
Setelah melaksanakan sholat, Azam kembali ke kedepan ruangan rawat Nataza,dan pas sekali dokter Kiana dan dokter Praja keluar dari ruang Nataza. Azam langsung berdiri menghampiri dokter Kiana dan dokter Praja menanyakan kondisi Nataza
"Gimana kondisi Istri saya dok?"tanya Azam kepada kedua dokter
"Kondisi Istri anda masih lemah untuk sekarang Tuan Muda, dan kami membutuhkan donor darah untuk Nona,karna luka Nona di lehernya termasuk luka dalam Tuan"ucap dokter Praja
"Donor darah dok?"tanya Azam
"Benar Tuan Muda"jawab Dokter Praja
"Golongan darahnya apa dok?"tanya Bunda Ayu yang sedari tadi beliau diam menyimak pembicaraan
"Untuk golongan darah Nona O Tuan,Apakah disini ada yang golongan darahnya sama Tuan, karna stok darah di rumah sakit ini sudah habis, dan kami sempat menghubungi PMI sedang kosong"tanya dokter Praja
"Brian!"ucap Azam lantang
"Iya ,sahabat saya golongan darahnya sama dengan Istri saya dok?"ucap Azam kepada dokter Praja
"Alhamdulillah jika ada pendonornya Tuan, Jika bisa sebelum 1 jam Nona harus di beri donor ya Tuan, karna Nona sekarang kondisinya semakin menurun"jawab Dokter Praja membuat Azam mengangguk lemah
"Dok. Bagaimana kondisi calon anak kembar saya?"tanya Azam kembali
"Alhamdulillah Tuan, kondisi calon anak-anak anda baik-baik saja, mereka hebat dan mereka kuat. Mereka juga begitu aktif di dalam kandungan Nona"jawab Dokter Kiana membuat Azam bertambah semangat sekarang
"Baiklah, kami permisi Tuan besar,Nyonya,dan Tuan Muda"pamit kedua dokter tersebut dan di angguki ketiganya
Azam duduk di bangku depan ruangan Nataza,dia menelfon Brian berkali-kali, tapi tak aktiv sama sekali. Azam terus mencoba menelfon Nuril dan Brian tapi tak ada jawaban dari keduanya. Tak lama kemudian, Brian menelfon Azam dan langsung menjawab panggilan Brian
__ADS_1
"......"
"Waalaikumsalam. Lo dimana?"tanya Azam
"......"
"Lo ke rumah sakit Citra Medika ya, bantu gue donorin darah lo untuk selametin Aza,urusan Baron biar nanti aja. Cepetan!!!"ucap Azam dengan tak sabaran sambil bolak balik didepan pintu ruangan Nataza
"......"
"Darah lo O kan?"tanya Azam kembali
"......"
"Ya udah buruan kesini. Kalo gak gue potong gaji lo sekarang juga"
"......"
Azam berbalik menghadap ruangan Nataza,di pintunya terdapat kaca kecil yang memudahkan dia melihat Nataza. Azam melihat Istrinya yang terbaring lemah di ranjang dengan alat bantu nafas serta leher yang di perban untuk menutupi lukanya. Azam mengusap kaca tersebut seakan dia menyentuh Nataza dan mengusap perut besarnya
"Anak-anak Papi yang hebat,makasih ya nak. Kalian sudah mau bertahan untuk kita, makasih sudah kuat di dalam sana. Tetap kuat di perut Mami ya nak,Papi akan tunggu kalian sampai lahir nanti. Kasih semangat untuk Mami kalian nak,supaya Mami cepat sembuh dan bisa melahirkan kalian. Tetap sehat-sehat di perut Mami nak,Papi sayang sama kalian nak. Papi akan selalu menanti kalian untuk melihat indahnya keluarga dan merasakan cinta yang begitu tulus dari seseorang. Dan Papi akan ajarkan tetang bagaimana kalian berjalan di dunia ini"ucap Azam dengan menangis,lalu dengan segera dia menghapus air matanya
"Azam..?"panggil Bunda Ayu di belakangnya
"Brian sudah sampai nak"ucap Bunda Ayu kembali
"Iya Bunda,suruh saja ke ruang donor,Azam masih mau disini"jawab Azam lalu menatap Nataza kembali dari luar pintu
__ADS_1
"Lihat Bunda, anak-anakku hebat ya,dia tetap aktif meskipun Maminya sedang sakit, dia tetap bergerak lincah di dalam perut Maminya. Mereka pasti tau kan jika Maminya sedang sakit?,mereka pasti memberikan semangat untuk Maminya kan Bund?"tanya Azam pada Bunda Ayu dengan tangisnya,Bunda Ayu yang kasihan melihat putranya seperti ini,beliau ikut mengis dengan membawa Azam kedalam pelukannya
"Bunda tau nak, Bunda yakin kok, Anak-anak kalian hebat dan mereka pasti kuat untuk bantu Maminya sembuh dari sakitnya. Anak kalian semangat untuk Aza nak, mereka yang akan menjadi penawar kesembuhan Aza"ucap Bunda Ayu mengelus lembut rambut Azam yang masih menangis
"Sudah ya nak, jangan menangis lagi seperti ini. Hati Bunda sakit melihat kamu seperti ini"ucap Bunda Ayu dengan mencium pucuk kepala Azam dalam pelukannya
Dokter Praja datang untuk memeriksa kondisi Nataza setelah mendapatkan donor darah dari Brian. Dokter melakukan donor darah pada Nataza dengan teliti. Hingga 1 jam lamanya di dalam. Dokter Praja keluar dan membuat semua yang menunggu berdiri dari duduknya,termasuk Azam yang terduduk di lantai bersama Bunda Ayu berdiri
"Bagaimana dok kondisi Istri saya?"tanya Azam
"Saat ini kondisi Nona terselamatkan Tuan,tadi memang sempat menurun karna denyut jantungnya melemah seketika,dan gerak anak anda juga berhenti seketika membuat kami panik tadi. Tapi alhamdulillah saat ini semuanya baik-baik saja,Kita tinggal tunggu Nona sadar dari pingsannya saja"ucap Dokter Praja membuat yang ada di sana bernafas lega dan ada yang menangis haru
"Boleh saya masuk dok?"tanya Azam dengan tak sabaran
"Boleh Tuan, tapi cukup dua orang saja ya yang masuk secara bergantian, karna Nona masih memerlukan ruangan yang steril, kami juga sudah menyiapkan baju khusus untuk penjenguk"ucap Dokter Praja lalu berpamitan
Azam masuk bersama Bunda Ayu kedalam ruangan Nataza, disana Azam melihat Nataza yang masih memejamkan matanya serta alat bantu pernafasan untuk membantunya bernafas. Azam menggenggam tangan Nataza yang dingin sambil menghapus air matanya yang menetes kembali melihat Istrinya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya untuk tetap bertahan
"Bangun sayang..?,aku kangen sama kamu. Maaffin aku karna gak bisa jagain kamu, aku gak becus lindungin kamu hingga buat kamu kaya gini. Maaffin aku aku gagal jadi suami yang baik untuk kamu. Aku gagal!!!!"gumam Azam dengan memukul kepalanya dengan tangan masih menggenggam tangan Nataza
"Ayo bangun Za..., aku kangen kamu"ucap Azam dengan menundukan kepalanya menyembunyikan tangisnya
"Bund. Kapan Aza bangun?,aku kangen dia Bund?"tanya Azam pada Bunda Ayu yang juga menangis menyaksikan putranya begitu mencintai menantunya
"Sabar nak,Istrimu pasti bangun kok,jangan kau seperti ini, Aza akan sedih melihatmu seperti ini"ucap Bunda Ayu lalu memeluk Azam erat
"Kapan Bund?"tanya Azam kembali dalam pelukkan Bunda Ayu,dan Bunda Ayu semakin mengeratkan pelukkannya karna ikut merasakan kesedihan putranya
__ADS_1