
" Reiga,, !!! " seru Azalea saat melihat Reiga juga hendak keluar dari bandara.
Reiga tampak tersentak melihat keluarga bosnya berada di Kalimantan.
" Nyonya besar. " sapa Reiga sambil menganggukkan kepalanya pada Tian dan Zaskia. Lalu Bia yang tengah menggendong Faiz yang masih tertidur. sedangkan Fawwaz berada di gendongan Wimpi.
" Dimana Al ? "
" Tuan,,, "
Reiga tampak bingung harus menjawab apa.
" Katakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi. " tegas Zaskia kesal karena Reiga tidak juga menjawab.
" Seharusnya Tuan memang masih ada di Korsel Nyonya. Tapi, tadi pagi Tuan Mark menelpon kalo Bu Clara saat ini sedang kritis lagi. Jadi,, Tuan Al sudah kembali tadi pagi. "
" Lagi ? Apa maksudnya dnegan lagi ? " tanya Bia bingung.
" Sudah tiga hari ini selalu drop Non Bia. "
" Sakit apa ?! Di rumah sakit mana ? "
" Sel tumor dirahim Bu Clara tumbuh lagi Nyonya. "
" Apa ?!!! "
Bia terhuyung ke belaknag. Untung ada Wimpi yang menopangnya.
" Non Bia, baik-baik saja ? " bisiknya.
" Iya Kak. Terima kasih. " jawabnya.
" Antarkan kami sekarnag juga !! "
" Baik Nyonya. "
Mereka semua masuk ke mobil yang disiapkan perusahaan utnuk menjemput Al. Tidak ada satupun yang bicara didalam mobil. Semua tengah mengkhawatirkan keadaan Clara. Dan berbagai pertanyaan kenapa Al tidak memberitahu keluarganya.
Bia memperlambat langkahnya diikuti Wimpi yang berada di belakangnya, hingga membuat Wimpi bingung. Dia melihat kemana arah mata Bia. Lalu tersenyum saat Bia melihat Al di sana. Tengah duduk didepan ruang ICU. Sendirian.
Mata Bia sudah mengembun. Melihat wajah lelah Al. Kantung mata menghitam, jambangnya sudah bertumbuhan. Rambutnya yang sudah agak panjang. Membuat wajah itu terlihat semakin sadis. Siapapun yang melihatnya pasti mengira Al seorang preman sekarang.
" Al,, gimana dengan kondisi Clara ? " Tanya Azalea.
Al langsung berdiri dengan kaget saat mendengar suara Azalea. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Azalea. Matanya langsung mencari keberadaan orang yang selama ini dirindukannya. Orang yang membuat hatinya selalu tersiksa dengan rasa rindunya.
Kedua pasang mata itu bertemu, air mata Bia menetes begitu saja saat menatap Al yang juga tengah menatapnya sendu. Perasaan berslaah Bia membuatnya tidak mampu menatap mata itu terlalu lama.
Azalea dan Zaskia memandang keduanya sedih.
" Tolong jangan siksa Kak Al lagi Kak Bia. " bisik Zaskia ditelinga Bia yang masih menunduk.
Ingin rasanya Al merengkuh Bia dalam pelukannya. Saat melihat Bia tiba-tiba menangis. Al ingin mencari vitamin booster terbaik yang hanya mampu dirasakan saat bersama Bia. Al menunduk saat mendengar suara Mark dan Naya menyapa Azalea.
" Bu Lea,, Kia,, kalian semua ada disini ? " sapa Naya sembari memeluk Azalea.
" Maafkan kami. Karena baru sempat datang. "
" Tidak apa-apa. "
" Bagaimana kondisi Clara sekarang ? "
" Masih belum keluar dari masa kritisnya. " jawab Naya sedih.
Tatapan Naya beralih pada Bia. Teringat pembicaraannya dengan Clara beberapa hari yang lalu. Sebelum Clara semakin drop.
FLASBACK ON
" Mi, Pi,, Al sudah menikah dengan Bia. " kata Clara saat orang tuanya datang untuk menemaninya dirumah.
Sel tumor itu tumbuh lagi di sekitar rahimnya. Karena itu sudah dua bulan Clara menjalani rawat jalan untuk melakukan kemoterapi.
" Apa maksud kamu Clara ? " tanya Naya bingung.
" Aku mengijinkan Al menikahi Bia. "
" Iya, tapi kenapa ? Kamu masih hidup Clara. Kamu pasti sembuh. " tegas Mark.
" Pi,, cobalah menempatkan posisi Papi ditempat Al. Siapapun pasti menginginkan seorang anak Pi. Aku,, jangankan anak. Aku bahkan belum bisa memberikan haknya sebagai seorang istri.
Mami dan Papi jangan lupa kalo aku gak sempurna lagi sebagai wanita. "
" Itu gak menjadi alasan untuk Al menikah lagi Clara. Ini gak adil. " protes Naya.
" Akan lebih gak adil untuk Al Mi. Tanyakan pada Papi, berapa lama Papi akan bertahan dengan wanita sepetiku. Pasti Papi akan mencari pelampiasan kan Pi. Tapi, Al masih menghormatiku sebagai istrinya. Dia bersabar dengan kondisiku. Aku gak seegois itu Mi. "
" Sejak kapan mereka menikah ? " tanya Mark pelan.
Mencoba mengerti posisi anaknya. Dan apa yang dikatakan Clara memang benar. Mark merasa menjadi orang munafik kalo membantahnya. Syukurlah, Al bukan laki-laki sepetti itu.
" Lima bulan yang lalu. " jawab Clara.
Alis Mark berkerut. Bukannya masih ada Gahzzy ?
__ADS_1
" Bukannya masih ada Ghazzy ? Apa mereka,, " kalimat Mark menggantung saat melihat Clara menggeleng cepat.
" Gahzzy meminta Al untuk menikahi Bia sebagai permintaan terakhirnya. "
" Kenapa sampai bagitu ? Pasti ada sesuatu diantara mereka. " tebak Naya kesal.
" Tidak ada yang terjadi Mi. Anggaplah ini sebagai jalan takdir Allah untuk kami. "
" Karena itu, Bia merubahmu sepetti ini ? Lalu akhirnya merebut suamimu ??! "
" Mami,, ! Gak ada yang direbut Mi. Dan aku bahagia dengan perubahan ini. Bia mengajariku banyak hal Mi. Terutama tentnag berbakti pada Mami dan Papi. Bukankah kalian juga bahagia dengan perubahanku ?!" tegas Clara kesal.
" Ini terlalu cepat Clara. Cobalah pahami Mami kamu."
" Ini sudah terjadi Mi. Aku harap Mami dan Papi gak menyalahkan siapapun. Ini murni keputusanku. "
" Ini akan menyakitimu Clara. Pasti Bia menyuruh Al segera menceraikan kamu nantinya. " keluh Naya melunak.
" Justru Bia meminta mahar pada Al dengan satu janjii. "
" Janji ? Janji apa ? " tanya Mark heran.
" Al gak boleh menceraikanku seperti apapun keadaanku nantinya. "
Naya menutuup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Tidak menyanhka permintaan Bia seperti itu.
" Aku tahu Bia wanita yang baik. " puji Mark sambil mengusap kepala Clara yang terbungkus hijab.
" Aku mohon Mami mengerti. " pinta Clara sembari menggenggam tangamnya.
" Karena itu, kamu gak memberitahu keluarga Al tentang komdisimu sekarang ? "
" Mereka baru saja berduka karena kepergian Ghazzy. Aku takut semakin menambah beban mereka nantinya."
Naya mengusap pipi kanan Clara yang tengah tersenyum.
" Bagaimana perasaan kamu sekarang ? Apa kamu baik-baik saja ? Bagaimana kalo nanti Bia datang menjengukmu. Apa hatimu akan baik-baik saja ? "
" Aku baik-baik saja Mi. Aku sudah menganggap Bia sebagai adikku sendiri. Dan rasanya memang lebih mengikhlaskan. karena aku tahu, Bia wanita yang baik. Dan yang terpenting aku sudah mengenalnya Mi."
" Kamu juga sudah menjadi lebih baik Clara. " puji Mark.
" Kalo wanita yang akan dinikahi Al bukan Bia. Aku yakin , dia sudah menyuruh Al untuk menceraikan aku Mi. Pi. Karena itu, aku lebih ikhlas Bia yang menjadi penggantiku. "
" Kamu pasti sembuh, Clara. "
" Mi, Pi,, kalo aku pergi nanti. Bisakah menganggap Bia juga penggantiku sebagai anak kalian ? "
" Kamu pasti sembuh ! " tegas Naya sambil memeluk Clara.
" Kalo aku nanti sudah pergi. Bisakah memakamkan aku di Singapura ? Dirumah Papi. "
FLASBACK OFFF.
" Bia,, kamu disini ?!! Kemarilah. " seru Mark sembari menarik Bia untuk lebih dekat.
" Biar aku yang gendong Faiz Bia. " tawar Tian.
" Terima kasih. " ucapnya tulus.
Rahang Al mengeras. Tangannya sudah terkepal melihat keakraban Tian dan Bia. Zaskia menggeleng gemas. Mark tersenyum melihat ekpresi Al. Akhirnya dia tahu kenapa Clara lebih memilih Bia utnuk Al. Aura kecemburuan sangat kentara di mata Al.
Bia mencium telapak tangan Mark dan Naya bergantian. Bahkan Naya langsung memeluk Bia dan menangis dipelukannya.
" Masuk dulu honey. Gak enak dilihat orang. " kata Mark.
Naya mendekap Bia dan menariknya untuk masuk ke ruangan Clara.
Al hendak meraih Faiz yang berada digendongan Tian. Tapi dia sudah bersin-bersin. Al mengurungkan niatnya untuk mendekati anak-anaknya.
" Bawa anak-anak ke taman. Nanti tertular. " kata Al kepada Wimpi dan Reiga.
" Kamu disini aja Wimpi. Biar aku dan Reiga yang membawa anak-anak. " kata Tian.
" Iya. " jawab Wimpi sambil memberikan Fawwaz ke Reiga.
" Bos,, istirahatlah. Sepertinya Bos sakit. "
" Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. " jawabnya tanpa melihat Tian.
Tian terkekeh melihat sikap Al yang terlalu pencemburru.
" Kenapa bisa seperti ini Tante ? Sejak kapan Kak Clara sakit ? "
" Sudha hampir dua bulan Bia. Dia maunya rawat jalan. Tidak mau melakukan pengobatan ke Singapura lagi. "
" Dua bulan ? Kenapa Al tidak memberi tahu kami ? " tanya Azalea kesal.
" Ini permintaan Clara Bu Lea. Dia tidak mau keluarga Al tahu tentang sakitnya. Karena takut akan membebani kalian. " jelas Naya.
" Sampai tubuhnya benar-benar drop tiga hari yang lalu. " keluh Mark.
" Bia,, "
__ADS_1
Bia menoleh pada Naya yang tengah menggenggam tangannya.
" Aku sudah mendnegarnya dari Clara. Aku juga ikut bahagia kalo Al menjadikanmu istrinya. Kami menyayangimu seperti kami menyayangi Clara. "
" Maksud Tante Naya ? " tanya Bia bingung.
Hatinya berdetak cepat. Takut Naya dan Mark akan salah faham nantinya. Takut dia akan dianggap ornag ketiga dalam rumah tangga Clara dan Al.
" Clara ingin , kamu dan Al hidup bahagia. Membangun satu keluarga yang utuh. " jelas Mark.
Bia menunduk kembali merasa bersalah.
" Ini,, maaf,, bisakah gak membahas tentnag ini sekarnag ? " pinta Bia tak enak hati.
" Kami sudah menganggapmu sebagai putri kami Bia. Kami harap kamu jangan terlalu merasa bersalah pada kami. Kami akan senang kalo kamu juga menganggap kami sebagai orang tuamu. " jelas Mark.
" Setidaknya,, kami memiliki kamu sebagai pengganti Clara Bia. " kata Naya menambahkan.
Lidah Bia kelu tidak bisa berucap lagi. Azalea dan Zaskia bahkan sudah menangis mendengar pengakuan orang tua Clara. Dan mereka bukannya keberatan malah sangat mendukung keputusan Gahzzy.
" Aku tahu Clara menunggumu Bia. " ujar Naya sembari sesenggukan.
Bia tersentak. Spontan dia masuk ke kamar Clara. Melihat kondisinya yang sudah kritis. Bia menangis di samping Clara. Sambil menggenggam tangannya.
" Bangun Kak. Ini gak adil. Kenapa gak memberitahuku ? " kata Bia sedih.
Bia mencium telapak tangan Clara. Lalu berdiri mencium kening Clara.
" Bi,, a,, "
Bia menoleh ke arah datangnya suara. Naya dan Mark tersenyum senang. Dan Mark langsung memanggil dokter untuk memeriksa Clara.
" Ini gak adil Kak. Kenapa gak memberitahuku ? "
Clara tersenyum. Bia menggeser posisinya utnuk memberikan tempat ke dokter itu memeriksa Clara.
Al melihat dokter ituu memeriksa Clara. Hatinya trenyuh melihat Bia kembali menangis. Al sudah tidak perduli lagi, kalo orang-orang disini akan memarhinya. Dia ingin menuruti kata hatinya. Dia ingin berada di dekat Bia.
Al mendekat, dia menggenggam tangan Bia. Membuat Bia menoleh. Tangan Al yang hangat membuat Bia mengernyitkan alisnya.
* Apa Mas Al sakit ? kenapa tnaganya terasa hangat?*
Ingin rasanya Bia emnyentuh kening Al untuk memastikannya. Tapi diurungkannya.
" Perbanyaklah berdoa. "
" Apa maksud dokter ? Anakku baru saja sadar dokter. Dia bangun. " protes Naya.
" Aku ingin mengaji disini. " kata Bia.
Permintaan Bia membuat Naya tersadar. Allah lebih menyayangi anaknya.
" Ayo Bia. Tante akan menemanimu. " kata Naya.
Bia melepaskan tnagan Al lalu menyentuh kening Al sejenak. Menyentuh pipi Al.
" Kamu demam Mas. " bisiknya.
" Obatku ada disini. " bisik Al pelan sembari berpindah posisi setelah mengusap air mata Bia sejenak.
Tangan Bia yang menyentuh kening dan pipinya membuat lelahnya sedikit berkurang.
Mereka semua mulai mengaji. Mark berada di samping Clara dan juga Naya. Satu tangan menggenggam tangan Clara. Tangn yang lain menggenggam tabgan Naya.
Ttttiiiiiiiitttttt,,,
Alat perekam denyut jantung itu berdengung kencang. Pertanda jantung si empunya sudah tidak befungsi lagi.
" Nyonya Clara meninggal. Waktu kematiamnya pukul 01.45 WIT. " kata dokter itu.
Naya tergeletak lemas didekapan Bia. Mark tidak snaggup menggendong Naya. Dia juga masih shock karena Clara sudah meninggal.
Al sibuk membantu menenangkan Mark. Zaskia menelpon Reiga dan Tian untuk datang membantu.
" Kami akan segera membawa jenazah Clara ke Singapura. " kata Mark saat sudah sedikit lebih tenang.
" Singapura Pa ? " tanay Al bibgung.
" Clara minta dimakamkan di Singapura Al. " jawab Naya.
" Aku akan meminta Reiga menyiapkan pesawat pribadiku. "
" Aku ikut Al. Aku akan menemanimu disnaa. " kata Azalea.
" Bia, " panggil Naya seolah ingin mengetahui keputusan Bia.
" Aku gak bisa ikut Tante. Bagaimana anak-anaak nantinya. " jawabnya sedih.
" Anggaplah aku mewakili Bia Bu Naya. "
" Terima kasih Bu Lea. Aku snagat menghargainya.
" Kia,, pulanglah. Bawa anak-anak kerumahku. "
" Gak Kak. Aku akan pulang ke rumah Nenek. "
__ADS_1
" Terserah kamu saja. "
Al langsung meminta Reiga mengurus keperluan keberangkatan jenazah Clara ke Singapura. Sedangkan Tian membawa Bia dan si kembar kerumah Neneknya. Rumah yang sama yang digunakan untuk mempersiapkan pernikaham Leon.