Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 68


__ADS_3

Al menunggui Bia dikamarnya. Tangannya menggenggam tangan Bia dengan khawatir. Sesekali menciumi telapak tangannya. Setelah warga membawa jenazah Ghazzy menuju ke pemakaman terdekat. Bia langsung pingsan.


Tentu saja Al yang baru kembali dari makam kaget saat Zaskia memberi tahu Bia pingsan dan berada di kamarnya. Setelah mencuci kedua tnagan dan kakinya Al segera menemui Bia yang sedang ditemani Bik Amy.


" Permisi Tuan. " pamit Amy.


" Terima kasih Bik Amy. " ucap Al tulus.


Bik Amy hanya mengangguk sambil tersenyum. Ada kebahgaiaan tersendiri karena bisa melihat Al akhirnya menikah dengan Bia. Meskipun dengan duka yang dalam dari Bia karena meninggalnya Gahzzy.


" Bangun Bi. Jangan buat aku khawatir. " bisik Al di telinga Bia lalu mencium kening Bia.


Bia mengerjapkan matanya dan mendorong tubuh Al menjauh.


" Mas,, apa yang kamu lakukan ? Gimana kalo ada yang melihat kita ? Mereka bisa salah faham Mas. " omel Bia sambil langsung terduduk.


Terlalu banyak menangis dan kurang istirahat tentu saja membuat Bia pusing. Dia memegang kepalanya yang nyut-nyutan.


" Pusing ? Kenapa bangun ? Rebahan saja. " kata Al lalu mendekati Bia. Untuk kembali membantunya rebahan.


" Mas,, jangan seperti ini. Aku baru saja kehilangan suamiku. Apa kata orang nanti ?! "


" Bi,, sadarlah. Aku suamimu sekarang. Apa kamu lupa ?! " hardik Al kesal karena Bia terus mendorong tubuhnya agar menjauh.


Bia seketika terdiam. Tidak berontak lagi. Dia lupa kalo kemarin Al sudah menikahinya atas permintaan Ghazzy. Dia hanya menunduk.


Al mengusap kepala Bia yang tertutup jilbab. Mengangkat wajahnya agar bisa mengusap air matanya.


" Lihatlah,, kantung matamu sampai menghitam seperti ini. Istirahatlah dulu. "


" Aku akan menemani anak-anak, Mas. "


" Anak-anak sedang bermain dengan Randy dan Wimpi. Istirahat Bi !! " hardik Al lagi.


" Aku gak ngantuk Mas. Aduhh,,, " seru Bia sambil memegang kepalanya karena cenuut-cenutnya semakin terasa.


" Pusing kan ? Udahlah. Jangan keras kepala !! " bentak Al kesal.


" Kenapa bentak-bentak sih. " gerutu Bia sambil kembali menunduk.


Al menghela nafas panjang. Kemudian menyandarkan tubuhnya diranjang, disamping Bia. Lalu memaksa Bia merebahkan kepalanya dibahunya.


" Istirahatlah sebentar. Aku akan membangunkanmu saat makan siang nanti. "


Keduanya terdiam cukup lama. Al mengira Bia sudah tidur. Karena melihat mata Bia terpejam.


" Aku gak tahu apa aku harus bahagia dengan sikon ini Bi. Aku bahagia, akhirny aku bisa menikahimu lagi. Tapi, bukan dengan kepergian Gahzzy. " gumamnya lirih.


" Aku perlu waktu Mas. "


Al mencium telapak tangan Bia yang sedari tadi digenggamnya.


" Kamu belum tidur ? "


" Belum. Beri aku waktu Mas. "


" Waktu ? Waktu untuk apa ? "


" Ini masih masa Iddah ku Mas. Harusnya aku belum boleh bertemu dengan laki-laki. "


" Tapi, kita sudah menikah. "


" Pernikahan itu terpaksa, Mas bisa mencerai,,, "


" Bi,, pernikahan kita sah !! Dan aku gak akan pernah menceraikan kamu lagi. Aku gak akan melakukan kesalahan yang sama. "


Bia kembali terdiam. Dia menyadari kesalahannya. Pernikahan kemarin sah secara agama. Meskipun dia yakin Al belum mendaftarkan pernikahan mereka.


" Harus sampai kapan aku menunggu lagi Bi ? Apa dua tahun belum bisa meyakinkan kamu kalo aku mencintaimu Bi. "


" Mas,, pembicaraan kita tempo hari,, aku harap Mas penuhi janji itu. "


" Aku gak pernah menjanjikan apapun. " tegas Al.


" Mas !!! " seru Bia kesal sambil menarik tanganya.


Al menatap Bia tajam.


" Aku mencintaimu Bi. Aku harus bagaimana lagi agar kamu percaya dengan perasaanku ? "


Bia menunduk, mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan Al.


" Lihat aku Bi. "


Bia menggeleng pelan.


" Sampai Mas mau berjanji padaku. "


" Aku akan membereskan barang-barangmu. " kata Al seraya berdiri.


" Untuk apa ? " tanya Bia bingung.


" Ikut aku ke Kalimantan. Kita jelaskan pada Clara. Dia akan mengerti. "

__ADS_1


" Mas,,, !!! " hardik Bia hingga membuat cenut-cenutt di kepalanya semakin terasa.


"Kita pulang ke Kalimantan ! " tegas Al sambil bangkit dari ranjang menuju lemari Bia.


Bia ikut-ikut berdiri menjajari setiap langkah Al dan berusaha menghentikan Al yang mencari-cari koper Bia dan ingin memasukkan baju-bajunya.


" Mas,, hentikan. Aku gak mau pergi. " serunya.


Tapi Al tidak juga mau berhenti. Bia sudah lelah berjalan kesana kemari untuk menjajari langkah Al.


Akhirnya dia memberanikan diri memeluk Al dari belakang agar Al mau berhenti melakukan aktifitasnya. Dan, memang berhasil. Al berhenti saat Bia memeluknya dari belakang.


" Hentikan Mas. Aku benar-benar butuh waktu. "


Al menghela nafas panjang. Tidak menyangka Bia akan memeluknya sepeti ini.


" Untuk apa lagi Bi ? " tanya Al sambil menghadap ke tubuh Bia. Dan memaksanya mendongak dengan kedua tangannya berada di kedua pipi Bia.


" Setidaknya sampai selesai masa iddahku Mas. "


" Berapa lama ? "


" Seratus hari. "


Al melepaskan kedua tangannya dari pipi Bia tapi berhenti di bahu Bia.


" Ckk,, terlalu lama Bi. Gimana dengan pekerjaanku ? "


" Mas bisa pulang terlebih dulu. Seratus hari lagi bisa menemuiku disini. "


" Kamu hanya mau menghindar kan. Atau berfikir untuk kabur ? " tanya Al penuh selidik.


" Dimanapun aku berada. Pasti kamu dnegan mudah bisa menemukanku Mas. "


" Baguslah kalo kamu tahu. "


" Selama seratus hari kamu gak boleh menemuiku Mas."


" Aku gak mau. " kata Al ketus.


" Mas,, ini masa iddahku. "


" Jangan membohongiku Bi. Keluargaku sudah terlalu banyak berbohong padaku. Aku gak percaya lagi. "


" Termasuk aku ? " tanya Bia memastikan.


" Termasuk kamu. " jawab Al ketus.


" Aku berada disini untuk satu minggu ke depan. Setelah itu aku akan pulang ke Kalimantan. Dua bulan lagi aku menyusulmu dan kita ke Kalimantan. "


Bia hendak bicara tapi Al keburu mencium bibirnya singkat.


" Keputusanku gak bisa diganggu gugat Bi. " tegas Al.


" Tapi, Mas,,, "


" Atau kita pulang malam ini juga ! " ancam Al sambil melepaskan Bia.


" Baiklah,, baiklah. " sahut Bia cepat.


" Untuk urusan istri harus menuruti kemauan suaminya. Aku yakin kamu sudah memahaminya daripada aku kan. " sindir Al kesal.


Bia kembali menunduk tersindir dengan kalimat Al. Lalu Bia melepaskan dekapan Al. Membuka laci meja riasnya. Mengambil dua buah buku yang sudah lama dia simpan.


" Pelajari buku ini selama Mas berada di Kalimantan. Setelah itu kita bicara lagi. Aku akan menghargai setiap keputusan Mas Al. Meskipun itu untuk perceraian. "


" Aku tegaskan sekali lagi, Bi. Aku,, gak akan pernah menceraikan kamu. Aku gak akan melepaskan kamu lagi. Meskipun kamu harus menangis darah untuk memintaku menceraikanmu !!! " seru Al marah dengan tatapan yang membuat Bia kembali bergidik.


Al hendak berlalu dari hadapan Bia dengan nafas ngos-ngosan. Bia tahu saat ini Al dengan susah payah menahan emosinya.


Bia menarik tangan Al. Tapi Al tidak mau menatap Bia. Dia mengalihkan pandangannya pada balkon kamarnya.


" Duduk dulu. Kamu sedang emosi Mas. " kata Bia sembari menarik Al untuk duduk diatas ranjangnya.


" Kamu tahu aku sedang emosi Bi. Lebih baik aku keluar. Aku gak mau menyakitimu. " kata Al tanpa melihat Bia.


" Istighfar dulu,, tenangin diri dulu. " Kata Bia sembari mengusap punggung Al dan lengannya.


Bia tersenyum saat Al memejamkan matanya dengan mulut komat kamit entah apa yang sedang dibacanya.


" Maafkan aku. " pinta Bia saat Al sudah sedikit lebih tenang.


" Sebenci itukah kamu padaku Bi. Sampai selalu ingin berpisah dariku. "


" Bukan begitu Mas. "


" Lalu ? "


" Semuanya terlalu cepat. Aku takut hanya akan membebanimu Mas. "


" Aku gak terbebani. "


" Setidaknya biarkan aku bicara dengan Kak Clara. Aku harap Mas penuhi janji Mas untuk gak menceraikan Kak Clara. "

__ADS_1


" Itu lagi,, itu lagi,, "


" Mass,, dengerin aku dulu. "


Al mendnegus kesal meski tak juga berpindah tempat dari samping Bia.


" Kamu,, kita,, sudah sangat menyakiti Kak Clara. Gak adil kalo kamu menceraikan Kak Clara Mas. Anggap saja ini mahar yang aku minta untuk pernikahan kita nanti. "


" Tapi aku gak mencintai Clara Bi. "


" Dulu kamu gak mau bersamaku karena mencintai Kak Clara, Mas. " gurau Bia.


" Kamu sendiri kan yang bilang itu dulu. "


Bia menelan ludahnya keki. Salah bicara lagi. Pikirnya.


" Tapi kan Kak Clara mencintaimu, Mas. "


" Kamu mau kita berangkat ke Kalimantan sekarnag juga ?! " ancam Al lagi.


Bia mengeleng cepat.


" Baiklah. Mas bawa kedua buku ini. Pelajari isinya. " kata Bia menyerah membujuk Al. Lalu menyerahkan kedua buku miliknya pada Al.


Al membaca ringkasan kedua buku itu sejenak. Lalu menatap Bia meminta penjelasan.


" Poligami ? "


Bia mengangguk.


" Kamu harus bisa mempelajari adil yang dimaksudkan disini Mas. Adil untuk Kak Clara dan juga adil untulku."


" Aku bisa menjadikan kamu satu-satunya Bi. "


" Mas ! "


" Terserah kamulah. "


" Bener, terserah aku ? Kalo gittu,, Ijinkan aku tetap di Surabaya Mas. " gurau Bia.


Al berdiri dnegan kesal lalu mengambil ponsel di saku celananya. Pura-pura menelpon seseorang.


" Reiga,, siapkan pesawat pribadiku. Kita pulang ke Kalimantan seka,,, "


" Tidak,,, tidak,,, maafkan aku. " potong Bia panik sembari hendak menarik ponsel Al tapi keburu Al menjauhkan ponselnya dari jangkauan Bia.


" Kalo kamu terus-terusan memprofokasiku. Jangan salahkan aku membawamu ke Kalimantan. Meski harus dengan paksaan. " ancam Al.


" Issshh,, iya. " gerutu Bia kesal hingga bibirnya mengerucut.


Al kembali mencium bibir Bia singkat.


" Mas,, !! "


" Kamu yang menggodaku Bi. "


Bia hendak protes tapi diurungkannya. Takut Al semakin berani meminta lebih.


" Keluarlah. Aku mau istirahat. "


" Ini juga kamarku Bi. Aku suamimu. "


" Mas,, " keluh Bia kesal.


Al tertawa senang.


" Istirahatlah. Aku akan membangunkanmu nanti. "


Kata Al sambari melihat Bia.


" Kenapa belum keluar ? "


" Aku mau memastikan kamu memang istirahat. Gak menangisi Gahzzy lagi. "


" Apa perlu aku menggendongmu ke ranjang ? " sindir Al.


" Tidak perlu. " jawab Bia ketus sembari beranjak le ranjang dan merebahkan tubuhnya.


Al merapikan selimut Bia sampai batas leher.


" Ingat. Tidurlah. Aku akan kembali nanti. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kalo kamu menangisi Ghazzy lagi. "


" Sudah. Keluarlah. " usir Bia sambil mendorong tubuh Al yang semakin mendeekat padanya.


" Kalo gak ingat kita sedang berduka. Aku pasti sudah membawamu pergi dari sini Bi. "


Bia mendengus kesal.


" Jangan memancingku Bi. " goda Al.


" Mas,, keluar. " usir Bia.


Al tertawa kemudian keluar setelah mengusap kepala Bia. Dengan membawa kedua buku Bia yang berisi tentang poligami.

__ADS_1


__ADS_2