
Kini mereka sudah tiba di rumahnya, dan Nataza memilih masuk ke rumah terlebih dahulu tanpa menunggu Azam yang sedang bertelefon dengan Bayu entah membahas apa dia tak ingin tau. Sampai di kamarnya Nataza langsung masuk ke kamar mandi,15 menit dia mandi, Nataza keluar dengan baju tidur yang sedikit tipis kesukaannya,Azam sudah tau itu
Azam telah selesai menelfon Bayu,dia masuk ke kamarnya dan melihat istrinya sudah tertidur di atas ranjang dengan baju tidur kesukaannya,Azam mendekati istrinya lalu mengecup dahi istrinya beralih mengusap perut istrinya yang sedikit buncit
"Selamat malam sayangku, selamat malam anak-anak Papi"ucap Azam setelah mengucapkan salam, dia pergi ke kamar mandi
10 menit dia mandi, dia keluar tak menjumpai istrinya di ranjang, dia tak lama untuk mandi dan istrinya masih ada, tapi kenapa sekarang istrinya tak ada di dalam kamar
"Sayang kamu di mana?"panggil Azam dari lantai atas
Baru akan memanggil istrinya kembali, suara istrinya membuat dia terkejut dan hampir saja menjatuhkan handuk yang tadi sempat melorot dari pinggangnya
"Ngapain mas?"tanya Nataza pada Azam yang ada didapur hanya mengenakan handuk di pinggangnya untuk menutupi pusatnya
"Kamu ini bikin aku kaget aja, dari mana sih?, aku cariin juga?"tanya Azam dengan menetralkan jantungnya
"Habis ambil minum di dapur dapur bibi,soalnya air di dapur sini udah habis,makanya aku kesana"jawab Nataza membuat Azam lega,dia pikir istrinya masih marah soal tadi
"Kamu bikin aku jantungan tau gak, di cari keliling kamar sampe semua kamar aku cari-cari tapi gak ada, aku pikir kamu pergi ke rumah Bang Adam beneran"ucap Az dengan lesu, dia benar-benar takut kehilangan istrinya
__ADS_1
"Dihh, siapa juga yang mau pergi semalam ini, aku lebih baik pergi besok pagi aja pas kamu udah berangkat ke kantor jadi aku gak akan ketahuan sama kamu apa lagi di larang sama kamu"jawab Nataza membuat mata Azam membola ditambah dengan air mata yang menggenang
"Jahat kamu... Hikss...kamu mau ninggalin aku sekarang.. Hiksss... aku marah sama kamu... "ucap Azam lalu pergi berlari ke kamarnya dengan menangis seperti anak kecil, dan Nataza yang melihat itu tertawa, tingkah suaminya sungguh menggemaskan sejak dia hamil menurutnya
Nataza menusul naik ke lantai atas ke kamarnya, suaminya masih menangis di balik selimutnya yang menutupi sampai kepalanya, dia menghampiri suaminya lalu mengambil tangan suaminya itu di atas perutnya dan berhasil membuat suaminya menghadapnya
"Kenapa mas?"goda Nataza
"Kamu.. hikss.. jahat.Kamu mau tinggalin aku... hikss.. "tangis Azam lalu di redamnya kembali ke dalam bantal
"Gak akan kok mas, aku gak akan tinggalin kamu. Kalo aku tinggalin kamu trus anak kita gimana?,anak kita gak ada Papi dong"ucap Nataza
"Kamu bohong.. Hikss.. kamu mau ikut bang Adam dan ninggalin aku kan?"tanya Azam dalam tangisnya
"Kamu gak boleh pergi. Kamu gak boleh tinggalin aku. Aku gak mau kamu pergi dari aku. Aku gak akan biarin kamu pergi dari rumah ini tanpa izin aku. Aku.. "ucapan Azam terpotong saat Nataza mengisaratkan untuk berhenti
"Ssstttt..., Aku gak akan pergi kemanapun mas, aku akan selalu ada disamping kamu dan disini. Selamanya"ucap Nataza menunjuk dada bidang Azam lalu memeluknya
"Maaf mas soal tadi, aku udah buat kamu marah dengan minta Kak Danur ikut sama kita. Maaf juga karna aku udah kesel sama kamu karna kamu menolak terima mereka. Aku tau kamu kecewa dan kamu marah atas apa yang mereka lakukan ke aku dulu. Aku juga tau kalo kamu gak bisa terima Kak Danur karna dia hanya akan buat aku sedih kembali dan depresi aku akan kumat. Tapi apa kita gak bisa kasih dia kesempatan untuk di beri maaf. Dia udah gak bisa ngapa-ngapain lagi, dia hanya menunggu hari terakhirnya aja. Apa kamu gak mau kasih dia kesempatan hmm?"ucap Nataza membuat wajah Azam seketika berubah serius
__ADS_1
"Maafin aku sayang,Aku gak bisa karna aku masih terlalu sakit hati dengan perbuatan dia ke kamu. Aku tau itu hanya masalalu, dan gak seharusnya aku ungkit semuanya sekarang dan aku tau tujuan kamu baik untuk Danur. Tapi aku tetep gak bisa. Maaf hati aku masih sakit dengan apa yang telah dia lakukan sama kamu dari kamu kecil hingga dewasa bahkan bikin mental kamu rusak. Aku gak bisa"jawab Azam lalu pergi ke arah lemari
"Ok kalo itu keputusan mas mutlak aku akan turutin, tapi apa boleh kita bantu dia dari segi ekonomi aja, dan bantu dia untuk bertahan hidup,meski kita tak tau Allah berkehendak bagaimana sama Kak Danur. Tapi boleh kan mas hanya sekedar kirim uang untuk Putri sekolah lagi dan pengobatan kak Danur"tanya Nataza
"Baiklah jika urusan ekonomi dan biaya sekolah Putri kita akan tanggung, tapi setelah Kakak kamu udah di panggil sang khalik, kita ambil Putri dan bawa kesini sebagai adik kita. Kamu mau?"ucap Azam membuat Nataza menyunggingkan senyum cantiknya
"Mau banget mas. Makasih ya?"jawab Nataza langsung melompat ke pelukan Azam
"Jangan lompat sayang, kasihan anak aku"ucap Azam membuat Nataza terkiking geli dan menarik hidungnya sebagai tanda maaf
"Ya udah sekarang bobo ya, udah malem"perintah Azam dan langsung di turuti oleh Nataza
5 bulan kemudian
Kandungan Nataza kini sudah terlihat oleh tubuh kecilnya, orang yang tak tau jika anak mereka kembar maka akan berpikir jika Nataza sudah hamil 8 bulan sekarang. Nataza yang sekarang pindah di kamar bawah atas perintah Azam tentunya dan ternyata lebih memudahkan Nataza untuk melakukan aktifitas apapun, seperti sekarang dia sudah berada di dapur bersama Bibi Ani yang di pindahkan setelah usia kandungan Nataza 4 bulan atas perintah Bunda Ayu dari rumah utama
Azam yang sudah siap ke kantor, dia sedang kelimpungan mencari dasinya yang biasanya dia pakai,dasi kesayangan Azam berwarna Biru dongker, tapi sekarang dasi kesayangannya hilang, Azam pergi menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan sarapan dan bekal untuknya
"Sayang..?"panggil Azam dari tengah pintu kamarnya
__ADS_1
"Kenapa mas?"jawab Nataza tanpa mengalihkan pandangannya dari spaghetti yang dia buat
"Dasi aku yang biru dongker di mana?,kok aku nyari gak ketemu-ketemu sih, kan kamu biasanya naro di laci khusus dasi aku"tanya Azam dengan memanyunkan bibirnya