
Menunggu pengobatan selesai terhadap Jeff. Azam memilih kembali keruang pribadinya dan menjaga Nataza yang masih tidur, sekalian dia berkabar dengan Ayahnya yang menjaga kedua anaknya, hingga kini Alvano masih belum sadarkan diri membuat Azam khawatir dengan kondisi anaknya. Ini sudah lebih dari 2 jam tapi anaknya belum juga sadar
saat dia sedang khawatir, dia dikejutkan oleh Nataza yang berteriak kencang dengan keringat membanjiri wajahnya serta wajah yang pucat pasi, membuat Azam terkejut dan khawatir lalu langsung menghampirinya
"Honey, what's wrong?, are you all right?"tanya Azam ikut terkejut dan khawatir
"Al...Alvano mana?, dimana Alvano mas?, aku mimpi buruk tentang Al. Aku mau bertemu dengan dia, aku mau melihat dia. Aku.."ucapan Nataza terpotong saat Azam mencium bibirnya pelan bahkan mel*matnya
"Tangkan dirimu sayang, kita ada dimarkasku sekarang. Ada apa?, kau mimpi apa tentang putra kita?"tanya Azam yang juga penasaran
"Aku...aku mimpi Al pergi dari aku. Lari ninggalin aku kecahaya terang. Aku panggil dia berkali-kali tapi dia gak mau kembali, aku udah cegah dia untuk pergi, tapi aku lihat Ayah dan Ibu datang dan bawa Al dari aku. Gak...aku gak mau kehilangan Al. Aku gak mau mas...hiks.."tangis Nataza dalam pelukkan Azam dengan menceritakan semua mimpinya
"Sekarang kita kerumah sakit ya?, kita lihat kondisi Al. Ayah bilang kondisi Al membaik tapi belum sadarkan diri, kita lihat kesana sekarang, berdo'a semoga Al baik-baik aja"ucap Azam dan dibalas anggukan oleh Nataza
Mereka keluar dari markas dengan Nataza terus menggenggam erat tangan Azam, mereka pergi kerumah sakit, untuk melihat kondisi putra mereka.Mereka hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk. Azam memikirkan siapa boss dari Jeff, sementara Jeff hanya memberikan inisialnya saja, ditanya pun percuma saja, karna Jeff tak akan pernah buka mulut. Sungguh kesetian yang patut di acungi jempol. Tapi dia harus mencari bosnya dimana dan siapa?
Sampainya dirumah sakit, mereka segera menuju ruang rawat anak VIP, dimana putra mereka dirawat, disana mereka melihat Ayah Tama yang sedang duduk seorang diri dengan memainkan hpnya
"Ayah?"panggil Azam. Ayah Tama langsung mencari asal suara tersebut, dan anak dan menantunya datang
"Kalian sudah selesai?"tanya Ayah Tama lalu bangkit dari duduknya
"Sudah Yah, hanya saja dia tidak mau mengatakan siapa bosnya. Jika dipaksapun percuma, karna dia terlalu setia terhadap bosnya"balas Azam dan dijawab anggukan oleh Ayah Tama
"Kenapa Ayah didepan sendirian?"tanya Azam
"Ayah sedang menelfon pak Irman untuk menjemput Bundamu, dia bilang tadi kerumah temannya untuk mengambil pesanan disana"jawab Ayah Tama jujur
"Lalu anak-anak?"tanya Nataza angkat bicara, karna sedari tadi dia hanya menyimak
"Anak-anak baik-baik saja Za, tadi Alvano sudah sadar dan bermain dengan Elvina. Dia sempat mencari kalian saat baru sadar, tapi sesuai yang kamu bilang pada Bunda, akhirnya dia bisa mengerti. Sekarang dia sedang tidur, karna tadi sempat menangis, karna jarum infusnya lepas"jelas Ayah Tama membuat Nataza langsung masuk kedalam ruangan Alvano membuat Azam terkejut dan menggeleng
"Kita masuk Yah"ajak Azam dan melangkah lebih dulu masuk keruangan putranya
__ADS_1
Nataza melihat kedua anaknya yang tertidur dalam satu ranjang dan saling berpelukan, dia mendekati keduanya dan mengelus pucuk kepala keduanya bergantian dan mencium dahi mereka. Alvano yang merasakan usapan dikepalanya, dia mengerjapkan matanya, dan melihat Maminya sedang tersenyum manis padanya
"Mam..."ucapan Alvano terputus saat Nataza mengangkat jarinya memberikan isyarat jangan berisik dengan menunjuk kepada Elvina yang masih tertidur dengan nyenyak dengan memeluk kakaknya
"I'm sorry Mami"bisik Al lalu mencium dahi adiknya
"Mami?"panggil Al, menghentikan langkah Nataza yang akan menghampiri Azam disofa
"Why?"balas Nataza dengan melangkah mendekati putranya
"Turun!!"rengek Alvano kepada Maminya, membuat Nataza terkekeh melihat tingkah putranya
"No boy, kau harus istirahat"balas seseorang dengan tegas, siapa lagi jila bukan Azam yang terdengar tegas ditelinga Alvano
"Ahh...Ayolah Papi...Aku ingin dipeluk Mami dan Papi"rengek Alvano dengan mata berkaca-kaca, Ah sial!. Azam lemah ketika orang yang dia sayang menangis
"Ya ya ya...baiklah. Tapi kau tak boleh banyak bergerak dan jangan minta digendong oleh Mami ok"perintah Azam membuat Alvano bingung
"Memangnya kenapa?"tanya Alvano dengan wajah bingungnya
"Apa benar Mami?"tanya Al antusias kepada Nataza, dan Nataza hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban
"Baiklah. Al gendong Papi aja, supaya adik bayi jadi diperut Mami"ucap Alvano dengan mengelus perut Hasna lembut
"Papi...Mami.."pekik Elvina yang baru saja bangun tidur membuat Al yang akan digendong oleh Azam harus menutup telinganya
"Berisik El!!. Ini tuh rumah sakit bukan dihutan, gak usah teriak"ucap Alvano dengan membekap mulut adiknya yang cerewet
"Emm...emm"gumam Elvina karna mulutnya tertutup rapat oleh tangan Alvano
"Al...lepas sayang. kasihan El, gak bisa nafas nanti"ucap Azam kepada Alvano yang hanya tersenyum menampilkan giginya
"Hufh...kakak mah suka gitu sama El. El kan gak bisa nafas, nanti nafas El putus-putus kaya hubungan orang pacaran gimana?"tanya Elvina kepada Elvano membuat Azam, Nataza dan Ayah Tama yang menyaksikan perdebatan kedua bocah itu melongo
__ADS_1
"Siapa yang ngajarin tentang pacaran?"tanya Nataza menatap tajam Elvina
"Emmm...Ounty Alika"jawab Elvina dengan takut menatap wajah Maminya
"Maaf Mami. El salah"lanjutnya dengan menundukkan kepalanya
"Sayang...Mami gak marah sama El, tapi El masih kecil dan belum seharusnya tau tentang pacar, pacaran gak baik sayang, pacaran itu dosa, sama aja dengan perbuatan zina, karna kita berhubungan dengan laki-laki atau perempuan yang bukan mahkramnya, dosa sayang. Jadi El gak boleh pacaran, apalagi sampai memiliki ikatan dengan laki-laki yang bukan makhramnya El. Nanti ada saatnya El memiliki hubungan, tapi itu hubungan yang halal dan mendatangkan pahala untuk El"jelas Nataza
"Iya Mami. El mengerti sekarang"balas Elvina dengan memeluk Nataza
"Papi?, apa kak Al boleh pulang?"tanya Elvina kepada Azam yang sedang memangku Alvano
"Kakak Al belum boleh pulang sayang, kakak Al kan masih sakit. Minggu depan kakak Al inshaallah sudah pulang"jawab Azam
"Yahh...kok minggu depan, kan El pengin main sama Kakak Al setiap hari"balas Elvina membuat Ayah Tama dan Bunda Ayu yang baru datang menghampirinya
"Cucu Oma ini harus sabar dong, kakak Al baru aja sadar dari sakitnya, Nanti kalo kakak Al main terus kecapean, nanti kakak Al sakit lagi gimama?"tanya Bunda Ayu kepada cucu cantiknya
"Iya juga sih Oma. Oma benar memang, tapi El harus main sama siapa?, Mami sering disini jagain kakak Al. Papi kerja ke kantor sama Om Irfan dan Opa, dirumah cuma ada Devina sama Ounty Alika, itupun kalo mereka main, kalo gak main kerumah. El sendirian sama Bibi. El gak mau, El mau kakak Al pulang. Mami..."jelas Elvina dengan merengek kepada Nataza
"Sayang, dengerin Papi nak"ucap Azam dan bergantian memangku Elvina
"Princess Papi gak boleh sedih dong, kan kakak Al disini juga diobatin sama dokter supaya sembuh, nanti kalo kakak Al sembuh, pasti kakak Al akan pulang dan main lagi sama princess Papi ini. El gak boleh sedih nanti kakak Al juga sedih lihat El sedih. El gak mau kan lihat kakak Al sedih?"tanya Azam dan mendapat gelengan dari Elvina
"Maka dari itu, El gak boleh sedih lagi ya?. Nanti setelah pulang sekolah El bisa kok kesini dan main sama kakak Al, nanti main juga sama Mami dan Oma disini untuk nemenin kakak Al"lanjutnya dengan menghapus air mata Elvina
"Papi?, Apa El boleh nginep disini?"tanya Elvina dengan menatap wajah Azam sendu
"Tanya Mami ya nak?. Papi gak bisa ambil keputusan kalo tentang itu"balas Azam membuat Elvina menatap Nataza
"Mami?"panggil Elvina berniat menanyakan pertanyaan berusan
"Boleh sayang, tapi hanya hari sabtu besok aja. Lanjutnya kamu harus pulang untuk sekolah,sepulang sekolah, mandi, makan siang baru kesini lagi ok"balas Nataza membuat senyum Elvina mengembang
__ADS_1
"Siap Mami!. Yeeeyy..makasih Mami. Love You Mami, Love You Papi"ucap Elvina mengecuk kedua pipi orang tuanya
"Love You kakak Al"lanjutnya dengan mengecup pipi Alvano lalu memeluk mereka