Presdirku Adalah Suamiku

Presdirku Adalah Suamiku
Extra Part 18


__ADS_3

Pagi hari yang seharusnya cerah dengan langit yang dihiasi matahari, justru sang matahari kini nampak malu-malu untuk menampakkan dirinya dibalik awan yang menggumpal hitam dilangit membuat suasana semakin dingin setelah hujan deras semalam


Alvano dengan setia dan nyaman masih bergulung hangat dibalik selimut tebalnya, bahkan kepalanya tak terlihat karna ikut tertutup oleh selimutnya. Elina masuk kedalam kamar mereka dengan membawa nampan berisi sarapan dan teh hangat untuk Alvano


Elina meletakkan nampan tersebut diatas nakas dan duduk ditepi ranjang dengan menurunkan selimut sebatas leher Alvano, bahkan saat tidur saja pria ini tetap tampan dan menawan, tak ada yang kurang sedikitpun dan berkurang darinya


"Ay!"panggil Elina dengan menyugarkan rambut Alvano yang menutupi mata kebelakang


"Bangun sayang!, sarapan dulu yuk nanti tidur lagi"lanjutnya dengan menempelkan punggung tangannya didahi Alvano, ternyata suhu tubuhnya sudah turun


"Hmm.. nanti Mi....5 menit lagi..."balas Alvano dan kembali menutupi wajahnya dengan selimut, sementara Elina hanya terkekeh


"Gak bisa sayang.. bangun ihh!, udah siang Ayangku!!"ucap Elina dengan menarik selumut Alvano dan mencubit pelan pipi cubbynya


"Aaaa... iya.. iya.. aku bangun"balas Alvano dan duduk bersandar disandaran ranjang, dengan mata terpejam duduk menatap lurus kedepan


"Hoaaamm..., ngantuk banget gila"gumam Alvano setelah menguap dan mulai mengucek matanya pelan, tapi belum sempat mengucek matanya sebuah tangan menghentikan gerakan tangannya


"Jangan dikucek matanya, nanti merah"ucap Elina membuat mata terpejam Alvano langsung terbuka lebar dan melihat Elina duduk didepannya


"K-kamu kok..."ucap Alvano terbata-bata


"Apa?, aku kenapa?"tanya Elina dengan mode galaknya


"Ke-kenapa disini?, k-kita kan be-..."ucap Alvano terputus saat mengingat dimana dia mengucapkan ijab kobul dengan menyebut nama Elina dan penghulu menyatakan sah menjadi istrinya, sementara Elina menaikkan sebelah alisnya bingung


"Astaghfirullah!!"pekik Alvano membuat Elina menutup telinganya


"Jadi kamu lupain aku?, kamu lupa kalo kita baru aja nikah kemarin?. Oke kalo gitu aku balik aja ke rumahku"ucap Elina dan pergi dari kamar, sementara Alvano langsung membulatkan matanya saat Elina pergi dari kamarnya


Elina melangkah menuju dapur dan bersembunyi disana, dan pas sekali disana ada Nataza dan Elina menceritakan semuanya apa yang terjadi barusan dan Nataza hanya mengangguk dan meminta Elina bersembunyi saja, setelah Elina sembunyi Alvano turun dari kamarnya dengan berlari meneriaki nama Elina berulang kali, hingga suara Nataza terdengar membuat mata Alvano berkaca-kaca


"Kamu kenapa?,pagi-pagi udah teriak cari Elina?, bukannya tadi dia ke kamar antar sarapan buat kamu dan katanya mau antar kamu cek up tapi kenapa malah kamu teriak-teriak kaya sahutan?"tanya Nataza dengan memeluk putranya yang menangis dipelukkannya


"Hiks.. Mami... Hiks... Elina marah sama Al... Hiks.. Al.. Al...Al udah lupain dia.. Al.. Al udah lupa kalo kita baru aja nikah... Hiks.. Elina pergi tinggalin Al.. Mami... Al gak mau ditinggal Elina Mami.. gak mau.. Hiks.."tangis Alvano dalam pelukkan Nataza, sementara Nataza hanya tersenyum mendengarnya


"Kamu juga salah sih, kenapa pake lupa segala kalo kamu udah nikah sama Elina?, kan kemarin-kemarin kamu yang paling ngebut buat nikah sampai sakit, dan sekarang udah nikah justru kamu lupain dia. Dasar nakal nakal kamu!!"omel Nataza dengan mencubit pipi Alvano


"Aaaa... Mami... Hiks.. sakit...Mami...Al mau Elina Mi... Al mau dia balik kesini Mami..."tangis Alvano semakin pecah dan berlari kembali ke kamarnya


Nataza hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Alvano yang tak berubah jika sedang ada masalah dan selalu menangis jika mendengar suaranya. Nataza menghampiri Elina yang bersembunyi didalam kamar mandi dapur


"El!... sayang buka pintunya nak, Al udah balik ke kamarnya kok"ucap Nataza dengan mengetok pintu kamar mandi


"Iya Mi"balas Elina dari dalam Elina keluar dan melangkah menghampiri Nataza


"Al dimana Mi?"tanya Elina dengan celingukan


"Dikamarnya, nangis dia takut kamu pergi beneran. Gih samperin"ucap Nataza dengan terkekeh bersama. Elina segera melangkah menuju kamarnya dan masuk tanpa mengetuk pintu


"Ay!"panggil Elina lirih melihat Alvano yang tengkurap diatas ranjang dengan sesegukan


"Ay!, kamu gak mau aku balik?"tanya Elina dengan melangkah menghampiri Alvano. Alvano yang mendengar suara Elina menoleh kearah pintu dan melihat Elina berdiri disana


"Hiks... kamu jahat ninggalin aku!!"rengek Alvano dengan menarik Elina hingga Elina jatuh kepelukan Alvano dan mengusakkan wajahnya diceruk leher Elina


"Aku gak ninggalin kamu kok, aku cuma bantuan Mami di dapur"balas Elina dengan menahan tawanya, tangannya terulur untuk membelai kepala belakang Alvano dan mencium pelipisnya

__ADS_1


"Jangan tinggalin aku...hiks.. aku gak mau...gak mu... jangan pergi"tangis Alvano pelan dileher Elina


"Tidak akan pernah Ay. Maaf ya udah bikin kamu nangis, sekarang sarapan ya aku suapin"balas Elina dengan melepas pelukkan mereka dan Alvano hanya mengangguk


selesai sarapan dan meminum obatnya. Elina meminta Alvano untuk tidur, tapi Alvano memaksa untuk keluar dari kamar dengan alasan dia bosan dikamar terus dan ingin keluar jalan-jalan. Elina ingin menolak namun kasihan pada Alvano yang sudah lama didalam kamar terus, jadi dia mengizinkan Alvano keluar hanya sampai dihalaman rumah saja


Kini Alvano dan Elina sudah berada dihalaman rumah dengan mereka duduk dibangku taman. Alvano tersenyum dengan memandang sekeliling halaman rumahnya, mungkin merasa senang karna bisa keluar dari kamar, pikir Elina


"Ay!"panggil Alvano menatap Elina yang menatap lurus kedepan


"Hemm.. kenapa?"tanya Elina menatap Alvano yang menatapnya lekat


"Kita belum malam pertama Ay"bisik Alvano membuat Elina membulatkan matanya sekaligus blussing karna malu


"Ihh.. jangan dibahas dulu ah"ucap Elina dengan memalingkan wajahnya ke arah lain


"Heh!, aku belum jebol gawang ya, jadi itu wajib aku bahas sekarang karna kamu istri aku dan aku juga udah sehat makanya aku bahas sekarang"balas Alvano sambil memiringkan kepalanya menatap Elina yang merona malu


"Ya tapi... tapi jangan dibahas disini, kan ada bi Asri"lirih Elina dengan mencubit sedikit keras perut Alvano


"Aw.. iya.. iya.. aku gak bahas jebol gawang disini, tapi nanti malam harus gol"ucap Alvano refleks berteriak karna cubitan diperutnya


mendengar ucapan Alvano membuat Elina membulatkan matanya sama dengan Elina bi Asri juga membulatkan matanya dan menahan tawanya melihat Elina blussing, sementara Alvano hanya cengengesan dan menggaruk lehernya tak gatal seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen


"Kenapa teriak?!!"tanya Elina dengan mendelikkan matanya menatap Alvano yang hanya gelengkan kepalanya sambil menunduk


"Emm.. m-maaf Ay, aku gak sengaja teriak. Ya habisnya kamu pake cubit pinggang aku kan sakit"balas Alvano dengan pelan bahkan bibirnya cemberut lucu


"Malu Ay"ucap Elina sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sementara Alvano dia merasa bersalah dan langsung memeluk pinggang Elina dengan menyembunyikan wajahnya dileher Elina


"Maaf Ay. Tapi kan bener kalo kita belum Emm... "ucapan Alvano terputus dengan mata membulat sempurna saat tiba-tiba Elina mengecup bibirnya


"Gak papa, asal bukan tetangga yang dengar kalo aku belum gol"bisik Alvano sambil menggigit telinga Elina, sementara Elina dia memejamkan matanya merasakan sensasi yang aneh


Fyuhh..


Alvano meniup wajah Elina yang terpejam, dengan perlahan Elina membuka matanya dan melihat wajah Alvano begitu dekat dengannya, bahkan hidung mancung keduanya bersentuhan dengan nafas keduanya yang bersahutan, Alvano memiringkan kepalanya dan semakin maju kedepan, jakun Alvano semakin naik turun saat melihat bibir soft pink milik Elina yang alami begitu menggodanya. Elina memejamkan matanya erat dengan meremat kaos Alvano


tinggal sedikit lagi bibir mereka akan menyatu, tapi suara seseorang mengejutkan keduanya dan refleks Elina mendorong pelan dada Alvano untuk menjauh dengan wajah yang merah. Elvina dan Rania datang membawa paperbag entah apa isinya tapi Elvina dan Rania terkekeh


"Apa... kami mengganggu kak?"tanya Elvina dengan menatap mereka


"T-tidak.. tidak mengganggu sama sekali. Ada apa?"tanya Elina


"Ini. Kami membelikan ini untuk kak Al"jawab Elvina dengan menyodorkan paperbag ditangannya


"Dan ini untuk kak Elina. Kami membeli ini sebagai oleh-oleh liburan kami"ucap Rania menyodorkan paperbag ditanganya pada Elina


"Apa ini?"tanya Elina dan membuka paperbag tersebut, tapi belum dibuka sudah dicegah terlebih dahulu oleh kedua adiknya


"Jangan dibuka sekarang kak. Nanti saja ya dikamar, nanti kalo orang lain lihat mereka akan iri pada kakak karna mendapat hadiah spesial dari kami"cegah Elvina dan menundukkan badannya tepat ditelinga Alvano


"Jangan lupa keponakan buat kita yang banyak ya kak. Kita gak sabar gendong dede"bisik Elvina namun masih didengar oleh Elina


Elina yang blussing mendengar bisikan Elvina segera melangkah menarik adiknya masuk ke dalam rumah dan sama seperti Elina, Alvano ikut blussing mendengar ucapan Elvina


"Aw.. kak... A-ampun kak...sakit..."pekik Elvina saat mendapat jeweran dari Alvano

__ADS_1


"Makanya, kalo ngomong soal debay jangan keras-keras, kamu udah bikin kakak ipar kamu malu karna ucapan kamu"sengut Alvano dengan menarik kembali telinga Elvina


"Aahh.. iya kak....A-ampun...maaf kak Al. Gak lagi deh gak lagi... Aaa.. aduh.. S-sakit"ringis Elvina sambil memukul pelan lengan Alvano


"Jangan diulang. Kalo diulang kakak gak akan kasih restu hubungan kamu sama Dimas"ancam Alvano dengan melepas jewerannya


"Iya...iya.. gak diulang"balas Elvina


"Tapi kasih restu hubungan kita ya.... ya... kak Al... ya.. please"lanjut Elvina dengan memohon, Alvano hanya menatap adiknya lalu pergi begitu saja meninggalkan kembarannya, Elvina hanya menghela nafas


'keluar sudah sifat dingin dan keras kepalanya' batin Elvina dan ikut masuk kedalam rumah


****


Dikamar, Elina sedang membuka paperbag tadi dan betapa terkejutnya dia saat melihat isinya. Ternyata sebuah lingerie berwarna merah, hitam, dan putih semuanya tranparan membuat Elina menaikkan sebelah alisnya bingung


"Ini apaan sih?, kok gini bentuknya transparan?, mana warnanya kontras semua?, Ihh.. aneh banget mereka kasih penutup penutup gorengan, kan aku gak suka gorengan, ngapain juga mereka beli ginian buat aku?. Balikin aja deh"ucap Elina dengan memasukkan kembali lingerie tadi kedalam paperbag dan melangkah ke kamar Elvina


belum sempat dia membuka pintu, pintu kamarnya sudah dibuka duluan dari luar oleh Alvano yang terlihat sama terkejutnya dengan Elina


"Ihh.. Ay bikin kaget aja sih?! kalo mau masuk tuh ketok pintu dulu, jangan asal massuk aja"omel Elina


"Iya maaf, aku juga sama kagetnya. Mau kemana?"tanya Alvano melihat Elina menenteng paperbag pemberian Elvina


"Ke kamar Elvi, Balikin ini ke dia. Kayaknya dia salah beli baju deh buah aku, masa dia beli penutup gorengan, mana bisa dipake coba"balas Elina dengan membuka paperbag ditangannya


"Tutup gorengan?. Buat apaan Elvi kasih tutup gorengan sebagai hadiah buat kamu?, Masa iya dia beliin khusus buat kamu. Coba sini lihat"tanya Alvano dan meminta paperbag Elina


"Nih"ucap Elina dengan menyodorkan paperbagnya


Alvano menerima paperbag tersebut dan membukanya, sungguh saat membuka paperbag tersebut rasanya ingin sekali menenggelamkan Elina sekarang juga kedalam laut paling terdalam. Ini Elina yang kelewat polos atau kelawar bodoh?, ini kan lingerie kenapa jadi tutup gorengan?


jakun Alvano naik turun saat menatap lingerie tersebut bergantian dengan tubuh Elina, dia jadi membayangkan bagaimana jika Elina memakainya dan akan menjadi seseksi apa nanti istrinya ini. Elina yang menatap Alvano melamun segera menepuk bahunya pelan dan memanggilnya


"Ay.. hallo.... Ay..."panggil Elina dan terpaksa dia mengguncang tubuh Alvano pelan


"Ah iya... kenapa?"tanya Alvano terkejut


"Kenapa sih?, kok malah melamun?"tanya Elina penasaran


"Gak papa. Ouh iya.. ini jangan dibalikin pake kamu aja ya nanti malam"ucap Alvano dengan menyodorkan paperbag tersebut pada Elina


"Gak mau. Itukan tutup gorengan mana bisa dipakai"balas Elina dengan wajah bingungnya


"Hufh.. "helaan nafas Alvano harus sabar menghadapi istri ajaibnya ini, kadang pintar kadang....entahlah


"Ini itu lingerie, bukan tutup gorengan"ucap Alvano menatap mata Elina lekat


"Buat apaan baju ginian?, transparan banget Ay, aku gak suka ah"balas Elina


"Kamu gak mau kan durhaka sama suami?"tanya Alvano dan Elina hanya menggelengkan kepalanya


"Kalo gitu, kamu pake ini nanti malam akan aku kasih hadiah spesial buat kamu"bisik Alvano dengan mengecup telinga Elina


"Tapi kenapa harus pakai ini?, nanti kalo aku masuk angin gimana?"tanya Elina pelan membuat Alvano menghela nafas pelan


"Gak akan sayang, karna ada aku yang akan menghangatkan kamu"bisik Alvano lagi dan kali ini dia mengecup bibir Elina

__ADS_1


"Mau kan?"tanya Alvano penuh harap dan Elina hanya mengangguk setuju, entah nanti bagaimana


"Yes...tanks honey. Proses debay akan berjalan malam ini" ucap Alvano menggema didalam kamar mereka, untung saja kamar mereka kedap suara jadi tak akan ada yang mendengarnya. Elina hanya bisa menahan senyumnya dengan wajah yang semerah tomat karna ucapan Alvano membuatnya panas juga malu


__ADS_2