
" Suami kalian masih belum ada yang pulang ? " tanya Azalea saat melihat Zaskia dan Bia sedang duduk di balkon lantai atas.
" Belum Ma. Kata Kak Tian, akan diusahakan pulang saat makan malam nanti. " jawab Zaskia sambil menggeser posisinya agar Azalea bisa duduk.
" Aku harap Mas Al datang saat maghrib nanti. " jawab Bia.
" Anak-anak kemana ? Apa mereka ikut Al ke kantor ?"
" Iya Ma. Karena mereka seharian kehilangan Papa dan Bundanya yang sedang sibuk program membuat adik. " goda Zaskia.
Bia menarik hidung Zaskia kesal. Karena sedari tadi menggodanya.
" Aku harap anak-anak gak merepotkan Mas Al. Apa mereka benar-benar gak akan mengganggu ? " keluh Bia khawatir.
Azalea memberikan majalah bisnis yang dibawanya. Membuka di halaman dimana Al menjadi profil majalah itu.
" Wooowww keren. Kak Al masuk majalah bisnis. " puji Zaskia.
" Bukan itu yang Mama maksud Ki. Bacalah di profil Kakakmu. " kata Azalea.
Bia dan Zaskia menuruti apa yang dikatakan Azalea. Di majalah itu, redaksi banyak bertanya tentnag kehidupan pribadi Al. Meskipun dikatakan Al menjawab dengan tertawa dan dengan nada ambigu. Tapi cukup bisa membuat keduanya saling berpandangan heran.
" Ini,,, " kalimat Zaskia menggantung.
" Yah,, seperti yang kalian baca. Al mengatakan pada redaksi majalah kalo dia mempunyai dua istri yang salah satunya sedang mengandung anaknya. Dan memang tidak mau mempublikasikannya. "
Bia melihat cover majalah dan sedang mencari kapan majalah itu terbit.
" Dua tahun yang lalu Bia. Majalah itu terbit dua tahun yang lalu. " kata Azalea.
" Itu berarti, selama ini Kak Al masih menganggap Kak Bia istrinya. "
" Mungkin kalian akan meragukan apa yang Mama katakan. Tapi, asal kalian tahu. Al punya insting yang kuat. Firasatnya selalu bisa membuat langkahnya menuju kebenaran. Kalian bisa melihatnya saat Al meragukan tes DNA yang dikirim Leon dulu. "
" Iya. Mama benar. " jawab Zaskia.
Bia kembali merinding mendengarnya. Dia hanya bisa terdiam.
" Kenapa Bia ? Apa kamu masih meragukan perasaan Al padamu ? "
" Mana mungkin Ma. " jawab Bia sambil tersenyum.
" Maksud Kak Bia ? "
" Mama lihat saja kamar pribadi yang ada di ruang kerja Mas Al. Seluruh ruangan itu, penuh dengan foto-fotoku dan anak-anak. Sejak hamil, aku bisa merasakan perasaan Mas Al Ma. Aku gak pernah meragukannya. Tapi, kita tahu gimana sikonnya saat itu. Aku masih istri Mas Ghazzy. "
" Iya kamu benar. " jawab Azalea.
" Mama menunjukkan majalah ini pada kami bukan hnaya untuk menegaskan tnetang firasat Kka Al saja kan. Aku yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran Mama. "
" Bia, Ki. "
" Aku ? Memangnya kenapa denganku ? "
" Aku yakin, kedatangan si kembar ke kantor Al. Di saat dia sedang berduka karena kepergian Clara. Sedikit banyak akan memicu kericuhan diantara kliennya nanti. Orang yang melihat mata si kembar tidak akan pernah meragukan kalo mereka anak-anak Al. Mama ingin kalian segera melangsungkan pernikahan. "
" Hahhh,, gak usah, Ma. Mas Al sudah mendaftarkan pernikahan kami. Berkasnya sedang diurrus oleh Reiga. Kalo kami mengadakan pesta pernikahan, bukannya makin memperkeruh suasana. Orang-orang hanya akan berfikir kami ini pasangan perselingkuhan Ma. Biarkan tetap seperti ini. Anggaplah memang selama ini Mas Al mempunyai dua istri. "
" Kak Bia,, gak apa-apa kita gak mengadakan pesta ? baik dipernikahan Kak Bia dulu dan sekarang. Gak ada satupun pesta untuk Kak Bia. "
" Kia benar Bia. Rasanya gak adil buat kamu. "
" Tanpa pesta pun, Mama dan kamu udah menganggapku satu keluarga. Aku gak perduli tentang omongan orang lain. Yang terpenting, pernikahan kami kemarin sah. Tidak lagi haram, tidak lagi berurusan dengan poliandri apalagi poligami. Itu sudah cukup untukku Ma. Ki. "
__ADS_1
" Aku menyayangimu Kak Bia. Aku bahagia melihat Kak Al gak lagi setersiksa dulu. " kata Zaskia sembari mendekap Bia.
" Aku tahu Kia. " ujar Bia.
" Apa kamu akan tetap tinggal disini, Bia ? " tanya Azalea.
" Anak-anak sepertinya lebih suka tinggal dirumah Mama. Apa gak apa-apa kami tinggal disana ? "
" Benarkah ? Apa Al,, baik-baik saja ? " tanya Azalea senang. Bagaimanapun rumah itu, rumah yang paling berkesan untuknya. Banyak kenangan manis maupun pahit disana. Dia merindukan rumah itu.
" Mas Al,, inshallah sudah bisa memaafkan masa lalunya Ma. Semalam kami tidur dikamar itu. "
" Serius Bia ?! Aahh,, Mama senang mendnegarnya Bia. Kamu tahu , rumah itu penuh dengan kenangan."
" Kenangan kebersamaan Mama dengan Papa ? " goda Zaskia.
" Iyalah Ki. "
" Apa Mama gak berniat menikah lagi ? " goda Zaskia.
" Mama sudah terlalu tua untuk merawat satu lelaki. Satu-satunya laki-laki yang Mama punya bahkan sudah sekeras kepala itu. Membuat Mama pusing. Kenapa susah-susah memikirkan satu laki-laki lagi hah. Tidak,, Mama gak mau. Ada kalian yang menemani Mama dimasa tua Mama. "
Suara deru mobil memasuki rumah mereka membuat Zaskia berdiri dan melihat ke bawah.
" Kak Al sudah pulang. " kata Zaskia.
" Syukurlah. Aku kita Mas Al akan mengingkari janjinya. Aku kebawah dulu Ma. Ki. " pamit Bia.
Azalea mendekap Zaskia,
" Mama bahagia melihat Kakakmu sekarang Ki. "
" Kia juga Ma. "
" Ayo kita bersiap. Sebentar lagi maghrib. "
*****
" Assalamualaikum Bundaaa,,, !!! " seru si kembar saat Al membuka pintu utama rumah.
" Waalaikumsalam. " jawab Bia sambil duduk berjongkok agar anak-anaknya bisa bergantian salim padanya.
" Seru gak tadi. "
" Seruuu Bunda. " jawab Faiz senang.
" Kantor Papa besaaaaarr Bunda. " puji Fawwaz.
Al dan Bia hanya terkekeh mendengar cerita keduanya yang merasa senang Al mengajak mereka ke kantor dan mampir ke mall untuk membeli beberapa baju untuk Bia dan beberapa mainan.
" Heeeemm,,, mainan lagi ? " sindir Bia pura-pura kesal.
" Kan yang ini kami belum punya. Iya kan Adek. " rayu Faiz.
" Iya Bun. Uang Papa masih banyak kok Bun. " celetuk Fawwaz. Spontan membuat Al dan Bia kembali tertawa.
" Ya sudha. Kalian bersiap dulu ya. Sebentar lagi maghrib. Panggil Tante Kia dan Oma juga nanti. "
" Baju-baju kami ada dikamar Mama Ara Bun. " jawab Faiz.
" Bunda dan Papa akan tidur diruang kerja Papa. Kalian bisa tidur di kamar Mama Ara, ada Oma yang menemani kalian. " sahut Al.
Bia terdiam sambil melihat Al yang hanya tersenyum padanya.
__ADS_1
" Siaaapp Papa. " jawab keduanya sambil berlalu menuju lantai atas.
" Mas,, adek,, lihat jalannya. " tegur Bia saat anak-anaknya naik ke tangga tanpa melihat jalan tapi fokus pada mainannya.
Al mendekap Bia, lalu memberikan beberapa kantong berisi baju. Bia menerimanya kemudian mengulurkan tangannya bermaksud untuk salim pada Al.
" Kenapa ? " tanya Bia heran saat Al terlihat terpaku melihat apa yang dilakukan Bia padanya.
" Apa kamu selalu melakukannya saat bersama Ghazzy dulu ? " tanya Al.
" Iya dong. Gak hanya sama Mas Ghazzy. Sama Mama dan Om Leon juga. Lalu, Kia jadi ikut-ikutan. Rutinitas yang harus dilestarikan. Apalagi sekarang ada anak-anak. Biar mereka bisa terbiasa melakukannya. Tanpa ada paksaan. "
" Clara gak pernah melakukannya. "
" Bukannya gak pernah melakukannya. Mungkin karena Mas selalu membentangkan jarak pada Kak Clara. "
Al terkekeh sejenak.
" Aku hanya belum terbiasa Bi. " ujarnya.
" Mas harus membiasakannya. Apalagi pada Mama. Ada doa yang akan mengiringi kemanapun Mas pergi."
Al mencium kening Bia.
" Kamu membawa warna di keluargaku Bi. "
" Dan kamu, menghapus warna itu. Ingat ya. Mas punya janji. " tegur Bia.
" Iya,, iya,, aku ingat. " seru Al sambil mengecup bibir Bia sekilas.
" Bisaaaa aja kalo modus. "
Al tertawa.
" Kenapa kita gak tidur dikamar Kak Clara ? "
" Aku gak terbiasa tidur disana. Lagipula ada Mama. Biar kamar itu ditempati Mama dan anak-anak. "
" Kalo gitu, aku juga tidur disana. " gurau Bia sambil berjalan lebih dulu.
Tapi Al segera menjajari langkahnya dan merenhkuhnya dalam dekapannya.
" Enak aja. Gak boleh. Anak-anak sudah lama tidur denganmu selama ini. Sekarang, giliran Papa yang tidur dengan Bunda. " bisik Al dengan meniup telinga Bia.
" Jangan macam-macam, Mas. Aku masih lelah. " ancam Bia.
" Aku hanya akan memelukmu dan menciummu. "
" Itu namanya macam-macam. Aku sangsi kalo kamu hanya berhenti disana. "
Al kembali tertawa mendnegar protes Bia.
" Tentu saja. "
Bia hanya mencibir mendengar jawaban Al.
" Kenapa membeli banyak baju ? "
" Supaya kamu gak melarikan diri lagi dengan alasan gak bawa baju. "
Bia tertawa merasa tersindir dengan kalimat Al.
" Memangnya yakin baju itu akan muat ? "
__ADS_1
" Tentu saja yakin. Aku udah pernah bilang, cintaku padamu terlalu akut. Aku punya ikatan batin denganmu. Aku wudhu dulu. " kata Al sembari masuk ke kamar mandi.
Bia tersenyum haru mendengarnya. Ada lima stel baju gamis. Lima pakaian rumahan. Dua mukena. Dan tiga lingerie. Bia geleng-geleng melihat isi kantong terakhir yang dibukanya.