
Dua bulan kemudian,,,
" Bi,, kita pergi umrohnya kebagian pas akhir bulan. Gimana menurut kamu ? " tanya Al saat sudah menidurkan anak-anaknya di kamar mereka.
" Ya gak apa-apa Mas. " jawab Bia sambil memberikan jahe hangat ke arah Al.
Al meminum jahe hangat itu.
" Tapi, akhir bulan kan selalu sibuk-sibuknya closingan Bi. Aku bisa kewalahan nantinya. "
" Lalu, Reiga buat apa ? Kenapa gak bisa meringankan pekerjaan kamu Mas ? " protes Bia sembari duduk di samping Al di atas ranjang.
" Reiga sudah melakukan tugasnya dengan baik Bi. Maksudku mengecek semuanya. Gak mungkin Reiga juga kan yang melakukannya. "
" Kalo tunggu Mas gak sibuk, lalu kapan berangkatnya Mas ? " keluh Bia dengan bibir mengerucut.
" Ckk,, melihat istriku merajuk seperti ini, gimana aku bisa kuat coba ? " goda Al sambil menoel dagu Bia.
" Isshh,, apaan sih Mas. Lagi serius juga. " gerutu Bia kesal.
Al tertawa kemudian berdiri untuk meletakkan gelas itu di atas nakas. Dan juga mengambil satu berkas di tas kerjanya.
" Mas mau lembur ? " tanya Bia heran.
" Lembur making love. " jawab Al dengan mengecup bibir Bia sekilas.
Bia menepis wajah Al agar menjauh dari wajahnya.
" Kebiasaan deh. Ini kita lagi serius lho Mas. Jadi, kapan kita berangkatnya ? Kalo memang nanti pekerjaannya numpuk, aku bantuin Mas. " protes Bia sedih.
Al kembali tertawa lalu mencubit pipi kanan Bia gemas. Bia meringis sejenak kemudian tersenyum.
" Dengan kata lain, kamu mau bekerja lagi gitu. Gak. " tegas Al sambil duduk kembali di samping Bia.
" Kan aku bisa bantu mengerjakannya dirumah. Di ruang kerja kamu. Gak perlu ke kantor kan. "
" Kerjaan kamu untukku sekarang, cuman satu Bi. "
Alis Bia mngernyit pertanda bingung dengan maksud Al.
" Apa itu ? "
" Puasin aku diranjang. " bisik Al pelan.
Bia memukul lengan Al dengan keras. Bisa-bisanya bercanda di tengah pembicaraan mereka yang sedang serius.
" Mas,, ini selalu aja begitu. Mesum aja bawaannya. "
" Habisnya kamu memancingku Bi. " goda Al.
" Kapan ? Di sikapku yang mana yang memancing kamu, Mas ?! " protes Bia.
" Lihat aja bibir ini,,, " desis Al sambil mencium bibir Bia sedikit lama.
Bia mendorong tubuh Al agar menjauh dan melepaskan ciumannya.
" Serius dong Mas. " serunya kesal.
Al menghapus saliva dibibirnya. Lalu tertawa.
" Maasss,,, !!! " tegur Bia.
" Bukalah. " perintah Al sambil memberikan satu map ke pangkuan Bia.
" Apa ini ? "
" Buka dulu. Katanya mau serius. Mau aku cium lagi ? "
" Ishhh,, " decih Bia.
Bia membuka satu map itu dengan sesekali menjauhkan wajahnya dari tnagan jahil Al yang terus-terusan menoel hidung, kadang mencubit pipi Bia lalu menarik bibir Bia yang tanpa sengaja mengerucut kesal.
__ADS_1
Mata Bia berbinar saat melihat nama-nama keluarganya tertera di satu kertas itu. Terbaca jelas oleh Bia, mereka akan bernagkat umroh dua minggu lagi. Semua prosedurnya sudah lengkap. Tinggal memenuhi persyaratan terakhir untuk manasik.
Air mata Bia sudah berjatuhan menetes di pipinya. Dia meletakkan berkas itu di pinggirnya. Dan meraih tubuh Al untuk memeluknya. Al yang tidak menyangka Bia akan seekspresif itu menjadi kaget hingga tubuhnya terbaring di atas ranjang. Dengan tubuh Bia menindihnya.
Al tertawa terharu melihat Bia sebahagia itu. Dia membiarkan Bia menangis di pelukannya sembari memgusap kepala Bia lembut. Sampai tidak sadar dia juga ikut menangis merasakan keharuan Bia saat ini. Akhirnya dia bisa datang ke rumah Allah. Bersama dengan orang-orang yang disayanginya.
" Terima kasih Bi,, sudah membuatku mengenal Rabbku. Membuatku berubah seperti ini. Aku mencintaimu Bi. " bisik Al sembari mengeratkan pelukannya.
Bia mendongak, lalu tangannya menghapus air mata Al disudut matanya.
" Aku yang harusnya berterima kasih Mas. Sudah sangat mencintaiku sedalam ini. Masih sangat mencintaiku dengan segala kurangku. Mas, gak tahu sebahagia apa aku sekarang ini. Terima kasih Mas. " ucap Bia.
Bia menciumi wajah Al dengan bertubi-tubi saking gemasnya. Al malah tertawa melihat tingkah Bia seperti anak kecil.
" Kamu mau menggodaku Bi. " serunya.
Bia menjadi tertawa.
" Bukan begitu kalo mau menggodamu. "
Bia mulai mencumbui wajah Al, memberikan sentuhan pada Al tidak seperti biasanya. Semula Al hanya menertawakannya. Tapi, lama kelamaan dia makin menikmati sentuhan Bia. Hingga makin lama makin terpancing. Apalagi Bia tidak membiarkan Al mengambil alih permainannyaa.
" Ada apa Bik. Kenapa semuanya ada disini ? " tanya Zaskia bingung.
Saat melihat Bik Amy, Bik Okta, Wimpi dan Randy masuk ke ruang makan.
" Saya juga gak tahu Non Kia. Tadi, Tuan Al meminta Randy untuk menyampaikan pesan. Disuruh kumpul diruang makan Non. " jawab Amy.
Zaskia, Azalea dan Adiba berpandangan bingung. Tapi tidak dengan Tian. Dia hanya tersenyum simpul. Mungkin sudah waktunya memberikan kejutan. Pikir Tian.
" Ki,, biar Bilqis di tidurkan dulu. " kata Tian sambil mengambil Bilqis di gendongan Zaskia dan menidurkan di stroleernya bersama Arra yang sudah tertidur lebih dulu.
" Memangnya Kak Al udah pulang, Ma ? Mau makan siang dirumah ? " tanya Zaskia lagi.
" Mungkin saja. Bia saja belum turun untuk makan siang. " jawab Azalea.
" Maaf semuanya jadi menunggu. " kata Al yang turun dari tangga sembari mendekap Bia yang membawa beberapa map.
Al dan Bia hanya tersenyum.
" Tenang, Ma. Semuanya kebagian kok. Bagiin Bi. " guurrau Al.
Bia tertawa melihat ekpresi kesal Zaskia dan Azalea. Sedangkan Tian dan Adiba hanya tersenyum.
" Jangan dibuka dulu. Kita buka sama-sama. Biar surprise. " seru Al. Hingga membuat semuanya tertawa lucu.
" Ini untuk Bu Adiba, ini untuk Tian. Ini untuk Mama, dan ini untuk kamu Ki. " kata Bia dengan mengakhiri cubitan di pipi gembul Zaskia.
" Isshh,, Kka Bia ! Kebiasaaan. " tegur Zaskia sembari membuka map itu.
" Kia,, jangan dibuka dulu. Bersamaan dengan yang lain. " sahut Bia sambil emnuttup kembali map itu.
" Penasaraan Kakkk !! "
" Aku ambil lagi deh. Kamu yang terakhir aja. Resek nih. " seru Bia lalu mengambil map itu dari hadapan Zaskia.
Tapi Zaskia sudah lebih sigap menyembunyikannya dibawah meja.
" Iya,, iya,, oke,, aku tunggu. Buruan,, lemot sih Kak Bia. " sahut Zaskia cepat.
" Isshh,,,, dasar kamu ya. "
Zaakia hanya menjulurkan lidahnya menang. Azalea menggelengkan kepalanya heran. Masih aja suka berdebat anak dan menantunya ini.
" Ini untuk Kak Wimpi, ini utnuk Bik Amy, untuk Kka Randy. Untuk Bik Okta, menyusul ya Bik. " seru Bia tidak enak hati.
" Gampanglah Non. " jawab Bik Okta.
Bia kembali berdiri disamping Al yang langsung merengkuhnya dalam dekapannya.
__ADS_1
" Sekarnag buka sama-sama. Bismillah,,, " ucap Bia.
Semuanya membuka map itu. Dan saling berpandangan takjub. Air mata sudah mulai mengalir dari beberapa pasang mata yang ada disana. Adiba dan bik Amy langsung sujud syukur. Hingga tanpa dikomando semuanya ikut melakukan apa yang dilakukan Adiba dan Amy.
Okta melihat mereka menjadi bingung sendiri. Karena tiba-tiba semuanya bersujud padahal tidak sedang beribadah.
Al menghapus air mata Bia yang smaa derasnya dengan keluarganya.
" Sudah, jangan menangis. Aku jadi teringat servis semalam. Aku jadi ketagihan Bi. " bisik Al pelan.
" Iissshh,, Mas ini. Memang gak pernah lihat sikon deh. Sikonnya lagi terharu kayak gini, bisa aja berpikiran mesum kayak gitu. " omel Bia kesal.
Al tertawa dan memeluk Bia senang sembari menghapus sesuatu di ujung matanya.
" Al,, Bia,, ini serius ? " tanya Adiba terharu.
" Kita duduk dulu ya. " jawab Al. " Kalian semua juga duduk di kursi saja. " lanjut Al.
Kesemuanya mengangguk sambil menghapus air mata mereka.
" Alhamdulillah,, kita semua bisa bernagkat umroh sama-sama dua minggu lagi. Mulai lusa, kita akan melakukan manasik. Dan aku harap kalian jaga kesehatan biar makin fit saat umroh nanti. " jelas Al.
" Terima kasih Tuan,, terima kasih Non. " seru Amy, Wimpi dan Randy hampir bersamaan.
" Untuk Bik Okta. Ini mau gimana. Tetap disini, atau mau mudik sementara kami umroh nanti ? " tanya Al.
" Berapa lama Tuan di tanah sucinya ? "
" Kami ambil yang empat belas hari disana. " jawab Al.
" Lalu anak-anak juga dibawa Tuan ? "
" Iya Bik Okta. " jawab Bia.
" Ehhhmm,, kalo gitu saya mudik ke Surabaya saja Tuan, Non. "
" Kapan Bik Okta berangkat ? " tanya Al.
" Lihat nanti Tuan. Apa masih ada yang bisa saya kerjakan dulu. " jawab Okta.
" Begini, bukannya mengusir ini ya Bik. Pak Dito, kemarin, juga berpamitan mau mudik ke Surabaya. Kalo memang Bik Okta mau. Lusa bisa berangkat bersama Pak Dito. Biar ada yang menemani di perjalann. " jelas Al.
" Oh begitu Tuan. Apa tidak apa-apa Tuan ? Nanti menambah pekerjaan Bik Amy Tuan. "
" Tidak apa-apa Bik Okta. Kan saya udah gak kerja. Bisa membantu Bik Amy juga nantinya. Mas Al benar, biar bersama Pak Dito aja mudiknya. "
" Iya Tuan. Non. Terima kasih banyak. Semoga ibadahnya nanti lancar ya semuanya. " doa Okta.
" Aaaaammmiiiiinnnnn !!! " ucap semuanya kompak.
" Kami permisi Tuan, Non,, " pamit Amy yang diikuti anggukan sopan oleh Okta, Wimpi dan Randy.
Zaskia berdiri dan memeluk Bia yang tengah duduk disampingnya.
" Terima kasih Kak ,, " ucap Zaskia terharu.
" Bukan sama aku Ki. Sama kakak kamu. " gurau Bia.
Al memgusap kepala Bia dengan lembut. Azalea mendekat ke arah Al. Dan memeluknya setelah Al mencium punggung telapak tanagnnya.
" Alhamdulillah Al,, Mama bangga sama kamu. " bisik Azalea.
" Ini semua gak lepas dari doa Mama dan Bia untukku Ma. Kalian gak oernah lelah mendoakanku. " ucap Al.
Tian mendekap Ibu dan istrinya dengan tersenyum dan keharuan yang luar biasa.
" Terima kasih Al,, Bia,, semoga rumah tangga kalian selalu sakinah mawadda warrahmah. " ucap Adiba tulus.
Bia mengangkat tangan dan mengamini dengan sungguh-sungguh doa Adiba.
" Aammmiin,, aaammiin,, yarobbal alamin. " jawab Al.
__ADS_1
" Tian, besok temani aku mengambil perlengkapan umroh kita di biro travelnya. Sekalian menanyakan keperluan apa saja yang dibutuhkan untuk anak-anak kita nantinya. "
" Siap Kak Al. Terima kasih. " jawab Tian.