
Pemandangan didepannya mau tidak mau membuatnya teringat dengan apa yang dilakukan Al dan Clara di kantor Mall Expo dulu. Hatinya benar-benar nyeri melihatnya.
Kalo saja bukan karena kaget tiba-tiba mendnegar suara gelas yang pecah. Bia tidak mungkin langsung membuka pintu ruangan kantor Al. Kekhawatirannya pada komdisi Al yang demam tadi pagi membuatnya tidak berfikir panjang dan membuka pintu itu. Masuk ke kantor Al diikuti Wimpi.
" Aku hanya mengantarkan makan siang. Tapi sepertinya aku terlambat. Maafkan aku, sudah mengganggu. " kata Bia sembari hendak beranjak pergi.
Al mendorong tubuh wanita yang tengah mendekapnya. Dan langsung memeluk Bia dari belakang.
" Apa yang kamu lihat gak seperti yang kamu bayangkan Bi. Aku bisa menjelaskannya. " kata Al dengan suara pelan.
Rindu yang dirasakannya tadi semakin menyiksanya dengan ketakutan Bia akan salah faham. Al sadar Bia pasti mengingat apa yang telah dia lakukan dengan Clara dulu di mall Expo. Karena dia sendiripun merasa seperti de javu dengan sikon ini.
" Gak ada yang perlu dijelaskan. Aku pulang dulu. Lepasin. " jawab Bia sambil berusaha melepaskan dekapan Al pada tubuhnya.
Bukan Al kalo mau melepaskannya. Dia semakian merapatkan tubuhnya pada Bia. Seolah takut kehilangan Bia. Sangat takut,, reaksinya akan sama sepeti dulu. Apalagi sampai ada gugatan perceraian lagi. Al menggeleng tanpa sadar.
" Kalian semua keluar dari ruanganku !! " hardik Al panik.
Wanita itu menghentakkan kakinya dengan kesal pada Bia. Tidak tahu kalo dia adlah istri bosnya. Wimpi menuttuup pintu ruangan Al setelah wanita itu keluar ruangan.
" Aku bisa jelasakn Bi. Aku mohon. " pinta Al smabil mencium puncak kepala Bia. Dan semakin merapatkan tubuhya.
Ada rasa bahagia menyusup dihati Bia melihat sikap Al sekarnag ini. Telah berhasil mengalahkan rasa cemburunya. Bia percaya Al tidak akan berbuat macam-macam. Bia tersenyum mendengar reaksi Al saat ini.
* Alhamdulillah, Mas Al sudah kembali. * batinnya.
" Lepasin Mas. " ujar Bia berusaha untuk berontak.
Bukan karena marah pada Al. Tapi karena aroma parfum Al kembali membuatnya mual. Padahal di kehamilan si kembar dulu. Bia malah senang menghirup aroma parfum ini.
" Gak. Berjanjilah kamu akan mendenagrkan penjelasanku dulu. " tegas Al.
Bia sudah tidak tenang karena sepertinya sudah tidak bisa menahan rasa mualnya lagi.
" Dimana toilet kamu Mas ? " tanya Bia cemas.
Al hanya menunjuk dengan jari telunjuknya. Bia segera berontak lebih kuat hingga Al yang lemas mundur beberapa langkah. Dekapannya akhirnya terlepas. Bia segera menuju kamar mandi. Muntah-muntah disana. Al mendekat, dan memijat tengkuk Bia khawatir. Entah sudah berapa lama dia tidak sesigap ini.
Bia semakin kesal karena Al yang malah mendekat. Tapi dia juga sadar, Al masih belum tahu kalo aroma parfumnya yang membuatnya semakin mual.
" Sudah lepaskan Mas. Kamu keluar aja. " usir Bia smabil mendorong tubuh Al keluar dari kamar mandi.
" Aku akan tetap disini !! Kamu boleh marah padaku, tapi biarkan aku membantumu. " hardik Al.
" Membantu bagaimana,,, justru ada kamu disini yang makin membuatku mual Mas. Keluarlah. " gerutuu Bia.
__ADS_1
Bia kembali memuntahkan sarapannya tadi. Mendengar suara Bia yang muntah-muntah. Wimpi masuk ke ruangan Al setelah mengetuk pintu terlebih dulu.
" Kak Wimpi,, kita pulang sekarang. " kata Bia saat keluar kamar mandi dan melihat Wimpi sudah berada di kantor Al.
" Gak !! Kita bicara dulu Bi. Wimpi, keluarlah. " tegas Al marah dan kembali menggenggam tnagan Bia.
" Dirumah. Kita bicara dirumah. Aku membawakan jahe hangat dan bubur ayam. Terserah mau dimakan atau dibuang aja. " kata Bia sembari beranjak keluar ruangan Al dengan cepat. Setelah berhasil menepis tnagan Al yang terasa hangat.
Karena dia tahu, Wimpi pasti sedang menahan Al sekarnag ini. Bia menghirup udara diluar ruangan Al dnegan sebanyak-banyaknya. Berharap mualnya cepat menghilang.
" Berani sekali kamu menahanku Wimpi !!! " geram Al dan mendorong tubuh Wimpi.
" Maaf, Tuan. Tapi,, ini demi Non Bia. "
" Apa maksudmu ? Dia istriku ! Apa yang kalian lihat gak seperrti yang kalian bayangkan. " bentak Al sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Wimpi pada lengannya.
* Andai saja aku tidak dalam keadaan sakit saat ini. Bi,, aku mohon jangan salah faham padaku. Aku memcintaimu Bi. * batin Al gelisah.
" Saya tahu Tuan. Pasti begitupun dengan Non Bia. Tapi perlu Tuan Al ketahui, memasuki trimester kedua ini. Non Bia tidak suka dengan aroma parfum Tuan Al. Non Bia pasti mual dan muntah kalo menghirup aroma parfum Tuan Al. "
Al terpaku ditempatnya berdiri. Berhenti memberontak pada cengkraman Wimpi. Kemudian menyandarkan tubuhnya di mejanya.
* Usia kehamilan Bia sudah memasuki trimester kedua, berarti sudah hampir tiga bulan. Ya Allah, Bi. Suami macam apa aku ini,, apa yang telah aku perbuat Bi. * batin Al sedih.
" Tuan baik-baik saja ? " tanya Wimpi.
Wimpi membantu memapah Al yang memang merasakan pusing.
" Perbanyak istighfar Tuan. Biar pusingnya hilang. " ujar Wimpi pelan.
* Sebenarnya bukan biar pusingnya hilang Tuan, tapi biar pengaruh teeluhnya juga cepat menghilang. * batin Wimpi.
Al terdiam mendengar nasehat Wimpi. Lalu merebahkan tubuhnya disofa. Memejamkan matanya. Air matanya keluar dari sudut matanya. Sudah lama aku gak menjadi Imam Bia. Sudah lama juga aku tidak tidur di kamar bersama Bia. Sudah lama juga aku tidak sholat malam. Astaghhfirullahaladzim.
" Ini bubur ayam dan jahe hangat yang dibawakan Non Bia. Saya permisi mengantarkan Non Bia pulang Tuan. " pamit Wimpi.
" Terima kasih. Tolong jaga Istriku. " jawab Al tanpa membuka matanya.
" Baik Tuan. "
Wimpi keluar ruangan Al dan mengernyitkan alisnya bingung. Karena melihat sekretaris Al menatap Bia dnegan sinis. Meskipun Bia membelakanginya.
" Ada apa ? Kenapa kamu melihat Nona saya seperti itu ?! " tegur Wimpi.
Teguran Wimpi membuat Bia menoleh heran. Menatap keduanya yang saling melemparkan tatapan tajamnya.
__ADS_1
" Lain kali, biasakan ketuk pintunya dulu. " jawab sekretaris itu ketus.
Bia memicingkan matanya dan menatap wanita itu intens. Wanita yang menggunakan rok diatas lutut dan menggunakan cardigan merah yang ketat. Seolah memang berniat menggoda bosnya.
" Sepertinya kamu merasa terganggu dnegan kehadiran kami . Apa kamu menyukai bosmu ? " sindir Bia pelan.
" Apa sekentara itu ya. Pak Al memang gak peka. Tentu saja, siapa yang tidak menyukai duda keren seperti Pak Al. Kamu juga kan. Buktinya kamu repot-repot membawakan makan siang untuk Pak Al. " serunya masih dengan sikapnya yang ketus.
Bia tercenagng mendengarnya. Duda ? Jadi,, masih ada sebagian karyawan Mas Al yang tidak tahu kalo Mas Al telah menikah lagi ? Pikir Bia.
Wimpi hendak mendekat dan menegur wanita itu, tapi Bia menggeleng pelan.
" Andin, ada apa ini ? " tanya Reiga yang baru keluar dari lift. Dan melihat didepan ruangan bosnya sedang ramai.
" Pak Reiga. Ini Pak. Dua orang wanita ini gak sopan. Main masuk ruangan Pak Al aja. " adu wanita yang dipanggil Andin itu pada Reiga.
" Memangnya kamu darimana ? Kenapa bisa membiarkan wanita lancang itu masuk ? " kata Reiga marah.
Bia dan Wimpi menoleh. Tentu sjaa membuat Reiga langsung terbungkam. Perasaan tidak enak langsung menyergapanya.
" Non Bia ,,, "
Wanita yang di panggil Andin itu melihat Bia dan Reiga bergantian.
" Aku,, wanita lancang yang kamu maksud Reiga. Kita pulang Kak Wimpi. " kata Bia marah tanpa menoleh pada Reiga.
" Aku gak nyangka, sepeti ini wanitamu. " sindir Wimpi pelan sambil dengan sengaja menyenggol lengan Reiga.
" Sial. " gumam Reiga kesal.
" Kenapa Pak Reiga ? " tanya Andin lembut.
" Kalo dua ornag wanita itu datang lagi. Biarkan saja mereka masuk. " seru Reiga kesal.
" Kok gitu sih. Memangnya mereka siapa ? " protes Andin tak terima.
" Itu istri Bos. Dan pengawalnya. " jawab Reiga dan duduk di kursi kerjanya yang berhadapan dengan Andin.
" Haahhh,,bukannya Pak Al,, duda ??! "
" Kamu bilang begitu pada wanita itu ? " tanya Reiga gusar.
Andin menaggguk pasti.
" Aahh,, sialan. " hardik Reiga sembari masuk ke ruangan Al.
__ADS_1
* Istri ?? Sial,, kenapa aku gak tahu kalo Pak Al sudah menikah lagi ? * Batin Andin kesal.