
Malam harinya, Elina masuk kedalam kamar milik Alvano sesuai permintaan Nataza dan Bunda Ayu tentunya. Jujur saja Elina mulai merasa gugup, takut. dan tegang karna malam ini adalah malam pertamanya dengan Alvano, tapi saat mengingat Alvano dia baru sadar jika suaminya tidak ada bersamanya setelah selesai akad, astaga dia baru ingat jika Alvano diculik oleh sahabat-sahabatnya tadi pagi. Mungkin saja sedang merayakan masa lajang terakhir kalinya bersama sahabat-sahabatnya
"Lebih baik mandi saja lah, dari pada menunggu Al terlalu lama"gumam Elina dengan melepas semua perekam dikepalanya juga menghapus make upnya menggunakan pembersih
Setelah selesai, Elina melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, 10 menit kemudian Elina selesai dan keluar menggunakan baju tidur tipisnya dan merebahkan dirinya diatas ranjang dengan setelah mematikan lampu utama digantikan lampu tidur yang remang-remang
"Mungkin Al lagi happy-happy sama sahabat-sahabatnya sekarang. Gak papa deh malam pertamanya ditunda jadi aku bisa tidur nyenyak malam ini, Hufh.. capek banget ternyata hari ini" batin Elina dan mulai memejamkan matanya bersiap menuju alam mimpi
****
Dimarkas inti, Alvano masih terikat diatas kursi besi dengan sahabat-sahabatnya yang justru sudah tidur diatas sofa dengan berbagai gaya, bahkan Vano dan Marchel tidur dengan berpelukan diatas sofa yang paling luas dimarkas mereka
Alvano hanya bisa menghela nafasnya pasrah sekarang, sungguh dia benar-benar dikerjain oleh sahabat-sahabatnya dan dikurung ditempat yang tau dimana dia berada saat ini, yang dia tidak tau sekarang adalah apakah ini sudah larut malam atau belum?, jam berapa sekarang?, kenapa suasananya sunyi sekali?, apa dia ditinggal ditempatnya sendirian dengan keadaan diikat seperti sandera saat ini, sungguh kasihan meski sudah makan dan minum dengan bantuan sahabat-sahabatnya tapi mata Alvano tetap diikat dengan kain hitam , meski setiap waktunya sholat dia tetap melaksanakan dengan tangan terikat pada tangan Reza dan Riza agar tidak bisa kabur
"Sial!!, kaya sandra gue disini, mana diikat semua sampai mata aja ditutup, gimana ceritanya coba malam pertama malah jadi sandra kaya gini. Ay, maafin aku karna ninggalin kamu dari selesai akad karna jadi tahanan disini. Aku gak bisa lepas dari mereka Ay, padahal ini malam pertama kita dan aku belum jebol gawang kamu, ehh.. malah dikurung kaya gini. Nasib banget emang punya sahabat kaya mereka, harus ekstra sabar dan pastinya. harus terima gagal malam pertama"gumam Alvano pasrah dan Alvano lebih memilih memejamkan mata sekarang dari pada berontak hanya akan lelah saja
Pagi harinya, Alvano terkejut mendengar suara benda jatuh dari arah belakanhnya, Alvano memiringkan kepalanya untuk menajamkan pendengarannya dan mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, sungguh sekarang jantungnya berdetak cepat tapi dia harus bisa lepas dari ikatan ini demi melindungi dirinya dari bahaya yang mungkin akan terjadi padanya
saat akan berteriak membangunkan sahabat-sahabatnya,tali yang mengikat matanya terlepas dan Alvano melihat sahabat-sahabatnya sedang berdiri sambil menjewer kedua telinga mereka dan kaki yang angkat satu, Alvano menoleh kebelakang dan melihat Aiden, Dimas juga Ayah Tama sedang melepaskan ikatan tali ditubuhnya
"Kamu gak papa Al?"tanya Ayah Tama dengan menepuk pelan pundak Alvano
"Aku gak papa Opa, lagian mereka juga gak ngapa-ngapain aku kok, aku akan Opa jadi Opa dan Papi tenang aja"balas Alvano dengan menunjukkan senyumnya
"Alhamdulillah kalo kamu gak papa Boy. Untuk kalian..."ucapan Azam berhenti dengan menatap tajam sahabat-sahabat Alvano
"Maaf Papi, Opa. Kita gak bermaksud buat nyandra Al kok. kita cuma pengin kerjain Al kaya dulu lagi waktu masih TK, dulu juga gini kan sampai kita dihukum sama Papi dan semua itu gak sia-sia kita akan dapat hukum dari Papi. Kita tau setelah Al menikah pasti gak akan ada waktu lagi buat kita main bareng lagi, apalagi main bareng ngumpul gini aja susah Pi. Makanya kita sepakat buat culik Al dan kurung dia disini kaya dulu lagi. Maaf Pi, Opa"jelas Reza dengan menundukan kepalanya dan yang lain hanya diam dengan menunduk
Azam dan Ayah Tama hanya menggelengkan kepala setelah mendengar alasan Reza, mereka tak menyangka kenakalan mereka dulu saat masih TK terulang kembali dengan konsep yang tetap sama dan Alvano tetap menjadi korban diantara mereka. Sungguh Azam salut dengan persahabatan mereka yang selalu membuat hati orang-orang betah dan jatuh cinta jika dekat dengan mereka, meski diluar mereka seperti kulkas berjalan karna terlalu kaku, dingin, dan cuek kepada siapaun kecuali pada orang yang butuh bantuan
"Oke, hukuman kalian. Papi ringankan dan kalian Papi hukum lari keliling lapangan basket Papi sebanyak 10 kali. Kalo kalian gak melaksanakan perintah Papi, Papi akan tambah hukuman kalian. Ngerti!!"ucap Azam tegas menatap mereka
"Ngerti Papi"balas mereka serentak dan mengangguk semangat dan pasrah tentunya tak bisa menolak peintah Azam yang sudah mereka anggap sebagai Ayah mereka sendiri
****
Sore hari
__ADS_1
Kini mereka sudah berada didepan lapangan basket halaman belakang rumah Azam. Ya Azam memiliki sebuah lapangan basket yang khusus untuk dirinya olahraga saat waktu libur kerja atau masa senggang dan saat dia sedang dalam masalah, pasti Azam akan melampiaskannya pada bola baskes hingga dia benar-benar puas dan lelah
Azam dan Ayah Tama tentu hanya berdiri disamping lapangan menyaksikan mereka dihukum untuk berlari, seperti dahulu juga mereka selalu melakukan hal yang sama seperti ini jika sudah kecewa batas mengerjai satu sama lain
"Ini adalah hukuman ringan untuk kalian dan kalo sampai Papi tau kalian gak melaksanakan hukuman ini dengan serius, Papi tambah lebih dari ini, fasilitas kalian Papi cabut dan Papi akan kirim kalian ke luar negeri. Papi sudah bicarakan ini dengan orang tua kalian dan mereka setuju dengan keputusan mutlak Papi kalo sampai kalian mengulangi lagi kenakalan kalian, kalo sampai Papi tau kalian ulangi lagi, hukuman Papi tambah dan kalian di luar negeri selama 6 tahun disana untuk belajar mandiri tanpa fasilitas apapun, dan itu juga berlaku pada anak-anak Papi. Ingat itu!!"jelas Azam dengan mengancam mereka yang hanya diam menunduk takut
"Papi"panggil seseorang membuat mereka menoleh kebelakang, dan melihat Alvano bersama Elina melangkah menghampiri mereka yang sedang bingung menatap keduanya yang justru keluar kamar saat kondisi Alvano sedang demam
"Kenapa keluar Boy, kau bukannya istirahat dikamar saja karna suhu tubuhmu naik, kenapa malah kesini sih?"tanya Azam kesal kepada Alvano dan menatap Elina yang menunduk
"Maaf Pi, ini bukan salah El kok. Al yang minta kesini buat hentikan Papi hukum teman-teman Al, Elina sudah larang Al tapi Al tetep pengin kesini buat hentikan Papi hukum mereka. Papi Al mohon jangan hukum mereka ya!, mereka gak salah Pi, mereka cuma bercanda dan buat El bisa istirahat lebih lama, Papi tau kan sebelum hari pernikahan Al, El udah bolak-balik jogja-jakarta cuma buat dateng ke makam orang tuanya dan minta restu atas pernikahan kita. Jadi El memang pantas untuk istirahat dan rencana mereka berhasil buat Elina istirahat, please ya Pi. hapus hukuman Papi sama mereka, mereka lakukan itu juga untuk Al sama El Pi"jelas Alvano dengan menggenggam tangan hangat Papinya
"Oke. Papi tak akan hukum mereka seperti yang kau minta. tapi hukuman lari keliling lapangan tetap dijalankan sebanyak 3 kali karna sudah buat kamu demam tinggi"ucap Azam tegas dan pergi meninggalkan mereka
"Sorry gaes. gue gak bisa bantu kalian lepas dari hukuman Papi, tapi gue... "ucapan Alvano terputus saat tiba-tiba Reza memeluknya
"Gak perlu Al. hukuman lari dari Papi udah cukup ringan buat kita, lo udah usahain buat kita lepas dari hukuman Papi, tapi kita tau kalo Papi gak bakal lepasin kita gitu aja apalagi karna kejadian kemarin bikin anaknya sakit dan sudah jelas Papi gak akan lepasin kita. Lo udah berusaha dan kita terimakasih banget sama lo. And sorry karna kita udah buat lo sakit kaya gini"balas Reza dengan memeluk Alvano
"No problem Za, kalian adalah saudara gue jadi gue wajib bantu lo dan gue gak bisa berbuat lebih dari ini untuk kalian, gue gak bisa lawan Papi"ucap Alvano menatap sahabat-sahabatnya
"Gak Al. Lo terbaik pokoknya. Kalo gitu kita akan lari sekarang biar sore ini kita bisa pulang dan istirahat tentunya. Hehehe... "balas Dion dengan tangan menepuk pundak Alvano dan berlari mengelilingi lapangan basket
Sampai dikamar. Alvano merebahkan dirinya diatas ranjang dengan memejamkan matanya yang panas juga kepalanya yang sakit dan berat, mungkin akibat kemarin dia tidur dimarkas yang berAC tanpa selimut, meski sudah diberi selimut oleh Reza, tapi denga duduk dengan tangan terikat mana mungkin dia bisa membenarkan selimutnya yang jatuh kelantang dan sekarang dia sakit
"Ay!, makan dulu dan minum obat, terus kamu tidur istirahat ya biar cepet sembuh"ucap Elina yang datang membawa nampan berisi bubur ayam buatan Elina langsung yang merupakan makanan kesukaan Alvano saat dia sakit
"Bubur Ayam?"tanya Alvano dengan bergantian menatap bubur dan Elina yang tersenyum
"He'em...mau makan yang lainnya?"tanya Elina sebagai jawaban
"Gak usah, ini aja enak banget. Tapi kurang karna gak ada kacangnya"balas Alvano dengan wajah cemberut
"Ay!, kamu kan belum boleh makan kacang, kata dokter kamu nanti sesak nafas, aku gak mau kamu tambah sakit, jadi aku menghindari yang dilarang sama dokter untuk kamu makan dan minum"ujar Elina untuk menghindari hal yang tak diinginkan pada Alvano
"Ya udah deh gak ada kacang gak papa. Tapi... suapan ya?"pinta Alvano membuat Elina tertawa kecil sambil mengangguk
"Siap bayi besar. Sekarang..... Aaaa... "ucap Elina dengan memberikan satu suapan pada Alvano dan Alvano dengan senang hati membuka mulutnya untuk menerima suapan Elina
__ADS_1
"Heeemmm... Enaakk..."ucap Alvano membuat Elina terkekeh
Suap demi suap masuk kedalam perut Alvano, kini bubur tersebut sudah habis dan sekarang Elina pergi ke laci nakas sebelah untuk mengambil obat Alvano. Elina melangkah menghampiri Alvano yang sedang menatapnya membawa obat miliknya dengan gelas berisi air putih ditangan sebelahnya
"Sekarang. minum obat dulu ya biar cepet sembuh"ucap Elina dengan memberikan obat pada Alvano dengan segera Alvano menelannya
"Air"pinta Alvano dan merebut gelas ditangan Elina dan meneguknya sampai habis
"Gimana?"goda Elina karna melihat Alvano yang bergidik menahan pahit
"Pahitt... "balas Alvano dan mengulurkan lidahnya mencoba menghilangkan rasa pahit dilidahnya. Elina hanya terkekeh dan menggeleng melihat Alvano seperti anak kecil yang tak suka minum obat
"Namanya juga obat, ya pasti pahit dong Ay. Kalo madu atau gula baru manis"ledek Elina membuat Alvano memanyunkan bibirnya
"Ay, udah adzan belum?"tanya Alvano menatap Elina yang sedang memindahkan mangkok dan gelas kedalam nampan untuk dibawa ke dapur
"Sekitar 1 menit lagi adzan magrib. Aku tinggal ke dapur sebentar"balas Elina dan pergi meninggalkan Alvano kedapur
"Bismillah"gumam Alvano melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu karna adzan sudah berkumandang
selesai wudhu, Alvano memakai pakaian kokohnya dan sarungnya sambil menunggu Elina yang baru saja kembali dan sekarang dia sedang berwudhu untuk melaksanakan sholat bersama. Elina keluar dari kamar mandi dan memakai mukenanya lalu menatap Alvano yang pucat
"Ay!, kamu duduk aja gak papa kok. Nanti kalo kamu berdiri tambah pusing"ucap Elina membuat Alvano menoleh dengan tersenyum
"Gak papa, aku kuat kok Ay. Yuk mulai"jawab Alvano dan memulai sholatnya
selesai sholat, Alvano meletakkan kepalanya dilipatan kaki Elina yang bersila, Elina berniat membaca Al-Qur'an tapi terhenti karna terkejut oleh Alvano yang tiba-tiba meletakkan kepalanya dipahanya
"Lanjut aja Ay, aku cuma hilangin pusing yang tiba dateng"ucap Alvano dengan memejamkan mata
"He'em, aku baca Al-Qur'an dulu. Kamu tidur aja dulu nanti sholat isya aku bangunin"balas Elina dan melanjutkan bacaan Al-Qur'annya
Alvano yang memejamkan mata sambil mendengarkan suara Elina mengaji tersenyum bangga juga bahagia, Elina mengaji dengan suara yang merdu dan membuat Alvano merasa tenang, seketika pusing dikepalanya hilang mendengarkan Elina mengaji.
selesai membaca Al-Qur'an, Elina menatap Alvano yang memejamkan matanya dengan senyum manis dibibirnya, sungguh Elina tidak pernah membayangkan jika dia akan menikah dengan bosnya sendiri yang merupakan sosok yang dingin, kaku, cuek, dan keras kepada siapa saja termasuk semua bawahannya. Tapi entah mengapa itu sifat itulah yang membuat Elina tertarik pada Alvano, selain tampan dan berkharisma, Alvano juga mempunyai daya tarik tersendiri yang membuat Elina sulit untuk jauh dan merindu padanya
"Entah dengan cara apa aku harus berterimakasih pada Mami dan Papi karna mereka sudah menghadirkan sosok pria yang begitu sempurna untukku. Aku bersyukur mendapatkan kamu dan cinta kamu Ay seta aku lebih bersyukur lagi karna kamu adalah pria yang ditunjuk allah untuk menjadi suamiku yang akan menuntunku menuju janah. Love you my husband"bisik Elina membuat senyum Alvano semakin mengembang
__ADS_1
"Love you more my wife"balas Alvano dengan membuka matanya membuat Elina terkejut juga tersenyum bahagia menatap Alvano dibawahnya