Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 48


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana pernikahan Elvina dan Dimas dilaksanakan dihotel keluarga yang tempatnya tak jauh dari rumah utama dan acara ijab qobul akan dilaksakan pagi ini pukul 9 pagi.


Kini Alvano tengah disibukkan dengan membantu Elina memakai kebaya yang didesain khusus oleh Nataza untuk Elina, dengan ukuran bagian pinggang lebih besar untuk memberikan ruang pada perutnya agar bayinya tidak tertekan, kebaya berwarna mocca dengan selendang dibahu dan pinggang kanan menghiasinya.


"Sayang. ini kan ada bros dari Oma, mau dipake gak?"tanya Alvano dengan menunjukkan bros berwarna emas berukuran sedang pada Elina yang baru selesai mencepol rambutnya kendur dengan menyisakan sedikit rambutnya yang sudah di roll dibagian telinga.


"Harus dipake dong mas. Kasihan Oma, pasti dia sedih kalo barang pemberiannya gak aku pake"jawab Elina sembari membayangkan wajah Oma Ayu yang sedih, sementara Alvano mengangguk seraya tersenyum.


"Pasangin..."pinta Elina manja membuat Alvano gemas, dengan sekali gerakan cepat, sebuah kecupan dapat dia curi dari bibir Elina membuat sang empu membulatkan matanya.


"Sini, maju sedikit"perintah Alvano dengan menarik pinggang Elina pelan untuk mendekatinya, meski tak menempel karna perut besar Elina menghalanginya.


Alvano memasangkan bros tersebut di kebaya bagian kiri Elina dengan sesekali melirik istrinya yang ternyata juga menatapnya intens, entah kenapa jantung keduanya berdetak begitu kencang saat ini, padahal mereka sudah melakukan lebih dari ini, bahkan akan segera hadir malaikat kecil ditengah mereka yang akan menemani hari tua mereka kelak.


tatapan Elina tak beralih dari mata indah Alvano hingga sang empu selesai memasangkan bros dibajunya, Alvano tak melepas tatapannya dari mata istrinya sama seperti Elina yang semakin dalam menatap mata Alvano hingga tanpa sadar hidung mancung keduanya bersentuhan, namun tak membuat keduanya mundur.


perlahan namun pasti, bibir keduanya menyatu dengan. tanpa sadar mereka berdiri didepan cermin dan keadaan Alvano masih telanjang dada hanya menggenakan celana bahan berwarna hitam dipadukan dengan sepatu fantovel hitam senada dengan celananya.


saat Alvano akan memiringkan kepalanya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar membuat keduanya tersadar dan langsung melepas ciuman mereka. Elina yang mencoba lepas dari pelukan Alvano justru dicegah oleh suaminya yang semakin erat memeluknya.


"No. Gini aja"bisik Alvano pada telinga Elina yang kini telah menduselkan wajahnya dileher istrinya.


"Tapi mas, didepan ada orang. Kalo dia lihat kita kaya gini gimana?"tanya Elina mencari alasan agar bisa lepas dari suaminya.


"Tidak apa-apa. Lagian kita udah sah dan mereka gak ada hak apapun buat larang kita melakukan hal lebih dari ini"jawab Alvano dengan santainya yang masih mengecupi leher istrinya ringan.


"Mas.. lepas ya. K-kamu belum pake. B-baju mas"ucap Elina dengan gagap, dia benar-benar gugup dengan menahan suaranya agar tak keluar disaat dirinya sudah rapi.


"Sebentar sayang"jawab Alvano dengan wajahnya semakin masuk ke leher Elina dan kini berpindah pada tengkuknya dan mengecupnya lembut disana membuat memejamkan matanya erat.


Tok.... tok.. tok...


"Kak Al.. Kak El.. lagi ngapain sih? lama banget deh ganti bajunya, udah jam set 9 ini"teriak Aiden dari luar kamar mereka dengan tangannya masih mengetuk keras pintu kamar Alvano.


"Mas. Lepas ih..udah siang ini dan acaranya bentar lagi mulai. Kamu mau telat diacara ijab qobul kembaran kamu?"tanya Elina dengan mendorong dada Alvano pelan yang perlahan mundur dari lehernya.


Elina bisa bernafas lega saat Alvano sudah berdiri didepannya dengan wajah lucunya, sepertinya suaminya sudah terpancing hawa nafsu dan sampai lupa waktu untuk bersiap.


"Mas..."panggil Elina sambil mengusap rahang tegas suaminya yang terasa hangat.


"Bersiap ya. Aku tunggu dibawah"ucap Elina dan hendak melepas tangannya dari wajah suaminya, namun sudah digenggam terlebih dahulu oleh Alvano dan dikecupnya lembut tangan istrinya sembari tersenyum.


"Sini aja. Kita turun bareng kebawah ya"pinta Alvano lembut dan diangguki oleh Elina yang menyetujui ucapannya.


Alvano melepas genggamannya lalu berjalan kearah ujung ranjang mengambil batik yang sudah disiapkan Opanya dan segera memakainya, tak lupa dia merapikan terlebih dahulu sebelum memakai minyak wangi kesukaannya yang membuat Elina candu ketika menciumnya. Sementara Elina dia merapikan lipstiknya yang sedikit berantakan karna bibir Alvano.


Elina melangkah menghampiri Alvano lalu mengambil tangan kanan suaminya dan memasangkan sebuah jam tangan disana, setelahnya dia berikan sedikit olesan pomade dirambut Alvano agar tak terlihat kusut dan tetap wangi juga rapih.


"Udah, ganteng"puji Elina melihat suaminya dari atas sampai bawah, sungguh suaminya begitu menawan dan mempesona saat ini.


"Masa?"goda Alvano dengan mencolek hidung Elina.

__ADS_1


"Iya dong, suami Elina gitu loh"jawab Elina dengan nada yang semangat lalu keduanya tertawa bersamaan dengan bergandengan keluar dari kamar.


sampainya diluar, keduanya ditatap oleh keluarga yang sudah menunggu terutama Aiden yang tadi ke kamar namun tak ada saran, wajahnya sudah berubah kesal membuat Alvano terkekeh.


"Maaf semuanya. Kami telat"ucap Elina merasa tak enak dengan semua keluarga yang hanya menunggu mereka saja.


"Gak apa-apa kami ngerti kok. Kamu kan lagi hamil terus pake kebaya kaya gini, pastinya susah pakainya juga jalannya lebih lambat. Gak perlu merasa bersalah hmm"jawab Bunda Ayu yang diangguki oleh yang lain, sementara Elina hanya tersenyum canggung.


dirinya belum mengingat semua anggota keluarga Alvano disini, bahkan semua wanita-wanita yang selalu bersamanya saja dia kadang lupa siapa mereka membuat Elina kadang merasa tak enak sekaligus bersalah.


Mereka begitu berharap jika dia bisa mengingat semuanya secepatnya, namun sampau saat ini baru Alvano dan Rania saja didalam keluarga, sementara yang lain belum. Apalagi Alika dan Irfan yang selalu bolak-balik Australia karna anak-anak mereka sekolah disana.


"Baiklah, Ayo berangkat. Ouh iya, Al. Tuntun istrimu pelan-pelan saja ya dan berbarislah yang paling belakang agar tak terdorong jika didepan oleh para tamu nanti"pinta Azam diangguki oleh Alvano.


Azam paham, jika diacara pernikahan Elvina nanti semua rata-rata adalah teman-teman kuliah Elvina dan Dimas, semua yang dekat dengan keduanya sejak SMP dan SMA keduanya undang untuk datang ke acara nikahan mereka.


meski banyak yang izin tak hadir, namun sisanya pasti jelas hadir dan heboh disana terutam teman-teman Dimas yang banyakan geng motor. Suana hotel pasti akan sangat ramai nanti dan dia hanya takut terjadi sesuatu pada menantu juga calon cucunya.


perjalanan menuju hotel tak begitu jauh, hanya berjarak 2 km saja dari rumah utama. Kini mereka telah sampai ditempat acara sementara mempelai pria belum sampai, memang sengaja Azam membedakan jam kedatangan mempelai pria dan wanita.


dan saat Elvina baru saja duduk dibangku meja rias disebuah kamar hotel, mobil mempelai pria datang bersama keluarga besarnya, penuambutan dilakukan oleh keluarga besar Ayah Tama dibantu dengan MC yang membawa acara pernikahan tersebut.


Dimas yang sedang gugup-gugupnya harus menahan kesal karna melihat wajah tengil Reza dan Galang yang tengah menggodanya menggunakan bahasa isyarat mungkin, karna tangannya bergerak ditambah dengan bibir mereka yang terus bergerak sambil tertawa lirih juga terkekeh, namun dapat dipahami oleh Dimas.


apalagi yang dibahas oleh Reza dan Galang kecuali malam pertama Dimas dan Elvina nanti, dan yang Dimas dapat lihat dari Reza adalah dia menunjuk pada saku jasnya yang entah apa isinya yang jelas Reza mengisyaratkan jika Elvina akan hamil.


"Apa isinya obat perangsang? atau justru obat penyubur kandungan?"gumam Dimas lirih dengan wajah penasaran bertanya pada dirinya sendiri sembari menatap Reza dan Galang yang tertawa melihat wajah penasaran Dinas.


"Nak Dimas"panggil pengbulu kembali karna Dimas tetap diam tak menjawab, dia melamun memikirkan isi dikantong Reza.


"Dimas"suara serta geplakan dilengannya dari sang Mama mengejutkannya Dimas yang menampilkan wajah cengonya.


"Iya Ma, kenapa?"tanya Dimas dengan wajah bingungnya.


"Ck. Kakak ini, lihat penghulu sudah menunggumu dan Papi sudah menjulurkan tangannya untuk melaksakan ijab qobul. Tapi kau malah loading"sambar Aiden saat Mama Jihan hendak berucap.


"Maaf, maafkan Dimas. Tadi kurang fokus"jawab Dimas kemudian memijit pelipisnya pelan lalu berdehem sebentar dan tangannya terulur untuk menyabut tangan Azam.


"Sudah siap?"tanya Azam dengan wajah seriusnya.


"Siap"jawab Dimas lantang lalu dia memejamkan matanya sebentar sebelum mengungkapkan janji suci pernikahan didahapan semua orang, Al-Qur'an dan Allah SWT.


Azam menarik nafasnya sebelum mengucapkan ijab qobul dengan lantang dalam satu tarikan nafas, Ia masih mencoba menahan air matanya untuk tidak jatuh sebelum Dimas menjawab ucapannya. Dalam satu tarikan nafas, Dimas menjawab ucapan Azam dengan lantang tanpa salah sedikitpun.


"Saya terima nikah dan kawinnya Elvina Fauzya Aditama binti Azam Faturrizky Aditama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"jawab Dimas lantang dengan menghentakan tangan keduanya pelan sambil menatap mata Azam yang memerah.


"Bagaimana para saksi? Sah?"tanya pak penghulu kepada semua saksi yang menyeka air matanya lalu kompak berteriak.


"Saahh..."teriak semua saksi/tamu disana yang menangis bahagia dan terharu.


Azam dan Dimas juga menjatuhkan air matanya saat kata sah terucap. Kini Elvina bukanlah tanggung jawabnya dan kini Elvina akan pergi meninggalkannya. Kini Elvina adalah tanggung jawabnya dan kini Elvina akan bersama dengannya untuk selamanya hingga maut memisahkan keduanya, kata hati keduanya bertolak belakang.

__ADS_1


Azam berdiri menghampiri Dimas dan duduk disampingnya tempat dimana Elvina akan duduk nanti, dia hanya ingin berbicara sebentar dengan pria yang kini telah menjadi menantunya.


"Dimas"panggil Azam sambil menggenggam tangan Dimas.


"Ya Papi"jawab Dimas membalas genggaman tangan Azam sebelum mengecupnya sebentar.


"Papi titip Vina padamu ya Dimas. Jangan buat dia menangis apalagi sampai membuat tubuhnya terluka. Jika memang kau sudah bosan dengan putri Papi maka pulangkanlah dia pada Papi, jika kau sudah tak mencintai putri Papi maka kembalikanlah dia kepelukan Papi. Pintu rumah Papi akan selalu terbuka untuknya bahkan diri ini akan selalu menjadi tameng terkuat untuknya. Papi tak menuntut dirimu untuk selalu bersama putri Papi, jika kau bosan tinggalkan, jika kau tak cinta pulangkan dia dan talak dia. Namun Papi berharap jika putri Papi akan selalu bersama dengan pria yang dia cintai sampai maut memisahkan kalian. Do'a Papi selalu menyertai kalian untuk selalu bahagia dunia dan akhirat"ucap Azam dengan menangis pada Dimas yang langsung memeluknya sembari ikut menangis haru, apalagi Azam membalas pelukannya.


"Pasti Pi. Cinta Dimas untuk Elvina akan selalu tumbuh disetiap saat, Elvina adalah hidup dan mati Dimas. Elvina mati maka Dimas mati. Elvina hidup maka Dinas juga hidup. Elvina segalanya buat Dimas, sakit Elvina adalah duri untuk Dimas dan tangis Elvina adalah runcingnya bambu runcing yang dapat membunuh Dimas secara perlahan. Yakinkan Dimas untuk membahagiakan putri Papi selamanya hingga akhirat kelak"jawab Dimas disela pelukan mereka lalu Azam menepuk punggung menantunya pelan.


kemudian mereka melepas pelukan kedunya setelah mendengar MC mengatakan jika Elvina akan keluar, dan benar saja setelah Dimas menghapus air matanya Elvina keluar mengenakan kebaya serasi dengan jasnya, sunggung cantik bahkan sangat cantik bukan hanya bagi Dimas, tapi semua teman-teman Dimas, terutama geng motornya.


"Cantik banget anjir bininya Dimas"


"Hooh. Kaya bidadari turun dari kayangan njir"


"Dimas nemu dimana sih bini secantik dia? jadi pengin gue"


"Ngimpi dulu baru dapet"


bisikan para geng motor Dimas dan teman-teman Dimas. Mereka menatap Elvina kagum bahkan Dimas sendiri tak berkedip menatap gadis yang kini telah sah menjadi istrinya.


"Cantik banget bini gue"gumam Dimas saat Elvina telah berdiri didepannya dengan wajah merah malu setelah mendengar gumaman Dimas.


"Ekhem"Danu berdehem menyadarkan putranya yang terlihat akan mengeluarkan air liurnya karna mulutnya menganga tanpa sadar.


mendengar sejalan kuat dari Papanya membuat Dimas tersadar dengan wajah kikuknya membuat yang lain tertawa termasuk Nasyla yang sampai tersedak kue yang dia makan.


Dimas mengubah wajahnya kembali serius lalu menatap Elvina yang meliriknya, setelah mendengar perintah MC Dimas mengulurkan tangannya untuk dikecup oleh Elvina sementara Dimas mengecup dahi dan ubun-ubun Elvina sambil membacakan doa khusus.


setelahnya mereka melakukan sesi foto bersama keluarga besar. Dimas dan Elvina terlihat begitu tampan dan cantik bagaikan raja dan ratu hingga malam nanti.


Sesi foto berjalan dengan lancar lalu semua tamu kembali kerumah masing-masing, sementara semua teman-teman Dimas dan Elvina ada yang menginap karna ingin ikut menghadiri setiap acara, termasuk siang nanti acara pengajian yang dilaksakan pukul 1 siang dan malam harinya acara pesta pernikahan setelah sholat isya.


Alvano membawa istrinya kedalam kamar yang sudah disiapkan oleh Nataza untuk anak-anaknya, dan kamar nomer 125 A adalah kamar milik Alvano, kamar khusus dengan ruangan menghadap kearah lautan luas yang berwarna biru indah dengan padang rumput hijau membahana, sunggung indah dan menakjubkan.


Nataza khusus menyiapkan kamar itu untuk Alvano dan Elina yang pastinya Elina butuh suasana baru dan lingkungan baru, apalagi kata dokter Elina harus tetap bahagia dan sehat supaya bayinya juga sehat dan bahagia juga.


"Kamu istirahat ya, masih ada waktu dua jam lagi untuk pengajian jadi kamu bisa tidur dengan nyaman. Mas mau ke kamar Papi dan Mami dulu, ada sedikit masalah kantor yang harus mas tanyakan sama Papi"ucap Alvano setelah membantu melepas pakaian istrinya menggantinya menggunakan baju ibu hamil.


"Mas gak akan lama kan kamar Mami sama Papi?"tanya Elina dibalas gelengan oleh Alvano.


"Sebentar aja kok. Paling setengah jam udah selesai"jawab Alvano sembari mengusap dahi istrinya yang sudah berbaring miring menghadapnya diatas ranjang menatapnya.


"Jangan lama-lama ya. Aku mau tidur dipeluk sama mas"ucap Elina manja membuat Alvano terkekeh lalu sebuah kecupan mendarat didahi Elina.


"Iya sayang, sebentar aja. Sekarang tidur ya, nanti pas kamu bangun mas udah ada sama kamu kok"jawab Alvano dengan mengusap pucuk kepala Elina pelan.


tak lama suara dengkuran halus terdengar dari Elina, menandakan jika Elina sudah tidur pulas dan sebelum pergi, Alvano sempatkan untuk mengecup wajah Elina pelan lalu mengambil guling disamping istrinya dan menelusupkan guling tersebut disela pelukan Elina untuk menggantikannya.


setelah aman, Alvano turun dari ranjang dengan hati-hati lalu perlahan keluar dari kamar menuju ke kamar privasi dimana Papi, Adam, dan semua sahabat Alvano kecuali Dimas yang pastinya tidak bisa diganggu. Mereka berkumpul untuk membahas soal Jonathan, setelah kejadian 2 hari lalu ada surat datang ke kantor Alvano mengenai Jonathan yang memberikan tanda maaf padanya dan Azam membuat mereka sedikit curiga.

__ADS_1


Apakah benar jika Jonathan mengirimnya sebagai tanda maaf atau justru sebagai sebuah siasat untuk menyakit keluarganya kembali? entahlah. Maka dari itu mereka akan membahasnya dikamar privasi tersebut tanpa didengar dan diketahui oleh siapapun.


__ADS_2