Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 117


__ADS_3

Al menatap kepergian Bia yang dibawa para dokter masuk ke ruang operasi. Dia menyandarkan keningnya dipintu ruang operasi.


Seketika tubuhnya lemas. Bia,, jangan tinggalkan aku. Ya Allah,, tolong selamatkan istri dan anakku. Batin Al sedih.


Semuanya serba cepat, dan dia belum siap kalo terjadi sesuatu pada Bia dan anak-anaknya. Penjelasan dari dokter Gita dan dokter Leon membuanya berfikir macam-macam.


* Bagaimana kalo nanti aku harus di suruh memilih antara anakku atau Bia ? Siapa yang akan aku pilih nantinya ? *


Sudah dua jam berlalu. Tapi tidak ada satupun dokter yang keluar dari ruang operasi. Al sudah lemas karena sedari tadi bolak balik ke kamar mandi. Seperti dulu, merasakan mules seperti diare tapi tidak dalam keadaan diare.


" Al,, duduuklah. Wajahmu sudah pucat. " kata Azalea diantara cemasnya.


" Aku gak apa-apa Ma. " jawab Al tanpa mengalihkan pandnagannya dari pintu ruang operasi.


Zaskia dan Tian yang sudah sampai setengah jam yang lalu setelah ditelpon Azlaea menatap sedih pada Al. Faiz dan Fawwaz ada dirumah bersama Adiba. Sengaja tidak memberitahukan mereka kalau Bundanya tengah berjuang melawan maut.


Mereka tahu saat ini Al yang paling merasa takut dan khawatir pada keselamatan Bia. Karena Al snagat mencintai Bia.


* Selamatkan Kak Bia dan anak-anaknya Ya Allah * batin Zaskia.


Zaskia berdiri dan mendekap kakaknya yang tidak mau melepaskan pandnagannya dari pintu ruang operasi. Dia sama khawatirnya dengan Al saat ini. Mereka terlalu menyayangi Bia. Sampai Al memeluk Zaskia saking cemasnya. Zaskia mengusap keringat dingin yang membanjiri kening Al.


" Mules lagi ? " tanya Zaskia cemas.


Kali ini tidak ada perdebatan. Al hanya mengangguk lemah, dan mengusap perutnya. Berharap perutnya bisa diajak kompromi. Capek bolak balik ke kamar mandi tapi juga takut melewatkan kabar dari ruang operasi.


" Duduklah Kak. " kata Zaskia sedih melihat Kakaknya yang sudah sangat pucat.


Al menggeleng perlahan.


" Aku yakin Bia pasti kuat. " desisnya.


* Aku mohon kuatlah Kak Bia. Andai Kakak tahu selemah apa Kak Al sekarang ini. Kak Bia obat Kak Al selama ini. Aku gak bisa membayangkan bagaimnaa hidup Kak Al, kalo terjadi sesuatu pada Kak Bia. *


Al bersandar di dinding di sebelah pintu ruang operasi. Memejamkan matanya, berdoa untuk keselamatan Bia dan anak-anaknya. Bahkan terbersit niat dalam hatinya untuk mengabulkan permintaan Bia yang tidak mau hamil lagi.


* Kalo kehamilan kamu nanti membuatmu menghadapi resiko sedemikian besarnya. Bahkan sampai bisa membuatmu kehilangan nyawamu. Aku gak mau kamu hamil lagi Bi. Aku benar-benar takut kehilangan kamu. Aku gak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpamu nanti. Astaghfirullahaladzim. *

__ADS_1


Al menghela nafas panjang, perdebatan dalam pikirannya membuatnya semakin lemas. Ketakutannya tentang hidupnya tanpa Bia. Lalu bagaimana dengan anak-anaknya, apa dia akan sanggup membesarkan semua anak-anaknya tanpa ada Bia disampingnya.


" Ruang operasinya terbuka Kak Al. " pekik Tian. Sambil berdiri dengan mendekap Azalea yang masih panik.


Dia sedih melihat Al dan Zaskia yang menunggui Bia dengan menangis sesenggukan. Untung aja si kembar tidak ikut mereka. Entah tangisan mereka akan sekeras apa nantinya.


Al membuka matanya lalu menoleh dan segera mendekat ke arah pintu. Masih menunggu Leon atau Gita atau dokter-dokter lain keluar dari ruang operasi.


Leon keluar dari ruang operasi dan langsung disambut oleh Al dan Zaskia.


" Gimana Om,, ?!! " tanya Al dan Zaskia bersamaan saking paniknya.


Masing-masing malah menarik-narik lengan Leon yang nampak lelah setelah keluar dari ruang operasi.


" Alhamdulillah,, operasinya sukses. Anak-anakmu lahir dengan selamat dan sempurna. Tidak kekurangan satu apapun. " jelas Leon sambil tertawa.


Al dan Zaskia saling berpelukan bahagia. Kemudian kembali menatap Leon.


Zaskia menghela nafas panjang, snagat lega. Bahkan dia sudah menangis saking bahagianya. Dia panik saat Azalea menjelaskan kenapa Bia tiba-tiba harus operasi caesar. Sedangkan HPL nya masih sangat lama.


" Bia,, Bia,, bagaimana dnegan Bia Om ? " tanya Al takut.


" Alhamdulillah. Bia juga selamat Al. " tegasnya.


Niatnya ingin mnegerjai Al dengan mengatakan Bia belum keluar dari masa kritisnya. Tapi akhirnya diurungkan karena tidak tega melihat kekhawatiran Al apalagi untuk mengerjai keponakannya yang sudah bucin akut pada Bia.


" Alhamdulillah. Terima kasih Om. Terima kasih. " seru Al senang sembari memeluk Leon bahagia.


Leon menepuk punggung Al yang terdengar terisak dipelukan Leon. Bia benar-benar bisa merubah kulkas sepertimu menjadi sebucin ini, Al. Pikir Leon tidak habis pikir.


" Masuklah. Adzani anak-anakmu. Kamu pasti juga sudah sangat menantikannya. Aku tahu kalo kamu selalu cemburu saat melihat video Ghazzy mengadzani Faiz dan Fawwaz dulu. " bisik Leon.


Al mengangguk pasti. Kemudian melepaskan pelukannya pada Leon.


" Aku sangat menantikannya Om. Aku masuk dulu. " pamitnya. sedikit berlari. Tidak sabar melihat Bia dan anak-anaknya.


" Aku ikut ! " seru Zaskia sembari menjajari langkah Al. Sebelum mendapatkan protes Leon dan Azalea.

__ADS_1


Leon mendekat ke arah Azalea yang langsung memeluknya erat.


" Bia pasti bahagia, melihat keluarga Mama benar-benar sangat menyayanginya. " ujar Tian senang.


" Sangat. Kami semua sangat menyayanginya Tian. Mama sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Sejak dia menjadi pendonor Kia dulu. Bukan hanya sebagai menantu. " jawab Azalea sambil melepaskan pelukannya pada Leon.


" Selama aku mengenal Al. Aku yakin hanya Bia, wanita yang benar-benar bisa merubah si kulkas itu. "


" Kenapa lama sekali operasinya Leon ? Kamu tahu kami sangat takut terjadi sesuatu pada Bia atau anak-anaknya. " tanya Azalea sambil memukul dada bidang adiknya.


Leon terkekeh sejenak. Kemudian mempersilahkan Azalea untuk berjalan bersamanya dan Tian untuk masuk ke ruangan operasi. Karena Bia belum dipindahkan ke ruangan VVIP.


" Kami melakukan operasi besar Lea. Bukan hanya satu bayi yang kami keluarkan. Tapi tiga. Tentu kami harus benar-benar memastikan kondisi mereka stabil. Apalagi dua bayi Bia berada di satu kantung ketuban yang sudah pecah. Gita harus ektra hati-hati mengeluarkan mereka. " jelas Leon.


" Alhamdulillah semuanya berhasil diselamatkan. " ucap Azalea senang sambl mengusap air matanya.


" Tentu saja Ma. Mama punya adik dan adik ipar seorang dokter yang hebat. " puji Tian tulus.


" Hahhahah,, kamu terlalu berlebihan Tian. Ini semua berkat kerja sama dokter Tri dan dokter Baim. Dokter Iren dan suster Mirna. "


" Direktur utama RS juga ikut andil dalam operasinya ? " tanya Azalea tidak menyangka.


" Tentu saja, dia juga ingin membantu adiknya memastikan lisensi kedokterannya tidak dicabut oleh Al. Dan asal kamu tahu Lea. Dokter Baim itu dokter dengan sertifkasi ganda. Dia dokter bedah handal, seniorku dan Gita di fakultas kedokteran dulu. "


" Sama dengan Om Leon dan juga dokter Gita bukan ? Kalian semua dokter hebat yang pernah aku kenal. " ujar Tian lagi.


" Terima kasih, Tian. Tapi, ini semua tidak lepas dari dukungan Mertuamu ini padaku. Dia sudah mengorbankan banyak hal untuk membuatku menjadi seperti ini. " ucap Leon penuh terima kasih sambil mengecup kening Azalea yang sudah menangis terharu.


Tian tersenyum bangga pada dua kakak beradik yang saling menyayangi tengah berpelukan.


" Aku percaya, Mama dan Om Leon orang-orang baik. Karena Kak Al dan Kia, menjadi bukti kebaikan kalian."


" Ahhh,, sudah cukup Tian. Kamu membuat Mama gak bisa berhenti menangis. Mama mau melihat Bia dan anak-anaknya. " kata Azalea sedih.


Leon dan Tian terkekeh kemudian kembali beranjak menuju kamar Bia.


Al terpaku ditempatnya berdiri. Saat masuk ke kamar Bia dan melihat Bia tidak bergerak dan matanya tengah terpejam. Jantung Al rasanya langsung berhenti berdetak seketika itu juga.

__ADS_1


* Bi,, kamu,, gak mungkin,,, *


__ADS_2