
" Bunda,, " panggil Faiz dengan langkah pincang.
" Lhoo,, Mas Faiz,, kenapa jalannya pincang ? " tanya Wimpi sembari menggendong Faiz dan mendudukkannya di samping Bia.
" Mas ,, kenapa kakinya ? " tanya Bia khawatir.
Bik Amy dengan sigap mengambil Arra dari gendongan Bia. Agar Bia lebih leluasa memberikan perhatiannya pada Faiz.
" Ini kenapa bisa begini Mas ? Kukunya mau copot Mas. Kita ke RS aja ya. "
" Gak mau Bunda. Dipotong sendiri gak bisa Bun ? " elak Faiz.
" Yah,, gak bisa dong Mas. Nanti kalo infeksi gimana ?"
" Tapi sakit Bun kalo dibuat jalan. "
" Kan bisa Tante gendong Mas. " sahut Wimpi.
" Dokternya aja Bun yang suruh kesini. Kita ke dokternya mau sama siapa ? Kan Om Randy masih jemput adik Fawwaz. " usul Faiz.
" Kan bisa naik taksi Mas. " kata Bia.
" Adik-adik di tinggal Bun ? " tanya Faiz.
Bia terdiam, tidak mungkin juga meninggalkan Bik Amy sendirian dengan tiga buah hatinya.
" Ya sudah, Non Bia. Lebih baik panggil saja dokter Sandra kesini. Daripada Non Bia gak fokus di RS nanti. " kata Bik Amy.
" Iya juga sih Bik Amy. Ya sudah Bunda telpon dokter Sandra dulu. Tante Wimpi, tolong bawa Mas Faiz ke kamarnya ya. "
" Baik Non. Ayo Mas, kita ke kamar. " ajak Wimpi sembari menggendong Faiz ke kamarnya.
" Bunda gak ikut ? " tanya Faiz saat melihat Bia tidak beranjak.
" Bunda telpon Papa dulu ya. "
" Gak usah telpon Papa ! " geram Faiz marah teringat foto yang ditemukannya tadi.
Bia saling berpandangan dnegan Bik Amy bingung. Kenapa Faiz semarah itu pada Al.
" Ya sudah, Bunda telpon dokter Sandra dulu. Nanti Bunda nyusul. " hibur Bia.
" Jangan lama-lama Bun. " kata Faiz dengan nada melunak.
" Iya Mas. " jawab Bia sambil mengeluarkan ponselnya.
" Non Bia,, ke kamar Mas Faiz aja. Biar aku yang telpon dokter Sandranya. " kata Bik Amy.
" Maaf merepotkan Bik. "
" Tidak apa-apa Non. Gak usah terlalu dipikirkan. Mungkin Mas Faiz takut dimarahi Tuan Al kalo Non telpon Tuan Al. "
" Gitu ya Bik. Baru kali ini lho Mas Faiz marah seperti itu. Biasanya juga diam aja kalo marah. "
" Sudah Non Bia, jangan terllau banyak mikir nanti Mas Faiz tunggu lama. "
" Aku ke kamarnya dulu Bik. Rasanya kaayak lihat marahnya Mas Al sewaktu pertama kalinya Mas Al membawaku ke rumah Surabaya dulu Bik. " gurau Bia.
" Non Bia ini ada-ada saja. "
***
__ADS_1
" Mas Faiz,, kenapa marah-marah ? Gak kayak biasanya, pasti Bunda kaget tadi. " tanya Wimpi setelah membaringkan Faiz di ranjangnya.
Faiz menatap mata Wimpi lama. Seolah tengah menyelidiki mata Wimpi. Ingin menemukan kemarahan yang sama sepertinya setelah melihat foto-foto itu.
" Mas Faiz,, kenapa melihat Tante speerti itu ? " tanya Wimpi bingung.
" Kok tante Wimpi gak marah ? " tanya Faiz.
" Marah ? Kenapa harus marah ? "
" Aku juga sudah melihat foto itu. Dan aku bisa semarah ini sama Papa. Kenapa Tante Wimpi gak marah ? Apa itu berartti,, Karena sudah terlalu sering Papa melakukan hal speerti itu ? "
" Foto ? "
" Foto yang Tante Wimpi smebunyikan. Foto Papa dan wanita itu. " tegas Faiz.
Wimpi terpaku ditempatnya duduk.
" Mas Faiz tahu darimana ? "
" Aku menemukan foto itu di bawah meja di ruang kerja Papa." jawab Faiz.
Wimpi menghela nafas sejenak.
" Mas Faiz,, foto itu gak seperti Mas Faiz kira. Tante akan mencari tahu kenpaa sampai ada foto itu. Tapi, aku minta Mas Faiz berjanji satu hal. "
" Apa itu ? "
" Jangan gagabah dan marah-marah lagi. Gak kasihan smaa Bunda ? Nanti Bunda kepikiran lalu sakit. Mas Faiz mau Bunda sakit lagi ? Kayak dulu waktu bertengkar dengan Leny ? "
Faiz menggeleng cepat.
" Gak mau. " sahut Faiz cepat.
Faiz terdiam, seolah tengah berfikir. Kemudian mengangguk mengiyakan. Lalu melakukan toos dnegan Wimpi.
" Kalian sedang apa ? Kenapa Bunda gak diajak ? " tanya Bia sembari membuka pintu kamar Faiz.
" Bunda kok lama ? " tanya Faiz mengalihkan pertanyaan.
" Adik Arra nangis. Gak mau ditinggal. Mas Faiz juga yang usil pake cubit adik Arra waktu tidur tadi. " jawab Bia.
Faiz hanya terkekeh mendnegarnya.
"Sekalian tunggu dokter Sandra. " jawab Bia.
" Terus adik Arra sekarang dimana Bun ? " tanya Faiz.
" Udah tidur lagi. Silahkan masuk dokter Sandra. " kata Bia sembari mempersilahkan dokter Sandra masuk.
" Assalamualaikum. Calon dokter. " sapa dokter Sandra.
Wimpi berdiri dan memberikan tempatnya untuk dokter Sandra.
" Waalaikumsalam Oma dokter. Terima kasih doanya. " jawab Faiz senang.
" Kenapa bisa seperti ini heeemm. "
" Tadi tersandung Oma dokter. "
" Terus,, nangis gak ? Masa calon dokter nangis punya luka kecil seperti ini aja. " kata dokter Sandra.
__ADS_1
" Gak dong Oma. " seru Faiz.
Bia dan Wimpi hanya tersenyum mendengar percakapan dokter dan Faiz. Dokter Sandra memang sengaja mengajak ngobrol Faiz agar tidak terlalu sakit saat melakukan tindakan pada luka Faiz.
" Sudah selesai Bunda. Inshallah lusa lukanya akan mengering. Untuk sementara jangan terkena air dulu ya. Biar salepny meresap dan lukanya cepat sembuh. "
" Kalo mau sholat gimana Oma ? "
" Kan bisa tayamum dulu. Nanti pasti Bunda ajarin caranya. Iya kan Bunda ? " jawab dokter Sandra.
Bia hanya mengangguk sambil tersenyum saat Faiz menatapnya.
" Sudah selesai. Oma pergi dulu. Semoga cepat sembuh calon dokter. " pamit dokter Sandra.
" Terima kasih Oma dokter. " ujar Faiz sembari mencium telapak tangan dokter Sandra.
" Bu Bia,,, ini resep obat yang harus diminum Faiz. Untuk meredakan nyeri dan mengeringkan lukanya. " kata dokter Sandra sambil memberikan selembar kertas yang di terima Wimpi.
" Biar aku saja yang beli Non Bia. " jawab Wimpi.
" Sekalian tolong antar dokter Sandra Kka Wimpi. "
" Gak usah Bu Bia. "
" Gak apa-apa, dokter Sandra. Silahkan. "
" Terima kasih Bu Bia. "
" Terima kasih dokter Sandra. Maaf merepotkan harus membuat dokter Sandra datang kerumah. "
" Itu sudah menjadi tanggung jawab saya Bu Bia. Permisi. "
" Silahkan. "
Bia menutup pintu kamar Faiz saat dokter Sandra sudah menuruni tangga bersama Wimpi. Dia mendekat ke ranjang Faiz yang tengah bersandar di ranjangnya dengan mata yang sudah mengantuk.
" Mas ngantuk ? " tanya Bia.
" Iya Bun. " jawab Faiz sembari memeluk Bia.
" Rebahin dulu badannya. Baru tidur. " tegur Bia.
" Temenin ya Bun. "
" Iya. Sudah sekarnag rebahin dulu. "
Bia membantu Faiz menggeser tubuhnya agar bisa berbaring. Bia pun juga ikut berbaring disampingnya.
" Kenapa tadi pulang lebih awal ? Mas Faiz sakit ? " tanya Bia smabil mengusap kepala Faiz.
" Tadi disekolah Mas pusing Bun. Pengen ketemu dan peluk Bunda aja. " jawab Faiz sembari mengeratkan pelukannya pada Bia.
Bukan karena rasa sakit di luka yang ada dikakinya. Tapi rasa sakit karena kekecewaannya pada Papanya.
" Mas Faiz udah tahu kan akibatnya kalo melewatkana sarapan ? Mainan ponsel aja sih Mas Faiz tadi, sampai sarapannya gak dimakan. Lihat sekarang yang susah siapa ? Mas Faiz jadi sakit kan ? Jadi gak bisa sekolah kan. Masa calon dokter sakit sih. "
" Mas minta maaf Bun. Mas gak akan mengulanginya lagi. "
" Kalo diulangi lagi, nanti ponselnya Bunda sita lho. "
" Iya Bun. Mas ngantuk Bun. " keluh Faiz.
__ADS_1
" Ya sudah, istirahat dulu. Nanti Bunda bangunin untuk sholat dhuhur. "
Faiz semakin memeluk Bia dan tidak membutuhkan waktu lama untuk tertidur karena usapan Bia di kepalanya.