orang"ucap Alvano dibalas anggukan cepat oleh Daren
"Kakak harus lebih hati-hati lagi pada Jonathan Richard ini, dia tidak pernah main-main dengan ancamannya itu, dia pasti akan datang pada kakak nantinya untuk melepaskan Ayu dari sandraan kakak"jawab Daren membuat Alvano paham bagaimana khawatirnya Daren
"Kau tenang saja, cukup do'akan yang terbaik untuk kami"ucap Alvano menenangkan Daren yang hanya mengangguk sebagai jawaban, namun wajahnya terlihat jelas adanya rasa kekhawatiran yang tinggi membuat Alvano tersenyum tipis
__ADS_1