
" Maafkan suami saya Bu Lea. " pinta Naya tidak enak hati.
" Kami yang harusnya minta maaf. Kami terlalu egois selama ini. " jawab Azalea sambil tersenyum.
Al masih mengusap kepala Bia dan menciumi tangnnya saat Al telah merebahkan tubuh Bia di sofa ruang tamu.
" Bangun, Bi. Jangan buat aku panik. " bisik Al sambil mencium kening Bia.
" Olesi hidungnya dengan minyak ini Al. " kata Gita.
Al mengambil minyak itu dari tnagan Gita. Dan mengikuti semua insturksi Gita. Tidak berapa lama kemudian, Bia nampak tersadar. Bia mengulurkan tangannya pada Al. Seolah meminta untuk membantunya untuk duduk.
" Kamu yakin , Bi ? " tanya Al memastikan.
Bia mengangguk sambil tersenyum. Al membantu Bia bangun dan duduk bersandar di sofa kursi.
" Bundaaa,,, " panggil Faiz dan Fawwaz sembari menghambur ke pelukan Bia.
Semuanya tersenyum melihat kekhawatiran si kembar berakhir saat melihat Bia bangun.
" Bunda, jangan sakit lagi. Mas gak mau kehilangan Bunda. " ujar Faiz sambil mengusap air mata Bia yang terharu karena ucapannya.
" Bunda,, Opa jahat Bunda. Udah memukul Papa dan membuat Bunda pingsan. Adek gak mau disini Bunda. Ayo kita pulang saja Bun. " keluh Fawwaz sambil mulai terisak.
" Sssttt,,, kok ngomongnya gitu sih Dek. "
" Tapi yang Adek bilang bemar Bun. " jawab Faiz kesal.
" Eehh,, gak dong. Papa dan Bunda punya salah sama Opa dan Oma. Dan kami belum sempat minta maaf. Karena itu Opa dan Oma jadi marah. "
Faiz dan Fawwaz saling bertatapan. Kemudian memindai mata Bia dan Mark bergantian.
Mark menunduk menyembunyikan rasa bersalahnya. Bahkan air matanya sudah mengembun di matanya. Naya menggenggam tangan Mark penuh haru.
" Bener Bun ? Bukan karena Opa jahat ? " tanya Faiz memastikan.
" Mas Faiz ,, Adek Fawwaz,, menurut Mas dan Adek. Mama Ara baik gak ? "
" Baik banget Bun. " jawab keduanya bersamaan.
Bia tersenyum simpul. Al mengusap kepala Bia sambil tersenyum. Bia sellau bisa meredakan emosinya dan sekarang anak-anak.
" Kalo Mama Ara baik banget. Masa orang tua Mama Ara jahat ? "
" Eehhmm,, mereka Papa dan Mamanya Mama Ara, Bun ? " tanya Faiz kaget.
" Iya, Mas. Gak mau kenalan ? "
Faiz dan Fawwaz terdiam. Seperti masih enggan untuk berbicara dengan orang tua Clara. Bia mengedipkan matanya pada Al kemudian menunjuk ke arah orang tua Clara dengan dagunya.
Azalea dan Zaskia nampak cemas karena si kembar masih bersikap antipati pada orang tua Clara. Dan keduanya tahu, sikap mereka akan sepeeti itu sampai orang tua Clara yang di mata mereka bersalah mau minta maaf pada Al dan Bia.
" Mas dan Adek,, mau menemani Papa dan Bunda minta maaf sama Opa dan Oma ? " tanya Bia.
Senyum langung terkembang di bibir Azalea, Zaskia dan Leon. Begitupun dnegan Gita yang nampak masih mempelajari kepribadian kelaurga barunya.
__ADS_1
" Eeehhmmm,,, Mas mau Bun. "
" Setelah itu, kita ke makam Mama Ara ya Bun ? " tnaya Fawwaz.
" Nanti minta ijin Oma dan Opa ya. Kalo boleh, minta antar Opa kesananya. "
Si kembar mengangguk takzim. Kemudian menggandeng tangan Bia di kanan dan kirinya. Al tersenyum. Lalu mendekat ke arah Mark dan Naya yang tengah duduk didepan mereka.
Bersimpuh di depan kedua orang tua Clara. Lalu menarik tangan Mark.
" Maafkan aku Pa. Aku terlalu pengecut untuk melakukan apa yang Papa bilang. Aku ,, belum menjadi suami yang baik saat Clara masih hidup. Aku harap Papa bersedia dnegan ikhlas memaafkan aku. Aku sadar telah melukai Clara. Maafkan Al Pa. " pinta Al sambil mencium telapak tangan Mark takzim.
Mark menepuk bahu Al berkali-kali.
" Maafkan Papa, Al. Aku terlalu emosi. " jawab Mark tidak enak hati.
Al tersenyum dan memeluk Mark sekilas. Diliriknya si kembar yang nampak tersenyum lega melihat keakraban mereka. Al melepaskan pelukannya, dan menggeser posisinya untuk minta maaf pada Naya.
" Maafkan Al Ma. " ucap Al sembari melkaukan hal yang sama seperti pada Mark.
" Terima kasih sudah memberikan satu keluarga untuk Clara Al. " ucap Naya saat memeluk Al.
Al mengerutkan keningnya bingung. Memberikan satu keluarga ? Maksud Mama Naya apa ya. Pikir Al.
Bia berjalan dengan lututnya dan mendekat ke arah Mark dengan ragu.
" Om,,, Ma,,, afkan ,,, "
Belum juga sempat Bia melanjutkan kalimatnya. Mark sudah memeluk Bia. Mengusap kepala Bia yang terbungkus hijab. Lidah Bia menjadi kelu seketika. Tidak bisa berucap lagi. Faktanya tidak semenakutkan yang ada dipikirannya.
" I know everything Bia. It's okay. Clara sudah menceritakan semuanya. " bisik Mark saat melepaskan pelukan Bia.
Bia masih belum bisa menebak maksud Mark. Sudah ditarik Naya dalam pelukannya. Bahkan dia memciumi kening dan kedua pipi Bia.
" Tante,, " panggil Bia bingung.
Azalea dan Zaskia tidak kalah bingung melihatnya. Bagaimana bisa ? Ada Leny disini, bukannya sudah menularkan kesalahfahamnnya oada orang tua Clara ?
" Terima kasih Bia. Telah menjadi adik untuk Clara. Terima kasih sudah menjadikan Clara sesholeha dirimu." ucap Naya.
" Tante terllau berlebihan. Aku tidak melakukan apapun Tante. " tegas Bia diantara kebingungannya.
" Bunda,,, " panggil Faiz bingung. Tanpa mengalihkan matanya dari Mark.
Karena matanya dan mata Mark nampak tengah saling beradu pandang. Tapi tidak setajam tadi sorot mata Faiz.
Bia merangkul kedua anaknya dengan berada di antara mereka.
" Mas Faiz,, Adek Fawwaz,,, ini Opa Mark. Papanya Mama Ara. Salim dulu, Mas. " kenal Bia.
Fawwaz terlebih dulu salim pada Mark dan tangan Mark terulur mengusap rambut Fawwaz.
" Opa Mark,, Mas Faiz minta maaf karena tadi udah bentak Opa. " kata Faiz sambil mencium talapak tangan Mark.
" Maafkan Opa karena udah memukul Papamu. " jawab Mark.
__ADS_1
" Oke Opa ! " seru Faiz sambil tertawa.
Tawa Faiz tentu saja menular pada yang lainnya. Semuanya ikut tertawa mendengar tawa Faiz. Bia menggeser si kembar menuju Naya.
" Ini,, Oma Naya. Mamanya, Mama Ara. "
Keduanya langsung bersalaman.
" Mereka sekilas mirip dengan Ghazzy, Bia. Tapi saat aku melihat hidung dan mata mereka. Aku melihat Al disana. " puji Naya.
Bia tersenyum getir.
" Tapi, kami bukan anak hasil perselingkuhan Oma. " celetuk Faiz.
Semuanya saling berpandangan. Tidak menyangka Faiz masih mengingat apa yang didengarnya. Al dan Bia menelan ludah getir.
" Kalo Oma Naya tidak percaya. Tanya saja Opa Leon dan Oma Gita. Mereka yang membantu Bunda dulu. Iya kan Opa Leon,, Oma Gita,, ??! " jelas Faiz meyakinkan.
Karena melihat Naya dan Mark malah terdiam mendnegar penjelasannya.
Leon dan Gita yang mendengarnya hanya mengangguk keki. Smeuanya jadi menegang.
" Faiz, Fawwaz. Opa Mark, punya hadiah untuk kalian. Sebentar Opa ambilkan. " kata Mark sembari masuk ke ruang kerjanya. Ingin mencairkan suasana yang makin tegang.
" Duduklah Bia. " kata Naya sambil menarik lengan Bia dan membantunya berdiri. Dan mendudukkannya di sebelahnya.
" Ini untuk Faiz. Dan ini untuk Fawwaz. " kata Mark saat keluar dari ruang kerjanya dan memberikan satu buah mobil remot pada Faiz dan satu lagi untuk Fawwaz.
" Wuuuaahhh,, keren Opa. " seru keduanya senang.
" Makasinya ? " tegur Bia.
" Terima kasih Opa Mark. " ujar Faiz lalu mencium tnagan Mark.
" Terima masih Opa Mark. " sahut Fawwaz mencontoh Faiz.
" Bunda,, boleh bermain ? " tanya Faiz.
" Tunggu setelah kita ke makam Mama Ara ya ? "
" Oh iya, lupa. " sahut Faiz.
Faiz memberikan hadiahnya pada Bia. Kemudian kembali memdekat pada Mark dan Naya.
" Opa Mark,, Oma Naya,, apa kami boleh ke makam Mama Ara ? " tanay Faiz.
" Tentu saja sayang. Ayo Opa antarkan kesana. " kata Mark sambil menggandeng tangan Faiz dan Fawwaz dengan senang.
" Honey tampak sangat bahagia Bia. Terima kasih. " ucap Naya.
" Sudah seharusnya Tante. " kata Bia sambil menoleh pada Al. Berharap Al mau berjalan bersmaanya.
Azalea melihat mata Bia yang tertuju pada Al. Dia maju mendekat ke arah Naya. Dan menggamit lengan Naya agar mau berjalan beriringan bersamanya. Bia tersenyum penuh terima kasih. Al mendekap bahu Bia.
" Sudah lebih baik ? " bsiiknya.
__ADS_1
Bia mendongak menatap Al. Kemudian memgangguk. Faktanya memang tidak semenakutkan pikiramnya. Entah darimana Mark dan Naya bisa sedemikian menegerti dengan situasi mereka saat ini.