Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 54


__ADS_3

Clara masuk ke dalam kamar Bia dengan tatapan bingung. Karena Bia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya pertanda untuk diam. Clara melihat kearah mata Bia. Lalu duduk disamping Bia.


" Mas Al baru tidur Kak. " bisik Bia.


" Dari semalam ? "


Bia mengangguk.


" Ngapain aja Bi ? Kamu gak istirahat ? "


" Aku tidur Kak. Aku gak tahu apa yang dilakukan Mas Al semalaman gak tidur. Setelah sholat shubuh dia tertidur disofa. "


Clara menatap Al dan Bia bergantian.


" Eehhmm,, kalian,, masih jamaah Bi ? " tanya Clara hati-hati.


" Iya Kak. Aku berani bersumpah Kak. Aku sudah menolaknya dan ingin berjamaah dengan Mas Ghazzy. Tapi dia tidak mau membantuku bangun dari ranjang. Malah,,, "


" Bi,, Bi,,, stop !! Aku mengerti Bi. " tegas Clara.


Hatinya terasa nyeri mendengar penjelasan Bia. Dia takut semakin tidak ikhlas melihat Al sedekat itu dnegan Bunda dari anak-anaknya.


" Tolong bantu aku Kak. "


" Kamu mau kemana ? " tanya Clara sembari memegang lengan Bia.


" Aku ingin berlatih berjalan Kak. Kata Om Leon, kakiku sudah bisa dibuat latihan berjalan. Tapi, Kak Clara tahu sendiri. Mas Al gak pernah membiarkanku melakukannya. " omel Bia.


Clara terkekeh tertahan, takut Al terbangun dari istirahatnya.


Bia berlatih berjalan mengitari kamar dengan bantuan Clara. Sampai tiga kali putaran, kakinya sudah mulai nyeri lagi.


" Aahh akhirnya,, aaawwwww,,, !!! " pekik Bia saat terlupa menghentakkan kakinya karena kegirangan.


" Biaa,,, kamu gak apa-apa ?! " seru Clara panik.


Bia berpegangan pada ranjangnya sembari menggigit bibir bawahnya menahan sakit.


" Apa yang terjadi ?!! " bentak Al yang terbangun karena pekikan Bia.


Bia dan Clara terlonjak kaget.


" Mas,, bikin kaget aja ! " seru Clara.


Bia mengangguk mengiyakan sambil memegang dadanya.


" Bangun-bangun bikin kaget orang saja. " omel Bia.


" Kamu juga kagetin orang lagi tidur aja. Teriak-teriak. " gerutu Al diantara wajah paniknya.


Bia dan Clara saling berpandangan kemudian tersenyum.


" Apa yang terjadi ? Kenapa teriak-teriak ? " tanya Al dengan nada suara sedikit melunak.


" Bia lupa kalo kakinya masih sakit. Main hentak aja kakinya tadi. " jelas Clara sambil terkekeh.


Tangan Al terulur menarik hidung Bia yang juga ikut terkekeh bersama Clara.


" Mas,, apaan sih. " seru Bia sambil mengusap hidungnya.


Clara menelan ludahnya getir. Kemudian tersenyum melihat keakraban Al pada Bia. Sangat berbeda pada dirinya.


" Assaalamualaikum. " sapa satu suara di balik pintu kamar Bia.


" Mami ,, Papi ,, " sapa Clara.


" Waalaikumsalam Tante Naya ,, Om Mark. " jawab Bia sembari menepis tangan Al yang memegang lengannya.


Terdengar Al mendengus kesal. Naya dan Mark mendekat ke arah Bia.


" Gimana keadaan kamu Bia ? " tanya Naya.


" Alhamdulillah sudah lebih baik Tante. "

__ADS_1


" Kenapa mereka mengapitmu ? " tanya Mark bingung karena Bia berdiri diantara Al dan Clara.


" Ehh iya. Mereka bantuin saya berlatih jalan Om. " jawab Bia sembari menggeser posisinya berdiri dengan menarik Clara agar lebih mendekat ke arah Al.


Di belakang tubuh Clara. Al mencengkram pergelangan tangan Bia. Hingga Bia tidak bisa bergeser lebih jauh. Berkali-kali Bia berontak tapi seperti biasa, hanya percuma.


" Kak Clara dan Mas Al kok gak salim dulu ke Tante dan Om sih. " gerutu Bia.


Al menoleh dengan tatapan tajamnya pada Bia. Itu berarti dia harus melepaskan tangan Bia. Dan Al makin kesal karena Bia tidak mempeedulikannya.


" Ahh Bi. Aku kaget Mami dan Papi ada disini. Sampai lupa. Maaf Mi, Pi. " seru Clara sambil maju untuk mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Begitupun Al yang dengan terpaksa melepaskan tangan Bia dan melakukan hal yang sama pada mertuanya.


Bia tersenyum dan menggeser posisinya lebih jauh dari Al. Dia hendak maju untuk melakukan hal yang sama. Tapi Naya lebih dulu meraihnya kedalam pelukannya.


" Sebenarnya ada yang ingin Tante bicarakan Bia. " bisik Naya.


Bia melihat ke arah Clara dan Al bergantian. Bagaimana menemuka cara agar mereka mau pergi bersama-sama.


" Bisakah meminta Om Mark menyuruh Kak Clara dan Mas Al mencari sarapan dulu Tante. " usul Bia.


Naya mengangguk sembari melepaskan pelukannya.


" Pi, bisakah menemani Clara dan Al mencari sarapan ? Sepertinya mereka belum makan. " kata Naya pada Mark.


" Benarkah. Ayo kita sarapan. Papi tahu tempat paling enak disekitar rumah sakit ini. " jawab Mark antusias.


" Papi juga belum sarapan ? " tanya Clara heran.


" Sudah. Tapi disana ada bubur ayam yang enak. Hahah "


" Bungkusin juga buat Mami Pi. Apa kamu mau Bia ? "


" Ehhhmm,, aku juga bosen makanan rumah sakit Om. Boleh minta bungkusin. " gurau Bia


" Tentu saja Bia. Mau apa lagi ? Apa mau nasi bebek atau es oyen mungkin. " goda Mark.


" Heemmm,, Om Mark bikin Bia ngiler Om. "


" Mami mau apa ? " tanya Clara.


" Mami masih kenyang Clara. "


" Jangan tanya Mami kamu, pasti gak mau apa-apa. Tapi langsung bawain aja. " celetuk Mark.


" Bener Om. "


" Baiklah kami pergi dulu. " seru Mark sembari menggandeng Clara dan menepuk pundak Al yang masih menatap Bia dengan tidak rela.


" Tenang saja. Biar Bia aku yang jaga. " sahut Naya.


Bia terkekeh untuk menutupi rasa tidak enaknya pada Naya. Bia sengaja tidak melihat ke arah mata Al sekalipun. Dia tahu Al tnegah menatapnya sedari tadi.


" Bia,, kamu,, "


" Tolong kursi rodanya Tante. "


Naya mendekatkan kursi roda ke arah Bia dan membantu Bia untuk duduk disana.


" Terima kasih Tante. " ucap Bia tulus.


Naya duduk di kursi didekat Bia. Kemudian menggenggam tangan Bia.


" Aku tahu ada sesuatu Bia. "


" Maksud Tante ? "


" Clara,, aku tahu pasti ada yang sedang dia sembunyikan dari kami. Aku merasakan kegalauannya. Tapi aku terlalu takut untuk bertanya padanya Bia. Clara paling tidak suka kalo ada orang yang ikut campur. Karena itu aku ingin bertanya padamu Bia. "


Bia terdiam. Bingung bagaimana menjelaskannya. Entah harus jujur atau berbohong.


" Apa yang membuat Tante berfikir seperti itu ? "


" Clara tidak seperti dulu. Yang selalu uring-uringan kalo kemauannya tidak terpenuhi. Semalam dia menginap dirumah. Tante menanyakan keberadaan Al dan dia bilang, Al bergantian dengan keluarganya menunggui kamu yang kecelakaan.

__ADS_1


Tante lihat dia lebih sering melamun. Meskipun dia sekarang lebih tenang. Dia selalu memegang gelang. Kata Clara, itu pemberian darimu Bia. "


Bia tersenyum geli. Dia pikir Tante Naya akan menanyakan tentang hubungannya dengan Al dan keluarga ini. Ternyata Tante Naya sedang bingung dengan perubahan Clara.


" Kak Clara punya cara sendiri untuk mengurangi galaunya Tante. " kata Bia sembari tersenyum.


" Maksud kamu Bia ? "


" Dulu, aku pernah mengajak Kak Clara ikut kajian disekitar rumah Mas Al Tante. Dan isi kajian itu sepetinya tertanam dipikiran Kak Clara. "


" Memangnya apa isi kajian itu Bia. "


" Dzikir Tante. Tawakkal. Menyerahkan semua kegalauannya pada Allah. Dengan Dzikir . Dan gelang itu sebenarnya tasbih Tante. Cuman aku modif sedikit biar bisa seperti gelang. "


" Allahuakbar !! Masyallahu anakku. Anakku menjadi sesholehah itu sekarang Bia ? "


" Kak Clara, terinsipirasi sama Tante Naya. Ingin sesholeha Tante. Karena itu, Kak Clara semakin berubah. Bukannya perubahan Kak Clara ini menjadi lebih baik Tante ? "


" Iya. Iya Bia. Terima kasih Bia. "


" Kok saya ? "


" Karena kamu juga pasti ikut andil dengan perubahan Clara. "


" Aku saja kalah sekarang dengan Kak Clara Tante. "


Naya tertawa mendengar gurauan Bia.


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. " jawab Naya dan Bia bersamaan.


Naya menoleh. Ada Ghazzy yang masuk ke kamar Bia.


" Kenalkan Tante Naya. Ini Mas Ghazzy. Suami saya. By,, ini Maminya Kak Clara. "


" Ghazyy. "


" Naya. "


" Kalian,, kecelakaan berdua ? " tanya Naya bingung. Apalagi melihat perban dikepala Ghazyy masih belum dilepaskan.


" Berempat Tante. Sama anak-anak saya. Mungkin mereka masih tidur. " jawab Ghazzy.


" Kenapa tidak ditempatkan disatu kamar saja ? "


" Om Leon tidak memperbolehkan Tante. Kata Om Leon kami ini pasien, bukannya pengantin baru. " gurau Bia


Naya tertawa mendengarnya. Ghazzy mengusap kepala Bia dengan lembut.


" Lalu,, kenapa dikepalamu ada perbannya ? Apa lukamu serius ? "


" Kemarin sempat ada darah beku di otak Tante. Tapi, Alhamdulillah sudah diambil. "


" Alhamdulillah. Lalu, bagaimana dengan anak-anak kalian ? "


" Alhamdulillh juga sudah lebih baik tante. Hanya tinggal memarnya saja. " jawab Bia.


Naya mengeluarkan ponselnya karena Clara telah mengirim pesan. Mark menyuruhnya untuk menyusul mereka ke restoran dimana mereka sekarnag berada.


" Ada apa Tante ? "


" Apa tidak apa-apa Tante tinggal Bia ? Papinya Clara minta Tante utnuk menyusul kesana. "


" Oh iya Tante. Silahkan. Lagipula sudah ada suami saya. " jawab Bia.


" Maafkan Tnate Bia. "


" Terima kasih sudah menjenguk kami disini Tante. " ucap Ghazzy.


" Semoga kalian cepet sembuh. Assalamualaikum. "


" Aamiinn. Walaaikumsalam. "

__ADS_1


__ADS_2