
Bia bangun lebih dulu. Dan segera menuju kamar mandi. Satu jam lagi sudah masuk waktu ashar. Setelah mandi, Bia mendekat ke arah Al. Dan sengaja mencipratkan sisa air wudhu diwajahnya ke wajah Al sambil terkekeh.
Al menggeliat, lalu mengerjapkan matanya. Melihat Bia yang sudah siap dengan mukenanya. Dia langsung bangun.
" Aku telat Bi ? " tnayanya.
" Masih sempet. Masih sekitar satu jam lagi. Cepet mandi dulu. "
" Kenapa gak membangunkanku dari tadi. Kita bisa mandi bersama. "
" Yang ada gak jadi mandi. Tapi kamu macam-macam Mas. " jawab Bia dnegan bibir mengerucut kesal.
" Ckk,, kamu yang memancingku. Lihat saja bibirmu itu. " godanya sambil mendekat ke arah Bia.
Spontan Bia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Al tertawa gemas.
" Tolong handukku sayang. "
" Sudah aku taruh dikamar mandi. "
" Terima kasih sayang. "
" Aaahhh,,, Aku jadi lapar lagi Bi. Eehh,, sayang. " keluh Al setelah mereka selesai sholat ashar.
" Ehhhmmmm,, Gak usah dipaksakan memanggil sayang. Aku gak mau kamu menjadi bayang-bayang Mas Ghazzy. Aku lebih suka kamu memanggilku seperti biasanya. Karena memang gak ada yang memanggilku hanya dengan Bi. " jawab Bia setelah selesai melipat mukenanya. Meletakkannya diatas meja belajar Al dulu.
Al tersenyum keki.
" Yah,, lidahku memang lebih nyaman dnegan Bi. Tapi aku ingin menjadi spesial. Karena kamu sudah menjadi istriku Bi. "
" Kan bisa jadi Bun ? "
" Kamu juga memanggil Gahzzy dengan sebutan yang makin mesra. " gumam Al kesal.
Terdengar jelas kecemburuan disana. Apalagi Al langsung duduk di ranjangnya dengan menghindari tatapan Bia.
" Mas,, aku kan sudah bilang. Kita perlu waktu untuk membiasakan diri masing-masing. Gak perlu terlalu memaksakan. "
" Kamu Bi yang perlu waktu. Aku sudah terbiasa denagn perasaanku padamu. tersiksa dengan rinduku. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit speerti itu. "
" Lihat kan. Pembahasan seperti ini hanya akan membuat kamu sakit hati Mas. Cemburu. Padahal jelaa-jelas kamu yang memulainya. Lain kali gak usah membahas Mas Ghazzy. Kalo ujung-ujungnya kamu malah cemburu dan marah gak jelas kayak gini. " hibur Bia sambil duduk disamping Al.
" Maafkan aku. Tapi kecemburuanku sudah akut Bi. Jadi, jangan salahkan aku kalo aku menjadi posesif padamu. Aku harap kamu mengerti karena Aku gak mau kehilangan kamu lagi Bi. "
" Aku mengerti. Jangan marah lagi. " tegas Bia.
Al tertawa lalu mengangguk.
" Aku panaskan sup ayam yang semalam aku masak aja ya. Gak apa-apa kan. "
" Iya. Aku makan masakan kamu aja. "
" Baiklah. "
" Aku mau meeting dengan Reiga sebentar. Nanti aku menyusulmu ke dapur. "
Bia tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Kali ini dia memakai gamis lengkap dengan jilbabnya.
Al tertawa menatap kepergian Bia. Segera menelpon Reiga untuk melakukan briefing program kerja. Dan juga mengurus berkas pernikahan dan membuat paspor untuk Bia dan si kembar. Agar bisa mengunjungi makam Clara.
Tidak terasa hampir dua jam Al melakukan meeting dengan Reiga. Sampai Bia kembali masuk kekamarnya dengan membawa nampan berisi nasi dan juga sup ayam. Ada satu gelas kopi susu dan satu gelas air putih. Melihat Al yang masih meeting, Bia meletakkan nampan itu di atas nakas.
Bia bermain game di ponselnya sembari menunggu Al selesai meeting. Sudah tiga puluh menit berlalu. Tapi Al masih juga belum mengakhiri telponnya dengan Reiga. Sepertinya tengah membahas sesuatu yang penting.
Akhirnya Bia mengambil piring yang berisi nasi dan memberinya sup ayam. Kemudian duduk disamping Al yang bersandar di ranjang sambil mengotak atik laptopnya. Al menatap Bia bingung.
" Aku suapin. " bisik Bia pelan.
Al tersenyum senang, lalu membuka mulutnya saat Bia mulai menyuapinya. Dan melanjutkan meeting dengan Reiga.
Al dan Bia saling berpandnagan saat terdenagr bel pintu.
" Aku buka pintunya dulu. " pamit Bia pelan.
" Hati-hati. " jawabnya.
Bia mengangguk mengerti. Lalu beranjak keluar kamar.
" Assalamualaikum Bundaa,,,, !!!! " seru Faiz dan Fawwaz saat Bia membuka pintunya.
" Waalaikumsalam. Kok sudah pulang. Kan baru nanti malam Papa dan Bunda jemputnya. " kata Bia sembari duduk berjongkok mensejajarkan dengan tinghi anak-anaknya. Agar anak-ank bisa salim padanya.
" Mereka mengkhawatirkan Papanya. " jawab Zaskia.
Bia menatap Zaskia yang terlihat sedih.
" Ada apa ? " tanya Bia bingung.
" Bunda. Kata Oma Lea. Mama Ara sudah meninggal, sama sepeti Ayah. Kok kita gak diajak ke makam Mama Ara ? " tanya Faiz.
__ADS_1
Bia menatap Zaskia meminta penjelasan.
" Tadi mampir kerumah Mama Ara Bunda. Niatnya menjemput Oma. Tapi, Oma masih belum mau pulang karena Papa masih nakal gak mau minta maaf pada Oma. " jawab Zaskia sedih.
" Karena kalian udah disini. Gimana kalo nanti malam kita jemput Oma dirumah Mama Ara ? " usul Bia.
" Kita jalan-jalan ya Bun. " jawab Faiz.
" Sama Papa juga. " jawab Fawwaz menambahkan.
" Kak Bia,, yakin mau jemput Mama ? Kak Al,, ? "
" Mas Al sudah bisa memaafkan masa lallunya dan Papa. Dia juga harus bisa memaafkan Mama juga dong. " kata Bia sambil berdiri.
" Kalo gitu, aku kerumah Kak Clara aja ya. Menemani Mama disana. Memberi waktu lebih banyak pada Kak Al meluapkan rasa rindunya. " gurau Zaskia setengah berbisik.
" Gara-gara membaca pesan yang kamu kirim Ki. " omel Bia.
Zaskia tertawa.
" Bunda dan Tante kok tertawa dan bisik-bisik sih. " tegur Fawwaz.
" Maaf sayang. Ini Tante mau pamit pulang dulu. "
" Makasi Tante. Udah ajak jalan-jalan Mas dan Adek. " ucap Faiz.
" Sama-sama syaang. Nanti malam, ajak Papa dan Bunda jalan-jalan ya. "
" Siaaapp !! "
" Biar gak bikin adik mulu. " goda Zaskia di telinga Bia. Hingga mendapat cubitan kesal oleh Bia.
" Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam. "
Bia kembali mengunci pintu rumah itu. Belum terbiasa dengan lingkungan sekitarnya. Setelah itu, Bia menggandeng kedua anaknya menuju kamar Al. Tapi Faiz menarik tangannya seraya berhenti berjalan. Bia duduk di anak tangga agar tingginya sama dengan anak-anak.
" Kenapa Mas ? "
" Bun,, apa benar Mama Ara udah pergi sama seperti Ayah ? " tanya Faiz.
" Iya sayang. " jawab Bia sambil mengusap kepala Faiz.
" Mama Ara kenapa Bun ? Apa sakit juga kayak Ayah ?" tanya Fawwaz memastikan.
" Iya. Kalian berdua sedang tidur waktu itu. Jadi, gak tahu kalo Mama Ara udah meninggal. Orang tua Mama Ara membawa jenazah Mama Ara ke Singapura. ".
" Jauuuhh sekali. "
" kok kita gak di ajak kesana ? " protes Fawwaz.
" Nanti. Tunggu kita sudah punya ijin sayang. "
" Lalu,, Papa,, masih sakit Bun ? " tanya Faiz.
" Iya Mas Faiz. Papa masih gak enak badan. "
" Mau ke Papa Bun. " rengek Fawwaz.
" Iya. Ayo kita ke Papa. "
Bia kembali menggandeng tnagan kedua anaknya menuju kamar Al.
" Assalamualaikum Papa !!! " seru anak-anak saat Bia membantu membuka pintu kamarnya.
Al yang baru saja mengakhiri telponnya dengan Reiga kaget mendnegar anak-anaknya sudah kembali dna berlarian menuju ranjangnya. Dia meletakkan laptopnya diatas nakas.
" Waalaikumsalam, Mas,, Adek,, aduuhh Papa kangen kalian berdua. " seru Al sambil memeluk kedua anaknya.
Terdengar isakan dari anak-anak di pelukan Al. Bia menatap Al yang juga tengah menatapnya bingung. Karena anak-anaaknya tidak mau melepaskan pelukan Al. Mereka masih mendekap Al dengan erat.
" Mas,, Adek,, ada apa ? Kenapa ? " tanya Bia.
" Ada apa ini anak-anak Papa kok nangis ? "
Fawwaz bangkit dan melepaskan pelukannya pada Al.
" Papa,, jangan sakit lagi. Kami sudah gak punya Ayah. Kami gak mau kehilangan Papa. " rengek Fawwaz.
" Kami sudah kehilangan Ayah. Lalu Mama Ara juga pergi setelah sakit. Papa gak boleh sakit. Kami mau smaa Papa. Pokoknya,, Papa gak boleh pergi tanpa kami dan Bunda. " tegur Faiz.
Bia dan Al trenyuh mendengar jawaban anak-anaknya. Keduanya ikut menangis.
Anak-anaknya mungkin sedikit trauma karena orang yang disayanginya meninggal karena sakit. Sedikit ada ketakutan kalo Al juga akan meninggalkan mereka.
" Papa gak akan sakit lagi. Papa udah sembuh. Lihat ,, Papa udah sehat kan. " kata Al meyakinkan. Ada keharuan yang menyergapnya. Membuatnya ikut menangis.
Si kembar kembali memeluk Al dengan erat. Seolah takut Al hanya pura-pura.
" Kenapa gak panggil Opa Leon ? Biar Papa disuntik, biar cepat sembuh. " seru Fawwaz.
__ADS_1
" Papa sudah sembuh. Kalian gak percaya ? "
Si kembar nampak tengah memindai Al. Berusaha meyakinkan diri mereka kalo Al memang sudah sembuh.
" Gimana ,,, kalo nanti malam kita jalan-jalan ? " usul Al pada anak-anaknya. Dia juga berniat membeli gamis untuk Bia.
" Gak mau Pa. Adek kangen sama Papa. Adek mau tidur aja disamping Papa. "
" Iya. Mas juga. Mas mau tidur sama Papa. Gak apa-apa kan Bun ? " tnaya Faiz.
" Mas Faiz,, adek Fawwaz,,, Papa dan Bunda sudah menikah. Jadi, Bunda juga nanti tidur sama kita. " jelas Al.
" Maksudnya Pa ? " tanya Faiz tidak mengerti.
" Mas dan Adek ,, senang gak kalo tidur sama Papa dan Bunda ?" tanya Al.
" Senang Pa. "
" Mulai malam ini dan seterusnya. Kita tidur bersama ya. Papa dan Bunda. Mas Faiz dan Adek Fawwaz. Sampai nanti mas dan adek punya kamar sendiri. "
" Mas punya kamar sendiri Pa ? "
" Adek juga ? "
" Iya dong. "
" Lalu,, kita tinggal dirumah yang mana Pa ? "
" Tanya Bunda,, maunya tinggal dirumah yang dimana ? " kata Al smabil mengerlingkan matanya pada Bia.
Yang di tanya jadi salah tingkah sendiri.
" Bunda kan belum tahu rumah Mama Ara. Mas dan Adek sendiri sukanya dirumah yang mana ? " tanya Bia balik tanya.
" Mas suka disini sih Bun. Rumahnya lebih besar. Kolam renangnya juga besaaarr Bun. Tapi, mainan Mas dan aadek kan adanya dirumah Mama Ara. " jawab Faiz.
" Iya Bun. Pa. Adek juga suka disini. Tamannya luuaaass. Sampai adek bisa main sepak bola sama Mas Faiz disana. " jawab Fawwaz.
" Kalian mau tinggal disini aja. Kita bisa pindahkan mainan dan baju-baju kalian kesini. " kata Al senang sambil kembali mengerling pada Bia.
" Beneran Pa ? Mau,, mau,, Pa. Tapi,, " jawab Fawwaz.
" Tapi apa ? " tanya Bia bingung.
" Rumahnya sepi. Gak ada Oma Lea. Gak ada Bik Amy. Bik Okta. Om Randy. Tante Wimpi. "
Bia tertawa menangggapi jawaban Faiz.
" Nanti,, nanti,, kita suruh mereka pindah juga kesini. Menemani Mas dan Adek disini. "
" Yeeeeeyyyy,,,, !!!! "
" Ini,,beneran. Mas dan Adek gak mau jalan-jalan ? " tanya Al memastikan.
" Gak mau Pa. Adek kangen Papa. Mau tidur sama Papa dan Bunda ajaa. "
" Iya Pa. "
" Ya sudah. Dirumah saja Pa. Biar Papa juga bisa istirahat. Mas dan adek memang pengertian. " jawab Bia.
Al tersenyum senang Bia memanggilnya Papa.
" Mas dan adek udah makan ? "
" Udah Bun. Tadi Oma Diba masakin udang goreng. " jawab Fawwaz.
" Heemm enak dong. Lalu nanti malam mau makan apa ? Mau nasi goreng ? "
" Mau Bun. " jawab Faiz.
" Sama omlete juga ya Bun. " sahut Fawwaz.
" Siaapp. "
" Ehhmm,, kita mau ngapain ya enaknya. Kan mainan mas dan adek masih belum ada disini. " gumam Al.
" Bun,, boleh mainan game ? " tanya Faiz.
" Sampai maghrib aja ya Mas. Gak boleh lama-lama. Nanti matanya sakit. "
" Iya Bun. Mas pake ponsel Bunda ya. "
" Eehh gak usah pake ponsel. Papa punya plays station. Kita main PS aja. " usul Al sambil mengambil PS yang disimpannya di laci lemari.
Kemudian memasangnya di TV. Si kembar langsung tertarik dengan mainan yang baru oertama mereka lihat itu. Maklum, Ghazzy tidak terlalu suka PS begitupun dengan Tian. Karena itu, tidak ada yang mengenalkan mainan itu pada mereka.
Al dengan semangat mengajari anak-anaknya cara bermain PS. Dia mendudukkan Fawwaz dipangkuannya dan bertanding dnegan Faiz.
Bia melihat segelas kopi itu telah kosong. Dia mengambil gelas dan piring kotor beserta nampannya. Lalu membawanya keluar kamar untuk ke dapur.
Setelah mencuci piring dan gelas kotor itu. Bia melihat isi kulkasnya. Masih lengkap dnegan semua oersediaan makanan. Bia mempersiapkan lima botol air mineral untuk ditaruh kamar nantinya. Lalu mulai memasak nasi goreng dan omlete untuk anak-anak dan Al. Tidak lupa menyempatkan mengirim pesan pada Zaskia kalo malam ini mereka akan menginap dirumah ini lagi. Besok pagi baru akan pergi ke rumah Clara.
__ADS_1