Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 65


__ADS_3

" Boleh aku minta tolong ? " tanya Ghazzy setelah memastikan Bia pergi ke kamar anak-anaknya.


Spontan semua mata menatapnya. Tian membantu membetulkan posisi bantal sebagai sandaran Ghazzy. Agar dia lebih nyaman.


" Terima kasih Tian. " ucap Ghazzy tulus yang dijawab Tian anggukan.


" Minta tolong apa Ghazzy ? " tanya Azalea sambil duduk di ujung ranjang Ghazzy.


" Tolong satukan Al dan Bia. "


Azalea dan Zaskia saling berpandnagan tidak mengerti.


" Gahzzy, kamu sadar dengan yang kamu katakan sekarang. " hardik Tian kesal.


" Aku juga mengatakan hal yang sama dneganmu Tian." sahut Leon sambil berdiri dibelakang Azalea.


" Kenapa kamu berifkir seperti itu Ghazzy ? "


" Aku bisa tennag kalo Al yang berada disamping Bia nanti Ma. Aku tahu aku egois. Setelah sekian lamanya berusaha menyatukan Al dan Clara. Sekarang dengan seenaknya meminta Al menikahi Bia. "


" Kamu tahu gimana Al Gahzzy. Aku yakin perasaannya masih sama pada Bia. Tapi,, akan menyakiti Clara nanti. Belum lagi Bia pasti menolaknya. "


" Aku akan bicara dengan Bia. Hanya saja,, "


" Hanya saja apa Kak ? " tanya Zaskia.


" Aku iingin melihat bagaimana perasaan Al pada Bia sebenar-benarnya. Aku ingin melihatnya sendiri. Bukan hanya menebak-nebak perasaannya pada Bia. Tapi aku gak tahu caranya. " keluh Gahzzy.


" Mau buat Kak Al menunjukkan perasaannya ? Ituu mudah Kak Gahzzy. Kak Tian pura-pura saja bilang akan menikahi Kak Bia kalau Kak Gahzzy mengijinkan. Kita akan melihat sebucin apa Kak Al. Apa masih sama seperti yang dulu ? " celetuk Zaskia.


Azalea tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Begitupun dengan Leon.


" Kamu yakin Ki ? " tanya Tian.


" Seratus persen Kak Tian. "


" Lalu,, gimana caranya kita membawa Al kesini ? " tanya Tian bingung.


" Tentu saja dengan mengiirm foto Bia yang menangis" sahut Zaskia.


" Kita kan berada di Kalimantan. " jawab Tian.


" Aku akan meminta perawat mengirimkannya padaku." kata Leon.


" Terima kasih. " ujar Gahzzy senang karena mereka mau membantunya menyatukan Al.


 


" Ayah dan Bunda gak ikut ? " tanya Faiz saat berpamitan pada Bia dan Ghazzy sebelum berangkat ke Kalimantan.


" Bunda menemani Ayah dirumah Mas. Ayah kan masih sakit. Mas dan Adek harus dengerin apa kata Oma, Opa, Om Tian dan juga Tante Kia. Gak boleh bandel ya." kata Bia mengingatkan.


" Nanti kalo Mas kangen gimana Bun. "


" Kan bisa telpon Bunda dan Ayah. Bisa video call Bunda dan Ayah disini. "


Faiz dan Fawwaz memeluk Bia erat. Kemudian mencium kedua pipinya lalu menuju ranjang Gahzzy. Melakukan hal yang sama seperti pada Bia.

__ADS_1


Ghazzy memeluk kedua anaknya erat. Tidak pernah berpisah sejauh ini dengan mereka.


" Ayah cepat sembuh. Susul kita ke Kalimantan ya. " celoteh Fawwaz.


" Adek, doakan Ayah terus ya. "


" Siaaapppp. Adek sayang sama Ayah. " ucap Fawwaz.


" Ayah, Mas ikut Oma dan Tante Kia ya. Nanti Mas salamin ke Papa. " kata Faiz.


Ghazzy termenung sejenak, sedari dulu memnag dirasanya Faiz lebih peka terhadap pikiran orang lain. Bisa dibilang, Faiz seolah bisa membaca pikiran orang lain. Karena itu dia lebih peka daripada Fawwaz.


" Iya. Jangan nakal. Turuti apa kata Oma, Opa, Om Tian dan Tante Kia. "


" Papa dan Mama Ara juga ? "


" Iya dong. "


" Siaaapp Ayah. Mas sayang Ayah. "


" Ayah gak bisa anter sampai mobil ya Mas,, adek. "


" Ya gak apa-apa Ayah. Bunda lihat dari balkon kamar saja. " kata Faiz.


" Sampai disana telpon Ayah dan Bunda ya. "


" Siaap Bunda. "


" Salamnya Mas,, Adek. " tegur Ghazzy.


" Assalamualaikum. "


" Kami pergi Bia,, Ghazzy. " pamit Azalea.


" Nittip anak-anak Ma. " kata Ghazzy.


" Jaga kesehatanmu. Istirahatlah. Jangan lupa minum obatnya. " kata Leon mengingatkan.


" Siap dokter. "


Azalea, Leon, Tian dan Zaskia pergi setelah bersalaman dnegan Ghazzy dan Bia.


 


Sudah tiga hari Si Kembar berada di Kalimantan. Bia lebih merasa dekat dengan Ghazzy. Dia hampir tidak pernah meninggalkan kamar Ghazzy. Semua kebutuhannya sudah di persiapkan oleh Amy dan Wimpi. Yahh,, Wimpi dan Amy lebih memilih tetap berada di rumah ini untuk menemani Bia dan Ghazzy.


Apalagi sejak kepergian keluarganya, Ghazzy semakin melemah. Perawat berkali-kali meminta untuk check up ke rumah sakit. Tapi ditolak oleh Gahzzy. Dan Bia tidak bisa memaksa Gahzzy.


Sejak perjalanan pulang dari bandara. Clara dan Al tidak saling bicara. Keduanya semakin hari semakin canggung. Bahkan untuk memulai obrolan sebagai sahabat.


" Masuklah. Biar aku yang bawa kopermu. " kata Al sembari menyeret koper miliknya dan Clara.


" Terima kasih Al. " ujar Clara.


Keduanya masuk tanpa curiga melihat mobil Azalea yang sedari dulu berada digarasinya kini berada di depan teras rumahhya.


" Papaaaaaa,,, Maamaaaa,,, !!!! " seru Faiz dan Fawwaz sennag sembari berlarian menuju pintu.

__ADS_1


Al dan Clara saling berpandangan heran. Dan saling melempar senyum.


" Hati-hati. Jangan lari,, !! " seru Al snenag. Bahkan tidak sadar melemparkan kedua kopernya ke arah samping.


Al duduk dilantai agar kedua anaknya bisa memeluknya.


" Papa kangen kalian. " bisik Al.


" Mas juga kangen Papa. "


" Adek juga kangem Papa. "


Al nampak terkekeh sejenak. Lelah yang dirasakannya benar-benar hilang seketika. Clara menghapus sudut matanya saat melihat pembantu rumah mereka mendekat dan mengambil kedua koper milik majikannya.


" Maaf Nyonya. Bu Lea tidak mengijinkan kami memberitahu Nyonya dan Tuan. Biar surprize katanya." katanya.


" Terima kasih Bik Leny. "


" Permisi. "


Faiz melihat Clara yang nampak berjalan mendekat ke arah mereka dengan pelan dan memegang perutnya. Dia melepaskan pelukan Al dan mendekat ke arah Clara.


" Mama Ara masih sakit ? "


" Iya Mas Faiz. Maaf belum bisa mengajak Mas bermain. "


" Papa,, kenapa gak menggendong Mama speeti Bunda dulu ? Kan Mama masih sakit. "


Al dan Clara kembali berpandnagan.


" Mama masih bisa jalan kok Mas Faiz. " jawab Clara.


Al berdehem sejenak. Merasa malu karena Bagaimana bisa hal seperti ini harus dingatkan oleh anak kecil.


" Maaf. Papa terlalu bahagia bertemu kalian. " kata Al mengelak.


Al menggendong Clara menuju kamarnya. Didikuti kedua anaknya di belaknagnya. Faiz bahkan dengan peka membuka pintu kamar Clara untuk lebih memudahkan Al masuk.


" Mama lelah ya. Istirahat aja. " kata Faiz.


" Mama. Boleh Adek tidur disini ? Ngantuk. "


" Adek. Dikamar kita aja. Kasihan Mama. Biar Mama istirahat dulu. "


" Tapi udah ngantuk Mas. " rengek Fawwaz.


" Gak apa-apa Mas Faiz. Adek biar tidur sama Mama saja. Mas Faiz mau tidur disini juga ? "


Faiz terdiam. Berfikir sejenak. Melihat Clara dan Al bergantian, kemudian mlihat Fawwaz yang sudah hampir terlelap dengan lengan Clara sebagai sandarrannya.


" Iya Ma. Mas tidur disini aja. Boleh kan Pa ? " pinta Faiz.


Al jadi gelagapan. Kemudian mengangguk. Faiz tersenyum senang sembari tidur disamping Fawwaz yang memeluk Clara.


" Papa tidur disini. Pasti Papa lelah. " ucap Faiz sembari menepuk tempat disampingnya.


Al mengangguk ragu kemudian membaringkan tubuhnya disamping Faiz. Merengkuh tubuh Faiz yang langsung terlelap. Al melihat Clara yang sudah terpejam dengan memeluk Fawwaz.

__ADS_1


* Kejutan apa ini ? Dengan siapa anak-anak disini ? Apa kamu juga ada dirumah ini Bi ? * batin Al.


__ADS_2