Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 95


__ADS_3

Al dan Bia mengaji bersama disamping pusara Gahzzy. Setelah itu menyuruh anak-anaknya menaburkan bunga diatas pusara Gahzzy.


Melihat Faiz dan Fawwaz yang menaburkan bunga diatas pusara Ghazzy. Bia menunduk terharu, satu per satu butiran air matanya mengalir deras.


* By,, Hubby,, aku datang. Semoga kamu tenang disisiNya, By. Aku sudah melaksanakan permintaan terakhir kamu. Dan sekarang aku sedang hamil lagi By. Aku juga sangat merindukanmu By. * batin Bia sedih.


* Terima kasih, Ghazzy. Sudah memberiku kesempatan memiliki Bia. Aku akan menjaganya. Aku mencintainya Ghazzy. Terima kasih sudah mempercayainya. * batin Al


" Papa,, Bunda,, sudah selesai. " seru Faiz.


" Udah berdoa untuk Ayah ? " tanya Al.


" Untuk apa ? Ayah sudah dekat dengan Allah. Sudah bisa langsung memintanya pada Allah. " jawab Faiz.


Bia menghapus air matanya sedih. Al hanya terharu dengan perkataan Faiz.


" Adek udah berdoa, Pa. Semoga Bunda dan Papa gak sakit lagi. Adek bayi juga cepat lahir. "


" Aammiiinn. " jawab Faiz.


" Bunda jangan nangis lagi. Ayah udah senang di surga. Ayah udah gak sakit lagi. " kata Faiz menenangkan sembari emngusap air mata Bia.


Bia mengangguk saat Al juga mendekapnya. Dan mengusap kepalanya.


" Ayo kita pulang. Kita pergi ke makam Mama Ara. " ajak Al.


" Yeeeaaayyy !!! " seru Faiz dan Fawwaz.


Lalu menggandeng Bia dan Al senang.


 


Reiga ternyata sudah menyiapkan semuanya. Dari ijin menggunakn pesawat pribadinya. Mobil yang akan menjemput saat sampai dibandara. Bahkan hotel yang akan mereka tinggali nanti. Hotel yang hanya berjarak lima belas menit dari rumah orang tua Clara.


Mereka langsung menuju hotel yang disediakan Reiga. Karena jam sudah menunjukkan angka sembilan malam. Tidak sopan kalo harus bertamu di jam sepetti itu.


Reiga membagi kunci kamar hotel pada setiap pasangan disana. Azalea meminta Bik Amy dan Wimpi untuk tidur dengannya karena anak-anak juga ingin tidur dengannya. Azalea takut kewalahan mengahdapi tingkah anak-anaknya.


Jadi, Al dengan Bia. Zaskia dengan Tian. Leon dengan Gita. Kamar Azalea bersebelahan dnegan kamar Al. Antisipasi kalo anak-anak tiba-tiba berubah pikiran dan ingin tidur dikamarnya.


" Lelah ? " tanya Al saat Bia merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Bia mengangguk sambil tersneyum.


" Kalo pergi dnegan pesawat secapek ini. Kenpaa kamu sering sekali bepergian dulu ? " kata Bia tak habis pikir.


" Tapi, kamu senang kan kalo aku pergi. Kamu dan Bik Amy dan juga Wimpi bisa tertawa lepas saat di rumah." sindir Al sambil duduk di samping Bia merebahkan tubuhnya.


Bia bangun dan duduk di samping Al yang terkekeh sambil menyentil hidung Bia.


" Kok Mas tahu ? "


" Aku yakin Wimpi sudah memberitahumu kalo dirumah itu aku pasang cctv kan. Karena aku juga memberikan akses padanya agar lebih mudah mengawasimu. "


" Ckkk,, kamu dulu menakutkan Mas. "


Al tertawa, kemudian mengecup bibir Bia.


" Semenakutkan sekarang. " celetuk Bia sambil berdiri


" Mau kemana ? " tanya Al.


" Hehehe,,, aku lapar Mas. " jawab Bia sanbil menarik tangan Al.


" Kamu mau keluar ? Katanya capek ? " kata Al khawatir.


Bia berhenti, mulutnya mengerucut kesal sendiri. Apa yang dikatakan Al memang benar, Bia merasa sangat lelah. Sedari di pesawat, bayangannya sudah ingin merebahkan tubuhnya. Tapi,, Bia lapar.


Al berdiri dan mengecupi bibir Bia. Sampai Bia tersadar dan memukul dada bidang Al.


" Iisshh,,, "


" Kita order rooms service aja ya. " usul Al.

__ADS_1


Senyum Bia langsung mengembang. Mengangguk cepat.


" Setelah makan, aku boleh menjenguk anakku kan. " kata Al sambil tersemyum nakal dan menaik turunkan alisnya.


" Sudah tercium modusnya. " gurau Bia.


Al menjadi tertawa. Karena Bia mengetahui maksudnya. Al segera menelpon rooms service. Untuk memesan makanan.Dan Bia beranjak ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket. Mau gak mau dia ingin mandi.


 


Bia mengaitkan kedua tnagannya. Sangat diakuinya dia tengah gugup bertemu dengan ornag tua Clara. Karena anak-anaknya ikut, dia takut akan ada kesalahpahaman lagi seperti pikiran Leny.


Al menggenggam kedua tangan Bia. Dan mendekap Bia, menyandarkan kepalanya di bahu Al yang memang terasa nyaman untuk Bia.


" Tenanglah Bi. Jangan khawatir. Aku akan menjelaskannya pada Mama Naya dan Papa Mark. " kata Al memastikan lalu mencium kening Bia.


" Aku takut akan ada kesalahpahaman seperti Leny dulu. Akan sulit menjelaskannya apalagi mereka adalah orang tua Kak Clara. Pasti mereka akan sangat marah nantinya. " kata Bia gusar.


" Bia,, ingat. Kamu gak boleh terlalu stres. Kalo memang kamu belum siap. Lebih baik ditunda aja kerumah Claranya. " kata Leon mengingatkan.


" Jangan Om. Mau ditunda sampai kapanpun, tetap kita punya kewajiban menjelaskan pada mereka. Dan lebih cepat lebih baik. "


" Abi, benar Bia. Kamu gak boleh berfikir terlalu berat. Kamu bisa pingsan lagi. " kata Gita mengingatkan.


" Sejak kapan nama Om Leon berubah jadi Abi ?! " goda Zaskia yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu Tian karena merasa mual berada di mobil.


" Isshh,, aku gak mau kalah dari Ghazzy. Aku juga mau dipanggil seperti dia. Mereka selalu memamerkan panggilan itu padaku dulu. " jawab Leon sambil mengusap kepala Gita yang tersenyum simpul.


Al kembali merasakan cemburu pada Ghazzy. Karena belum ada panggilan mesra seperti yang Bia lakukan pada Ghazzy dulu. Leon benar, Al juga gak mau kalah dengan Gahzzy. Hanya saja, panggilan itu belum terpikirkan di otak Al.


" Aku juga mau Bi. " bisik Al dan mengecup kepala Bia.


Bia bangun dan tersenyum.


" Hubby ?? By ?? Kita sama-sama panggil Bi dong nanti ?? " protes Bia.


Al terkekeh sejenak. Membayangkan keduanya tengah memanggil dengan panggilan yang sama.


" Aku panggil Mas aja lah. "


" Tapi kan gak ada yang aku panggil Mas selama ini. "


" Kali ini aku mengalah, sampai aku menemukan panggilan yang tepat untukku." omel Al sambil menyentil hidung Bia.


Azalea tertawa melihat Al yang tiba-tiba sewot mengalahkan emosi para bumil yang tiba-tiba berubah.


" Kita sudah sampai. " seru Azalea sembari membuka pintu mobilnya.


Semua orang tercengang, berdecak kagum dengan ekterior rumah Mark.


" Rumah orang tua Clara termasuk kawasan elit no 2 di Singapura. Jadi jangan kaget dengan tmapilannya yang elegan. " kata Azalea menjelaskan.


" Rumahnya keren ya Kak Bia. " puji Zaskia sembari menggandeng Bia.


" Sudah, jangan dekat-dekat. Sana, sama Tian aja. " usir Al sembari menarik lengan Bia dan menepis tnagan Zaskia.


" Kak Al ini apa-apaan sih !! " seru Zaskia marah.


Tian dan Leon tertawa mendengar keduanya ribut berdebat untuk memperebutkan Bia.


" Sudah, hentikan. Kalian ini udah menikah masih aja berdebaat terus. " herdik Azalea tak enak pada tuan rumah.


Tian mendekap Zaskia sambil masih tertawa karena Zaskia masih menggerutu bergumam tentnag Al. Sedang Bia memukul lengan Al yang tidak mau mengalah pada Zaskia yang tengah hamil dan ingin dekat dengannya.


" Ooohhhh,, pasangan selingkuh berani juga datang kesini ! " seru suara dibelakang mereka.


Semuanya menoleh dan kaget saat melihat ada Leny disana. Apalagi Bia, tubuhnya menegang dnegan cepat.


* Kalo Leny sudah berada disini, apa itu berarti Om Mark dan Tante Naya sudah mengetahui tentang anak-anak ? Apa mereka juga berfikir seperti yang dipikirkan Leny selama ini ?? * batin Bia bingung.


Bia menggigit bibir bawahnya karena gelisah. Tangannya terasa dingin, tentu saja membuat Al kahawatir.


" Bi,, ingat. Kamu gak boleh stres. " bisik Al sambil mencium telapak tangan Bia. Untuk menenangkannya.

__ADS_1


Al tahu kehadiran Leny disini pasti hanya akan memperkeruh suasana saja.


" Iisshhh,,, najis. " gumam Leny yang terdengar semua orang disana.


" Leny,, kenapa gak bilang kalo ada keluarga Bu Lea. " seru Naya senang sembari keluar rumahnya dalam dekapan Mark.


Mark melihat kemesraan Al bibirnya tersenyum tapi hatinya tiba-tiba terasa nyeri. karena teringat surat tulisan Clara. Langkahnya mnedekat ke arah Al dan Bia. Dia melepaskan dekapannya pada Naya. Dan segera memukul wajah Al bertubi tubi sampai tersungkur di lantai.


" Papa ,, !!!! " pekik Faiz dan Fawwaz bersamaan dan langsung menghambur memeluk Al yang masih kaget dan juga merasa nyeri di bibirnya yang terluka.


" Honey,,, !! " pekik Naya sembari kembali mendekap Mark.


" Kenapa tidak kau kembalikan saja Clara pada kami !! " bentak Mark marah.


" Papa dan Bunda bukan pasangan selingkuh seperti yang dibilang Bik Leny, Opa !!!! " bentak Faiz dengan menatap Mark tajam.


Sorot mata Faiz tentu saja membuat Mark dan Naya tersentak kaget. Mereka memiliki mata yang sama. Naya teringat dengan Ghazzy yang ditemuinya di RS saat menjenguk Bia dulu. Telapak tangannya menutup mulutnya tidak percaya.


" Abi,, Bia,, Bi. " bisik Gita saat melihat Bia yang tubuhnya menegang seolah terpaku ditempatnya berdiri.


" Gak sopan,,, ! " hardik Leny pada Faiz.


" Bia,,, !!! " pekik Azalea dan Gita bersamaan.


Untung saja Leon dan Wimpi dengan sigap menagkap tubuh Bia yang tiba-tiba pingsan.


" Bi,, !! " seru Al kaget sembari berlari mendekat ke arah Bia.


Al mengambil alih posisi Wimpi yang tengah meletakkan kepala Bia di pangkuannya.


" Bunda,,, bangun Bunda,,, " rengek Faiz dan Fawwaz.


" Al,, bawa Bia ke kamar Clara. " titah Naya khawatir.


" Nyonya,, kenapa Nyonya mengijinkan mereka masuk ? Mereka telah berselingkuh, Nyonya, Tuan. Wanita itu selalu menjadi orang ketiga di rumah tangga Non Clara, Nyonya. " seru Leny kesal.


" Diamlah, Leny. Masuk dan suruh Ibumu membuatkan minuman untuk para tamu kita. " hardik Mark.


" Ba,,baik Tuan. " jawab Leny dengan takut. Dia terlalu menghormati Mark.


Leon tidak mau mendengar perdebatan keluarga Clara. Dia dan Gita langsung dengan sigap memeriksa Bia. Meskipun mereka melakukan tindakan di lantai teras rumah orang tua Clara. Dengan peralatan medis yang dibawakan Randy.


" Gimana keadaan Bia Tante,, Om,, ?? " tanya Al panik.


" Seperti yang kita perkirakan, Al. Bia terlalu stres, dia shock melihat kamu yang tiba-tiba di pukul dan juga reaksi Faiz. " jawab Gita cemas.


" Lalu apa yang harus kita lakukan ? " tanya Azalea.


" Kita kembali ke hotel atau tetap disini. " jawab Leon.


" Aku harap, untuk sementara tidak membuatnya semakin stres. Kalian tahu maksudku. Bia harus dihindarkan dari pemicu stresnya. "


" Kita tetap disini. Seperti yang dibilang Bia, lebih cepat lebih baik. Aku gak mau semakin menunda melakukan kewajibanku. " tegas Leon.


" Siapa yang kalian maksud sebagai pemicu stres Bia ?" tanya Naya yang mendekat dengan menarik Mark.


" Leny. " jawab Zaskia kesal.


" Leny ?? " tanya Mark bingung.


" Bisakah kalian membaringkan Bia di sofa saja. Biar lebih nyaman, kalo memang tidak mau merebahkan Bia di kamar Clara. " kata Mark khawatir.


Sorot mata Faiz masih setajam itu pada Mark.


" Ini karena Opa !! " bentak Faiz marah.


" Mas,, gak boleh seperti itu sama ornag tua. " tegur Al sambil menggeleng.


" Tapi Mas Faiz benar, Opa. Ini gara-gara Opa itu. " sahut Fawwaz menimpali. Seraya mengahpus sisa air matanya dengan kasar.


Mark menunduk menyesal karena terlalu emosi. Naya menghela nafas. Kemudian mengusap lengan Mark yang terlihat menyesali perbuatannya.


" Al, kita obati Bia dulu. Baru kita bicara. " ujar Naya.

__ADS_1


Al mengangguk dan menggendong Bia. Zaskia menggandeng tangan Faiz dan Fawwaz menggandeng tangan Azalea.


__ADS_2