Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 27


__ADS_3

Elina mengerjapkan matanya karna merasa terusik akibat usapan dipipinya oleh seseorang, dia membuka matanya dan melihat Alvano sedang tersenyum padanya dengan tangan mengusap lembut pipinya


Elina bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada dinding kamar pribadi milik Alvano dengan badan yang masih lemas dan perih diareanya. Alvano menatap Elina yang tengah meringis menahan sakit membuatnya paham dan langsung menarik Elina kepelukkannya yang masih mengerjapkan matanya bingung


"I'm sorry honey. Maaf karna aku terlalu kasar sampai kamu kaya gini, maaf aku gak bisa mengontrol diriku tadi"bisik Alvano dengan mengusap punggung Elina yang terdapat bekas ciuamannya jika rambutnya tak digerai


"No problem mas, aku gak papa kok. Ini udah jadi kewajiban aku sebagai istri kamu, kamu berhak atas aku dan kamu berhak mendapatkannya. Jangan merasa bersalah ya, kamu gak sepenuhnya salah kok"balas Elina lalu mengecup pelipis Alvano dan tangannya mengusap lembut rambut belakang Alvano


"Kita pulang ya, aku udah selesai kok kerjanya. Ini udah hampir magrib jadi kita nanti mampir sholat di masjid aja"ucap Alvano diangguki oleh Elina


Elina dibantu berjalan oleh Alvano keruangannya untuk mengambil tasnya disana, setelahnya dia sudah berada digendongan Alvano keluar dari kantornya, untung saja kantor sudah sepi hanya beberapa yang masih disana karna mungkin saja lembur malam ini


sampainya dilantai bawah, disana sudah ada Dion yang berdiri disamping mobil Alvano kepala menunduk memberi hormat pada atasannya, ya ini masih dikawasan kantor jadi Dion harus menunjukkan kepada semua bawahannya tentang sopan santun terhadap atasan mereka termasuk istrinya


soal Diana tadi, Alvano sudah dengar semuanya dari Dion yang menceritakan lengkap tanpa dikurangi atau ditambahi olehnya, membuat Alvano tadi cukup emosi hingga memindahkan posisi Diana menjadi staf biasa dan posisi sekertaris dipegang oleh Lovita yang merupakan sekertaris kedua Alvano, kini sekertaris kedua dipegang oleh Sarah tunangan Reza


Flashback On


Dion masuk keruangan Alvano dan mengatakan semuanya yang dia bicarakan barusan dengan Diana, Alvano memang sempat tak percaya pada ucapan Dion namun setelah dia menunjukkan video saat dimana Elina dihina oleh Diana dan rekaman ucapan Diana barusan yang menghina Elina


"Ikut aku Dion, bawa semua ini"ucap Alvano dengan wajah merahnya menahan emosi


Dion hanya mengikuti perintah Alvano, dia ikut masuk kedalam ruangan Diana yang ternyata sedang video call bersama seorang pria yang memamerkan tubuh polosnya. Diana yang sadar jika bosnya disana dia segera mematikan telfon tersebut dan berdiri dari duddknya memegang tangan Alvano


"Ma-maaf pak, maaf bukan maksud saya bermain seperti itu pak"ucap Diana tanpa dipedulikan oleh Alvano yang menatapnya sinis dan jijik


"Lepaskan tangan kotormu itu, jangan kau sentuh aku Diana"sentak Alvano dengan nada marahnya, Diana kembali meraih tangan Alvano dan menggenggamnya erat


"Bapak, jangan salah paham dulu pak. Saya... saya tak pernah melakukan itu,saya gadis baik-baik pak, saya masih virgin pak, jujur saya tidak melakukannya pak"Diana semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Alvano


Alvano langsung melepas paksa tangan Diana yang menggenggam tangannya dan mendorong pelan tubuh Diana hingga Diana terduduk dibangkunya


"Apa peduliku jika kau virgin atau tidak?, apa hubungannya denganku jika kau mau main dengan laki-laki manapun?, lalu aku harus apa jika kau masih gadis?. Ohh.. kau berfikir jika aku akan menikahimu dan menjadikan kau istriku karna kau virgin hmm!,kau fikir aku akan marah dan cemburu begitu melihatmu bersama laki-laki lain?, dan kau juga berfikir jika aku akan bermain juga denganmu seperti yang dilakukan oleh laki-laki diluar sana pada tubuhmu iya?. TIDAK AKAN PERNAH NONA" ucapan Alvano tegas dengan meremas keras pergelangan Diana yang memeluk lengannya, sementara Diana diam terkejut mendengar ucapan Alvano


"Aku memang selama ini baik padamu, bukan berarti aku suka padamu, bukan berarti aku menyimpan rasa padamu, aku baik karna kau sama seperti karyawan yang lain, aku tidak membedakan kau dengan yang lain, aku tidak menganggap kau lebih dari sekerterisku. Maafkan aku karna mungkin perhatianku padamu membuatmu menganggap aku menyimpan rasa padamu, tapi aku tak pernah ada rasa apapun padamu, aku perhatian juga karna aku sebagai bosmu dan kau adalah sekerterisku yang selalu ikut aku meeting dimanapun bersama Dion juga bukan, jadi jangan terlalu berharap kau akan mendapatkan hatiku hanya karna kau suka padaku, tapi aku tidak. Itu justru akan menyakitkan dirimu sendiri nona"lanjut Alvano


"Apa bedanya dengan Elina?, dia juga bawahanmu?, dia juga karyawannya?, dia kau bedakan dari yang lain, dia kau spesialkan, dia selalu mendapatkan semua perhatian yang selama ini aku harapkan darimu termasuk cintamu, dia sok perhatian padamu, sok paling baik, sok paling spesial. Aku heran kenapa kau bisa cinta padanya yang hanya orang miskin seperti dia, yang hanya mampu membayar tukang ojek untuk kekantor, bajunya yang lusuh seperti orang kampung. Ya memang dia orang kampung kan makanya kau dipelet hingga kau cinta mati padanya Al"ucap Diana membuat Alvano meremas kertas dimeja Diana lalu melemparkan tepat dimulutnya membuat Dion menahan tawa


"Tutup mulut busukmu itu Diana Sarastianti. Aku cinta padanya itu karna Allah, aku tak peduli kau mau bilang apa tentang dia, yang jelas aku mencintainya tulus dari hatiku dan kau tak perlu mengadili kehidupanku, karna kau bukan orang tuaku apalagi tuhan. Aku peringatkan padamu nona jangan ganggu hidupku apalagi istriku atau kau akan mendapat balasan yang setimpal, satu lagi. Kau sudah mengatai istriku tak pantas dan kau juga membawanya saat dia masih menjadi kekasihku bukan?, Elina tak pernah mengadu padaku atas perbuatanmu padanya karna dia tak ingin aku marah padamu, tapi kali ini aku memang benar-benar marah padamu dan kau ku hukum Diana"ucap Alvano dengan nada tinggi berubah rendah namun menyeramkan untuk orang yang mendengarnya setelah memperlihatkan video dan rekaman suara yang Dion bawa tadi pada Diana yang mematung


"Hukuman untukmu kau turun dari pekerjaanmu menjadi pekerja dikantin kantor, kemari barang-barang mu sekarang karna anak buahku akan membantunya pindah pekerjaan, besok pagi aku akan cek dan kau sudah disana sebagai pekerja dikantin, jika kau tak datang maka anak buahku akan mencarimu dan menyeretmu datang. aku masih baik padamu karna tidak memecatmu Diana. Jika kau melebihi batasmu pada istriku atau keluargaku, aku tak akan melepaskanmu dan aku jamin kau tak akan pernah lihat matahari besok, camkan itu"lanjut Alvano lalu meninggalkan Diana yang diam kaku ditempatnya


**Flashback Off


Sampainya dirumah, Alvano masuk ke kamarnya merebahkan Elina diranjang sementara dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selama kepergian Alvano, Elina sibuk memikirkan kado ulangtahun untuk suaminya itu, apa yang harus dia berikan pada suaminya, suaminya sudah punya semuanya, bahkan semuanya barang-barang mahal, apalagi barang yang Alvano inginkan?

__ADS_1


Elina pergi ke dapur untuk mengambil teh hangat, rasanya badannya saat ini tengah meriang karna seluruh tubuhnya terasa lemah dan kepalanya berdenyut pusing, saat akan ke sofa ruang keluarga suara Alvano membuatnya menoleh dan melihat suaminya sudah berdiri ditengah-tengah tangga dengan pakaian santainya


"Aku cariin dari tadi ternyata disini kamu. Ngapain?"tanya Alvano setelah sampai dihadapan Elina


"Buat teh hangat kok, nih"jawab Elina dengan menunjukkan secangkir teh hangat


"Kamu sakit?, tumben buat teh hangat"ucap Alvano digelengi oleh Elina


"Gak kok mas, cuma lemes sama sedikit pusing aja, palingan juga cuma kecapean aja dan nanti juga sembuh kok"jawab Elina lalu menyeruput tehnya


"Ya udah, lebih baik kita sholat isya dulu setelah itu tidur oke, biar kamu bisa istirahat"ucap Alvano diangguki oleh Elina


mereka pergi ke kamar untuk melakukan sholat isya bersama dengan Alvano sebagai imam yang sudah lengkap dengan baju koko dan sarungnya, sementara Elina dia sudah lengkap dengan mukenanya


"Siap cantikku?!"tanya Alvano menatap Elina yang tersenyum padanya


"Siap gantengku"jawab Elina membuat Alvano terkekeh lalu berbalik menghadap kiblat untuk melaksanakan sholat


mereka melaksanakan sholat dengan khusuk dan sampai sholat selesai dengan Alvano merebahkan tubuhnya dengan kepala diletakkan dilipatan kaki Elina yang bersila karna akan membaca Al-Qur'an seperti biasanya


Alvano menduselkan wajahnya keperut Elina dan sesekali dia mengecupnya sayang, tangan Alvano melingkar dipinggang Elina karna kini posisi Alvano menyamping menjadi tiduran dipaha istrinya dan Alvano menatap perut rata Elina dihatunya dia berdo'a pada Allah agar segera hadir malaikat kecil bersemayam disana,tangannya mengusap perut istrinya


"Mas!"panggil Elina melihat Alvano yang mengusap perut ratanya membuat Elina tau apa yang suaminya pikirkan sekarang


"Bobo yuk, udah malam ini. Besok kamu harus ke kantor, kan besok kamu meeting dengan perubahaan paman Adam"ajak Elina diangguki oleh Alvano


"Aku ke kamar mandi dulu ya"pamit Alvano setelah berganti pakaian menjadi santai


tak lama Alvano keluar dari kamar mandi, dia melihat Elina sudah memejamkan matanya dengan posisi tidur meringkuk. Alvano mematangkan selimut ketubuh Elina dan dia masuk kesebelahnya menarik Elina kepelukkannya lalu mencium pucuk kepala Elina yang dia dekap


"Good night honey"bisik Alvano ikut menyusul kealam mimpi


******


Pagi hari ini, Alvano sudah siap dengan pakaian kerjanya hanya belum memasang dasi saja dan dia harus mencari istri cantiknya untuk memasang dasinya


Elina yang sedang menyiapkan sarapan dibawah harus pergi kekamarnya saat mendengar Alvano memanggilnya untuk mematangkan dasinya


"Ay!!!"teriak Alvano dari kamar


"Iya mas...sebentar"jawab Elina ikut berteriak dari lantai bawah


sampainya diatas, Elina menatap suaminya yang sibuk menyisir rambutnya setelah memakai pomade agar tetap rapih dan wangi katanya. Elina menghampiri Alvano dan langsung ditodong menggunakan dasi dengan sak penodong yang hanya cengengesan


"Pasangan boleh?"tanya Alvano dibalas anggukan oleh Elina

__ADS_1


"Nanti pulang jam berapa?"tanya Elina sambil memasang simpul dasi dileher Alvano


"Jam makan siang aku pulang, terus pulang kerja jam 17.00 paling baru sampai rumah"jawab Alvano diangguki Elina yang baru selesai memesang dasi


"Kenapa memangnya?"tanya Alvano mengerutkan dahinya sambil menarik pinggang Elina mendekatinya


'Mas Al lupa apa gimana kalo hari ini ulang tahun dia?, apa memang sengaja biar aku yang ucapin duluan?. Biarin aja deh, kan nanti mau kasih kejutan jadi sekarang pura-pura lupa aja'batin Elina menyunggingkan senyum tipisnya


"Gak papa sih, cuma nanti aku mau kerumah Mami. Kemarin aku minta tolong sama Mami buatin ayam geprek pedes dan takutnya kamu pulang aku gak dirumah gitu"jawab Elina mencari alasan


"Oke gak masalah,nanti aku pulangnya kerumah Mami juga gak papa sekalian jemput kamu"ucap Alvano diangguki oleh Elina


"Ayok sarapan, udah siang nanti telat lagi"ajak Elina melepas tangannya dipundak Alvano dan Alvano tetap melingkarkan lengannya dipinggang Elina


setelah kepergian Alvano, Elina bersiap untuk pergi kerumah mertuanya dan mengatakan semua rancananya. Sampai disana Elina langsung disambut oleh Nataza dan Oma Ayu tentunya yang memang rempong jika menantu mereka datang


persiapan sudah dipasang rapih dan semuanya telah selesai tinggal menunggu kue ulang tahunnya saja yang belum matang, sambil menunggu Elina kembali menghubungi Alvano dan bertanya kapan pulang dan jawaban Alvano berubah, bukan jam 17.00 tapi menjadi 15.00 mungkin sudah sampai rumah


"Mi, Oma. Mas Al pulang jam 15.00, dia majukan karna meeting hari ini diundur"jelas Elina membuat kedua wanita itu mengangguk paham dan menyiapkan segalanya


"Assalamualaikum"salam teman-teman Alvano yang diundang oleh Elina kecuali Dion yang memang masih dikantor bersama Alvano


"Waalaikumsalam. Bagus kalian udah dateng, kalian bantuin Papi, Opa dan Dimas disana ya, aku mau lanjut hias kue"ucap Elina diangguki oleh ketiga pria itu


****


sore harinya sesuai ucapan Alvano tadi pagi, dia datang kerumah orang tuanya untuk menjemput Elina. Sampainya didepan rumah, Alvano dibuat bingung karna suasana rumah yang sepi dan penjaga pun tak ada didepan


Alvano menghubungi Alex namun nihil, menghubungi Papi dan Opanya pun sama tak ada jawaban membuatnya bingung. Alvano berbalik mencari Dion tapi anak itu menghilang entah kemana membuat Alvano semakin bingung, kenapa semua orang, pikirnya


Alvano melangkah mendekati pintu masuk yang ternyata tak dikunci, dia langsung membukanya dan yang dia lihat hanya ruang tamu yang sepi,gelap dan hening tanpa suaraa


Alvano maju mencari sakelar lampu ruang tamu, namun dia tak menemukannya dan tiba-tiba semua lampu menyala membuatnya terkejut dan melihat semua orang disana berteriak 'Happy Birthday'


Alvano memandang Mami dan Papinya yang tersenyum bahagia, Elina ditengah-tengah mereka memegang kue, adik-adiknya dan sahabat-sahabatnya juga disana


"Tiup lilinnya mas"pinta Elina lalu suara ledakkan confetti bersamaan terdengar menggema didalam rumah


"Bilangnya mau ambil pesanan ke Mami, taunya bikin kejutan hmm!?"ucap Alvano membuat Elina menyengir


"Ya maaf, kan sengaja sama mereka buat kejutan untuk gantengnya ini"jawab Elina lalu mencium pipi Alvano membuat sang empu membulatkan matanya lalu tersenyum bahagia dan memeluk Elina erat


"Aku ada kejutan spesial untuk kamu"bisik Elina membuat Alvano menunduk menatapnya


"Apa?!"tanya Alvano penasaran

__ADS_1


__ADS_2