Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 39


__ADS_3

"AKU DATANG ALVANO. BERSIAPLAH UNTUK BERMAIN DENGANKU" isi dari daun tersebut membuat Azam memerintahkan Alex untuk melacak keberadaan Jonathan saat ini juga.


"Astaga, bagaimana aku memberitahukan pada Al, dia saja masih butuh istirahat karna tak demam, bagaimana dia bisa menemui Jonathan jika tau nanti Ia sudah diindonesia?"gumam Azam mulai berfikir.


tak lama Elina turun dari lantai atas menuntun Alvano yang masih lemas meski tak sepanas tadi saat sebelum minum obat dan tidur. Azam yang melihat kedatangan putra dan menantunya segera menghampiri juga ikut membantunya menuntun Alvano.


Elina melangkah menuju sofa membenarkan posisi bantal untuk suaminya agar duduk nyaman dan dibalas senyuman oleh Alvano yang telah duduk disamping Azam.


"El, kau jaga suamimu sebentar. Papi mau menemui Alex sebentar diluar"ucap Azam pada Elina yang mengangguk sebagai balasan.


setelah Azam pergi, kini waktu dimanfaatkan oleh Alvano untuk bermanja pada istrinya. Dia merebahkan kepalanya dipaha istrinya sementara wajahnya dia duselkan pada perut Elina yang mulai terlihat, Elina hanya terkikik geli saat merasakan kecupan dan gesekan hidung Alvano diperutnya.


"Masih pusing mas?"tanya Elina dibalas gelengan oleh Alvano yang kini menatapnya.


"Cuma lemesnya aja kok, udah gak panas dan pusing lagi"jawab Alvano kembali menduselkan wajahnya diperut Elina.


"Geli mas"ucap Elina saat kepala Alvano masuk kedalam kaos besarnya mengecupi dan menggigit kecil perutnya.


"Aku Gemes sama perut kamu. Baby pasti lucu dan gemas nanti kalo udah lahir"jawab Alvano mengeluarkan kepalanya dari kaos Alvano lalu kembali masuk kedalam kaos besarnya.


"Keluar mas ih...kalo ada Papi gimana nanti?"tanya Elina pelan sambil memukul lengan Alvano yang tangannya melingkar dipinggangnya.


"Gak masalah, lagian Papi gak akan komentar apapun. Kaya Papi gak pernah aja kaya gini sama Mami, aku lihat kok waktu itu Papi pernah minum Asi Mami saat Mami selesai menyusui Nasyla dulu, bukan hanya dulu sampai sekarangpun masih sering nyusu ke Mami, entah itu di kamar atau diruang tamu sekalipun"jelas Alvano dengan polosnya menceritakan apa yang sering dia lihat dulu saat Mami dan Papinya yang mungkin lupa menutup pintu kamar atau mengunci pintunya.


Elina hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah polos Alvano ketika menceritakan kegiatan kedua orang tuanya yang jelas privasi itu. Kembali Alvano masukkan kepalanya kedalam kaos besar Elina dan membuat tanda merah diperut dan kini br* Elina telah tersingkap sebelah dan dia memulai aksinya.


"Mas!!"pekik Elina tertahan saat pucuk dadanya digigit sedikit keras oleh Alvano, sementara Alvano hanya menyengir setelah keluar dari kaos besar Elina.


"Maaf sayang, gemas soalnya"jawab Alvano dan kini berani merem*snya dan memil*nnya lembut membuat Elina menggigit bibir bawahnya.


"Jangan digigit bibirnya sayang, nanti berdarah"ucap Alvano saat melihat Elina menggigit bibirnya, dia melepas tangannya dari dada Elina dan membenarkan kembali bajunya yang sedikit kusut olehnya.


"Enggak! siapa yang gigit bibir?"elak Elina sambil memalingkan wajahnya kearah lain membuat Alvano gemas.


Alvano memegang dagu Elina dan menariknya pelan mengarahkan padanya agar Elina menatap matanya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Elina dan siap untuk mencicipi bibir manisnya, namun kurang 5 cm lagi (kayaknya ya, karna author gak lihat 🙈) bibir keduanya akan menempel suara Azam mengejutkan keduanya hingga membuat Alvano terjengkang ke ujung sofa karna didorong Elina lumayan kencang.


"M-maaf mas, Aku gak sengaja"ucap Elina khawatir sambil membantu Alvano kembali duduk dengan pelan-pelan.


"Gak papa. Aku juga gak papa kok"jawab Alvano namun tangannya mengusap punggungnya yang sedikit linu.


"Kau tak papa boy?"tanya Azam khawatir dibalas gelengan oleh Alvano.


"Syukurlah. Ada yang ingin Papi bicarakan padamu boy. Kita keruang kerja ya, ada masalah dengan kantor"ucap Azam sebagai alasan lalu pergi terlebih dahulu setelah diangguki oleh Alvano yang beralih menatap Elina.


"Aku tinggal sebentar ya keruang kerja, nanti kalo udah selesai aku balik lagi"pamit Alvano dan meminta pada bi Mirna dan Maminya menemani Elina selama dia bersama Papinya.


Sampainy diruang kerja, ternyata disana sudah ada Alex dan Adam, kapan mereka datang?,pikir Alvano. Ya mereka datang saat tadi Alvano tengah berduaan bersama Elina diruang keluarga, tanpa keduanya sadari Azam, Adam dan Alex melihat apa yang dilakukan dan dibicarakan oleh keduanya yang membuat Azam kena bully Adam karna jawaban polos Alvano mengenai dirinya.

__ADS_1


"Ada apa Pi, Paman?"tanya Alvano setelah duduk disofa single samping Azam.


"Ada hal yang ingin Papi bahas soal Jonathan boy, tadi Papi ingin menceritakan ini setelah mendapat surat ini dari anak buahnya, tapi mengingat dirimu baru saja turun demam dan Elina yang selalu bersamamu membuat Papi tak berani bicara, sebab Papi tau dia takut dengan Jonathan"jelas Azam dengan menyodorkan kertas dari Jonathan yang dilemparkan pada kaca hingga pecah.


"Jonathan mengirim ini untuk memberikan tanda jika perang akan dimulai?. Jika iya, maka kita akan lawan mereka malam ini juga"ucap Alvano membuat Azam dan Adam mendelik tak percaya.


"Bagaimana mungkin? bahkan kau baru saja sembuh dari sakitmu dan kau menerima tantangannya untuk berperang?. Astaga! kau gila Al?!"tanya Adam tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh keponakanmu ini.


"Paman. Aku tak peduli dengan diriku sendiri, aku hanya ingin nyawa Elina dan calon anakku selamat dan baik-baik saja, aku tak ingin mereka menjadi korban keegoisan dan kekejaman Jonathan, aku tak bisa membiarkan dia menyakiti istri dan calon anakku"jawab Alvano tegas dengan wajah dinginnya, sementara Azam dan Adam hanya menghela nafasnya pelan pasrah dengan keputusan Alvano yang memang susah untuk diubah.


"Kau yakin malam ini? bukan besok malam?. Kita belum menemukan titik pasti dimana Jonathan berada diindonesia saat ini, bahkan Alex sedari tadi masih kesulitan untuk menemukannya"ucap Azam melirik Alex yang telihat fokus pada komputer didepannya melacak dimana tempat Jonathan berada.


"Ini masih siang Papi, masih ada waktu untuk mencarinya dengan pasti. Aku hanya perlu mempersiapkan diri dan semua yang diperlukan untuk berperang nanti"jawab Alvano datar dan tak terbantahkan membuat Azam kadang bingung bagaimana menghadapi sifat keras kepala putranya yang satu ini berbeda sekali dengan kembarannya.


*****


Sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti tepat didepan gedung mewah dan megah, sang supir turun dan membukakan pintu untuk tuannya. Siapa lagi jika bukan Jonathan Richard, dia telah sampai di istananya yang baru saja dia beli kemarin sebelum sampai diindonesia.


"Aku datang Ayu. Bersiaplah untuk kedatanganku yang akan menjemput kematianmu ditanganku sendiri karna kau berani meninggalkanku demi pria berpenyakitan itu"gumam Jonathan saat dirinya sampai di kamarnya.


"Untukmu Alvano. Tenang saja, aku tak akan menyakiti istri dan calon anakmu, aku tidak sekejam itu pada wanita apalagi dia sedang mengandung. Namun, untuk peperangan kita nanti, aku terpaksa mengambil istrimu darimu sementara agar kau mau menukarnya dengan Ayu secara hidup-hidup lalu aku akan membunuhnya sendiri dengan tanganku dan aku akan melepaskan milikmu. Ingin aku katakan ini padamu, namun aku tak tau bagaimana caranya"lanjutnya dengan panjang lebar didepan cermin menatap dirinya sendiri yang terlihat menyedihkan.


Ia melempar alkohol ditangannya hingga botol itu pecah membentur nakas, lalu dia melempar dirinya keatas ranjang dan menangis mengingat kematian keluarganya 1 tahun silam.


"Aku rindu padamu Mom, andai aku tak memiliki hubungan dengan Ayu, maka kau tak akan meninggalkan aku dengan membawa Ayah dan semua adik-adikku"tangis Jonathan dengan keras dikamarnya yang mewah hingga tanpa sadar dia tertidur.


****


mereka telah memperhitungkan setiap kemungkinan yang akan terjadi nanti, termasuk pengawalan ketat dirumah Alvano karna semua anggota keluarga diamankan disana termasuk Ayah Tama dan Bunda Ayu. Alvano memang sengaja melakukan itu agar mereka tak terkecoh oleh musuh saat penyerangan.


"Kalian semua siap?"tanya Adam lantang pada semua anak buahnya yang tampak sudah sangat siap.


"Sangat siap tuan!!"jawab mereka dengan lantang pula menatap tuan mereka yang terlihat menyeramkan saat mengenakan pakaian khas mafianya.


"Baiklah. Kali ini kita akan melawan seorang pembunuh bayaran, ya kalian tau seberapa hebat pembunuh bayaran itu dan aku yakin jika kalian pasti akan menang. Tapi yang perlu kalian ingat, jika pembunuh bayaran adalah orang yang licik dan juga gesit, kalian harus berhati-hati saat berhadapan dengan mereka, gunakan tak tik yang sudah kalian pelajari dalam menghadapi pembunuh bayaran. Aku berharap semuanya bisa kembali dengan selamat dan kalian bisa berkumpul dengan keluarga kalian tanpa kurang apapun"jelas Adam sambil menatap langit gelap diatasnya.


"Sebelum kita mulai peperangan ini, ada baiknya kita berdoa pada tuhan agar selalu diberikan perlindungan, keselamatan dan keamanan diri. Menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa. Mulai"pimpin Adam dengan menundukkan kepalana dan tangannya menengadah didepan dada berdoa pada Allah diikuti oleh semua yang ada disana.


"Berdoa. Selesai"ucap Adam menangkup wajahnya setelah memanjatkan doa setelahnya dia berdiri dengan tegak seperti semula dan kembali memimpin pasukannya.


Dor....Dor...


suara dua tembakan terdengar diluar markas mereka, dengan segera mereka keluar dan melihat Jonathan dengan semua pasukannya berdiri atas mobil hitamnya. Jonathan menatap Alvano dengan senyum smirknya, namun dihati kecilnya dia tak ingin menyakiti calon Ayah ini.


"Selamat datang dimarkas kami Jonathan Richard beserta pasukannya"sambut Alvano dengan senyum manisnya membuat Jonathan tersenyum lalu berdecih.


"Terimakasih atas sambutan anda Tuan Alvano dan pasukan. Namun kami tak butuh sambutan dari kalian"jawab Jonathan menodongkan senjata laras panjang pada Alvano.

__ADS_1


"Ck.. disambut baik-baik bukannya bahagia dan senang, ini justru menodongkan senjata"ucap Alvano membuat Jonathan terkekeh dalam artian lain.


"Kau takut tuan?"tanya Jonathan lalu memikul senjata laras lanjangnya.


"Oh.. tentu saja tidak sama sekali. Alvano tak akan pernah takut dengan apapun termasuk kematian"jawab Alvano dengan bangga.


"Aku yakin kau memiliki kelemahan tuan Alvano yang terhormat"ucap Jonathan membuat Alvano menaikkan sebelah alisnya.


"Apa? memangnya kau seorang cenayang yang tau kelemahanku hmm?"tanya Alvano sambil menunjukkan senyum liciknya, jujur hatinya takut jika Jonathan menyebut istrinyalah kelemahannya.


"Istrimu.. Elina Pamela Jordan. Betul begitu tuan Alvano Alvano Fauzan Aditama"jawab Jonathan dengan senyum liciknya saat melihat Alvano memejamkan matanya dengan tangan terkepal, Ia tau jika Alvano begitu takut kehilangan istri dan calon anaknya.


"Jangan pernah kau coba sentuh istriku Jonathan"ancam Alvano membuat Jonathan tertawa.


"Hahahaha....tuan Alvano yang orang lain bilang adalah seorang singa jantan yang mematikan dan tak pernah takut akan ancaman apapun, kini harus mengancam seseorang demi sang istri tercinta. Ck...ck...ck...cinta memang membuat orang gila,buta dan lebih parahnya lagi membuat orang lemah"ucap Jonathan membuat Alvano semakin marah.


"Tahan emosimu Boy, demammu akan semakin naik jika kau terlalu emosi"bisik Azam menenangkan Alvano yang telihat sangat marah.


"Ya memang cinta membuat orang itu gila, tuli, buta, hancur, sakit, lemah, bahagia, semangat dan bangkit. Kau mungkin tak pernah rasakan yang namanya cinta, maka dari itu dengan mudahnya kau mengatakan itu padaku"jawab Alvano membut Jonathan terdiam.


"Aku tau kau pernah merasakan yang namanya cinta, namun kau tak pernah merasakan yang namanya bahagia karna cinta, semangat karna cinta dan bangkit karna cinta. Yang kau dapatkan mungkin hanya terluka, hancur, sakit, lemah, buta dan tuli, kau belum sampai gila karna cinta, sebab kau sendiri belum bahagia dalam percintaan"lanjut Alvano membuat Jonathan kembali ingat kenangannya dengan Ayu dan pengkhianatan yang Ayu lakukan padanya.


"Sudah selesai bicaranya?, jika sudah mari kita lanjutkan dengan senjata"ucap Jonathan lalu menembakkan senjata laras panjang pada Alvano yang langsung bisa menghindar.


"Dasar pengecut, kau menyerang lawan yang bahkan tidak memegang senjata"ucap Alvano kemudin mengambil senjatanya ditangan Ben lalu mulai bersiap menembakkan laras panjangnya.


adu tembak kini terjadi diantara dua kubu, Jonathan yang menjadi lawan Alvano, sementara Azam dan Adam melawan anak buah dan tangan kanan Jonathan. Adu tembak terus berlanjut dengan sengit saat salah satu lengan Jonathan tertembak oleh Alvano.


kini mereka bukan lagi dimarkas Azam, melainkan di tengah ladang kosong agak jauh dari markas. Alvano meluncurkan tebakannya tepat diperut kanan Jonathan saat pria itu tengah membidiknya namun gagal karna luka dilengannya menganganggu.


Jonathan tak perduli lagi pada lengannya yang terluka, dia kembali membidik dan tepat mengenai perut kanan dan paha kiri Alvano hingga Ia memekik membuat Azam dan Adam berteriak memanggilnya dengan wajah terkejut.


"Maafkan aku Vano, jujur aku tak ingin dirimu yang pasti juga akan melukai Elina yang tengah mengandung saat ini. Tapi aku tak memiliki pilihan lain" batin Jonathan kembali memasang senyum liciknya


"Hentikan semua ini"teriak Jonathan di sisa tenaganya karna dia juga sudah kehabisan darah akibat tembakan Alvano tadi


"Serahkan Ayu padaku atau Elina akan mati saat ini juga"ancam Jonathan memutar sebuah rekaman suara Elina yang ketakutan


"Jangan sakiti istriku dan anakku Jonathan. Lepaskan mereka"pinta Alvano sambil menahan sakitnya


"Tidak akan pernah, sebelum kau menyerahkan Ayu padaku"jawab Jonathan dengan menaikkan suaranya


"Baiklah, akan aku lepaskan Ayu sekarang juga. Tapi aku mohon jangan sakiti istri dan anakku"ucap Alvano diangguki oleh Jonathan dan suara tembakan dan teriakan Elina terdengar jelas didalam rekaman tersebut


"Apa yang kau lakukan?!!"teriak Alvano mendengar suara istrinya kesakitan


"Hanya bermain sedikit"jawab Jonathan lalu pergi meninggalkan mereka dan kembali ke rumahnya dan anak buahnya membawa Ayu yang tak sadarkan diri meninggalkan tempat tersebut

__ADS_1


__ADS_2