
" Assalamualaikum. " sapa Al sembari mencium telapak tangan para ornag tua disana.
Al celingukan mencari Bia. Tidak biasanya Bia tidak menyambut kedatangannya.
" Duduk dulu. Kami mau bicara. " kata Azalea sambil menunjuk ke arah sofa didepannya.
" Dimana Bia Ma ? " tanya Al bingung.
Apalagi semua mata tampak tengah menatapnya. Semuanya malah tersenyum saat dia bertanya tnetnag Bia. Ada apa ini ?
" Kak Bia ada di kamar dengan Tante Gita Kak. " jaeab Zaskia saat melihat Al semakin gelisah.
Al langsung berdiri panik.
" Apa yang terjadi ?! Kenapa dengan Bia ?! "
" Tidak ada yang terjadi. Gita hanya menemaninya menidurkan anak-anak. Duduklah. " jawab Leon berbohong.
Al menghela nafas lega kemudian kembali terduduk. Leon menyerahkan amplop itu kepada Al.
" Apa ini Om Leon ? " tanya Al.
" Buka saja. " jawab Leon.
Al membuka amplop itu sembari menatap keluarganya bergantian. Dan langsung berdiri.
" Aku akan menjelaskannya pada Bia. " serunya cemas.
Leon menarik lengan Al yang hendak beranjak pergi.
" Duduk dulu. Kita bicara dengan tennag. Biarkan Gita membuat Bia rileks. Agar tidak semakin stres. " kata Leon menenangkan.
" Tapi,, ini gak seperti yang kalian bayangkan. Aku gak tahu kenapa bisa ada foto ini. "
" Kami percaya Al. Karena itu, duduklah. Biar kita bisa cari solusinya sama-sama. " kata Azalea.
" Mamamu benar Al. Tenang. Kita cari solusinya. Bia bersama ornag yang tepat. " tegas Mark.
Al menghela nafas untuk menenangkan dirinya. Lalu mendudukkan dirinya.
" Aku memang bersmaa wanita itu. Tapi, disana juga ada Reiga dan Stevan. Wanita itu sekretaris Stevan. Aku gak mungkin mengkhianati Bia Ma. " jelas Al kesal.
" Al, speeti yang Mama katakan. Mama, dan semua yang ada disini tahu gimana perasaanmu pada Bia. Dan aku yakin Bia pun juga merasakan hal yang sama. Kita disini untuk mencari siapa pelakunya. " jelas Azalea.
" Apa kamu punya musuh disini Al ? " tanya Mark.
Al nampak berfikir sejenak.
" Aku rasa gak Pa. "
" Kak Al,, apa Kak Al punya tim IT di perusahaan ? Apa gak bisa menyuruh mereka menyelidikinya ? Aku yakin di sekitar rumah ini, di tiap jalan pasti ada cctvnya. Mungkin bisa mencari pengirim paket itu terlebih dulu. " usul Tian.
" Ya, Tian benar. " jawab Leon.
" Reiga. Lakukan tugasmu. " geram Al.
" Baik Bos. Permisi. " kata Reiga sambil keluar rumah.
" Syukurlah. Semoga kita bisa segera menangkap pelakunya. " harap Naya.
" Amiiinn. " jawab Gita yang tiba-tiba ada di ruang tamu.
" Tante Gita. Gimana dengan Bia ? " tanay Al sambil berdiri. Begitupun dengan Leon yang menggandeng lengan Gita dan mendudukkannya di sampingnya.
" Bia baik-baik saja. Alhamdulillah Bia gak sestres saat berdebat dengan Leny. " jawab Gita.
" Alhamdulillah. " seru semuanya.
" Permisi. Aku akan kekamarku. " pamit Al.
" Ya. Temui dan tenangkan Bia. " jawab Azalea.
Al mengangguk dan segera berlari menuju kamarnya. Zaskia tertawa lucu melihatnya.
" Harusnya pelaku itu bisa melihat sebucin apa orang yang tengah difitnahnya sekarang. " gurau Zaskia sambil tertawa.
" Iya. Benar. Lihat saja tingkahnya itu. Benar-benar takut Bia akan berfikir macam-macam. " sahut Leon.
" Harusnya kita kerjain tadi Om. " gurau Zaskia.
" Ki,, gak boleh gitu. Kamu tahu kakakmu itu seposesif apa kalo menyangkut Bia. " tegur Azalea.
Zaskia manggut-manggut setuju.
" Apa yang terjadi pada Bia syaang ?" tanya Leon.
" Tadi dijalan, sebenarnya Bia melihat mereka. "
" Hahh,, benarkah ? Kak Bia gak salah faham kan. " sahut Zaskia cemas.
" Bia memang melihat Al dan wanita itu. Tapi disana juga ada Reiga dan satu ornag laki-laki. Dia hanya bingung, kenapa difoto itu mereka tidak terlihat. Sedangkan posisi Al dan wanita di foto ituu memang seperti yang dia lihat direstoran tadi. "
" Aahh,, syukurlah. " ujar Naya dan Azalea berbarengan hingga tertawa.
" Urusan sama photoshop memang ngeri. " celetuk Tian.
" Iya. Tapi juga bisa membantu banyak orang. " kata Leon menimpali.
Al membuka kamarnya dengan cemas. Pikirannya benar-benar kacau. Takut Bia slaah faham dengan foto itu. Takut Bia akan percaya dan akan meninggalkannya. Takut kehamilan Bia akan terganggu karena masalah ini.
Al langsung memeluk Bia saat melihat Bia keluar dari kamar mandi.
" Astaghfirullah. Mas,, kagetin aja sih. Bukannya salam dulu. " geruttu Bia sambil mendorong tubuh Al agar melepaskan pelukannya. Tapi Al tidak mau.
" Foto itu gak sperti yang kamu bayangkan Bi. Sumpah demi Allah Bi, aku gak hanya berdua. Ada Reiga dan Stevan disana. Kami sednag meeting dan,, "
__ADS_1
" Mas,, aku tahu. " sahut Bia cepat.
Al melepaskan pelukannya. Mengusap pipi Bia yang terlihat makin chuby.
" Aku gak mau kamu slaah faham. Aku bisa mengenalkanmu pada mereka Bi. "
" Maaaasss,,, aku bilang aku sudah tahu. Aku percaya." tegas Bia.
" Tapi,, "
Bia mendorong tubuh Al yang masih mendekapnya. Dan mendudukkannya di ranjang.
" Aku tahu Mas. Aku tadi melihatnya. Waktu jalan-jalan sama Papa Mark dan yang lainnya. Aku melihat Mas, Reiga, wanita itu, dan juga satu laki-laki lagi. Aku melihat kalian. Jadi, gak usah sepanik ini. "
" Aku takut kamu slaah faham Bi. Aku takut kamu gak percaya dan akan meninggalkanku. "
Bia terkekeh kemudian mengecup bibir Al sekilas.
" Memangnya kita ini lagi pacaran, kalo salah faham bisa tinggalin pasangan kita gitu aja. Kamu itu, suamiku Mas. Gak mungkinlah aku meninggalkan suamiku gitu aja tanpa pamit. " hibur Bia.
Al kembali memeluk Bia dengan perasaan lega.
" Kamu gak tahu gimana perasaanku melihat foto itu Bi. Yang terpikirkan hanya gimana dengan perasaan kamu. Gimana kalo kamu mempercayai foto itu. Apa kamu akan mempercayaiku. Apa kamu akan menyangsikan perasaanku lagi. Mendengarmu saat ini, kamu gak tahu sebahagia apa aku sekarang. "
Bia tersenyum haru. Kemudian melepaskan pelukan Al.
" Bau asem. Mandi dulu sana. Aku udah siapin air hangat dan handuknya. Bentar lagi mau maghrib. Aku bangunkan anak-anak dulu. "
" Aku mencintaimu Bi. Sangat. Terima kasih udah percaya. " ucap Al sambil mencium bibir Bia dan keningnya lama.
" Aku juga sayang sama Mas. Aku harap ini bisa membuat kamu dan aku juga lebih hati-hati. Kamu bisa jaga diri Mas. Aku senang kamu mengatakan apa adanya tentnag pekerjaanmu. Meeting kamu. Mungkin ke depannya bisa lebih hati-hati untuk gak berduaan saja dengan wanita meski untuk urusan perusahaan sekalipun. Bukan bermaksud untuk gak percaya kamu. Tapi, takut hal ini akan terulang lagi. "
" Iya. Aku akan lebih hati-hati lain kali. "
" Papa,, Bunda,,, " panggil Fawwaz yang baru bangun.
" Adek,, udah bangun ? Mas Faiz kok gak dibangunkan sekalian ? " tanya Bia.
" Aku disini Bun. Papa udah pulang kerja ? " tanya Faiz sambil mencium telapak tangan Al. Diikuti Fawwwaz.
" Iya Mas Faiz. "
" Mas,, aadek,, mandi dulu ya. "
" Eehhmm,, bentar lagi Bun. " sahut Fawwaz sambil naik ke pangkuan Al.
" Gimana kalo mandinya dikolam renang. "
" Ayoooooo Pa. " seru Fawwaz dan Faiz.
" Ckkk,, giliran renang aja langsung semangat." gurau Bia. Anak-anaknya hanya tertawa.
" Boleh kan Bun ? " tanya Faiz.
" Satu jam aja ya. "
" Biarkan aja Bi. Kan besok kita mau pulang. "
" Heeemmm,, anak sama Papa. Bisa aja kalo mau ngerayu. "
Al tertawa sambil menyentil hidung Bia. Dan melakukan tos dengan anak-anaknya.
" Ijin sama Opa Mark dan Oma Naya dulu. Jangan sampai maghrib ya Papa. " tegur Bia.
" Siaaappp !!! " seru ketiganya.
" Mas Faiz, adej Fawwaz,, turun ijin ke Opa. Papa ganti baju dulu. "
" Oke Pa. " seru anak-anak sambil berlarian keluar kamar.
" Jalan aja. " tegur Bia yang langsung membuat anak-anaknya berhenti berlari dan dnegan cengiran mereka berjalan menuju lantai bawah.
Al berganti baju dan menggendong Bia.
" Mau kemana ? " tanya Bia heran saat Al membawanya keluar kamar.
" Melihat anak dan suaminya renang dong. "
" Jangan lama-lama lho ya. "
" Siaappp. "
Al menurunkan Bia di taman belakang. Disana sudah ada keluarganya. Bahkan Mark, Leon dan Tian sudah menceburkan dirinya di dalam kolam renang. Ikut berenag dengan Faiz dan Fawwaz.
" Kak Bia,, duduk disini Kka. " kata Zaskia sambil menunjuk ke arah kursi di sampingnya. Disana sudah ada Azalea dan Naya yang duduk.
Bia mengangguk dan menggamit lengan Gita yang juga beranjak hendak duduk di kursi. Bia duduk disamping Zaskia yang langsung menyandarkan kepalanya manja.
" Terima kasih Kak. Udah peercaya pada Kak Al. " bisik Zaskia.
" Kamu lebih tahu kakakmu darioada aku. Begitupun dnegan hatinya kan. " ujar Bia sambil menoel pipi Zaskia.
Zaskia hanya tertawa mendnegarnya.
Mbok Nina masuk ke taman membawa beberapa macam jus. Dan meletakkan jus itu didepan Zaskia , Gita dan Bia. Tentu saja membuat ketiga orang itu bingung.
" Saya gak minta jus Mbok. " kata Gita.
" Sebagai temaan santai Nona. " jawab Mbok Nina.
" Kok Mbok tahu kalo saya suka jus buah naga ? " tanya Zaskiaa penasaran.
" Hanya menebak-nebak Non. " gurau Mbok Nina.
" Heemm,, sepertinya jus alpukatnya enak. " seru Bia yang memang sedari dulu suka jus alpukat.
" Silahkan diminum. Permisi. " pamit Mbok Nina.
__ADS_1
Bia mengambil jus alpukatnya. Dan hendak diminum. Tapi tiba-tiba saja Wimpi mendekat dan membuang satu gelas jus alpukat itu. Tentu sjaa membuat semua yang ada disana menjadi tersentak kaget.
Al, Leon, Mark dan Tian keluar dari kolam renaang. Azalea mendekap Faiz dan Fawwaz yang nampak masih kaget dengan bathrob mereka.
" Kak Wimpi,, " panggil Bia kaget.
" Wimpi,, apa yang terjadi ?! Kenapa ?! " tanya Al heran sambil memakai bathrobnya.
" Aku menemukan ini di dapur Tuan. " jawab Wimpi dan menyerahkan satu obat yang tidak dimengerti Al.
" Astaghfirullah. Itu obat peluruh kandungan. " seru Gita kaget sembari mengambil obat itu dari tangan Al. Untuk mengecek isinya yang telah kosong. Entah berpindah kemana.
Jawaban Gita tentu membuat Tian dan Al sontak mendekap istri masing-masing.
" Kamu belum minum apapun kan, Ki ? " tanya Tian.
Zaskia memggeleng pasti. Tubuhnya langsung menegang.
" Kedepannya,, jangan makan dan minum apapun pemberian orang. Kalo kamu ingin makan sesautu. Aku akan membuatkannya. " tegas Tian khawatir.
Zaskia mengangguk pasti. Sambil mengusap perutnya.
" Bi,, gimana denganmu. Apa kamu sudah meminumnya ? " tanay Al cemas sambil memegang wajah Bia.
" Belum Mas. Keburu Kak Wimpi merebut dan membuangnya tadi. " jawab Bia yang langsung pucat memdengar jawaban Gita.
Peluruh kandungan ? Apalagi ini ? Sebenarnya siapa yang menginginkan aku dan Mas Al bertengkar ? Pikir Bia.
" Sayang,, kamu ? " tanya Leon.
" Aku hanya minum air kemasan Abi. " jwab Gita.
" Apa yang teerjadi, kenapa bisa sampai seperti ini. " keluh Naya tidak enak hati.
Mark mendekat kearah Naya dan mendekapnya agar tenang.
" Tuan Mark, Nyonya Naya. Maafkan saya. Tadi saya memaksa satpam rumah ini untuk menunjukkan rekaman cctv saat kita semua pergi. Saya gak tahu itu obat apa, karena itu saya mau mengecek cctvnya. " jelas Wimpi meminta maaf.
" It's okay. Apa kamu menemukan sesuatu ? " tanay Mark penasaran.
" Tuan,, lihatlah. " kata Wimpi sembari menunjukkan ponselnya kepada Al.
Al menerima ponsel Wimpi dan melihat salinan rekaman cctv dirumah itu. Begitupun dengan yang lainnya. Semuanya tercengang melihatnya.
" Leny !!! " geram Al marah.
Bia mendekap Al takut. Bukan hanya takut pada kenekatan Leny. Tapi lebih takut pada kemarahan Al saat ini. Yahh,, Leny sengaja mencampurkan obat peluruh kandungan itu di jus alpukat milik Bia. Entah apa yang akan terjadi kalo Wimpi tidak menghentikannya minum jus alpukat itu.
" Mas,, tenang dulu. Sabar. " kata Bia sambil mengusap dada Al.
" Ini kriminal Bi. Dia berniat menggugurkan kandunganmu. " seru Al marah.
" Bunda,,, ada apa Bun ? " rengek Faiz sembari mengguncangkan lengan Bia.
Bia berjongkok hendak menggendong Faiz. Tapi Al mencegahnya.
" Biar aku saja. " sahut Al.
" Papa,, kenapa marah-marah ? Apa Bik Leny nakal lagi ? " tanya Faiz kesal.
Bia mencium tangan Faiz sayang. Karena Faiz yang lebih banyak tahu dan mendengar tentnag kebencian Leny pada dirinya dan anak-anaknya. Karena itu, Faiz langsung tahu ada yang tidak beres saat Al emnyebut nama Leny dengan marah.
" Leny mau membunuh adek bayi Mas Faiz. " geram Zaskia kesal.
" Ssstttt,, Ki. Faiz terlalu kecil untuk pembahasan ini." tegur Tian.
" Habisnya kesal Kka. "
" Apa ? Benar Pa ? Bun ? Ayo pulang aja Pa, Bunda. Mas gak mau disini lagi. Nanti adek bayinya kenapa-kenapa. " rengek Faiz sembari memaksa turun dan langsung mendekap Bia dan menciumi perut Bia.
" Kia, iihhh. " tegur Bia.
" Bunda,, adek bayinya gak apa-apa kan Bun. " seru Fawwaz ikut-ikut menangis sambil mengusap perut Bia.
Bia menghela nafas. Kemudian berjongkok.
" Alhamdulillah adek bayinya gak apa-apa. Kan Tamte Wimpi udah nolongin Bunda tadi. " jawab Bia gemas.
" Makasi Tante Wimpi. " ucap Fawwaz.
" Kita pulang ya Bun. Gak mau deket Bik Leny. " kata Faiz.
" Besok ya Mas. Sekarang ajak Papa mandi. Sholat dulu. Berdoa sama Allah. "
" Terima kasih juga ya Bun. Karena Allah udah melindungi dedek bayi. " sahut Fawwaz.
" Iya dong. Ayo ajak Papa mandi. " kata Bia.
" Bi, kami akan bicara dulu. " kata Al.
" Kita bicarakan nanti. Setelah sholat isya, tidak dalam keadaan emosi. " tegas Bia.
" Bia benar. Udah maghrib. Kita sholat dulu. " kata Tian.
Akhirnya semuanya mengangguk. mereka bernajak menuju kamar masing-masing. Mark menekan dadanya yang terasa nyeri.
" Kamu gak apa -apa honey ? "
" Kalo sampai benar Leny yang menyebabkan ini semua. Aku gak akan memaafkannya. " geramnya.
" Sabar Honey. Bia benar. Kita sholat dulu. Biar bisa tennag. "
" Aku masih belum bisa honey, "
" Bisa mengikuti gerakannya dulu honey. Bacaanya bisa dihafalkan nanti. "
" Jangan lelah mengajariku Honey. "
__ADS_1
" Tentu saja. "