Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 129


__ADS_3

Bia menyempatkan sholat dhuha saat Al mandi. Setelah itu kembali menggunakan stelan kerjanya. Untung aja waktu itu, stelan kerja baru yang dibelikan Azalea belum sempat dibawa pulang oleh Bia. Jadi bisa digunakan saat ini. Karena bajunya sudah kusut.


Al memeluk Bia dari belakang setelah memakai baju stelan kerjanya.


" Jangan terlalu merah. Aku gak mau kamu terlihat cantik di depan Alex. " bisiknya di telinga Bia.


Bulu kuduk Bia meremang. Dia menjauhkan kepalanya dari Al yang tengah memeluknya posesif.


" Jangan seperti itu Mas. " gerutu Bia.


" Memangnya kenapa ? Mau lagi ? " goda Al sambil mengerlingkan sebelah matanya.


" Isshh,,, apaan sih. Mesum aja. " sahut Bia.


" Memangnya kenapa ? Aku mesum pada istriku sendiri. " guraunya.


" Mau mesum sama wanita itu ? Aku pastikan kamu gak akan menemukanku dirumah lagi. " ancam Bia kesal.


Al merapatkan pelukannya.


" Kamu sudah berjanji gak akan meninggalkanku Bi. " desisnya.


" Kamu juga udah janji akan mengacuhkan wanita itu." sahutnya.


" Aku senang melihatmu secemburu ini Bi. " ujar Al sambil meniup telinga Bia.


Bia menepis pelukan Al.


" Hentikan Mas. Aku gak selesai-selesai. "


" Sudah aku bilang jangan merah-merah. "


" Ini gak seberapa merah. Biasanya juga pakai ini dan kamu gak pernah protes, lihat saja wanita itu, dia memakai lipstik semerah itu tapi kamu biasa aja. " omel Bia sembari hendak beranjak keluar kamar Al.


Tapi Al menariknya dan langsung menciumnya. Seolah ingin menghapus lipstik yang ada di bibir Bia.


Bia mendnegus kesal sembari mengusap bibirnya dan Al hanya menertawakannya. Ciumannya terlepas karena ada yang mengetuk pintu kantornya.


Bia mendekat ke arah pintu dan membukanya. Ada Wimpi disana. Sedang tersenyum melihat Bia yang sudah berganti kostum. Berbeda dengan saat berangkat kerja tadi.


" Ada apa Kak ? " tanya Bia keki.


" Pak Alex dan Pak Ary sudah datang. Mereka sedang menuju ke ruang meeting Non Bia. " kata Wimpi melaporkan.


" Baiklah. Terima kasih Kak. " jawab Bia.


" Non Bia, ,, Itu,, !! " seru Wimpi saat melihat Al yang tengah memindai sebuah cincin akik.


" Maksud Kak Wimpi ? " tanya Bia pelan.


" Cincin itu bertuah Non. Aura negatifnya sangat terasa. Kenapa Tuan Al memiliki cincin seperti itu ?! " seru Wimpi kaget dan menjadi gelisah.


* Kalo cincin itu masih ada di tangan Tuan Al, sampai kapanpun aku gak bisa membersihkan Tuan Al dari pengaruh wanita itu. * batin Wimpi gelisah.


Ini pertama kalinya Bia melihat Wimpi sekaget dan segelisah itu. Bia memandang Al yang masih memindai cincin itu.


" Aku akan mencoba menanyakannya nanti Kak Wimpi." kata Bia menenangkan.


" Kalo bisa,, cincin itu harus dijauhkan dari Tuan Al Non Bia. Baik aku ataupun Ustadz Yahya gak akan bisa berbuat banyak kalo cincin itu masih ada di tnagan Tuan Al. "


" Aku mengerti Kak. Aku akan mencobanya nanti. Aku harus segera menemui Pak Alex dan Pak Ary di ruang meeting. "


" Ahhh,, maafkan saya Non Bia. " pinta Wimpi tidak enak.


Bia tersneyum kemudian masuk ke ruangan Al lagi.


" Pak Al,, kita sudah ditunggu Pak Alex dan Pak Ary di ruang meeting. " kata Bia sambil mencuri pandang ke arah cincin itu.


" Bagus gak Bi ? Apa aku pantas memakainya ? " tanya Al smebari menunjukkan pada Bia yang sedari tadi diam-diam melihat cincin itu.


" Jelek. Gak pantas. " jawab Bia singkat.


Lalu melangkah menuju meja kerjanya. Membereskan berkas yang akan dibawanya ke ruang meeting. Al meletakkan cincin itu di atas meja dan menjajari langkah Bia.


" Kenapa ? Marah ? Apa aku salah lagi ? " tanyanya beruntun karena gelisah.


" Tidak apa-apa. Silahkan Pak Al. " kata Bia seraya minggir untuk mempersilahkan Al berjalan lebih dulu.


Al melangkah maju dan merapatkan tubuhhya pada Bia yang semakin mundur.


" Apa yang sedang Pak Al lakukan ? " tanya Bia bingung.


Tubuhnya sudah mentok di meja kerjanya. Tapi Al masih mendekatinya.


" Jawab dulu pertanyaanku. " tegasnya.


" Nanti saja. Sekarang kita harus profesional. " tegas Bia.


" Kamu mau aku mengurungmu dikamar ?! " ancam Al smabil menarik dagu Bia hingga dia mendongak dan melihat Al.


Bia menggelengkan kepalanya.


" Jawab aku dulu. Persetan dnegan profesional yang kamu maksud. " geram Al kesal.


Bia menghela nafas panjang.


" Aku gak suka melihat semua yang mengingatkan kamu pada wanita itu. Kalo Mas mau aku jujur, aku cemburu, aku sakit hati. Kamu membiarkan wanita itu bermanja-manja dneganmu. Membiarkan wanita itu menggandeng lenganmu, menyandarkan kepalanya di bahumu. Aku gak mau mengingatnya lagi. Terserah Mas Al mau gimana menyelesaikan masalahmu dnegan wanita itu. " omel Bia sambil mendorong Al agar mundur dan melepaskannya. Lalu beranjak ke ruangan meeting tanpa menunggu Al.


Al tertawa geli melihat Bia yang sewot karena cemburu. Dia ikut pergi menuju ruang meeting setelah menyimpan cincin itu di laci mejanya.


Bia mendorong tubuh Al berkali-kali agar menjauh darinya. Sejak keluar dari kantornya, dia sengaja berusaha mendekap Bia. Apalagi saat di lift, dia malah dengan sengaja kembali memeluk Bia dari belakang.


" Mas,, jangan begini. Nanti ada yang lihat. " keluh Bia.

__ADS_1


" Memangnya kenapa kalo ada yang lihat, toh aku melakukannya dengan istriku sendiri. Salah mereka sendiri yang sudah melupakan kamu. " sahutnya sembari sengaja mencium telinga dan pipi Bia.


" Mas,, issshhh. Mentang-mentang Mama gak ikut ke kantor kamu gak bisa profesional seperti ini ya. " omel Bia.


" Aku seperti ini bukan karena Mama. Aku ingin menunjukkan pada karyawan dan staf disini. Kamu milikku, jangan berani-beraninya menggodamu. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada Rico nanti. " ancam Al kesal.


Bia melepaskan tangan dan pelukan Al saat pintu lift terbuka.


" Jangan aneh-aneh. " tegur Bia sambil sedikit menjauh.


Saat Al kembali mendekat dan ingin mendekap Bia. Bia memberikan jarak saat mereka sedang berada di depan ruang meeting.


" Aku gak aneh-aneh. Apa salahnya aku mendekap istriku. " kata Al sambil mengusap kepala Bia sebelum masuk ke ruang meeting.


" Maaf, kami terlambat. " kata Al.


Alex dan Ary berdiri sejenak untuk bersalaaman dnegan Al. Senyum diwajah Alex langsung terkembang saat melihat Bia yang yang terlihat elegan memakai stelan kerja berwarna mocca.


Wajaah Alex yang menjadi sesumringah itu saat bertemu Bia terbaca jelas di mata Al. Rahangnya mengeras, tatapannya tajam terarah pada Bia yang terlihat keki didepan Al.


" Woowww,, Bia. Kamu terlihat semakin cantik dengan stelan kerjamu hari ini. Kita bahkan memakai warna yang sama hari ini. Eehhmm.. Maksudku sama dengan dasiku. Hahaha. " puji Alex.


Ary menghela nafas. Tidak biasanya Alex bersikap seperti ini. Apa ingin memanasi Al atau Memang dia telah jatuh cinta pada Bia ? Pikir Ary.


Bia hanya tersenyuum menanggapi pujian Alex. Tangan Al mengepal menahan cemburunya dibawah mejanya. Bia menggenggam tangan itu dibawah sana. Membuat Al menoleh padanya. Bia tersenyum berusaha menenangkan.


" Bisa kita mulai sekarang Pak Alex ? " tanya Bia.


" Silahkan Bia. Aku suka caramu presentasi. " jawab Alex tanpa perduli kecemburuan Al.


Bia kembali mempresentasikan program kerja Al. Sedikit lebih keki karena disana ada Al yang tengah menatapnya. Tidak hanya Al tapi juga Alex.


Al menatap Alex penuh intimidasi pada Alex. Karena dia banyak bertnaya pada Bia saat dia sedang presentasi. Terlihat jelas Alex tengah berusaha menarik perhatian Bia. Al tahu siapa Alex, dan bagaiamna sikapnya kalo sedang menyukai seseorang. Seperti sekarang, sedang ditunjukkannya pada Al. Kalo dia menyukai Bia.


Dua jam berlalu, rapat selesai setelah mencapai kesepakatan bersama.


" Wahhh,, Bia. Kita juga memiliki satu kesamaan lagi. Jam tangan kita sama. Kita kayak sepasang couple. " kata Alex saat dia dan Bia bersalaman.


Al menepis tangan Alex agar melepaskan tnagan istrinya. Seperti biasa hanya dijawab dengan tawa oleh Alex.


 


Al berjalan lebih dulu, dan menutup pintu kantornya dnegan keras. Seolah sebagai pertanda dia sedang marah. Bia hanya geleng-geleng melihat Al saat ini.


" Ada apa Non Bia ? " tanya Wimpi heran.


Padahal waktu berangkat tadi sesumringah itu.


" Seperti biasa Kak Wimpi. " jawab Bia sambil mendengus kesal.


" Cemburu ? " tebak Wimpi sambil terkekeh.


Bia mengangguk sambil ikut terkekeh.


Wimpi mengangguk mempersilahkan.


Bia duduk di meja kerjanya. Sedikit menatap Al yang tengah menatapnya dengan tangan bersedekap di dadanya. Dari semula yang berdiri lalu duduk di atas meja kerjanya menatap Bia intens. Hatinya semakin dongkol melihat Bia tidak memperdulikan kemarahannya. Malah sibuk dnegan laptopnya.


Al mendekat dan mencengkram lengn kanan Bia yang memakai jam tnagan. Memindai sejenak jam tangan itu. Lalu mendnegus kesal.


" Lepaskan jam tanganmu. " seru Al.


" Kenapa ? " tanya Bia bingung.


" Aku bilang lepas ya lepas Bi. " jawab Al sambil mengguncangkan lengan Bia. Hingga otomatis tidak bisa mengerjakan pekerjaaannya.


" Pak ,, anda mengganggu pekerjaaan saya. " geram Bia pelan.


Al menutup laptop Bia dan menariknya agar berdiri ke arah mejanya dan mendudukkannya di kursinya. Al sendiri duduk didepannya tapi diatas meja.


" Kamu,, duduk disini. Dan lepaskan jam tnagan itu. "


" Iya, tapi kenapa ? Jangan bilang hanya karena perkataan Pak Alex ? " tebak Bia.


" Aku gak mau kamu memakai sesuatu yang sama dengan laki-laki lain. Lepaskan jam itu. Aku akan membelikannya lagi dnegan seri couple untuk kita. " kata Al sambil tersenyum simpul.


Bia hanya tercengang. Ini benar-benar hnya karena jam tnagan ? Ckkk,, Mas Al kalo udah bucin,, memang


Resek.


" Aku gak mau. " jawab Bia sambil beranjak dari kursinya.


" Bi,, aku gak mau dengar jawaban itu. Kamu yang lepasin atau aku lepasin paksa. " hardiknya.


" Pak Al,, ini bukan waktunya berdebat. Ini waktunya kerja. " tegas Bia kesal.


" Aku gak akan bisa konsentrasi kalo kamu gak lepasin jam tangan itu. Apa susahnya sih menuruti kemauan suami." serunya.


Bia mendengus kesal.


" Aku cemburu Bi. Aku gak mau kamu couple dengan laki-laki lain. Terutama itu, Alex !! " hardiknya.


" Memangnya Pak Al pikir pabriknya hanya mengeluarkan satu produk saja ?! " sahut Bia sambil kembali ke mejanya.


Bia teringat dengan cincin yang dimaksud Wimpi tadi.


* Jam tangan dari Bu Adiba belum aku berikan ke Mas Al. Aku membeli jam tangan ini agar bisa couple dengan jam tangan pemberian Bu Adiba. Apa lebih baik aku barter dengan cincin itu saja. Agar Mas Al gak curiga ? * batin Bia.


" Lepasin Bi. Sebelum aku makin marah dan melepaskannya dnegan paksa ! " seru Al marah.


Seruan Al membuat Bia tersadar dari lamunannya. Kemudian melihat Al sejenak, lalu mengambil satu paper bag kecil didalam tasnya. Dan memberikannya pada Al.


Alis Al berkerut saat Bia memberikannya sebuah paper bag, bukannya menuruti kemauannya utnuk melepaskan jam tangan itu.

__ADS_1


" Apa ini ? " tanya Al heran.


" Gak mau ? Sini kembalikan. "


Al menjauhkan paper bag itu dari tangan Bia. Lalu membuka isinya. Senyumnya langsung merekah, kalo tidka teringat dengan cincin itu Bia pasti sudah menertawakan ekpresi Al kali ini. Dia seperti anak kecil yang dikasi mainan baru.


" Aku mau barter. " kata Bia.


" Barter apa ? " tanya Al dengan masih memindai jam tangan itu tanpa melihat Bia.


" Aku mau cincin pemberian wanita itu. Aku akan membuangnya. " jawab Bia.


" Sayang Bi. Kan cincinnya bagus. " jawab Al tanpa sadar.


Bia merebut jam tangan itu dari tangan Al dnegan cepat sebelum Al tersadar dan merebutnya kembali. Kemudian kembali duduk ke mejanya.


" Apa yang kamu lakukan ? Kenapa mengambilnya lagi ? " tanya Al tidak terima.


" Kamu lebih sayang dengan cincin pemberian wanita itu kan ? Ya sudah pake itu aja. Aku mau melanjutkan pekerjaanku. " tegas Bia kesal. Dan langsung membuka laptopnya lagi.


Al beranjak pergi dari meja Bia, mengambil kotak cincin pemberian Sesil di lacinya. Lalu meletakkannya di atas laptop Bia.


" Mana ? Kembalikan jam tanganku. " kata Al.


Bia tersenyum menang. Kemudian meletakkan jam tangan itu diatas telapak tangan Al yang terulur didepannya.


Tampak dimata Bia, Al dengan tersenyum senang melepaskan jam tangan yang dipakenya dan memakai jam tangan pemberian Bia.


Bia berdiri dan membantu Al merapikan kembali lengan baju kemeja Al. Tentu sjaa Al langsung mendekapnya dan merapatkan tubuh Bia dalam dekapannya.


" Pak Al,, " tegur Bia.


" Terima kasih Bi. Kenapa kamu gak memberikannya kemarin-kemarin. Aku gak perlu sekesal dan secemburu ini pada Alex. " gurau Al.


Bia menarik hidung Al dengan gemas. Lalu melepaskan dekapan Al.


" Itu karena Pak Al terlalu sibuk dengan wanita pemilik cincin itu. " gerutu Bia.


Al malah terkekeh. Dan mengecupi bibir Bia saking senangnya.


" Segera buang cincinnya. Aku gak mau melihatmu mendiamkan aku lagi ke depannya. Aku juga akan segera menyelesaikan masalahku. Maafkan aku Bi. " kata Al meyakinkan.


Bia menahan wajah Al yang sudah kembali mendekat padanya.


" Sudah hentikan. Sudah cukup untuk hari ini. Selesaikan pekerjaanmu Mas. " tegur Bia.


" Ini yang terakhir. Setelah ini aku akan menyelesaikan pekerjaanku. "


" Beneran ? "


Al mengangguk pasti. Bia melepaskan tnagannya. Hingga Al bisa dengan puas menciumnya. Al mengusap bibir Bia yang menjadi candunya.


" Aku lanjutin dirumah nanti. " goda Al sembari berlalu ke mejanya.


Bia menggelengkan kepalanya. Dia kembali memindai cincin yang dimaksud Bia. Tidak ada yang istimewa, tapi entahlah. Tiba-tiba saja terlintas wajah Sesil dipikirannya. Bia menggelengkan kepalanya dnegan cepat. Lalu beranjak ke pintu kantor Al.


" Mau kemana ? Kamu bilang aku harus menyelesaikan pekerjaanku ? Kenapa sekarang kamu mau pergi Bi ? " tanya Al seraya berdiri.


" Apaan sih Pak Al ini. Aku cuma mau meminta Kak Wimpi untuk segera membuang cincin ini. " jawabnya.


Al tertawa lucu.


" Baiklah. Jangan lama-lama. Segera kembali ke mejamu. "


" Iya. "


Bia membiarkan pintu kantor Al tetap terbuka. Lalu ke meja kerja Wimpi. Meletakkan kotak cincin itu dimeja Wimpi.


" Cincin itu seperti cincin biasa Kka Wimpi. Memegang cincin itu, aku malah teringat dengan wanita itu terus. Kak Wimpi buang sajalah cincin itu. "


" Cincin ini ada sepasang Non Bia. "


" Benarkah ? "


Wimpi berdiri dan memegang cincin itu. Lalu mengangguk. Kemudian tersenyum simpul.


" Satu pasang cincin pengasihan Non. Pasanganya tentu Non Bia bisa menebaknya siapa yang memegangnya. " jelas Wimpi.


" Wanita itu ? "


Wimpi kembali mengangguk.


" Karena itu, tiba-tiba terbayang wajahnya tadi. "


" Kalo saja Non Bia bisa melihat aura yang keluar dari cincin ini Non. "


" Memangnya kenapa ? " tanya Bia heran.


" Seluruh ruangan ini menjadi merah Non. Speerti memakai lampu berwarna merah. "


Bia tercenngang mendnegarnya.


" Robiatul Adawiyah. Kembali ke mejamu. selesaikan pekerjaanmu !!! " hardik Al kesal karena Bia tidak kunjung selesai berbicara dengan Wimpi.


" Iyaaa. " jawabnya.


" Aku sudah memintanya pada Al. Terserah Kak Wimpi mau diapakan cincin itu. Aku kembali ke mejaku Kak. "


" Baik Non. " jawab Wimpi.


Bia menutuup pintu kantor Al dan duduk di mejanya lagi. Berdecak kesal karena melihat Al yang malah tertawa. Dia pikir Al akan memarahinya.


" Mood boosterku sudah kembali. Aku bisa semangat lagi. " gurau Al smabil mengerlingkan matanya pada Bia.

__ADS_1


__ADS_2