Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 70


__ADS_3

Tidak terasa sudah tujuh hari berlalu setelah kepergian Ghazzy. Al sudah membereskan barang-barangnya. Begitupun dengan Clara.


" Kak Clara mau kemana ? Kenapa kopernya dibawa keluar ? " tanay Bia heran saat melihat Clara membawa kopernya keluar kamar.


" Anak-anak sudah tidur ? " tanya Clara mengalihkan pembicaraan.


Bia mengangguk. Dia menahan koper Clara yang sudah bersiap menariknya.


" Kak Clara mau kemana ? "


" Bia,, besok pagi, aku dan Al akan kembali ke Kalimantan. Aku tahu Al pasti ingin berbicara denganmu. "


" Kak Clara gak usah berfikir macam-macam. Ini masih masa iddahku Kak. "


" Kalian sudah menikah. Setidaknya bicaralah dengannya Bia. "


" Tapi,,, "


" Aku akan tidur dikamarku. "


" Kak,, "


" Bia,, sssttttt,,, aku mengerti Bia. " kata Clara sembari masuk ke kamarnya tanpa menoleh pada Bia.


Bia menghela nafas. Bagaimana ini ? Pikirnya bingung.


" Kenapa melamun disini ? " sapa suara dibelakangnya.


Bia terlonjak kaget dan segeera menoleh.


" Mas,, bikin kaget aja. " omel Bia.


" Makanya jangan melamun. Masuklah. Aku akan mengambilkan minum untukmu. "


" Gak usah Mas. Aku mau ke kamar anak-anak. " jawab Bia keki sambil berlalu.


Tapi Al mencengkram pergelangan tangannya. Dan menariknya masuk ke dalam kamarnya. Menguncinya dari dalam.


" Mas,, apa yang kamu lakukan ? Kenapa mengunci pintunya. "


" Kamu sengaja menghindariku kan. "


Bia menelan ludahnya keki. Memang sedari ada Clara. Bia seolah memberi jarak pada Al. Tidak membiarkan dirinya sendirian dirumah. Selalu mengekori Clara, agar Al tidak menemuinya.


" Gak. " jawabnya pelan.


" Kamu tahu hukumnya berbohong pada suami ? "


" Aku gak bohong Mas. " jawab Bia sambil mencoba melepaskan tangan Al. Tapi tidak bisa.


" Ini ,, lepasin dulu. " pintanya tanpa melihat Al.


" Coba aja kalo kamu bisa. "


" Mas ,, !! " seru Bia.


" Kenapa kamu menghindariku ? Jawab dengan jujur. "


" Mas beneran mau tahu ? "


" Iya. "


" Aku bingung Mas. "


" Bingung ? "


" Iya. Kata Ustadzah. Pernikahan yang dilakukan saat masa iddah itu gak sah. Pernikahan harus diulang setelah masa iddah selama 130 hari terlewati. "


" Ini hanya alasan kamu kan. "


" Gak. Kok negatif thingking terus sih sama aku ? Kalo gak percaya, browsing saja sendiri. " gerutuu Bia sambil kembali berusaha melepaskan tnagannay meskipun masih belum berhasil.


" Nanti. Aku akan browsing nanti. Sekarnag aku ingin kamu istirahat. Ini udah malam. " kata Al sambil emnarik Bia menuju ranjangnya.


" Aku masih belum ngantuk Mas. "


" Kamu mau kita berdebat seperti ini terus ? "


Bia menggeleng cepat.


" Aku akan istirahat. Mas bisa keluar. Sebentar lagi Kak Clara pasti masuk. "


" Clara ada dikamarnya. Kamu mau menghindar lagi kan. " hardik Al.


" Bukan begitu. "


" Tidurlah. "


" Mas keluar dulu. "


" Bi,, tidur. Kamu ingin aku berbuat lebih padamu. Kamu tahu gimana aku Bi. " kata Al sembari semakin mendekati Bia yang semakin berjalan mundur.


" Iya. Baiklah,, baiklah. Aku akan tidur. Lepasin dulu. "


Al akhirnya melepaskan tangannya supaya Bia bisa tdur. Bia segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tapi kemudian kembali bangun saat Al ikut-ikut merebahkan tubuhnya disampingnya.


" Mas,, ! "


Al menarik lengan Bia sampai dia kembali merebahkan tubuhnya. Kali ini dia terjatuh dekat dengan wajah Al. Menatap mata biru seperti mata anak-anaknya.


" Biarkan seperti ini. Aku janji aku gak akan macam-macam. " protesnya saat Bia selalu berontak.


Akhirnya Bia menyerah.


" Ini salah Mas. "


" Ini terakhir kalinya aku bisa menatap wajahmu sedekat ini. Aku janji tiga bulan lagi aku akan menikahimu secara sah. "

__ADS_1


" Tidak dilakukan juga tidak apa-apa Mas. " celetuk Bia.


Al mencium bibir Bia singkat.


" Mas bilang gak akan macam-macam. " protes Bia.


" Terus saja bicara tentang perpisahan apalagi perceraian padaku. Aku akan terus menciummu. Meskipun ditengah jalan sekalipun. " ancamnya.


Bia menggerutu gak jelas. Yang jelas, bibirnya mengerucut karena kesal. Al tersenyum nakal. Dia kembali mencium bibir Bia meskipun harus dipukul Bia berkali-kali. Ciuman itu terlepas saat Bia menggeser posisi tubuhnya lebih jauh dari Al.


" Sudah. Disana aja. Lama-lama Mas membahayakan. "


Al tertawa lalu kembali menarik Bia di dekatnya.


" Aahh, ,lepasin Mas. "


" Maafkan aku. Kali ini, aku janji kita hanya tidur bersama. Aku gak akan macam-macam. Tiga bulan lagi aku akan meresmikannnya. "


" Empat bulan. " ralat Bia.


" Bi,,, jangan memancingku. "


Spontan Bia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Takut Al akan menciumnya lagi. Al terkekeh melihatnya. Dia merengkuh Bia ke dalam pelukannya.


" Aku mencintaimu Bi. Berat rasamya aku meninggalkan kamu disini. " kata Al lalu mencium puncak kepala Bia.


Bia mengusap sudut air matanya. Setiap kali Al mengatakan rasa cintanya. Entah kenapa hati Bia selalu merasakan ketulusannya.


 


Satu bulan kemudian. Al sudah menyelesaikan buku yang di berikan Bia padanya. Dia sedikit mengerti kalo Bia ingin Al bertnaggung jawab pada pernikahannya dengan Clara. Meskipun rasa cintanya hanya untuk Bia


Al mengetuk pintu kamar Clara. Di ketukan ketiga baru Clara membukanya.


" Al ? Ada apa ? Apa kamu membutuhkan sesuatu ? " tanya Clara heran.


" Bisa kita bicara ? "


" Bi,, bisa. Dimana ? "


" Masuklah. Kita bicara didalam. "


" Haahh ,, "


Al masuk ke kamar Clara meski si empunya kamar masih terlihat shock dan hanya berdiri didepan ointu sambil melihat kemana dia akan duduk.


Akhirnya Clara menutup pintu kamarnya. Dengan perasaan yang campur aduk. Lalu ikut duduk. Al duduk di atas ranjang. Sednag Clara duduk di kursi meja riasnya.


" Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan ? Apa sepenting itu ? Apa ada urusan pekerjaaan ? "


Al tersenyum sambil menatap Clara sayu.


" Aku ingin minta maaf. "


" Minta maaf ? Untuk apa Al ? "


" Untuk sikapku selama pernikahan kita. "


* Apa Al ingin menceraikan aku ? *


" Maafkan aku, Clara. Aku,,, "


" Tidak,, tidak,, jangan minta maaf Al. Aku takut mendenagrnya. " kata Clara sedih.


" Jujur saja, baru semalam aku menyadari semua kesalahanku Clara. Aku melalaikan tnaggung jawabku padamu. Aku mendholimi kamu. Aku menyakitimu terlalu dalam. Maafkan aku Clara. Sungguh,, "


" Apa karena Bia ? Apa karena pernikahanmu dengan Bia ? Apa kamu akan menceraikanku Al ? "


" Kenapa berfikir seperti itu ? Aku gak mungkin menceraikan kamu. Karena mahar yang diminta Bia padaku adalah janjiku untuk tidak menceraikan kamu bagaimana pun keadaan kamu Clara. "


Clara menutup mulutnya dnegan kedua telapak tnagannya kaget. Tidak menyangka Bia sampai meminta mahar seperti itu.


" Aku akan mencoba memperbaiki kesalahanku Clara. Aku akan berusaha bersikap adil pada kalian berdua. Aku harap kamu bisa mengikhlaskan pernikahanku dnegan Bia. Aku tahu ini semakin menyakitimu, tapi aku gak bisa membohongi hatiku sendiri. "


Clara menundukkan kepalanya dan mulai terisak.


" Aku yang salah karena telah hadir ditengah kalian. Padahal aku tahu kamu mencintainya. "


Al berdiri dan mendudukkan dirinya sejajar dengan lutut Clara. Lalu memggenggam kedua tangan Clara.


" Apa kita bisa mulai dari awal lagi Clara ? Mungkin akam sulit bagiku. Tapi aku akan berusaha adil diantara kamu dan Bia. "


" Sepeti yang aku katakan pada Bia, Al. Aku sudah mengikhlaskan pernikahan kalian. Aku tahu sampai detik ini kamu masih mencintai Bia. Kamu juga tahu kalo aku sudha menganggapmu seperti kakakku sendiri. Tapi, aku minta maaf. Karena seiring berjalnnya waktu. Rasa kagumku berubah menjadi rasa sayang Al. Aku minta maaf. "


Al berdiri dan menarik Clara dalam pelukannya. Membiarkan Clara menangis di pelukannya. Hatinya juga sakit melihat Clara menangis.


" Maafkan aku Clara. " pinta Al sembari emngusap rambut Clara.


" Kenapa harus disaat aku gak sempurna lagi Al. Aku gak sempurna lagi. "


" Maaf Clara. Aku butuh waktu untuk membuang perasaanku. Tapi, rasa sayangku pada Bia semakin terpupuk dengan subur. "


" Apa gak ada sedikitpun perasaan padaku Al ? "


" Aku mengagumi kamu Clara. Baik dulu ataupun sekarang. "


Clara memeluk Al semakin erat mengetahui fakta kalo Al memang hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tidak lebih.


" Al,, bolehkah aku mengajukan syarat untuk pernikahan kalian ? " bisik Clara pelan.


Al melepaskan pelukannya.


" Syarat ? Maksudnya ? "


" Kalo dalam waktu dua atau tiga bulan ini. Kamu belum bisa menyayangiku. Bisakah kamu menceraikanku ? "


" Clara,, apa kamu yakin ? Tapi, aku sudah berjanji pada Bia, kalo aku gak akan menceraikannya. tolong mengertilah Clara. "

__ADS_1


" Al,, ini hidupku. Aku ingin menikmati kesempatan hidup yang diberikan Allah. "


" Bukannya aku gak mau Clara. Bukan jug bermaksud hanya ingin menuruti kemauan Bia. Tapi mahar itu , benar-benar memang harus aku laksanakan. "


" Telpon Bia. Cobalah bicara dengannya. " kata Clara.


Al mengambil ponselnya di saku dan menelpon Bia. Tapi tidak juga diangkat Bia. Al sudah mulai kesal, sampai genggaman tangannya terlepas dari Clara.


" Masih belum diangkat ? " tanya Clara.


Al mengangguk kesal.


" Telpon Mama atau Kia. " usul Clara.


Al menuruti usul Clara. Dia menelpon Azlaea.


" Halo ? Assalamualaikum. "


" Halo, Ma. Waalaaikumsalam. "


" Al ? Ada apa ? "


" Apa Bia ada disamping Mama ? "


" Iya. Dia menemani anak-anak bermain. "


" Kenapa gak mengangkat telponku ? "


" Aku sudah memberitahu kalo ponselnya berbunyi. Tapi dia gak mau mengangkatnya. "


Al mengepalkan tanganya kesal.


" Berikan telponnya pada Bia. " geramnya.


Azalea terdiam. Terdengar oleh Al suara Mamanya yang tengah memanggil Bia.


" Bia,, ada telpon dari Al. Kenapa sedari tadi gak mengangkat telpon Al . "


" Ma,, bilang saja aku sudah tidur. "


" Mama tadi bilang kamu disini. Menemani anak-anak."


" Ralat saja Ma. "


" Bia,, Al itu anak Mama. Kamu mau Mama membohongi anak Mama sendiri ! " tegur Azalea.


Teguran Azalea dijawab cengiran oleh Bia . Lalu Bia mendekat dan menerima ponsel Azalea.


" Kamu itu kebiasaan. Suka sekali membuat anak Mmaa marah. " gurau Azalea sambil mencubit pipi Bia.


" Aduuhh,, ihh Mama. Kok cubit aku sih. "


" Anggap saja mewakili Al yang gak bisa menghukum kamu. " celetuk Azlaea.


Sudut bibir Al tertarik, satu senyuman tersungging disana. Mendengar kedua wanita yang disayanginya tengah berdebat.


" Halo ? "


" Kenapa gak angkat telponku ?!! "


Bia menjauhkan sedikit ponselnya.


" Rasain. " ejek Azalea.


Bia hanya mencibir.


" Aku sedang bermain dengan anak-anak. "


" Apa kamu gak lelah berbohong padaku terus ? Aku akan memghukummu nanti. "


Bia mendengus kesal.


" Ada apa ? Mau bicara dnegan anak-anak ? "


* Aku mau bicara dengan Bunda anak-anak. Aku merindukan Bunda anak-anak. * jawab Al dalam hati. Karena tak enak hati dengan Clara.


" Clara bilang, dalam dua atau tiga bulan. Dia minta aku untuk menceraikannya. "


Al mengubah volume suara menjadi loud speaker.


" Aku tahu gimana perasaan Kak Clara padamu Mas. Kalo sampai Kak Clara memint hal itu. Berarti ada yamg salah dengan sikapmu. "


" Gak ada yang salah dengan sikapku ! "


" Kalo sampai ada perceraian, berarti gak ada pernikaahan. " tegas Bia kesal.


" Bi,,, !!!


" PR kamu terlalu banyak Mas. "


" PR ? "


" Kamu harus perbaiki sikapmu pada Kak Clara. Buku yang aku berikan pasti udah selesai Mas baca kan. Dan satu lagi Mas. "


" Apa lagi !!! "


" Perbaiki hubunganmu dengan Mama dan Kia. "


" Sudah lebih baik. "


" Kita lihat saja nanti. Ya udah,, aku mau menemani anak-anak bermain. "


" Tung,,,gu,,, " seru Al dengan suara melemah.


Clara terkekeh melihat Al yang kesal karena Bia menutup telponnya sepihak.


" Tunggu saja. Aku akan menghukummu Bi. " gumam Al yang terdengar jelas ditelinga Clara.

__ADS_1


" Kamu dengar sendiri kan. "


Clara mengangguk mengerti.


__ADS_2