Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 102


__ADS_3

Seperti biasa,, jam tiga pagi Bia terbangun. Dia meletakkan satu botol air mineral yang diberikan Ustadz Yahya disamping sajadahnya. Setelah sholat dia melanjutkan dengan mengaji surat Yassin sebanyak tiga kali. Dengan meniatkan salah satunya untuk kesembuhan Al.


Setelah itu, Bia beranjak menuju ruang kerja Al. Disana Al masih terlelap, tidak ada tanda dia akan terbangun. Bia mencampurkan sedikit air mineral pemberian Ustadz Yahya di air galon yang ada di ruang kerja Al. Lalu mencampurkan sisa airnya di kamar mandi.


" Cepatlah sadar, Mas. Aku kangen Mas Al. " bisik Bia dan mencium kening Al.


Sebenarnya Bia ingin berlama-lama dengan Al tapi rasa mualnya sudah tidak tertahankan lagi. Dia berlari menuju kamar mandi, setelah muntah. Bia menyempatkan menyiapkan baju kerja Al.


Azalea membawa air mineral pemberian Ustadz Yahya dikantor Al sebelum dia berangkat kerja. Dnegan bantuan Randy mencampurkannya di air galon yang ada di kantor Al. Setelah itu Azalea kembali pulang.


Bukan tanpa sebab Bia meminta tolong pada Azalea. Tapi Ustadz Yahya berpesan, kalau bisa Ibunda Al yang harus melakukannya agar pengaruh teluhnya lebih cepat hilang.


Sudah hampir dua Minggu Bia dan Azalea melakukan rutinitas itu. Meskipun Al masih belum sebucin dulu, tapi sikapnya pada Bia sudah mulai mencair. Bia sendiripun yang sebenarnya berusaha untuk menghindari Al karena aroma parfumnya membuat Bia mual.


" Bia, Mama harus ke kantor properti. Tidak bisa mencampurkan air pemberian Ustadz Yahya ke kantor Al. Bagaimana ini ? " kata Azalea panik.


" Ma,, gak apa-apa. Biar aku aja yang kesana nanti. "


" Mual kamu ? "


" Aku harap anakku bisa di ajak kompromi. " gurau Bia.


" Suruh Wimpi dan Randy menemanimu. "


" Iya Ma. Ya udah aku buatkan Mas Al jahe hangat dulu. Lalu ke kantornya. "


" Jahe ? "


" Tadi pagi sepertinya demam. Mungkin kecapean. "


" Issshh,, selalu saja seperti itu. Memforsir tenaganya. Kalo gitu Mama berangkat ya. Anak-anak biar ikut Tian mengantarkan Mama. Daripada sendirian dirumah. " kata Azalea.


" Iya. Terima kasih. Hati-hati dijalan. " ucap Bia sambil mencium punggung tangan Azalea.


Setelah memastikan anak-anaknya tidak rewel ikut Azalea dan Tian. Bia pergi ke dapur. Disana ada bik Amy yang tengah membuat bubur ayam.


" Heeemm wanginya. Aku jadi pengen Bik. " ujar Bia saat masuk ke dapur.


" Mau makan sekarang Non ? " tanya Bik Amy.


" Gak Bik. Nanti saja setelah mengantarkan makan siang untuk Mas Al. Tolong bungkuskan ya Biik. "


" Tumben Non. Baik saya bungkuskan dulu. "


" Mama lagi ada perlu. " jawab Bia.


" Tuan,, Al,, masih belum sadar Non ? " tanya Amy ragu.


" Inshaallah,sedikit lagi Bik. Doain ya Bik, "


" Pasti,, pasti Non. Saya ikut sedih lihat Non Bia jadi murung memikirkan Tuan Al. "

__ADS_1


Bia tersenyum haru mendengar perhatian dari Amy. Lalu membuatkan jahe hangat untuk Al dan menaruhnya di termos mini.


" Kak Wimpi dan Kak Randy dimana Bik ? "


" Sedang belanja keperluan dapur non. Apa Non Bia membutuhkan mereka ? "


" Kami sudah disini Non Bia. " kata Randy yang masuk dari pintu belakang.


" Alhamdulillah sudah pulang. Tolong antarkan aku ke kantor Mas Al Kak Randy. Kak Wimpi juga ikut aku ya." kata Bia senang.


" Baik Non. " jawab Bia.


" Ya sudah, kalo gitu aku ganti baju dulu. " pamit Bia.


" Tumben Non Bia yang ke kantor, Bik. Biasanya Nyonya besar. " tanya Randy sembari mengambil air mineral dingin di lemari es.


" Nyonya sedang pergi dengan Tuan Tian dan anak-anak. " jawab Amy.


" Memangnya Tuan Al masih marah pada Non Bia Bik ?" tanya Wimpi sembari duduk di kursi dapur.


" Kamu gak tahu Wimpi ? " tanya Amy heran.


" Gak tahu tentang apa ? "


" Tuan Al terkena teluh kiriman dari Leny. " jawab Amy pelan.


" Apa ?!! " seru Wimpi tidak percaya bahkan sampai berdiri saking kagetnya.


" Jadi,, sikap dingin Tuan Al semenjak pulang dari Singapura,,, "


Kalimat Wimpi menggantung saat Amy menganggukkan kepalanya.


" Leny mengunci pikiran dan hati Tuan Al supaaya terfokus padanya. Dan mengacuhkan semua orang di sekelilingnya. Terutama Non Bia. " jelas Amy.


" Pantesan aja sikap Tuan sangat dingin pada Non Bia. Kasihan Non Bia, pasti stres memikirkan Tuan Al. Padahal sedang hamil. " keluh Randy.


" Karena itu, kita harus bisa membantu Non Bia. Apapun yang dilakukan Non Bia dan Nyonya Lea untuk menyadarkan Tuan Al. "


" Jadi karena itu, Nyonya sering ke kantor Tuan Al kemarin-kemarin. "


Amy mengangguk lagi. Lalu melihat Wimpi yang terdiam.


" Kamu kenapa Wimpi ? Apa yang sedang kamu pikirkan ? " tanya Amy heran.


" Aku pernah punya teman yang memang membuka praktek jasa kirim teluh. Kalo gak salah ingat, kasus seperti Tuan Al ini memang berat resikonya. Karena teluhnya tidak terdeteksi langsung. "


" Resiko ? Memnagnya apa resiko yang harus ditnaggungnya ? " tanya Amy penasaran.


" Kalo gak gila ya,, bisa mandul pengirim teluhnya Bik." jawab Wimpi serius.


" Astaghfirullah,,, dimana otaknya si Leny itu. Sampai mau mengorbankan masa depannya. " keluh Amy sambil geleng-geleng.

__ADS_1


" Aku siapin mobilnya dulu. " pamit Randy.


" Wimpi, ini makanan dan minuman untuk Tuan Al. Tolong jaga Non Bia. Karena trimester kedua ini, Non Bia tidak suka berdekatan dengan Tuan Al. Aroma parfum Tuan Al membuatnya mual. "


" Iya Bik. Aku pergi dulu. "


" Hati-hati. "


Wimpi mengangguk mengerti.


 


Al memijat pelipisnya yang saat kepalanya terasa makin pusing. Wajahnya bahkan sudah pucat. Reiga sedang keluar untuk mengantarkan berkas ke salah satu klien perusahaan.


Al meletakkan penanya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Memejamkan matanya.


" Mas Al,, "


Al langsung membuka matanya, menatap sekeliling ruangannya. Tidak,, dia yakin mendengar suara Bia memanggilnya tadi. Al kembali menyandarkan tubuhnya. Mengeluarkan ponselnya, menatap foto Bia dan anak-anaknya.


Hati Al tiba-tiba merasa nyeri. Seolah sakit karena menahan rasa rindu yang teramaat sanagt. Seperti rindunya saat Bia masih berada di Surabaya. Al memghapus air matanya dengan heran.


" Kenapa ? Apa yang terjadi padaku ? Tiba-tiba aku sangat merindukan Bia. " gumam Al.


Dia kembali memejamkan matanya, mengingat kapan terakhir kalinya kebersamaannya dengan Bia. Dan air matanya semakin deras mengalir saat menyadari kemarahannya pada keputusan Bia pada Leny membuatnya semakin jauh dengan Bia dan anak-anaknya.


* Ya Allah,, apa yang telah aku perbuat ? Bi,, maafkan aku. Bi,, Bi,,, kenapa aku merasa sangat merindukanmu ? Sakitnya,, seperti saat kamu masih bersama Ghazzy. * batin Al.


" Pak Al,, anda baik-baik saja ? " tanya suara wanita didepan Al.


Al membuka matanya dan menghapus air matanya. Memasukkan ponselnya kedalam saku.


" Ada apa ? " tanya Al dingin.


" Ada berkas yang harus Pak Al tnda tangani. "


" Apa Reiga belum kembali ? "


" Belum Pak. Ini makan siang yang dikirim Pak Reiga. " kata wanita itu sambil meletakkan satu box makanan di meja Al.


" Tinggalkan saja berkas itu di meja. Kamu boleh keluar. " kata Al sembari berdiri hendak merebahkan tubuhnya di sofa.


Tapi kepalanya yang pusing membuatnya sempoyongan hingga hampir terjatuh. Wanita ituu mendekat dan mendekap tubuh Al untuk membantunya berjalan.


" Aku baik-baik saja. Keluarlah. " tegas Al.


" Tapi,, Pak. Badan anda panas sekali. Anda demam. " seru wanita itu malah dengan sengaja merapatkan tubuhnya dengan Al.


Al tidak sengaja menyenggol gelas yang ada di mejanya. Sampai gelas itu terjatuh dan pecah. Bersamaan dengan itu, pintu ruang kerjanya terbuka. Dan baik Al dan orang yang baru membuka pintu itu sama-sama terpaku. Kedua netra mereka seolah tengah melepaskan rindu tapi terhalang raga mereka.


" Apa aku mengganggu ? " tanya Bia dengan suara tercekat.

__ADS_1


Pemandangan didepannya mau tidak mau membuatnya teringat dengan apa yang dilakukan Al dan Clara di kantor Mall Expo dulu. Hatinya benar-benar nyeri melihatnya.


__ADS_2