
Leon sudah mempersiapkan semuanya untuk petunangannya. Orang tua Gita meminta agar jarak antara pertunangan dan pernikahan tidak terlalu jauh. Dan, Leon menyanggupinya, bahkan dia bersedia menikah dengan Gita satu bulan lagi. Keinginannya untuk menikah sudah tidak bisa ditunda lagi.
Sudah dua hari berlalu dari acara pertunangan Leon. Al dan Clara masih belum pulang ke Kalimantan. Ghazzy sudah mulai bekerja di mall Expo. Dia kasihan pada Devan yang terlalu lama menghandle mall Expo.
Al tersenyum saat melihat Bia sedang ketiduran dikamar anak-anaknya setelah menemani mereka bermain. Biasanya memang dia yang akan mengajak anak-anaknya bermain. Tapi, tadi Reiga menelpon dan meminta rapat virtual secara mendadak.
Al mengusap kepala Faiz dan Fawwaz yang tertidur dan mencium kening mereka. Matanya beralih menatap Bia yang ketiduran dengan posisi duduk. Dia terkekeh sejenak. Kemudian mencium kening Bia lama. dia snagat merindukan kebersamaannya dengan Bia.
Sejak keluar dari rumah sakit, dia selalu menyibukkan diir dengan anak-anak dan juga Ghazzy. Terkesan menghindarinya.
" Mas Al,, " seru Bia kaget sembari mendorong tubuh Al menjauh.
Tapi Al malah menggendong Bia sambil tersenyum. Tentu saja membuat Bia sedikit takut.
" Astaghfirullah. Mas,, turunin Mas. "
" Aku kangen kamu Bi. "
" Kamu ngomong apa sih Mas. Udah turunkan aku. "
" Istirahatlah. Kamu kecapean. "
" Iya. Tapi turunkan aku dulu. "
" Aku akan membawamu ke kamar. "
" Jangan ngawur kamu Mas. Udah turunkan aku sekarang juga. " geram Bia.
Dia melihat jam dinding di kamar anak-anaknya. Sebentar lagi Ghazzy akan pulang untuk makan siang. Dia takut Gahzzy akan salah faham kalo melihat mereka tengah dalam posisi seperti ini.
" Setelah kamu janji kalo kita akan ngobrol. "
" Iya ! " seru Bia kesal.
Tapi Al bukannya menurunkannya malah membawanya keluar kamar anak-anak dan mendudukkan Bia di kursi di balkon.
" Kita ngobrol disini. " ujar Al dan duduk di depan Bia . Mensejajarkna tubuhnya dengan lutut Bia. Dan menggenggam tanganya.
" Iya. Tapi gak usah seperti ini. "
" Bi, aku kangen kamu. "
" Gak usah modus deh. Udah lepasin. " omel Bia sembari berusaha menepis tangan Al.
" Kenapa kamu menghindariku Bi ? "
Alis Bia berkerut.
" Menghindari bagaimana ? "
" Kamu selalu pergi kalo aku ingin ngobrol denganmu. Setiap hari kamu hanya memperdulikan Gahzzy dan anak-anak. "
" Ya Allah Mas. Mas Ghazzy itu suamiku. "
" Aku juga suamimu Bi. "
__ADS_1
" Mas Al. " tegas Bia sembari berdiri. Hingga genggaman Al terlepas.
" Aku gak pernah mengucapkan talak padamu Bi. Kalian yang memutuskan pernikahan kita. "
" Sudah Mas. "
" Kapan ? " tanya Al bingung.
* Kapan ?? Apa saat aku mabuk ? *
" Sebelum kita akad nikah. Mas ingat kan, kalo pernikaham kontrak kita hanya sampai Kia sembuh, atau hnaya sampai enam bulan. "
" Iya. " jawab Al ragu
" Itu kalimat talak Mas. Talak mudhaf. Talak masa depan. Talak berdasarkan batas waktu. "
" Itu sebabnya kamu menyetujui pernikahan ini. "
" Bukannya Mas Al juga menginginkan pernikahan itu juga cepat berakhir ? "
" Aku salah Bi. Menikahlah denganku Bi. "
" Istighfar, Mas. Aku sudha menikah. Dan Mas juga sudah ada Kak Clara."
" Aku mencintaimu Bi. "
" Lupakan tentang cinta itu. Jangan egois lagi. Bertanggung jawablah pada hidupmu Mas. Bertanggung jawablah pada keluargamu. Jangan terlalu fokus pada masa lalumu dan mengabaikan masa depanmu. Mau berapa lama lagi kamu menyakiti keluargamu Mas ? Mau berapa lama lagi kamu menyakiti Mama, Kia dan Kak Clara ? "
" Kamu tahu sendiri itu karena kesalahan mereka. Mereka menyembunyikan faktanya dariku. "
" Mau sampai kapan kamu menghukum mereka ? "
" Sampai aku benar-benar bisa memaafkan mereka. "
" Jadi, kita gak ada lagi yang harus dibicarakan kan."
Al mencengkram pergelangan tangan Bia yang hendak pergi.
" Apa maksudmu ? "
" Kalo Mas ingin menghukum orang yang sudah menyembunyikan fakta tentang anak-anak. Harusnya Mas lakukan itu padaku. Karena aku yang memintanya. Mereka gak mau aku terlalu stres mikirin kenekatan kamu. Jadi, sekarang Mas hanya harus menghukumku. Acuhkan aku seperti Mas mengacuhkan keluarga Mas. "
Bia berusaha menepis tangan Al yang masih mencengkram tangannya.
" Kamu tahu aku gak bisa Bi. "
" Kamu bisa melakukannya pada ornag yang sudah melahirkan kamu Mas. Pasti akan sangat mudah melakukannya padaku. "
" Itu artinya aku menyakiti diriku sendiri. "
" Lalu gimana dengan Mama ? Kia ? Dan juga Kak Clara ? Kamu pikir sikapmu gak menyakiti mereka ? " hardik Bia kesal.
" Kenapa kamu berubah Bi ? Sikapmu gak seperti saat dirumah sakit. "
* Tentu saja karena aku takut Mas akan berubah pikiran untuk membantu Fawwaz, Mas. * batin Bia.
__ADS_1
" Karena aku kesal dnegan sikapmu pada Kia dan Kak Clara. Terlebih Mama. Mereka orang-orang yang menyayangimu. Mereka keluarga kamu. Mereka tanggung jawab kamu Mas. "
Al mendekat ke arah Bia dan mengecup bibir Bia sekilas. Tentu saja membuat Bia terpaku. Spontanitas Al selalu saja membuatnya jantungan.
" Apa kamu juga termasuk orang-orang yang menyayangiku ? " bisiknya di telinga Bia.
Bia memdorong tubuh Al dan hendak berlalu pergi karena kesal. tapi Al menariknya dan merapatkan tubuh Bia ke tembok. Dan mengunci tubuh Bia dnegan tubuhnya. Bia berkali-kali mencoba melepaskan diri dari tubuh Al tapi gagal.
" Mas Al,, lepasin. " ujarnya kesal.
" Aku hanya ingin melihatmu lebih dekat. Aku beneran kangen kamu Bi. Sejak keluar rumah sakit, aku hampir gak bisa menemui kamu. "
" Mas, lepasin ! Kak Clara atau Mas Ghazzy bisa salah faham dnegan kita. "
" Biarkan saja mereka salah faham. Biar mereka tahu kalo aku sangat mencintai kamu Bi. "
" Mencintai bukan berarti harus memaksakan kan. " tegas Bia sembari berusha mendorong tubuh Al agar menjauh.
" Al,, !! Lepaskan Bia !! " seru Azalea.
Ada takut dan marah melihat sikap Al sekarang. Al menoleh, ada Azalea, Zaskia dan juga Clara yang menatapnya tajam. Lalu Al ? Seperti biasa masih tidak memperdulikan protes orang-orang disekitarnya.
" Lepaskan istriku !!! " seru Ghazzy sembari menarik tubuh Al sampai terjerembab menabrak pagar balkon.
" By,, " panggil Bia sembari mendekap lengan Ghazzy yang terlihat emosi.
Bukan tindakan apa yang akan dilakukan Ghazzy pada Al yang membuat Bia takut. Tapi, lebih takut Gahzzy akan salah faham dengan posisi dia dan Al tadi.
" Kita sudah sepakat Ghazzy !! " geram Al marah.
" Sepakat ?? " tanya semua wanita yang berada disana bersamaan dengan bingung.
" Yaahh,, kita memang telah sepakat untuk itu. Silahkan,, silahkan kamu langitkan harapanmu untuk bersama Bia. Tapi jangan lupa ada doa dari Clara yang juga mengharapkan hal yang sama denganmu. Ada doa aku dan Bia yang juga menginginkan hal yang sama denganmu. Aku gak akan melarangnya. "
" Tapi,, camkan satu hal !! Bia masih istriku, jangan pernah sentuh Bia lagi !! " bentak Ghazzy tegas.
Al menendang kursi balkon sampai terbalik. Kemudian beranjak pergi ke kamarnya. Bia langsung memeluk Ghazzy agar lebih tenang.
" Maafkan aku By. " bisiknya lirih.
" Aku mengerti sayang. " jawabnya.
" Apa maksud perkataan kamu tadi Ghazzy ? " tanya Azalea bingung.
" Aku mengatakan kalo Clara mendoakan sakinah mawadda waarahmah dalam pernikahannya. Dan Al bilang ingin melakukan hal yang sama untuk Bia. Karena itu aku bilang, silahkan saja. Doa siapa yang akan terjawab. "
" Sampai segitunya Mas Al padamu Bia. Apa aku bisa mempertahankan pernikahanku ? " keluh Clara.
" Posisikan dirimu sebagai teman atau sahabatnya dulu Clara. Setelah jarak diantara kalian semakin terkikis. Baru kamu bisa menempatkan posisimu sebagai istrinya. Aku tahu akan sangat sulit. Mungkin hanya itu yang bisa aku katakan. "
Clara nampak berfikir hingga Zaskia mendekapnya untuk meyakinkannya. Azalea pun nampak mengangguk.
" Aku akan mencobanya. " kata Clara.
" Tidak disini. Tapi di Kalimantan. kalian harus pulang agar dia lepas dari bayang-bayang Bia. " kata Azalea.
__ADS_1