
Elina POV
Kadang, ingin rasanya memutar yang namanya waktu untuk kembali ke masa dimana kita tak memikirkan yang namanya cinta dan lainnya, hanya ada sebuah kehangatan keluarga yang penuh dengan canda tawa.
Namun. Kita hanyalah manusia biasa yang hanya bisa mengikuti jalan yang sudah Allah tentukan dan kita hanya perlu menjalankannya saja dengan ikhlas juga sabar. Segala ujian yang Allah ciptakan bukan semata untuk menyakiti, namun untuk melihat seberapa kuat,tangguh dan hebatnya dirimu menghadapi segala ujiannya.
Allah mengirimkan ujiannya padamu, karna Allah tau jika kamu bisa melewatinya, meski penuh dengan derai air mata. Allah tak akan memberikan sebuah ujian yang melebihi batas kemampuan umatNya, kita hanya perlu menjalani, berdoa, ikhlas serta sabar, maka Allah akan mempermudah segalanya.
Hanya kata "Bismillahirrahmanirrahim dan Alhamdulillah" aku siap melanjutkan segala tugasku didunia ini dengan terus mengikuti takdir yang Allah tentukan, meski ingin menyerah dengan segala cobaannya, namun hati menolak dan tetap semangat hingga akhir hayat.
Hingga takdir kini mempertemukan aku dengannya, yang kini telah menjadi sosok suami yang begitu pengertian, penyayang, dan mencintaiku, begitupun aku yang mencintainya.
Aku bahagia karna bisa bertemu dan memiliki dia, meski cobaan berkali-kali datang ditengah hubungan kami. Namun tak membuat kami mundur begitu saja.
Pria kedua setelah Ayah yang begitu mencintaiku.
Pria kedua setelah Ayah yang selalu ada untukku.
Pria kedua setelah Ayah yang memberikan kebahagiaan untukku.
Pria kedua setelah Ayah yang menghapus air mataku.
Pria kedua setelah Ayah yang memelukku memberikan sebuah kehangatan.
Pria kedua setelah Ayah yang selalu mendampingi setiap langkahku.
Dan pria kedua setelah Ayah yang selalu menenangkanku dikala ku berteriak sakit, bukan hanya fisik namun hati.
Dia...
Pewarna dihidupku.
Dia...
Cahaya dikegelapan hidupku.
pelangi yang menghiasi hari-hariku
Dia...
Suamiku. Sang Imam dikeluarga kecilku dan pemilik raga serta cinta ini.
rasanya tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata untuk mendeskripsikan dirinya.
sesempurna itukah dia dimataku?
jawabannya. Iya. Dia sempurna untukku sebagai istrinya.
mau seburuk apapun dia, dia tetap sempurna untukku.
mau sejelek apapun dia, dia tetap sempurna dimataku.
karna aku sangat mencintainya dan tak akan ada yang lain selain dirinya.
__ADS_1
"Ngapain sayang? sibuk banget kelihatannya?"tanya seseorang yang begitu familiar membuatku terkejut.
aku menoleh, disanalah suamiku berada. Ia baru keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi, ku segara tutup buku harianku dan kusimpan didalam kotak rias ku tanpa sepengetahuannya. Sstt.. jangan sampai dia tau karna dia pasti akan membukanya.
"Enggak ngapa-ngapain mas, cuma lagi cek isi kotak make up aku, takut ada yang hilang atau habis gitu"jawabku dengan menampilkan senyum manis padanya.
"Ada yang ilang atau habis?"tanya mas Allah membuatku menggeleng, Memang benar kok, semuanya masih banyak. Karna sejak hamil aku tak pernah memakainya kembali, pernah sih, tapi sedikit.
"Enggak. Semuanya aman dan masih banyak, gak ada yang habis"jawabku menatap mas Al yang hanya mengangguk lalu pergi menuju walk in closet untuk berpakaian.
setelah dia menghilang dibalik pintu walk in closet, aku menyimpan buku harianku di lari ranjang, dan ditumpuk paling dasar dan ujung dibawah tumpukan selimut dan sprai.
Hufh... aku menghembuskan nafasku lega saat mas Allah keluar aku sudah duduk ditepi ranjang, jadi buku harianku aman. Maaf mas, bukan bermaksud menyembunyikan, aku hanya ingin sedikit privasi saja, apakah aku salah?.
Aku menoleh ke samping kanan dan tersenyum, saat tangan mas Al melingkar dipinggangku dan mengusap perut buncit ku dengan kepala bersandar dibahuku. Geli rasanya saat dia tiba-tiba mengecup bahuku, namun aku tak bisa protes saat dia cemberut karna aku mendorong kepalanya pelan. Manja?! tentu. Mas Al akan manja jika bersamaku atau Mami, namun jika dengan yang lain dia akan berubah menjadi beruang kutub. Heheh.. jangan bilang sama mas Al ya.
" Kita jalan-jalan yuk?"ajak mas Al padaku yang menoleh menatapnya. Tumben, apakah dia tidak bekerja? ini kan hari rabu?.
"Mas sengaja libur sayang, sampai nanti baby lahir dan dirumah 2 hari, mas baru berangkat ke kantor lagi" ucap mas Al seakan mendengar suara hatiku. Pakah dia. cenayang?.
"Mas hanya manusia biasa sayangku. Mas gak bisa baca pikiran kamu apalagi cenayang"ucapnya kembali membuatku terkejut dengan mata membulat. Lagi dan lagi mas Al seperti membaca pikiranku.
"Mas cuma nebak dari ekspresi wajah kamu kok" lanjutnya dengan terkekeh pelan lalu mengecup lembut leherku.
"Kita mau kemana?"tanyaku mengalihkan pembicaraan, aku pusing jika harus menebak-nebak.
"Kemana aja yang penting cari angin"jawabnya sekenanya.
"Noh, angin di balkon dan AC juga ada kalo mau lebih dingin. Gak perlu keluar kalo cuma mau cari angin'ucapku dengan nada dibuat kesal, kenapa harus mengajak keluar jika hanya mencari angin? dirumah juga banyak, gak perlu keluar.
"Enggak enak dong cuma dirumah, kan enaknya keluar, jalan-jalan keliling sekitar kota. Sekalian lihat karnaval di pusat kota"ucapnya membuatku tergiur, namun aku masih berakting marah padanya, jadi aku harus menolaknya.
"Gak mau. Pastinya panas, sesak karna desak-desakan sama banyak orang dan dorong-dorongan, apalagi aku hamil gede gini. Enggak mau dan gak minat"jawabku dengan nada masih dibuat kesal.
Enak aja dia mengajakku menonton karnaval bersama banyak orang, dengan kondisi hamil besar begini, bisa-bisa jadi gepeng aku di tengah-tengah lautan manusia.
"Kamu mau kemana memangnya? Aku turutin deh selain dirumah aja. Bosen sayang"dengernya dengan menjatuhkan dagunya ke bahuku, ada rasa kasihan dihatiku yang melihatnya seperti ini.
"Kita ke.... Pantai aja yuk, udah lama kan kita gak kepantai?" tanyaku memberikan usulan membuatnya menoleh padaku lalu tersenyum manis seraya mengangguk.
"Ayok. Aku akan siapkan keperluan yang perlu kita bawa. kamu duduk disini, jangan kemana-mana dan banyak gerak, Oke. Sebentar"ucapnya cepat lau pergi ke walk in closet, aku hanya geleng-geleng kepala melihat suamiku yang begitu semangat, apalagi saat dia menelfon Elvina untuk ikut bersama yang lain.
Ah.. aku baru tau, dia ingin suasana kumpul keluarga besar, apalagi sejak Elvina menikah. Kami semua jarang sekali berkumpul bersama, ditambah Aiden yang telah kuliah diluar kota, untung saja dia hari kedepan dia libur,jadi dia bisa ikut berkumpul dengn Nasyla yang sekarang tinggal di kos yang dekat dengan kampusnya, dan lusa dia akan kembali ke kos.
Dirumah utama hanya ada para orang tua saja, meski terkadang kami dan Paman Adam datang untuk main dan menginap disana, namun sepertinya mereka sangat kesepian disana. Ingin rasanya aku mengatakan pada suamiku untuk tinggal beberapa waktu disana, namun aku bingung mengatakannya, karna arah menuju kantor lebih dekat jika dari rumah kami.
"Ay!"panggilnya membuatku terkejut dan menoleh melihat suamiku berdiri membawa tas ransel sedang berwarna pink milikku.
"Kenapa ngelamun? lagi mikirin apa sih sampe gak dengar aku panggil dari tadi?"tanya mas Al sambil mengusap pipiku lembut, dia duduk disampingku dengan tangan kiri menggenggam tanganku.
"Enggak, aku cuma lagi mikir aja buat acara nanti kita akan ngapain aja dipantai gitu. Kan gak seru dipantai cuma foto dan duduk menikmati lautan, kaya ada yang kurang gitu"jawabku dibalas anggukan olehnya.
"Lamu tenang aja sayang, aku udah siapkan sesuatu disana. Tadi aku udah bilang sama Dion dan Reza untuk menyiapkan sesuatu agar kita gak hanya duduk aja disana"ucap mas Al membuatku penasaran. Kira-kira apa yang suamiku rencakan disana yah?.
__ADS_1
"Ya udah, kalo gitu kita berangkat sekarang"ajakku dibalas anggukan olehnya.
kami melangkah menuju ruang tamu dan menitipkan rumah pada Mirna juga Asih, setelahnya mereka keluar dari rumah menuju mobil mereka yang sudah disiapkan oleh Ben dihalaman depan. Mas Al menghampiri Ben dan mengatakan sesuatu padanya yang aku tak tau mereka bicara apa, karna jarak kami agak jauh.
tidak lama, Mas Al kembali dengan tersenyum kearahku, aku membalas senyumannya itu lalu menggandeng lengannya menuju mobil. Dia membukakan pintu mobil untukku dengan berkata "Pelan-pelan sayang" oh Tuhan, jantungku berdetak cepat kala kata sayang terucap, lebay. Seperti tak biasanya.
setelah aku masuk, dia mengitari mobil lalu masuk dan duduk di bangku sopir sebelahku. Kami berdoa terlebih dahulu kepada Allah, setelahnya kami segera meninggalkan rumah dengan perasaan senang, karna ini yang aku mau. pergi ke Pantai, tempat terakhir aku bertemu dengan Ayah juga Ibu.
aku ingat dulu saat kami dipantai, dimana kami membuat istana pasir bersama, ingin berenang dipantai selalu kena marah Ibu, membeli banyak oleh-oleh dari pantai, terutama kerang laut yang sudah dironce, jangan lupakan buah kelapa muda yang dicampur dengan sirup merah juga buah-buahan, itulah kesukaanku dan Nia dulu, berlari ke sana kemari karna bercanda dengan Ayah, mengganggu Ibu dan Ayah yang tengah berduaan, hingga berakhir dengan omelan Ibu karna berlari lalu terjatuh tepat diatas air dan membuat kami basah kuyup, padahal baru saja mandi. Ingat semua itu, ingin rasanya aku menangis.
tanpa sadar, Mas Al telah menghentikan mobilnya didepan rumah utama. Dia menatapku dengan tatapan bingung, karna tanpa aku sadari jika mataku berkaca-kaca.
"Hai, ada apa? kok berkaca-kaca gini matanya? kenapa?"tanya mas Al yang menangkup kedua pipiku dan air mataku jatuh saat itu juga.
"Kangen Ayah sama Ibu. Hiks..."jawabku lalu masuk kedalam pelukan suamiku, dia mengusap kepala belakangku lembut lalu mengecup pucuk kepalaku dengan tangan kirinya mengusap punggungku pelan menenangkanku.
"Ssuutt.. udah sayang, jangan sedih lagi oke. Kalo kamu kangen sama Ayah dan Ibu, kirimkan doa untuk mereka selalu, jangan kirimkan air mata kamu ke mereka, nanti mereka tau kalo putrinya ini sedang sedih karna merindukan mereka. Kamu harus selalu tersenyum dan tetap bahagia, meski saat kamu sedang berada di depan pusara mereka, karna bagi mereka, air mata kamu terlalu berharga untuk dibuang"penjelasan mas Al membuatku sedikit lebih tenang. Benar ucapannya, jika aku tak boleh menangis apalagi bersedih.
Tok.. tok.. tok...
kami segera melepas pelukan kami lalu menoleh pada suara ketukan dari kaca jendela luar mobil dan kami melihat Rania berdiri diluar sana dengan membawa tasnya.
Aku segera menurunkan kaca jendela mobilku dan melihat Rania yang tersenyum kearahku lalu mencondongkan tubuhnya kearahku, dia menatap kami berdua lalu beralih padaku.
"Kak. Maaf ya, Nia gak bisa ikut kalian semua jalan-jalan ke pantai. Nia ada tugas skripsi dari dosen dan harus dikumpulkan besok, jadi Nia harus selesaikan sekarang. Maaf ya kak"ucap Rania menatap kearahku yang tiba-tiba merasa sedih karna adikku tak bisa ikut.
mas Al yang melihatku sedih dia segera mengusap punggung tanganku dipangkuannya, seakan menenangkanku agar tidak sedih. Aku juga tau jika Rania sudah menyiapkan dirinya untuk mengatakan ini, karna dia tau bagaimana sensitif nya aku apalagi menyangkut pantai.
"Nia. Memangnya sskripsikamu gak bisa dikerjain di sana aja? maksud kakak, disana kan pantai dan kamu bisa sekalian menjernihkan pikiran agar mendapat referensi untuk skripsi kamu juga"mendengar ucapan mas Al membuatku menoleh menatap Rania yang terlihat berfikir.
"Boleh deh aku ikut. Bentar ya"jawaban Rania membuatku tersenyum senang, setidaknya jika ada Rania aku tak terlalu sedih mengingat kenangan lalu bersama orang tua kami.
setelah kepergian Rania, Aku melepas sabuk pengaman lalu memeluk mas Al dan mengucapkan terimakasih karna telah membujuk adikku untuk ikut bersama kami ke pantai.
kemudian kami segera berangkat setelah semuanya siap, tidak lupa pula sebelum berangkat kami berdoa terlebih dahulu, agar kami selamat sampai tujuan. Setengah jam sudah kami diperjalanan dan akhirnya semuanya sudah siap untuk berangkat, kami segera meninggalkan rumah utama untuk menuju pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, namun keindahannya tak kalah dengan pantai-pantai lainnya.
tak lama, kami sampai dipantai tersebut, pantai yang menjadi kenangan terakhirku bersama kedua orang tuaku, pantai yang menjadi saksi kebahagiaanku bersama orang tuaku, pantai yang menjadi tempat favorit orang tuaku, terutama Ibuku. Ingin rasanya mengulang waktu, namun aku tau, itu semua tak akan pernah terjadi.
"Ayo sayang, kita turun" suara mas Al mengejutkanku dari lamunanku, aku menoleh padanya yang tersenyum padaku lalu aku mengangguk.
kami turun dari mobil dan kami langsung disambut hangat oleh beberapa penjaga pantai yang memang mengenal mas Al sebagai cucu pemilik area pantai ini. Ck.. orang kaya mah bebas, pantai dan pulau saja dibeli, saking banyaknya uang, bingung harus dikemanakan.
melihat pantai ini saja sudah mengingatkanku tentang Ayah dan Ibu yang selalu bermain disini hingga senja datang kami duduk diatas pasir sambil menikmati indahnya senja hingga senja itu menghilang dan berganti malam yang indah penuh dengan bintang juga bulan yang menyempil ditengahnya.
Kami berencana menginap di pantai ini selama dua hari diVilla milik keluarga mas Al, Villa yang dulu aku sewa berama keluargaku, kini kembali aku singgahi.
kami masuk ke dalam, disana semuanya tampak sama. Tak ada yang berubah satupun dari Villa ini, dari peletakkan barang-barangnya, corak dan bentuk bangunannya masih sama. Meski mungkin kini bedanya hanya ditambah beberapa lukisan yang menghiasi dinding villa ini, menambah kesan epik menurutku.
sampainya kami dikamar, Mas Allah langsung menyuruhku untuk istirahat, dia tak ingin aku dan anak kami kenapa-napa karna kelelahan akibat dari arah parkiran tadi menuju Villa ini, kita harus turun menggunakan anak tangga yang lumayan banyak, karna letak parkiran yang ada diatas sementara pantainya ada dibawah dengan villa didepannya.
rasanya aku begitu mengantuk saat mas Al memijit kakiku, awalnya aku menolak karna merasa tak sopan dengan yang mas Al lakukan, harusnya aku yang melakukan itu, tapi mas Al justru memaksakan agar dia saja yang memijit kakiku. Ingin menolak lagi, aku takut oleh tatapannya apalagi saat dia sedang marah. Ihhh.. lebih baik diam saja deh dan menikmati, hingga tanpa sadar aku tertidur saking nikmatnya pijitan mas Al di kakiku.
"Sweet dream cantiknya Al"suara itu terdengar merdu ditelingaku dan aku tau siapa pelakunya membuatku tersenyum tipis disebalik tidurku.
__ADS_1