
Setelah memetik buah strowberi dirumah utama, Alvano kembali kerumahnya dengan 1 kantong kresek buah strowberi pesanan Elina. Diperjalanan Alvano masih memikirkan ucapan Oma Ayu, apa benar jika Elina hamil?, tapi kenapa cepat sekali?, bukannya mereka melakukan hubungan itu baru ½bulan 1 minggu, apa mungkin bisa secepat itu?
sampainya dirumah, Alvano melihat Elina yang duduk sendirian dikursi taman sambil mengusap. perut ratanya, entah kenapa pikiran Al kembali akan ucapan Oma Ayu. Alvano turun dari mobilnya dan menghampiri Elina
"Ay!"panggil Alvano membuat Elina menoleh menatapnya sambil tersenyum
"Mana strowberinya?"tanya Elina membuat Alvano memutar bola matanya malas
'Bukannya yang ditanya suaminya malah strowberinya yang ditanya' batin Alvano
"Nih"jawab Alvano dengan menyodorkan kantong kresek berisi strowberi pada Elina
"Makasih mas"ucap Elina
"Sama-sama"balas Alvano sambil menatap perut rata Elina, dia bahagia jika memang benar ada baby disana, tapi dia tidak ingin terlalu berharap hingga membuat Elina merasa kecewa
"Emm.. enak...,mas mau gak?"tawar Elina pada Alvano yang masih melamun, Elina mengikuti arah pandang Alvano yang menatap perit ratanya membuat Elina bingung
"Mas!...mas Al!"panggil Elina dengan melambaikan tangannya didepan wajah Alvano yang terkejut
"Hah!, iya...kenapa sayang?"tanya Alvano memandang wajah Elina yang memiringkan kepalanya menatap Alvano
"Aku gak papa, tapi mas yang kenapa?"balas Elina dan bertanya dengan memakan kembali strowberinya
"Gak kenapa-napa kok"ujar Alvano
"Tapi mas liatin perut aku?, kenapa?, gendut ya?,jelek ya?"tanya Elina sambil mengerucutkan bibirnya sedih
"No, sayang. Aku gak lihatin perut kamu kok, cuma aku lihatin gambar beruang dibaju kamu itu, lucu aja gitu kalo misal aku beli boneka sama kaya gitu"balas Alvano berbohong, namun Elina justru tersenyum bahagia mendengarnya
"Kapan belinya?..Aku mau!"tanya Elina semangat sambil menggigit strowberinya
"Nanti sore ya, siang ini aku ada meeting jadi aku harus siap-siap sekarang untuk ke kantor"balas Alvano diangguki cepat oleh Elina
"KAK EL!!!!... PIE APPLE KAKAK UDAH JADI NIH. AKU TARO DIMEJA MAKAN YA?!!"teriak Rania dari dalam
"IYA!!...MAKASIH NIA!!"teriak Elina dari luar membuat Alvano menutup telinganya langsung
"YOI KAK EL"balas Rania dari dalam dan pergi dari sana
"Kamu buat pie apple?"tanya Alvano setelah melepas tangannya dari telinganya karna Elina yang berteriak tepat disamping telinganya
"He'em.. liat tante Rita tetangga sebelah kirim pie apple untuk Mami, aku jadi pengin buat sendiri dan hitung-hitung belajar bikin sendiri. Tapi tadi belum matang jadi aku titipin ke Nia lalu kesini nunggu mas pulang"balas Elina dengan memasukkan kembali strowberinya yang dia pangku kedalam kantong kresek dan mengajak Alvano masuk kerumah
sampainya didalam, Elina langsung duduk dimeja makan dan disampingnya ada Alvano yang melihat Elina makan pie apple dengan lahap hanya bisa geleng-geleng kepala
"Pelan-pelan Ay makannya, nanti kamu..."belum selesai berucap Elina sudah terbatuk karna tersedak
Uhuk...uhuk....uhuk....
dengan cepat Alvano menuangkan air kedalam gelas dan memberikannya pada Elina, Elina langsung meminumnya hingga air tersebut tandas, sementara Alvano terus mengusap punggung istrinya
__ADS_1
"Makasih mas"ucap Elina membuang nafas lega
"Sama-sama, hati-hati lain kali makannya"balas Alvano diangguki oleh Elina
siang hari ini Alvano sudah berangkat ke kantor, karna meeting dengan pihak klien dari luar negeri membuat Al tak bisa menolak karna sudah Jauh-jauh dari luar negeri dan menolakpun Al tak bisa karna kerjasama ini sangat menguntungkan untuk perusahaannya
sementara Elina dia bingung harus melakukan apa, mau masak dilarang oleh bibi-bibi dirumah, mau cuci piring ini itu segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga selalu dilarang, keluar juga dilarang oleh para penjaga yang Alvano berikan, bahkan hanya untuk kerumah tetangga sebelah harus dikawal oleh anak buah Alvano
"Aaaa... bosen!!!"seru Elina didalam kamar
yang dia lakukan adalah hanya main hp, nonton tv, nonton dekor dilaptop, makan, nyemil, rebahan dan tidur. Membosankan!, sungguh sekarang Elina bagaikan burung yang dikurung didalam sangkar emas, bahkan adik kandungnya jarang dirumah karna kuliah yang kadang sampai malam baru pulang dengan keadaan kusut
"Ke kantor mas Al aja lah, bosen disini"ucap Elina lalu bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri
10 menit dia keluar dari kamar mandi dan melangkah ke walk in closet untuk mencari dress yang pantas digunakan sebagai istri seorang presdir. Elina memilih dress berwarna hitam dengan renda dilengan sampai siku dan rambutnya dia cepol rendah dengan sedikit rambut dia biarkan didepan telinganya dan membiarkan poninya seperti biasa
"Bagus gak ya?, kok aku takut ngecewain mas Al sih?"tanya Elina pada dirinya sendiri yang sedang berkaca dicermin meja rias
"Aahh.. Bodo amat lah!, yang penting aku gak suntuk dirumah terus"ucap Elina dan mengambil tas yang senada dengan bajunya dan sepatu hak tinggi senada dengan bajunya terlihat sangat kontras dengan kulit putih mulusnya
Elina keluar mengambil masakan yang dia masak tadi yang sudah dimasukkan kedalam kotak makan dan juga botol minumnya serasi dengan kotak makannya yang bergambar cinderella.
Elina keluar dari rumah tak lupa dia menitipkan rumah pada bi Nina yang merupakan anak bi Imah. Ouh iya Elina dan Alvano pindah kerumah mereka sendiri yang Alvano beli khusus atas nama Elina yang tak jauh dari rumah orang tua Alvano
"Silahkan non"ucap anak buah Alvano saat pintu mobil penumpang dia buka untuk Elina
"Makasih Ben"balas Elina yang disambut senyum juga anggukan oleh Ben
"Sama-sama nona, kami akan mengawal anda sampai tujuan dari belakang. Sesuai perintah anda kami akan tetap berada didepan dan belakang kantor untuk menjaga anda dan tuan muda"jelas Ben dibalas anggukan oleh Elina
15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai dikantor Alvano dan waktunya sangat pas karna saat ini memang waktunya istirahat. Elina masuk kedalam kantor dengan jantung berdisko
ya sudah lama dia tidak kesini lagi setelah menikah dengan Alvano dia hanya dirumah mengurus suaminya, jalan-jalan hanya waktu senggang saja. Karyawan yang melihat Elina masuk ke kantor mereka menunduk memberi hormat dan yang berpapasan mereka berhenti untuk menyapa sambil menundukkan kepalanya
Elina tersenyum manis sambil membalas sapaan mereka, lalu melangkah menuju lift untuk keruangan Alvano dilantai paling atas. Sampai disana dia melihat sekertaris Alvano yang dulu menghina dan merendahkannya hanya diam dengan tatapan sinis menatap Elina
"Selamat sore nona Elina"sapa Dion yang tiba-tiba muncul didepannya
"Selamat siang juga Dion. Apakah suamiku ada didalam Dion?"tanya Elina dengan menekankan kata suami didepan sekertaris Alvano yang menatap benci pada Elina
"Tuan Al ada didalam nona, beliau sedang asik selingkuh dengan laptopnya nona"balas Dion lalu terkekeh bersama Elina
"Ya itulah suamiku. Aku sungguh kasihan pada diriku sendiri karna selalu didoakan oleh laptopnya itu"ucap Elina dengan tertawa kecil diikuti oleh Dion yang juga tertawa, sementara sekertaris Alvano dia sungguh ingin Menambak rambut Elina saat ini, benci. Iya dia benci pada Elina
"Baiklah Dion, aku permisi masuk kedalam"ucap Elina lalu melangkah meninggalkan Dion yang mengangguk, tapi saat akan mendorong pintu ruangan Alvano, Elina berbalik menatap Dion
"Ouh iya, Ini untukmu Dion. Aku hampir lupa karna asik mengobrol denganmu"ujar Elina dengan menyodorkan kotak makan bergambar tinkerbell pada Dion beserta botol minumnya yang serasi dengan kotak makannya
"Lucu sekali botol dan kotak makannya. Terimakasih nona"ucap Dion dibalas anggukan oleh Elina dan melangkah pergi keruangannya setelah Elina masuk keruangan Alvano
*****
__ADS_1
Diruangan Alvano, sang pemilik ruangan sedang sibuk dengan laptop dan berkas-berkasnya didepannya, meski fokus dengan laptop dan berkas-berkasnya telinga Alvano tetap tajam
dia menoleh saat mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali, dia terkejut melihat istrinya ada disana dengan senyum diwajahnya dengan tangan menenteng paper bag entah apa isinya
"Hai sayang, kemarilah"pinta Alvano dengan menyuruh Elina mendekatinya
Elina menurut saja dan berjalan kearah Alvano, tanpa aba-aba Alvano langsung menarik Elina kepangkuannya dan langsung ******* bibir manis istrinya dengan rakus
"Selalu manis"bisik Alvano dan kini ciuamannya pindah keleher Elina membuat sang empu memejamkan matanya dan tangannya meremas jas Alvano
"Emmhh..."lenguh Elina saat tangan Alvano meremas satu dadanya dan bibirnya tetap aktif ******* bibir manisnya
"Aku ingin Ay"bisik Alvano dan ciumannya pindah kelelahan dada Elina yang sedikit terbuka
"Mashh... ehh..."desahnya dan kini Elina mengubah posisinya menjadi mengangkang dipangkuan Alvano
tangan Alvano turun ke mejanya mencari tombol otomatis diruangannya, pintu otomatis langsung terkunci, dan ruangannya langsung berubah gelap, hanya cahaya remang-remang karna lampu otomatisnya juga menyala bersama dengan penutup ruangan tersebut dan ruangan Alvano kedap suara
"Ma-makanan-nyahh..emmhh.. di-dingin"ucap Elina berusaha untuk bicara namun tak dihiraukan oleh Alvano
"Biarkan saja, sekarang aku mau kamu"balas Alvano lirih karna dirinya asik menciumi dada Elima dengan jari terus bergerak dibawah sana
"****!. Aku gak tahan"ucap Alvano dan sekarang mereka naked dengan posisi ada disofa ruangan Alvano dan terus berlanjut hingga beberapa ronde
*****
Diluar ruangan Alvano, Dion yang ingin mengantarkan berkas penting yang harus ditanda tangani oleh Alvano justru bingung saat akan membuka pintu ruangan tersebut, dia sudah mengetuk dan memanggil Alvano namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam
Dion baru saja sadar jika ruangan tersebut terkunci dan disana tirai otomatis menutup ruangan Alvano yang akan membuat ruangan tersebut kedap suara, 'tumben sekali'pikir Dion. Dion langsung membulatkan matanya saat ingat jika didalam sana ada Elina dan mungkin saja mereka sedang melakukan 'itu' didalam
"Sial!!, Dion mati lo nanti sama Al. Ngapa juga otak lo pake dodol sih, pake lupa ada Elina didalam udah jelas mereka lagi main kuda lumping kalo sampai ruangan Al ditutup gitu, kenapa lo pake ketuk dan coba buka berkali-kali sih Dion?!!!!..Aahh.. dodol lo Dion!!!"teriak Dion dalam hati merutuki dirinya
"Loh pak Dion kok kembali lagi?, bukannya tadi mau ngasih berkas ya ke pak Al?"tanya Diana sekertaris Alvano
"Pak Al lagi istirahat, jadi saya kembali lagi dari pada mengganggu beliau"jawab Dion menatap sekilas Diana yang tersenyum
"Ouh.. lagi istirahat. Kok ada Elina sih didalam, kan harusnya Elina pulang aja dari pada ganggu pak Al"ucap Diana membuat Dion memicingkan matanya
"Maksudnya bagaimana?"tanya Dion
"Ya kan pak Al lagi istirahat, terus ngapain Elina didalam sana?,bukannya pulang aja kan lebih baik dari pada didalam cuma ganggu pak Al istirahat"balas Diana sekenannya
"Kau ini tak tau atau lupa sih?. Nona Elina itu istri sah pak Alvano dan ini adalah perusahaan suaminya, jadi nona Elina bebas dimana saja, ngapain saja sesuai kemauannya dan pak Al tidak mungkin merasa terganggu akan kehadiran istri tercintanya itu, justru pak Al akan semakin nyenyak istirahatnya dengan adanya nona Elina didalam. Kau tau pak Al tak akan pernah bisa tidur tanpa memeluk nona Elina, bahkan tak mencium wanginya saja dia sudah frustasi dan satu lagi.
Kau tau sapu tangan pak Al yang selalu dia bawa itu, itu adalah milik istrinya.setiap akan kekantor beliau selalu menyemprotkan minyak wangi istrinya disana untuk teman tidur saat tak dirumah. Jadi jangan berharap untuk menggantikan istri pak Al, Diana. Kau tak akan pernah bisa mendapatkan hati pak Al yang hanya tercipta untuk nona Elina. Permisi"jelas Dion dan pergi meninggalkan Diana yang diam karna marah dan rasa bencinya pada Elina semakin tinggi
"Tunggu aja, gue akan dapetin pak Al apapun caranya meskipun gue harus bunuh lo Elina"gumam Diana dengan meremas gelas ditangannya hingga pecah bahkan tangannya berdarah
****
Diruangan Alvano, mereka baru saja selesai melakukan ritual dan mandipun mereka melakukan sekali lagi hingga Elina benar-benar terkapar diatas ranjang seperti sekarang
__ADS_1
Alvano duduk disamping istrinya yang tengah memejamkan matanya, terlihat jelas dibawahnya jika istrinya ini kelelahan membuat Alvano tersenyum lalu menunduk untuk mengecup dahi dan bibir Elina yang tetap tidur tanpa terganggu sedikitpun saking lelahnya
"Maafkan aku Ay, karna ulah aku kamu jadi kelelahan kaya gini, bahkan ada memar dilengan kamu karna aku. Maafin aku Ay"bisik Alvano sambil mengusap lengan Elina yang memar karna saat mereka akan mandi Alvano terpeleset hingga dia tak sengaja mendorong Elina hingga lengan Elina terpentok ujung bath up