
Alvano membawa Elina kesebuah restoran terkenal bahkan baru pertama kali dibuka, dengan senang Alvano menuntun Elina masuk kesana dan mereka disambut dengan ramah oleh para pekerja disana
"Selamat datang Tuan Al dan Nona El. Terimakasih teah datang di restoran kami dan selamat menikmati menu andalan kami"ucap seorang menejer restoran
"Iya terimakasih atas sambutannya dan selamat bekerja untuk kalian"ucap Alvano menuntun Elina ke meja yang sudah dia pesan, tentunya ruang VIP yang Alvano pilih karna lebih tertutup. Sampainya disana mereka duduk soda yang sudah disediakan dan menunggu pesanan mereka
"Yang ini saja, terimakasih. Ohh iya dimana Riza?"tanya Alvano kepada manajer restoran dengan menyerahkan buku menu pada pramusaji disana, ya pemilik restoran tersebut adalah Riza adik dari Reza sahabat Alvano
"Tuan Riza sebentar lagi akan datang Tuan, karna tadi memang sempat memberi kabar jika beliau akan datang sedikit terlambat"balas menejer restoran tersebut dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Alvano
Elina melangkah mendekati jendela ruangan tersebut yang berhubungan langsung dengan laut, dengan jelas dia bisa melihat ombak laut berdeburan menghantam batuan karang disebelahnya, pengunjung restoran banyak yang datang hanya untuk menikmati makanan disana lalu kembali lagi ke bibir pantai untuk bermain dan bersantai, ya restoran milik Riza memang dibuat dengan gaya modern kuno dan menghadap langsung kearah lautan yang luas dengan letaknya tak terlalu jauh dengan bibir pantai
"Ngapain hmm?"tanya Alvano berdiri disambung Elina dengan menatap wajah Elina yang terlihat tersenyum menatap lautan
"Gak papa, aku cuma keingat aja sama kenangan orang tua aku dulu. Mereka selalu mengajak aku dan Rania pergi ke pantai bersama sampai petang, bahkan pulang nenek kami suka mengomel pada Ayah dan Ibu karna petang baru pulang. Lalu esoknya mereka mengajak kami kelaut lagi hingga petang lagi terus sampai orang tua kami meninggal dan neneklah yang mengajak kami kesana, tapi semua itu hanya kenangan dan mungkin gak akan terulang lagi"jelas Elina dengan air mata menetes membasahi wajahnya
"Sssttt....kenapa menangis?, kita bisa lakukan itu kembali bukan?, ya aku tau meski terasa berbeda karna tanpa Ayah dan Ibumu saat bermain nanti, tapi akan ada aku, kamu, Rania dan keluarga aku yang akan menjadi keluarga kamu juga meski gak bisa menggantikan Ayah dan Ibumu dalam cerita indah masalalumu bersama mereka"balas Alvano dengan menggenggam tangan Elina lembut
"Tanks Ay. Love you"ucap Elina dengan segera memeluk Alvano menyembunyikan semburat merah sepupunya dan senyum indahnya
"Love you more"balas Alvano dengan memebalas pelukan Elina
tok... tok... tok...
dengan segera mereka melepas pelukkan mereka dan menernakkan kembali posisi mereka dan Elina masih berdiri ditepi jendela dengan menatap lautan, tak ingin orang lain tau jika dia habis menangis dalam pelukan Alvano, pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan Riza dan seorang pramusaji dibelakangnya dengan menundukkan kepalanya
"Hai Kak Al"sapa Riza dan segera memeluk Alvano dan mendapat pelukan Alvano
"Gimana kabarnya?, kenapa gak pulang kerumah?"tanya Alvano yang memang Riza lebih memilih tinggal di apartemen dibanding di rumah, alasannya simple yaitu hanya mencari ketenangan dan kedamaian disana,belum membalas pertanyaan Alvano suara pramusaji menyala ucapannya
"Permisi Tuan, ini pesanan anda dan Nona"ucap pramusaji meletakkan makanan dan minuman dimeja
"Terimakasih banyak"ucap Alvano
"Sama-sama Tuan, kalo begitu saya permisi"balas pramusaji tersebut lalu pergi dari sana
"Kakak tau bukan, aku dirubah itu paling malas saat Kak Reza pulang, dia selalu merecokiku saat aku sedang melakukan aktivitas kebiasaanku. Aku sungguh tak tahan dengan kebisingan dan kerusuhan yang Kak Reza buat padamu dan memilih tinggal diapartemen yang nyaman, damai dan tenang"balas Riza dengan menyandarkan kepalanya disandarkan soda, tak lama Elina kembali duduk bersama mereka dengan wajah yang kembali normal
"Hai Kak El. Dari mana kakak datang?, kenapa aku tidak melihat kakak datang?"tanya Riza membuat Elina terkekeh
"Aku sudah dari tadi disini, hanya saja aku disana menatap lautan yang indah"balas Elina dengan menunjuk jendela ruangan tersebut
__ADS_1
"Haha... pantas saja kakak tak terlihat, kakak berdiri disana dengan baju warna sama dengan temboknya"celetuk Riza membuat Elina dan Alvano menatap baju Elina, dan benar bajunya sama dengan tembok disana lalu mereka tertawa
"Baiklah Kak dilanjutkan saja makannya. Aku akan kembali ke ruanganku. Mari Kak El"pamit Riza lalu pergi dari sana setelah mendapat anggukan kepala oleh Elina dan Alvano
mereka mulai memakan makanan mereka dengan sesekali bercerita dan tertawa bersama. Setelah makanan mereka habis, Alcano membawa Elina pergi dari sana setelah membayar makanan disana dan pamitan pada Riza
Alvano melajukan mobilnya menuju rumah Elina, dia akan mengantar Elina kembali tapi juga membawanya kembali nanti bersama dengan adiknya juga, Rania. Sampai dirumah Elina, mereka disambut oleh Rania yang membukakan pintu masuk dengan tersenyum
"Kamu ganti gin bajunya pake ini dan Rania juga ganti pake ini dan dandan yang cantik oke. Aku tunggu disini"ucap Alvano dengan mendorong Elina dan Rania masuk ke kamar mereka masing-masing
"Siap Kak Al, tunggu ya kak"balas Rania lalu mengunci pintu kamarnya setelah masuk
Alvano yang menunggu sedari tadi hanya memainkan ponselnya dengan bosan, terkadang dia membuang ponselnya kesal karna terlalu lama menunggu calon istri dan adik iparnya berdandan, sudah hampir 1½ jam menunggu tapi keduanya belum juga keluar
'Astaga!, yang namanya perempuan pasti sama saja jika berdandan, lama sekali sih!!.... Akkhhh.... aku bosann... aku sungguh bosann...' teriak Alvano dalam hati, bahkan dia mengacak-acak rambutnya pelan karna kesal
tak lama Elina keluar dari kamarnya dengan tampil cantik, mengenakan gaun yang mereka beli tadi dibutik Elvina. Alvano mendengar pintu terbuka dan melihat Elina yang begitu cantik bahkan rambutnya dia cepol rendah dengan menyisakan sedikit rambutnya biarkan terurai
"So beautiful Ay"ucap Alvano dengan langkah pelan menghampiri Elina yang menatapnya
"Makasih Ay"balas Elina menatap Alvano yang masih tersenyum bangga padanya, lalu langkah Alvano mendekatinya dan mendekatkan wajahnya pada telinga Elina
"Terlalu cantik Ay. Jadi pengin kurung kamu dikamar sekarang juga dan gak akan aku biarkan kamu kabur kemanapun" bisik Alvano membuat Elina blussing lalu matanya melotot menyadari sesuatu
"Apaan yang mesum, maksud aku itu kurung kamu untuk terus aku peluk sepanjang hati dan kamu gak akan bisa keluar kemanapun. Kamu aja otaknya yang mesum"balas Alvano dengan menyilangkan tangannya didepan dadanya
"Emang kamu mikir apa barusan?, emang aku mau ngapain kamu kalo dikurung dikamar hmm?"tanya Alvano sengaja memancing Elina, ternyata gadisnya ini mesum juga pikirannya
"E-enggak ada, aku gak mikir apa-apa"balas Elina dengan gugup lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air, tapi belum juga melangkah, pinggangnya sudah dipeluk erat oleh Alvano dengan menopangkah dagunya dibahu Elina
"Aku tau apa yang kamu pikirin kok Ay. Aku gak akan melakukan itu sama kamu, Akan ada saatnya aku lakukan itu sama kamu, tapi bukan sekarang jangan ngarep dulu oke"ucap Alvano tepat ditelinga Elina bahkan nafasnya berhembus panas dipipi Elia, aroma maskulin dari Alvano sungguh menenangkannya
tanpa mereka sadari Rania sudah keluar dari kamarnya dan melihat kakak dan calon kakak iparnya sedang berpelukan mesra didepan dapur, bahkan terlihat calon kakak iparnya itu sedang mencium pipi kakaknya
"Ekhem.... Pacaran mulu perasaan"sindir Rania lalu terkekeh dengan menghampiri mereka yang terlihat terkejut setelah melepas pelukan mereka
"Udah siap kan. ayo berangkat"ajak Alvano mengalihkan ucapan Rania
"Ayok"balas Rania dengan semangat. bahkan dia dengan senangnya menggandengan tangan Alvano dan menghidangkannya kedepan belakang dengan cepat
"Silakan masuk ratu dan tuan putriku"ucap Alvano membuat mereka tertawa
__ADS_1
Alvano mengitari mobilnya, lalu masuk dan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Elina. Alvano sudah berjanji pada Oma dan Opanya untuk membawa Elina dan Rania kerumah utama, dan sekarang saatnya dia membawa calon istri dan adik iparnya kerumah utama untuk menemui keluarga barunya
sampainya didepan rumah megah dan mewah, mereka turun dengan bodyguard Azam yang mengelilingi mereka dan berbaris sepanjang pintu masuk, salah satu bodyguard juga membukakan pintu untuk mereka bertiga dan menutup pintu kembali setelah mereka masuk
didalam, mereka disambut hangat oleh keluarga Alvano terutama Nataza dan Bunda Ayu. Mereka langsung membawa Elina dan Rania untuk duduk disofa keluarga bersama yang lainnya kecuali Alvano yang ditinggal ditempatnya seorang diri, Azam dan Ayah Tama yang melihat putra dan cucunya ditinggal hanya terkekeh dan menghampirinya
"Dasar, perempuan sama saja memang. Yang anaknya siapa yang cucunya siapa. yang dipeluk, cium bahkan diusap kepalanya orang lain, ini baru akan menjadi mantu keluarga ini. Kalo udah jadi istri aku udah jadi menantu jelas gue bakal jadi anak terbuang didepan mereka"gumam Alvano menatap Elina yang tengah dimana oleh Mami dan Omanya
Azam dan Ayah Tama yang mendengar itu tertawa, nasib mereka sama saat pertama kali membawa calon menantu atau sudah jadi menantu pasti mereka akan ditelantarkan, semuanya harus dilakukan sendiri hingga kesal sendiri dan jawaban mereka hanya satu jika ditanya yang anaknya siapa ya menantu mereka lah jawabannya, lalu mereka ini siapa selama ini?, anak pungut? anak orang lain? anak terlantar? atau anak yang tidak diinginkan?
"Sudahlah Al, kau ini seperti tidak mengenal Mami dan Omamu saja, mereka kan memang begitu mengulangi apa yang dilakukan oleh nenek moyang dahulu katanya. Apa. kau tak ingat, Dimas anak tante Jihan teman Mamimu, fia juga begitu dimanja oleh Omamu padahal dia menantu laki-laki"ucap Azam dan diangguki oleh Ayah Tama
"Sudahlah ayo masuk, dari pada nanti kanjeng ratu berteriak demo memanggil kita"ajak Ayah Tama berjalan menuju ruang keluarga
Sampainya di ruang keluarga, Alvano duduk disamping Elina dengan santainya dia menggenggam tangan Elina dan menawannya lembut, Sementara Elina dia tersenyum antara malu dan bahagia, ya malu karna perlakuan Alvano ditonton oleh anggota keluarga Alvano sementara bahagia karna keluarga Alvano begitu baik dan menerima dia dan Rania sebagai anggota baru mereka, bahkan Oma Ayu meminta mereka untuk menginap beberapa hari disana untuk mengenal lebih dekat lagi dengannya
"Ay, anter aku pulang yuk. udah malam ini"ucap Elina merasa tak enak bertamu hampir larut
"Gak Ay, kamu sama Rania nginap disini. Mami sama Oma udah siapin kamar untuk kalian. dan aku gak bisa menolak keinginan kanjeng ratu"balas Alvano lembut
"Tapi Ay..."ucapan Elina terpotong oleh Rania
"Udahlah kak, bobo sini aja ya. Sekali-kali bobo dirumah sultan"ucap Rania dengan terkekeh namun diacungi jempol dua oleh Alvano dan mereka adu tos bersama
"Ya baiklah, aku mengalah"balas Elina dengan menyandarkan kepalanya pada sofa
"Maaf ya, aku tidak bisa membantu kali ini Ay"ucap Alvano terkekeh
"Naik gih ke kamar kamu. Besok akan ada kejutan spesial buat kamu"ucap Alvano lalu berdiri dari duduknya
"Kejutan?, apa? "tanya Elina penasaran
"Namanya juga kejutan Ay, masa aku kasih tau sih sama kamu, bukan kejutan lagi dong namanya kalo aku kasih tau kamu"balas Alvano dengan mengusap pipi Elina lembut membuat Elina mengangguk lucu
"Gih bobo. Good night Ay"pinta Alvano dengan mengacak rambut Elina pelan
"Good night too Ay"balas Elina dengan segera dia berjinjit dan langsung pengecut pipi Alvano cepat dan berlari ke kamarnya
Alvano yang mendapat kecupan mendadak dari Elina hanya membeku ditempatnya, dia linglung sekarang dengan apa yang terjadi barusan, wajahnya perlahan berubah merah dan panas seketika dari telinga hingga pipinya memerah blussing. Semburat senyum bahagia muncul diwajah tampaknya setelah menyentuh bekas bibir Elina dipipinya. Astaga banyak sekali kupu-kupu diperutnya saat ini hingga Alvano salah tingkah sendiri sekarang, bahkan dia tak sadar jika Nasyla ada didapat melihatnya yang sedang senyum-senyum sendiri
"Kak Al kenapa tuh?, kok senyum-senyum sendiri kaya orang gila, kalo emang bener gila harus dibawa RSJ ini, bahaya kalo dibiarin. Ehh... tunggu. Senyum-senyum kaya gitu juga bisa kesambet kan?, astaga jangan-jangan Kak Al kesambet setan dibuang keluarga lagi. Ihhh.... "gumam Nasyla lalu berlari kembali ke kamarnya, yang tadinya ingin mengambil air minum. tapi tak jadi karna melihat kakak sulungnya yang aneh
__ADS_1
sementara Alvano sedang senyam-senyum sendiri di kamarnya bahkan dia menyembunyikan wajahnya dibantalnya dengan menggigit selimutnya mengingat ciuman Elina dipipinya
"Aaaaa.... gue gak bisa tidur karna ini!!!....Mami Al gak bisa bobo karna calon mantu Mami!!!"pekik Alvano didalam kamarnya, untung saja kamarnya kedap suara sehingga tidak ada yang mendengarkan teriakannya