
Bia menatap Al yang baru masuk ke kamarnya dengan heran. Dia mengamati tiap langkah Al yang tengah berganti baju dengan masih tersungging senyum disana.
Sadar kalo tengah di tatap intens oleh Bia, Al mendekatinya. Mencium Arra di gendongan Bia dan meletakkannya di box tidurnya bersama dua jagoannya yang lain.
" Kenapa sih, menatapku seperti itu ? Aku makin ganteng ya. " kata Al narsis sambil menoel hidung Bia yang masih menatapnya heran.
Bia menepis tangan Al yang masih memepermainkan hidungnya. Hingga Al terkekeh.
" Ada apa sih ? Apa Mas dapat sesuatu sampai membuat Mas sesenang ini ? " tanya Bia penasaran sembari berdiri membuatkan air jahe hangat untuk Al
Al mengikuti Bia dan memeluknya erat.
" Mas,, ahh,, kan tumpah semua airnya. " protes Bia.
Bia sedang menuangkan air panas di gelas yang sudah diisinya dengan madu dan jahe. Dan tiba-tiba Al memeluknya dari belakang. Membuat tangannya oleng, untung saja airnya tidak mengenai tangannya.
" Apa kena tangan kamu, Bi ? " tanya Al cemas.
" Gak sih. Cuman kaget aja tadi. Mas tiba-tiba main peluk aja." jawab Bia sambil mengambil tisu untuk mengelap nakasnya yang sedikit basah.
Al mencium pipi kanan Bia senang.
" Alhamdulillah. Maaf ya Bi. " ucapnya.
Bia hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian berbalik menghadap Al yang masih memeluknya mesra.
" Ada apa sih. Kenapa tumben sekali datang-datang, bukannya salam tapi senyum-senyum gak jelas. " omelnya.
" Eehh,, aku tadi gak ucapin salam ya. " sahut Al keki.
Bia hanya mencibir tentu saja membuat Al tertawa dan mencium bibirnya.
" Maaf. Assalamualaikum, istriku,, Robiatul Adawiyah. Nyonya Malik Al Farizhi. " ucap Al dan diakhiri dengan mencium kening Bia.
Bia tersenyum simpul. Lalu memukul dada bidang Al, ikut terkekeh saat melihat Al masih juga tersenyum senang.
" Ada apa sih. Kenapa bisa sebahagia ini ? Apa Mas baru saja dapat tender ? "
" Bahagiaku lebih dari sekedar menang tender Bi. "
" Lalu ? "
Al hanya tertawa melihat ekpresi penasaran Bia.
" Isshhh,, kok diketawain sih. Ada apa sih Mas ? "
" Aku bahagia,, karena Allah meridhoi kamu menjadi istriku Bi. Anugerah yang sangat aku syukuri. " ucap Al sambil menempelkan keningnya di kening Bia.
" Ishh,, gombal aja ah. Masa hanya karena itu kamu jadi sesumringah ini Mas ? "
" Eehh,, siapa bilang hanya karena itu. Apalagi main gombal-gombalan. Aku serius Bi. Kamu anugerah untukku. Aku gak mau kehilangan anugerah itu. " protes Al tidak terima sambil memeluk Bia.
" Jangan pernah lelah menemaniku Bi. Jangan lelah menegurku, mengingatkanku tentang kebersaman kita. Jangan lelah mencintaiku Bi. Aku mencintai kamu Bi. Sangat,, dan terus membesar. " bisik Al mesra.
Bia hanya tersenyum haru. Membalas pelukan erat Al.
" Terima kasih Mas. Aku selalu berdoa kita dijauhkan dari teluh dan orang ketiga. Jangan pernah berubah Mas. Aku takut Mas gak mencintaiku lagi nanti. "
" Ahhhh,, Aku mencintai kamu Robiatul Adawiyah. Terima kasih Ghazzy, sudah memberiku kesempatan menjadi suaminya. "
" Ihhh,, ngomongnya kok gitu sih. "
__ADS_1
" Kan faktanya Bi. "
" Oh iya Mas. Itu,, Bik Okta jadi kapan berangkatnya ?" tanya Bia sambil melepaskan pelukannya.
" Aku udah membelikan tiket pesawat untuk Bik Okta dan Pak Dito. Nanti jam sepuluh, Randy akan mengantarkan mereka ke bandara. " jawab Al sambil mengusap wajah Bia.
" Alhamdulillah. Ehhhmm,, uang saku yang Mas berikan belum aku berikan Bik Okta. Sebentar ya Mas. Aku kedapur dulu. " pamit Bia tidak enak hati.
" Nanti aja Bi. Lagian kan masih lama. Ini masih jam tujuh. Aku mau memelukmu lebih lama, mumpung anak-anak sedang tidur. "
Bia mengernyitkan alisnya dan menatap Al penuh selidik.
" Kenapa malah menatapku seperti itu sih ? " tanya Al.
" Yah,,, habisnya. Kamu ini mencurigakan Mas. Bukannya ke kantor malah ini,,, "
" Kan aku juga mau diperhatikan Bunda. Bukan Mas Faiz, Mas Fawwaz, Farash, Farish dan juga Arra aja. " sahut Al cepat.
" Bayi besar Bunda lagi ngambek rupanya. " goda Bia sambil mencubit pipi Al.
Al tertawa mendengar panggilan Bia. Lalu mendorong Bia ke arah jendela kamar mereka. Menghadapkan Bia ke arah jendela untuk sekedar menikmati pemandangan pagi itu.
" Kita udah lama gak kencan Bi. " kata Al.
" Kita sudah terlalu sering menitipkan anak-anak Mas. Aku gak mau mereka nanti lebih akrab dengan sentuhan Mama dan Kia. Bukan dengan sentuhan kita orang tuanya. "
Al terdiam sejenak. Yah,, Bia sudah sering menitipkannya pada keluarganya saat bekerja dulu.
" Bukan bermaksud menolak keinginan Mas Al. Cuman,, aku gak mau kehilangan momen perkembangan anak-anak di goldenage mereka Mas. Dulu, Faiz dan Fawwaz benar-benar di perhatikan perkembangannya bergantian dengan Mas Ghazzy. Bukannya membandingkan, aku ingin mereka juga punya kenangan yang sama dengan kakak-kakak mereka. Mereka dibesarkan dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tua mereka. " kata Bia sembari menghadapkan tubuhnya kembali ke arah Al.
Al tersenyum dan mengangguk pertanda mengerti.
" Kita bisa kencan nanti malam. " goda Al.
Al tertawa.
" Bersama dengan orang dengan memiliki aura putih memang menentramkan. Karena itu, aku selalu candu ingin selalu dekat denganmu Bi. "
" Orang dengan aura putih ? Maksudnya aku ? "
Al memgangguk.
" Gimana Mas bisa tahu kalo aku punya aura putih ? "
" Randy yang tadi bilang. "
" Kak Randy,, ? Kak Randy bisa melihat aura seseorang ? " tanya Bia takjub.
" Bukan dia. Wimpi yang bisa. "
" Kak Wimpi ? Benarkah ? " sahut Bia senang.
Al menggandeng tangan Bia dan menyuruhnya rebahan diatas ranjang. Bersebelahan dengan box ranjang anak-anaknya.
" Tiduran aja. Pasti kamu lelah. " ucap Al.
Bia memgangguk lalu tidur disamping Al dengan berbantalkan lengan Al. Mengusap-usap wajah Al.
" Jangan usil gitu tangannya Bi. Aku bisa khilaf nanti." goda Al.
" Ckk,, kamu ini Mas. "
__ADS_1
Akhirnya Bia mengeratkan pelukannya. Tangannya melingkari pinggang Al hingga tubuhnya berdempetan dengan Al.
" Bi,, ini ,, nempel banget. Aku malah jadi ingin ini. " goda Al lagi dengan menunjuk ke arah payudara Bia.
Akhirnya Bia bangun dengan bibir mengerucut kesal.
" Ya udah, gak usha tiduran. Daripada Mas mesum mulu. " omelnya.
Al kembali tertawa mendnegar omelan Bia. Lalu menariknya agar kembali berbaring.
" Maafkan aku,, tiduran aja. "
" Beneran lho. Aku nyaman kalo tidur dipelukan Ma sepeti ini. " ucap Bia jujur hingga wajahnya merona malu.
" Lihat aja. Wajahmu jadi makin menggodaku Bi. "
" Maaasss,,, "
Al hanya tertawa melihat sikap manja Bia saat ini.
" Lanjutin cerita tentang aura tadi Mas. "
Al mendekat kearah telinga Bia.
" Tapi ,, udah ada yang terbangun Bi. Gimana dong. " bisiknya mesra dengan sengaja memciumi telinga Bia.
" Mas,, ini,,, bener-bener ya. " keluh Bia dengan suara parau.
Karena mau gak mau jadi ikut terpancing Al yang sedang melepaskan jilbab Bia dan menciumi lehernya yang sudah terekpos.
" Kamu jadi canduku sih Bi. Orang yang dnegan aura putih. " kata Al sambil melakukan penyatuan.
" Mak,, ahhh,, maksudnya apa sih Mas ? " tanya Bia heran.
" Aku akan menjelaskannya setelah kita selesai olah raga. " gurau Al.
Bia hanya tersenyum sejenak mendnegar candaan Al.
****
" Tadi sewaktu aku bertemu dengan Randy. Aku ingat permintaan Alex yang mengatakan kalo Ary mwnyukai Wimpi. Dia minta agar memberikan kesempatan pada Ary dan Wimpi untuk saling mengenal. " kata Al saat keluar dari kamar mandi dan melihat Bia tengah menyusui Farash yang lapar. Sebelum tangisnya membuat Farish dan Arra terbangun.
" Kak Ary ? Benarkah ? Aku akan sennag sekali kalo Kak Wimpi mendapatkan pasangan. " jawab Bia sennag.
" Masalahnya gak semudah itu Bi. Eehhmm,, gak mudah kalo bagi Wimpi sendiri sih. Hahahaha "
" Ckkk,, alasan apa sih itu. "
" Seperti yang aku bilang tadi pagi. Wimpi bisa melihat aura yang terpancar dari tubuh seseorang. Kata Randy, ilmu kebatinan yang dia punya semakin meningkat tajam saat bertemu dengan kamu. Aura tubuhmu berwarna putih. Tidak banyak yang memiliki aura sepertimu. "
" Lalu apa hubugannya dengan orang yang akan menjadi pasangan Kak Wimpi nanti ? "
" Setidaknya dia harus memiliki aura yang sama denganmu Bi. Dan Wimpi belum menenmukan orang seperti itu. "
" Aaahh begitu. Memang apa istimewanya sih ? "
" Karena auramu bukan hanya membuat orang merasakan kenyamanan. Tapi khodam yang dimiliki Wimpi pun semakin kuat dengan keberadaanmu. Karena itu, Wimpi selalu peka terhadapmu. "
" Heemmm,, kalo berurusan dengan magis lagi,, aku percaya kalo Kak Wimpi tahu apa yang terbaik nantinya. "
Al mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
" Kita ke ruang keluarga ya. Sekalian memberikan uang saku pada Bik Okta. "
Bia mengangguk.