
" Kalo tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mungkin sampai detik ini, aku akan tetap mengira Al hanya sekedar merasa bersalah pada Bia. " kata Leon sembari memberikan satu botol air mineral pada Gita.
" Heeemmm,, Om Leon belum tahu aja sebucin apa Kak Al selama ini. Hanya melihat Kak Bia bicara dengan Kak Tian aja Kak Al sudah secemburu itu. " gerutu Zaskia.
" Perasaan Al sudah sangat terlihat jelas dimatanya Mas Leon. Aku rasa analisa kalian selama ini salah. " kata Gita.
" Yah,, aku menyadarinya setelah melihat Al begitu telaten merawat Bia sewaktu dia kecelakaan dulu. "
" Sudah waktuunya Al bahagia. Bahkan sekarang Bia sudah hamil. Padahal aku dan Bia sendiri sedikit sangsi dia bisa hamil secepat itu. Mengingat dia harus melakukan program inseminasi sewaktu hamil si kembar. " sahut Azalea menambahkan.
" Pada dasarnya kondisi Bia dan Gahzzy sama-sama normal. Mungkin hanya masalah waktu dan,, kecapekan. Setahuku dulu, Bia bekerja di pabrik makanan kan. " tebak Gita.
" Iya, Tante Gita benar. " jawab Zaskia.
" Mereka sudah melalui banyak hal sampai dititik ini. Aku harap mereka selalu bahagia. " harap Gita.
" Oh iya,, apa yang terjadi sampai Bia tiba-tiba seemosi itu. Bia bukan tipe orang yang pemarah. Emosinya bahkan sampai membuat kondisinya gak stabil. " omel Leon.
Azalea dan Zaskia menghela nafas. Mengingat semua perkataan Leny yang memang membuat telinga panas siapapun yang mendnegarnya.
" Kenapa ? Apaa ada sesuatu Kak Lea ? " tanya Gita.
Azalea dan Zaskia saling bersahutan untuk menceritakan apa yang terjadi. Pertengkaran Bia dan Leny. Juga kemarahan Al saat mendnegar semuanya. Kekhawatiran tentang psikis Faiz nantinya.
" Aku senang melihatmu ada disini. Setidaknya ada yang memantau psikis Faiz nantinya. " ujar Azalea.
" Eeehhmm,, kalo memang yang membuat emosi Bia gak stabil karena ada Leny. Aku harap untuk sementara ini, mereka gak saling bertemu. Takutnya masih mempengaruhi kesehatan Bia. Kandungannya masih rentan. "
Azalea dan Zaskia saling berpandangan bingung.
" Ada apa lagi ? "
" Masalahnya,, itu semua keputusan Al. Ini rumahnya, aku gak bisa memutuskan apapun. Leny juga tanggung jawabnya. Aku harap Al sudah bisa berfikir dengan kepala dingin. Kamu tahu sendiri gimana sikap Al kalo sudah emosi. "
" Biar nanti aku yang akan bicara dengannya. " sahut Leon.
" Begitu lebih baik. "
" Oh iya,, tumben Om Leon ada disini ? Mau honeymoon ? " goda Zaskia.
" Tentu saja aku merindukan Kakakku Kia. Gita juga sedang hamil, entah ibunya entah bayinya yang ingin jalan-jalan. " gurau Leon.
" Aaahh,, benarkah ? Tante Gita juga hamil ?! " seru Zaskia senang.
" Iya, Ki. Gimana denganmu ? Apa udah ada tanda-tandanya ? "
" Aku gak tahu Tante. Sedikasihnya aja deh. "
" Nanti kalo Bia sudah stabil. Aku bisa sekalian memeriksa kamu, Ki. "
" Benarkah ? Iya, Tante. Aku jadi ingin hamil juga seperti kalian. " seru Zaskia senang.
" Aaammmiiinnn. " jawab Azalea dan Leon berbarengan.
" Istirahatlah dulu. Aku akan membangunkan kalian untuk makan siang nanti. "
" Lea,, apa kamu gak lihat jam. Ini sudah lewat makan siang. "
Azalea melihat jam di dinding. Yah,, memang sudah lewat makan siang.
" Aahh,, kami sibuk melihat pertengkaran Bia dan Leny. Sampai kami lupa waktuu. " gurau Azalea.
" Makanlah dulu. Kami sudah makan siang di luar tadi." kata Leon.
" Kalo gitu, istirhaatlah. Ayo, Gita. Aku antarkan ke kamarmu. "
Gita mengangguk sembari mendekap Azalea.
" Terima kasih Kak Lea. " ucapnya.
*****
Al ketiduran saat menunggu Bia sadar. Bia mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke kanannya. Melihat seseornag yang tengah berbaring di sampingnya. Meraba setiap inci wajah Al dengan jarinya.
__ADS_1
" Jangan menggodaku Bi. " ujar Al masih dengan mata terpejam.
Bia terkekeh. Kemudian mencium bibir Al sekilas. Al langsung membuka matanya. Tersenyum melihat Bia yang sudah ceria.
" Katanya ada meeting, kok sudah pulang ? " tanya Bia sambil mengusap pipi Al.
" Klien dari Jakaarta mencancelnya. Aku juga gak bisa konsen. Perasaanku gak enak. Firasatku mengatakan kamu sedang gak baik. " jelas Al.
Bia hanya mencibir saat Al mengutarakan firasatnya yang memang kali ini kembali benar. Al mengecup bibir Bia yang mencibirnya.
" Terima kasih Bi. " ujar Al sambil mengusap perut Bia yang masih rata.
" Terima kasih ? Untuk apa ? " tanya Bia bingung.
" Untuk semuanya,, untuk seseorang yang akan berkembang disini. "
Bia terdiam, berfikir sejenak. Tanagnnya ikut terulur ke perutnya. Diatas tangan Al.
" Aku hamil ?? " tanay Bia tidak percaya.
Al mengangguk pasti dan merengkuh Bia kedalam pelukannya.
" Alhamdulillah. " ucapnya senang.
Al menciumi wajah Bia dan mengecup bibirnya.
" Aku harap kamu menjaga kesehatanmu Bi. Aku gak mau hari ini terulang lagi. Ini pertama dan terakhir kalinya aku melihatmu pingsan. " ancam Al sambil menarik hidung Bia gemas.
" Aku ,, pingsan ? "
Al megangguk. Bia teringat luka ditangan Al. Dia meraih tangan kanan Al. Dna tidak ada luka. Dia menoleh ke tangan kiri Al. Dan segera bangun saat menyadari dia sedang menggunakan lengan kiri Al sebagai bantalnya.
" Kenapa bangun ? Istirahatlah. "
" Tangan kamu Mas. " jawab Bia sambil memegang tangan kiri Al yang diperban Leon.
" Apa tangannya baik-baik aja ? Tidak ada luka serius ? "
" Bi,, aku baik-baik aja. Aku lebih sakit melihatmu pingsan tadi. Jangan membuatku khawatir lagi Bi. Aku serius, kamu harus menjaga dirimu. "
" Ini untuk kebaikanmu. Kata Tante Gita, kandunganmu masih rentan. Harus banyak istirahat. "
" Tante Gita ? Om Leon ada disini ? " tanya Bia senang.
" Iya. Mereka yang memeriksamu dan juga mengobati lukaku. "
Bia tersenyum senang dan hendak bangkit.
" Mau kemana ? " tanay Al heran.
" Aku mau menemui Om Leon dan Tante Gita. Sudah lama aku gak bertemu mereka. "
" Gak. Kamu harus istirahat. "
" Tapi, Mas. Aku mau bertemu mereka. "
" Gak. Kamu harus tetap dikamar. Bi,, istirahat !! " tegas Al kesal.
Bia kembali merebahkan tubuhnya dengan kesal. Bibirnya mengerucut karena kesal. Al kembali mencium bibir Bia sedikit lebih lama. Meskipun kali ini Bia selau memberontak karena marah.
" Istirahat dulu. Mereka juga sednag istirahat dikamar tamu. Mereka menginap disini. Kamu bisa menemui mereka nanti. " jelas Al.
" Iya,, iya,, tapi Mas juga harus berbaring disini. "
Bia teringat Leny, takut Al akan memarahinya tanpa dia ketahui.
" Aku akan keluar sebentar. "
" Gak. Kalo gitu aku ikut. " kata Bia sambil meraih tnagan Al.
" Bi,, aku cuman sebentar. "
" Gak. Aku tahu apa yang akan kamu lakukan. "
__ADS_1
" Aku harus bicara dengannya. "
" Oke. Aku ikut. Kita bicara. "
" Aku gak mau kamu stres lagi Bi. "
" Aku juga gak mau kamu semarah itu. "
" Ini masalahku Bi. Kalian tanggung jawabku. "
" Iya. Kita bicara. Tapi gak dalam keadaan emosi sepeti ini. Kita bicara lagi nanti malam. "
" Aku akan memecatnya sekarnag juga. "
Bia kaget mendnegar keputusan Al yang tiba-tiba.
" Atas kesalahan apa Mas memecat Leny ? "
" Dia sudah kurang ajar sama kamu Bi. Apalagi pada Faiz. Bahkan Faiz masih terlalu kecil untuk mengerti hububgan kita dulu. "
" Duduk dulu. "
" Bi,, aku ingin masalah ini cepat selesai. Aku gak mau kehadiran Leny disini hanya membuatmu gak nyaman."
" Aku nyaman Mas. Aku merasa nyaman dimana pun kamu berada. Duduk dulu. Kita bicara. "
Al menghela nafas. Meredakan emosinya yang selalu meluap setiap kali mengingat perkataan Leny.
" Aku gak mau kamu memecat Leny. "
" Bi,,, Dia,,, "
" Mas,, dengan memecat Leny, masalahnya gak akan selesai disitu. Dia akan semakin menganggap apa yang dikatakannya adalah kebenaran. "
" Tapi, dia sudah keterlaluan Bi. "
" Aku gak perduli. Aku bahkan sudah melupakannya Mas. Ynag penting Faiz sudah sedikit mengerti. Ingat, Mas. Aku sednag hamil. Aku gak mau kamu menyakiti ornag lain. Kamu mau ornag lain mendoakan keburukan untuk anak kamu ? "
" Tentu saja gak Bi. " jawab Al cepat sambil mengusap perut Bia.
" Biarkan Leny tetap bekerja disini Mas. Toh,, kita juga gak selamanya tinggal disini kan. Setidaknya untuk menghormati Kak Clara, Leny sudah mengetahui aib kita, keluarga kita. Aku gak mau rasa sakit hati karena kamu memecatnya membuatnya melakukan hal bodoh dengan menyebarluaskan aib kita. Seperti yang aku bilang dulu. Baik aku ataupun Kak Clara hanya akan jadi konsumsi publik. Salah satu dari kami akan di anggap sebagai ornag ketiga. Sekarnag ketakuutanku terbukti kan. Leny pun juga beranggapan hal yang sama. " jelas Bia.
Al terdiam. Masih berfikir keputusan apa yang akan diambilnya.
" Kamu bisa menyuruh Bik Amy ikut kita dirumah Mama nanti. Lebih nyaman buat aku dan juga anak-anak nanti. "
Melihat Al yang masih terdiam. Bia memeluk Al.
" Sungguh, Mas. Aku baik-baik saja. Yang terpenting Faiz sudah lebih baik. "
Al mengusap kepala Bia sejenak. Kemudian membarigkannya kembali. Dengan menggunakan lengannya sebagai bantal.
" Baiklah kalo itu yang kamu mau. Yang terpenting,, aku gak mau kamu terlalu memikirkannya sampai mengabaikan kesehatanmu. Ingat, ada anak kita di rahimmu. "
Bia menghela nafas lega karena Al akhirnya menuruti keinginannya.
" Terima kasih, Mas udah mau mengerti. " kata Bia sambil merapatkan tubuhnya pada Al.
" Cckkk,, Bi,, kamu terus-terusaan menggodaku. "
" Issshh,, mana ada. Memang Mas aja yang mesum. " gurau Bia.
" Mesumnya kan sama istriku sendiri. "
" Enak aja. Awas aja kalo mesum sama orang lain. Aku akan membawa anak-anak pergi. "
" Aku akan mengurungmu nanti. " ancam Al.
Bia kembali meraba wajah Al. Dan juga bibirnya dengan tnagannya. Dan meraba leher belakang Al yang diketahui Bia titik sensitif Al.
" Aaahh, Bi. Hentikan. Aku bisa khilaf. "
" Aku cuma pengen tahu, seberapa kuat kamu menahannya. " goda Bia.
__ADS_1
Al menindih tubuh Bia dan langsung menciuminya. Membalas Bia dnegan menciumi semua titik sensitif Bia. Tidak memberikan kesempatan pada Bia untuk berontak apalagi menggodanya lagi.