Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 32


__ADS_3

Kejadian kemarin membuat Alvano lebih bersiaga dengan memberikan penjagaan ketat dirumahnya dan para bodyguard yang dia minta menjaga Elina kemanapun kecuali saat bersamanya, Alvano hanya takut jika ada teman-teman Ayu atau komplotannya yang akan mengancam nyawa Elina tentu saja


Pagi ini Alvano tengah bersiap ke kantor karna akan ada louncing produk terbaru dari perusahaan, maka dari itu dia harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat waktu sudah menunjukkan pukul 06.10 sementara Alvano harus tiba dikantor jam 07.30 masih ada waktu lah untuk santai sebentar dirumah


"Ay...dasi aku kemana?"teriak Alvano dari arah kamar mengejutkan Elina yang tengah menuangkan air panas kedalam gelas untuk menyeduh segelas susu hangat untuknya


'Untung aja gak tumpah, dasar mas Al ngagetin aja' batin Elina sambil menggelengkan kepalanya


"Di lemari tempat biasa mas"kini Elina ikut berteriak untuk menjawab pertanyaan Alvano karna jarak dapur yang agak jauh dari kamarnya


"Gak ada Ay"jawab Alvano berteriak kembali, lama-lama akan jadi hutan itu mansion


"Kaya apa sih dahinya?!, kenapa gak ketemu-temu coba?"Elina melangkah menuju kamarnya dengan berteriak menanyakan motif dasi yang Alvano cari


"Polos warna biru dongker"jawab Alvano saat melihat Elina ada diambang pintu


"Coba sini. Pasti kamu yang gak bisa nyarinya bukan gak ada"ucap Elina melangkah menuju lemari dimana disana banyak sekali dasi milik Alvano,


Ajaibnya saat Elina yang mencari langsung ketemu tapi saat Alvano yang mencari tidak ketemu sama sekali. Alvano hanya cengengesan saat Elina menatapnya dengan menenteng dasi yang dicarinya sedari tadi


"Ini apa?, kamu aja yang gak pinter nyarinya. Nih pake"ucap Elina memberikan dasinya pada tangan Alvano lalu melangkah pergi, tapi belum juga pergi tangannya sudah dicekal oleh Alvano


"Pasangin.. "pinta Alvano manja sambil memeluk pinggang Elina dan tangannya mengusap sekitar perutnya sesekali dia memijit pelan perut Elina yang jika dilihat terlipat


"Sini... tapi nunduk"Elina mengambil dasi ditangan Alvano dan meminta Alvano menunduk jelas karna Alvano lebih tinggi darinya yang hanya sebatas bahunya saja


Elina melingkarkan dasi tersebut pada kerah kemeja Alvano yang sudah dinaikkan, tapi dia dibuat terkejut karna Alvano menggendongnya seperti koala dan mendudukannya diatas nakas yang lebih hingga memudahkan Elina melangkah dasinya tanpa menjinjit


"Hari ini aku lembur atau mungkin gak pulang, soalnya pagi ada louncing produk, siang aku meeting dan sorenya aku harus meninjau pabrik yang ada diperbatasan kota. Gak papa kan?"jelas Alvano membuat wajah Elina tiba-tiba berubah dari yang cemberut jadi senyum, Alvano tau itu senyum terpaksa yang istrinya tampilkan


"Gak papa, aku ngerti kok"Elina melingkarkan tangannya dileher Alvano setelah dasinya terpasang dengan benar dan rapih, dia menatap mata Alvano lalu perlahan turun ke bibir manis Alvano


"I'm sorry honey"setelah mengucapkan maaf Alvano langsung menyambar bibir manis Elina dengan lembut, dia tau tatapan mata istrinya yang menginginkan bibirnya


"Emmhh.."lenguh Elina saat merasakan tangan Alvano masuk kedalam kaosnya dan naik meremas dadanya lembut dari balik br*nya sementara tangan lain Alvano meremas lembut pinggang Elina saat bibir Alvano pindah kelehernya


"Udah mas... ka-kamu telat na-nanti"ucap Elina terbata-bata saat jari tangan Alvano memainkan pucuk dadanya, Alvano langsung menghentikan permainannya sambil mengatur nafasnya


Alvano menyatukan dahi mereka sambil mengatur nafasnya, sesekali dia mengecup bibir Elina cepat, seulas senyum muncul dibibirnya dan mengecup dahi Elina sayang


"Aku ke kantor dulu. Aku usahakan akan pulang sebelum larut malam"ucap Alvano diangguki oleh Elina lalu menurunkan Elina dari nakas

__ADS_1


lalu pergi turun kelantai bawah menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh Ben, sebelum masuk ke mobil Alvano berbalik badan menatap Elina dan mencium lembut bibir Elina lalu melepasnya untuk mengecup dahi Elina sayang dengan tersenyum hangat


Kemudian dia berjongkok berhadapan langsung dengan perut Elina, senyumnya mengembang melihat perut Elina dan mengecupnya lembut sambil mengusap pelan


"Ayah pergi kerja dulu ya sayang, jangan nakal oke, jaga Bunda baik-baik ya. Kalo mau minta sesuatu bilang sama Ayah dan jangan membuat Bunda lelah juga kerepotan oke. Ayah titip Bunda padamu, bye little baby"ucap Alvano berbicara pada calon anaknya, Elina yang melihat itu tersenyum bahagia sambil mengusap rambut Alvano dan berdiri menatap semua anak buahnya dengan tatapan tajamnya membuat mereka merinding


"Kalian jaga istriku degan baik, jangan sampai dia lecet sedikitpun. Jika aku tau istriku lecet atau bahkan lebih parah dari itu, aku tak akan mengampuni kalian semua. Paham!"ucap Alvano tegas membuat para anak buahnya menelan ludahnya kasar lalu mengangguk cepat sebagai jawaban. Tatapan Alvano pindah pada Elina sembari tersenyum hangat


"Aku berangkat sayang. Jaga dirimu dan anak kita baik-baik"Alvano mengecup kembali dahi Elina sembari mengusap perutnya dan diangguki oleh Elina sebagai jawaban


"Assalamualaikum honey"salam Alvano masuk kedalam mobilnya dengan disupiri oleh Ben


"Waalaikumsalam mas, hati-hati"jawab Elina melambaikan tangannya dibalas lambaian oleh Alvano


setelah kepergian Alvano, Elina masuk kedalam rumahnya dan melihat Rania duduk memainkan laptopnya dengan memakai earphone sepertinya sedang melakukan video call bersama seseorang diseberang sana entah siapa, biarlah mungkin membahas kuliahnya. Elina pergi kekamarnya untuk tidur kembali, entahlah mungkin faktor kehamilan membuatnya menjadi sering tidur lebih awal dari biasanya


****


Dimarkas, Ayu mengamuk dengan terus meronta dari ikatan rantai yang mengikat tangannya meminta dilepaskan tapi semua penjaga hanya diam tak menggubris teriakan dan cacian Ayu pada mereka, biarkan saja dia berbicara dan berteriak sesukanya, nanti juga diam sendiri karna lelah, pikir para penjaga disana


"Ingin aku jahit mulut nenek lampir ini, tapi takut jika tuan muda akan marah"bisik penjaga didepan pintu ruang penyiksaan


"Sama, aku juga ingin menjahit mulutnya, bahkan aku juga ingin memotong lidahnya itu atau membakarnya karna tak bisa diam sama sekali, tapi aku takut akan mati ditangan tuan muda"jawab penjaga satunya ikut berbisik lalu bergidik ngeri membayangkannya


"Andai saja Daren tidak memilih sekongkol dengan suami Elina sialan itu, pasti gue akan bebas dari sini. Dasar Daren gak berguna!!!...akan gue habisin lo Daren dan lo Elina lo akan rasakan apa yang gue rasakan sekarang dan lo akan mat* ditangan gue,lihat aja nanti"dengan percaya dirinya lalu tertawa terbahak-bahak membayangkan kematian Daren dan Elina ditangannya sendiri


"Dasar wanita gila"kedua penjaga didepan hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala mendengar suara Ayu yang berteriak, menangis lalu tertawa sendiri


*****


Elina berdiri dibalkon kamarnya memandang suasana luar, hujan turun dengan derasnya tadi membuat volume air semakin naik, namun masih banyak saja orang berlalu lalang dengan nekat menerjang banjir demi bisa keluar dari rumah, banyak yang mendorong motor atau mobil mereka yang mogok karna banjir, berteriak tidak jelas memaki hujan yang kembali turun dengan deras


"Sayang!!..makan makan malam yuk"teriak Alvano dari dalam rumah membuat Elina menoleh kebelakang


"Iya mas, aku kesana"Elina segera berbalik badan dan pergi melangkah menuju meja makan dan melihat Alvano yang datang dari dapur membawa segelas susu hamil untuknya


"Makan malam dulu terus minum sisinya, jangan lupa obat anti mual dan vitaminnya diminum oke"Alvano menyodorkan gelas susu pada Elina, sementara Elina hanya mengangguk sebagai jawaban


"Malam kak Al, El"sapa Daren pada mereka berdua yang langsung menoleh lalu menatap Elina yang diam saja,


Ya Elina sudah tau jika Daren tinggal sementra bersama mereka sampai banjir sedikit surut karna mobil Daren yang kemarin digunakan mesinnya rusak dan masih diperbaiki akibat kemasukan air banjir, jujur saja Elina masih takut pada Daren bukan hanya wajah tapi suaranya persis dengan Diego hanya luka didahinya sebagai pembeda mereka berdua

__ADS_1


dan Daren juga masih menyimpan rasa bersalah pada Elina karna kejadian dulu dimana dia jahat pada Elina, meskipun sudah dimaafkan oleh Elina dia tetap merasa bersalah sehingga meninggalkan rasa trauma pada diri Elina, ingin sekali dia memegang tangan Elina atau perlu bersujud maaf dikakinya agar dimaafkan, tapi rasanya tak akan mungkin karna Elina sama sekali tak ingin menatapnya ataupun meliriknya


"Siang Daren, duduklah kita makan bersama"Alvano mempersilahkan Daren untuk duduk sementara Elina masih menunduk sambil meremas jari-jarinya cemas


"Ay!, it's oke...aku ada disini sayang"Alvano memegang tangan Elina yang terasa dingin membuatnya paham apa yang tengah Elina rasakan


"Kak El, aku tidak akan mengulangi yang lalu kak, aku jujur ingin berubah jadi baik dan maaf atas semua yang telah terjadi dulu pada kakak karna aku. Kak El jangan takut lagi ya sama Daren. Daren.... Daren janji sama kakak, Daren gak akan jahat lagi sehingga membuat orang lain sengsara, Daren memang bodoh percaya dengan ucapan Ayu saat itu dan berakhir menyakiti kakak, dan Daren minta maaf sekali lagi sama kakak, Daren sayang sama kakak, Daren udah anggap kakak sebagi kakak Daren sendiri, tapi karna hasutan dan ancaman Ayu, Daren harus menyakiti kakak. Maafin Daren kak El. Maaf"Daren menghampiri Elina dan bersimpuh disamping Elina yang masih duduk dikursinya dengan menundukkan kepalanya , Daren berniat mengambil tangannya tapi Elina menolak dengan memeluk pinggang Alvano erat membuat Daren tertunduk diam ditempatnya


"Maafkan Daren kak El, Daren memang pantas didiamkan oleh kakak" batin Daren melirik Elina yang masih tetap menyembunyikan wajahnya diperut Alvano, bahkan pelukkannya semakin kencang dipinggang Alvano


Alvano hanya menatap Daren dengan mengedipkan matanya pelan seakan meyakinkan pada Daren untuk nanti saja bicaranya, Daren yang mengerti maksud Alvano langsung bangkit dan duduk dibangkunya. Alvano mengusap kepala belakang Elina dan mengatakan kalimat-kalimat untuk menenangkannya


"Daren, saya ke kamar dulu mengantar Elina"Alvano segera menggendong Elina kekamarnya setelah mendapat anggukan oleh Daren yang menatap punggung mereka yang menjauh dengan sendu


"Segitu takutnya kakak sama Daren, bahkan untuk melirik Daren saja tidak mau, kak El segitu jijiknya atau begitu bencinya sama Daren sehingga kakak menolak kehadiran Daren. Daren memang bodoh kak, Daren pantas mendapatkan ini semua dari kakak"Daren bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya, selera makannya hilang begitu saja mengingat Elina yang menolaknya karna takut


****


Dikamar Alvano masih mencoba menenangkan Elina, dia masih tak ingin lepas dari Alvano dengan menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya itu dan tangannya meremas kaos yang suaminya kenakan


"Tenanglah sayang.. Aku disini dan semuanya baik-baik saja, tenanglah"bisik Alvano sambil mengusap kepala belakang Elina dan mengecup pucuk kepalanya lembut


"Hiks.. Da-Daren jahat"Elina menangis dengan suara lirihnya membuat hati Alvano nyeri mendengarnya


"Tenang dulu sayang ya, jangan nangis dan akan aku jelasin sama kamu"Alvano melepas pelukan mereka dan menangkup kedua pipi Elina yang tambah cubby dan menghapus air matanya


"Sssuttt... tarik nafas lalu buang perlahan supaya tenang"dengan tangan mengusap pipi Elina dan tubuhnya memperagakan apa yang dia ucapkan, tapi berhasil membuat Elina sedikit lebih tenang


"Oke aku jelasin sekarang, jadi...."Alvano menceritakan saat dimana mereka akan diserang oleh Daren dan Ayu lalu menceritakan semua fakta tentang Diego, soal pembiusan Ayu sehingga berakhir Dimarkas utama Alvano dan bayangan Sukma Diego diatas kepala Daren yang mengungkapkan kata maaf dan menyesal atas Daren, dan Alvano juga menceritakan jika awalnya dia juga belum yakin atas perubahan Daren yang tiba-tiba,tapi karna bayangan siluet Diego yang meyakinkan membuat Alvano yakin


"Aku gak maksa untuk kamu percaya gitu aja, kamu percaya atau enggak itu urusan kamu, tapi aku minta sama kamu, tolong jangan terlalu menghindar dari Daren ya, lawan rasa takut kamu sama dia, jauhkan kenangan buruk yang menimpa kamu karna dia, jangan kamu ingat kembali kenangan menyakitkan itu, cukup ingat aja jika Daren berubah, dia baik, dan dia gak akan nyakitin kamu.


Lawan trauma kamu, buat diri kamu berani untuk menghadapi hal lainnya nanti. Aku akan selalu ada disamping kamu dan aku akan selalu jaga kamu, jadi jangan takut lagi oke, buang ketakutan dan kecemasan kamu, ubah Daren menjadi sosok seperti dahulu saat pertama kali kamu kenal dia, buat dia percaya dan buat hati kamu percaya jika dia benar-benar berubah jadi lebih baik"mendengar penjelasan Alvano membuat Elina terdiam, entah apa yang sekarang dia pikirkan tentang Daren


"Kebawah ya makan malam, kasihan Daren udah nunggu disana sendirian"ajak Alvano diangguki oleh Elina yang menggenggam erat tangannya


sampainya dibawah, mereka tak menemukan Daren hanya piring masih berisikan nasi saja yang tergeletak dimeja makan membuat keduanya mengernyit bingung dan mulai berfikir apakah Daren kembali kekamarnya dengan meninggalkan makan malam


"Aku susul Da.. "belum selesai berucap sudah disambar duluan oleh Elina


"Aku aja"ucapan Elina membuat Alvano tersenyum lalu mengangguk setuju, dia hanya memperhatikan Elina yang terlihat ragu-ragu mengetuk kamar Daren lalu menatapnya, Alvano hanya mengangguk meyakinkan Elina dan Elina mulai mengetuk pintu kamar Daren, tak lama sang empu keluar dari kamar dengan wajah terkejut melihat Elina yang berdiri diambang pintu dengan senyum tipisnya melirik Daren

__ADS_1


"Aaaaa... kak Elina... "pekik Daran dan langsung memeluk Elina erat, Elina yang diperlakukan seperti itu terkejut dengan memejamkan matanya dan tangannya menggenggam erat tanpa membalas pelukan Daren, dia sedang berusaha untuk melawan rasa takutnya pada Daren, kembali dia teringat ucapan Alvano


"Daren berubah, dia baik, dia gak akan nyakitin kamu" kalimat itu terus berputar dikepala Elina hingga membuatnya pusing dan pingsan dalam pelukan Daren


__ADS_2