
Sudah tiga hari Zaskia pulang ke rumah Clara. Seperti yang Al bilang, rumah itu ditempati Zaskia bersama Adiba dan Tian. Ada Bik Okta yang juga membantu mereka.
Sedangkan Azalea tinggal bersama Al dan Bia. Bersama dengan Bik Amy, Wimpi dan Randy. Meskipun tak jarang Zaskia lebih sering meminta Tian untuk mengantarkannya ke rumah Azalea untuk bertemu dengan Bia. Karena Zaskia masih semanja itu pada Bia, dia akan menangis kalo Tian atau Al melarangnya tidur bersama Bia.
" Masih mual ? " tanya Al saat Bia tengah berbaring di sofa diruang kerjanya.
Sejak pulang dari RS, Bia lebih sering menempel pada Al. Apalagi kalo Al pulang kerja.
Bia mengangguk. Al mencium kening Bia lalu mengangkat kepalanya agar bisa dibaringkan di pangkuannya.
" Makan dulu Bi. Kata Bik Amy, Seharian ini kamu hanya berbaring. Belum makan. "
" Aku masih lemas. Males ah. " keluhnya sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke perut Al. Memeluk tubuh Al erat, menghirup aroma parfum Al.
" Kamu jangan menggodaku Bi. " geram Al.
Bia mendongak.
" Cckkk,, dasar kamu aja yang mesum Mas. Aku kan gak ngapa-ngapain. " gerutunya lalu kembali memeluk Al. Malah dengan sengaja menempelkan hidungnya ke perut Al yang masih memakai kemeja kerjanya.
" Bi,, hentikan. " desisnya. Sembari mengusap kepala Bia.
Bia terkekeh. Saat merasa kepalanya ada yang terasa mengganjal.
" Sepertinya,,, ada yang terbangun. " goda Bia sambil mencubit pipi Al.
" Ccckk,, aku sudah bilang, jangan memancingku. Kamu tahu, sudah tiga hari aku menahan diriku. " gerutu Al.
Bia makin tertawa.
" Kamu mau anak kita kenapa-kenapa ? " elak Bia.
" Tentu saja tidak !! " tegas Al gusar.
Bia bangun dari tidurnya. Seperti kemarin-kemarin. Bia selalu ingin menempel pada Al. Setelah puas menghirup aroma tubuh Al, dia sudah bisa bersikap biasa. Meskipun dia tidak tidur bersama Al. Karena Zaskia yang datang akan langsung merebahkan tubuhnya disamping Bia. Mau gak mau Al yang harus mengalah dan tidur di kamar anak-anaknya.
" Mau kemana ? " tanya Al heran.
" Mau ke teras. Kia bilang mau nginap. "
" Lagi ?? " tanyanya kesal.
" Iihh,, kok gitu sih. Kan dia adik kamu Mas. "
" Iya,, tapi dia mengganggu waktuku untuk tidur bersama istriku. " keluh Al.
" Kan udah seharian aku bersama kamu Mas. "
" Beda, Bi. "
" Yang penting kan aku udah puas. "
" Ckkk,, " gerutu Al smabil mengerucutkan mulutnya.
Bia kembali duduk dan mencium bibir Al yang sedang manyun.
" Udah gak ngambek lagi kan. " godanya.
" Kurang. " pinta Al sambil mengusap bibir Bia yang basah.
" Udah cukup. "
" Aku bilang kurang. Aku membutuhkan vitamin boosterku. " kata Al sembari mencium Bia sedikit lebih lama.
Tangan Al sudah mulai nakal mempermainkan titik sensitif Bia.
" Massss,,, " desahnya
" Ingin Bi. " bisik Al lalu mencium telinga Bia.
" Tapi,, "
" Aku akan pelan-pelan. " sahut Al cepat sambil tetap menciumi Bia.
" Satu kali. " tegas Bia sambil menjauhkan wajah Al yang menciuminya. Membuatnya merinding.
Al tersenyum menang. Lalu menggendong Bia ke kamar pribadinya diruang kerjanya.
" Aku gak janji. " bisik Al nakal.
" Maaaasss,,, "
" Aku mencintaimu, Bi. " desah Al pelan.
__ADS_1
Al duduk bersandar di ranjangnya. Melihat ponselnya yang terdapat satu email masuk. Al membaca satu email dari Mark.
' Aku harap kamu gak lupa empat puluh hari Clara Al. Kami menunggumu, ajak Bia dan anak-anaknya. '
Al menghela nafas panjang. Satu PRnya sudah harus dia pertanggung jawabkan. Dia mengirimkan email itu pada Leon agar Omnya bisa bersiap-siap untuk membantunya menjelaskan pada Orang tua Clara nanti.
Diakuinya, memang antara Al, Clara dan Bia memang satu hubungan yang rumit bagi orang lain. Pasti akan ada kesalah pahaman seperti Leny. Al berharap, kali ini Mark dan Naya bisa mengerti. Karena takut Bia akan kembali stres dan membahayakan janinnya.
Tnagan Al terulur mengusap rambut Bia, meraba setiap inci wajah Bia seperti yang dilakukan Bia kalo tengah menggodanya. Al tersenyum smirk. Karena bibir Bia terlihat makin menggodanya. Al kembali menciumi bibir Bia. tangannya beralih pada perut Bia yang masih rata.
" Apa kali ini juga akan kembar lagi ? " gumamnya sambil terkekeh membayangkan anak-anaknya kembali kembar.
" Tian,, apa kamu memiliki paspor ? " tanya Al pada Tian saat mereka tengah makan malam.
" Ya. Aku punya. " jawab Tian sambil menatap Al.
" Memangnya kenapa ? " tanya Zaskia penasaran.
" Dasar kepo ah. " ejek Leon.
" Isshhh,, Om Leon. " geram Zaskia.
" Lusa kita berangkat ke Singapura. Tapi kita transit ke Surabaya dulu. "
Bia mendongak. Ada keinginan untuk datang ke makam Ghazzy terlebih dulu. Tapi takut Al tersinggung.
" Devan mengundang kita semua ke pesta pernikahaannya. " jelas Al.
" Benarkah ? Kenapa aku gak tahu ? " tanya Azalea.
" Mama sudah lepas tangan pada Dewandaru dan Mall Expo, tentu saja dia tidak melaporkan segala sesuatunya lagi pada Mama. " omel Al.
" Ahh iya, Mama lupa. Tapi Mama gak sepenuhnya lepas tangan Al. Mama dan Kia masih menghandlenya kok. " elak Azalea.
" Meskipun Kak Bia yang mengerjakan laporan keuangannya. Hihihi. " celetuk Zaskia tanpa sadar sembari terkekeh.
" Kia,,, !! " seru Azalea dan Bia bersamaan.
Zaskia spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sadar telah keceplosan ngomong.
" Apa kalian merahasiakan sesuatu lagi dariku ?! " tegas Al datar. Ekpresinya sangat dingin. Seperti seoarng bos yang siap memarahi anak buahnya.
Melihat ketiga wanita yang snagat disayanginya hanya terdiam sambil menundukkan pandangannya. Al menghela nafas, mencoba untuk bersabar.
" Aku permisi. Aku sudah selesai makan. " kata Al sembari beranjak menuju ruang kerjanya.
" Cckk,, kamu sih Ki. " celetuk Azalea.
" Maaf, Ma. Keceplosan. " pinta Zaskia menyesal.
" Hahaahha,, untung saja Al gak seemosional dulu. Kalo gak, meja makan ini mungkin sudah terbalik posisinya. " gurau Leon.
" Kamu juga Bia,, kenapa sampai berbohong pada Al." tegur Gita.
" Aku kan niatnya cuman membantu Tante. "
" Tapi kan bisa ngomong dulu ke Al. Pasti dia marah karena kalian sudah berbohong lagi. Syukurlah kali ini, aku gak ikut andil dalam kebohongan kalian. " omel Leon.
" Sudah diamlah Leon. Kamu bukannya membantu kami membujuk Al. Tapi malah ikutan ngomel. " gerutu Azalea.
Leon tertawa meski Gita berkali-kali memukul lengannya agar menghentikan tawanya.
" Bia,, lebih baik kamu yang membujuknya. Kan kamu pawang Al selama ini. " goda Gita.
" Ishh,, Tante Gita belum tahu aja gimana Mas Al kalo udah marah-marah. "
" Tapi Gita memang benar Bia. Sudah sana, pergilah. Susul suamimu. " ledek Azalea.
" Iihh,, Mama. Kalo udah emosi kayak gini bilangnya suamiku. Kalo pas lagi mode baik, bilangnya anak Mama. " gurau Bia sambil berdiri.
Azalea tertawa mendengarnya.
" Sampaikan maafku juga ya Kak. " goda Zaskia.
" Dasar kamu itu Ki. " ejek Bia kesal.
Bia menghela nafas panjang. Ada sedikit takut dihatinya. Bagaimanapun ini memang kesalahannya karena tidak jujur pada Al.
Al menoleh saat melihat Bia masuk dengan tersenyum keki. Dia kembali membelakangi pintu. Berada di jendela ruang kerjanya yang dibiarkan terbuka. Mengacuhkan Bia yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
" Maaf. " ucap Bia saat berada di samping Al.
" Apa lagi yang kamu,, kalian sembunyikan dariku ?! "
Bia menelan ludahnya getir. Teringat sikap dingin Al saat Bia memintanya menceraikannya dulu.
" Gak ada. " jawab Bia dengan suara tercekat.
" Apa sudah senang membohongiku ? "
Bia makin menunduk, keadaannya yang tengah hamil membuat perasaannya makin sensitif. Sikap dingin Al malah membuat Bia menangis.
" Maafkan aku, Mas. " ucap Bia masih dengan menunduk.
" Sudah malam. Isitirahatlah. " kata Al smabil beranjak pergi tanpa menoleh pada Bia lagi.
Tangan Bia menarik lengan Al. Dan memberanikan menatap Al.
" Aku minta maaf. " ucap Bia tulus.
" Istirahatlah Bi. " kata Al.
Perut Bia mulai bereaksi. Rasanya semua makan malamnya seperti akan keluar.
Bia melepaskan lengan Al dan seegera berjalan menuju kamar pribadi Al. Langsung masuk kamar mandi. Seperti dugaaanya, semua yang dimakannya dimuntahkan lagi.
Al tersenyum saat Bia berjalan ke kamarnya. Dia hanya pura-pura marah agar keluarganya tahu dia gak suka dibohongi. Tapi, saat mendengar Bia yang muntah-muntah. Al segera menyusul Bia. Memijat tengkuknya dengan pelan.
Bia menoleh. Melihat Al yang terlihat cemas dia tersenyum. Lalu mengusap sisa muntahnya. Dan menyiramnya.
" Sudah lebih baik ? " tanay Al sambil mengusap pipi Bia.
" Sepertinya yang didalam, gak suka melihat Papanya marah pada Bundanya. " gurau Bia.
" Itu karena Bundanya salah. " tegas Al kembali bersikap dingin.
Dan benar saja, Bia kembali muntah-muntah. Al kembali mengusap tengkuk Bia. Membersihkan sisa muntah Bia. Tubuh Bia serasa lemas.
Al menggendong Bia saat melihat langkahnya sempoyongan. Lalu merebahkan tubunya diatas ranjang. Begitu pun dengan Al. Dia memberikan lengannya sebagai bantal Bia yang mendekapnya.
" Apa masih marah ? " tanya Bia gusar.
Al terdiam. Bia meraba alis Al yang masih berkerut.
" Jangan marah lagi. Sudah aku bilang, anak kita gak suka kalo Papanya marah pada Bunda. " kata Bia sambil meraba bibir Al.
" Kenapa kalian suka sekali membohongiku ? Aku sudah pernah bilang kan. Aku gak suka dibohongi Bi. "
Bia bangkit dari tidurnya.
" Mau kemana ? " tanya Al heran.
Bia menarik tangan kanan Al. Lalu mencium telapak tangannya.
" Aku minta maaf. Aku salah. " ujarnya.
Al merasa terharu. Tidak emnyangka Bia akan berfikir sampai mencium telapak tangannya. Dia merengkuh Bia dalam pelukannya.
" Jangan membohongiku lagi Bi. Aku benar-benar akan marah. " ujarnya sambil mencium kening Bia.
Bia mengangguk di pelukan Al. Kemudian tersenyum senang. Karena Al tidak lagi marah padanya.
" Aku hanya membantu Kia. Karena Mama dan Mas masih berada di Singapura waktu itu. "
" Lalu ,,, kenapa jadi keterusan ? Heemmmm,,, " tegurnya sambil kembali merebahkan Bia.
" Kata Mama laporan keuangan yang aku buat, mirip dengan laporan yang Mas buat. Aku jadi ketagihan mencobanya. " jawab Bia sambil terkekeh.
Al menyentil hiidung Bia gemas.
" Aku gak mau kamu bekerja Bi. Cukup dirumah, membantuku menyiapkan kebutuhanku dan anak-anak. Itu semua udah melelahkanmu. Jangan menambah pekerjaan kamu lagi. Anak kita butuh nutrisi bukan ketidak stabilan emosi Bundanya. "
" Iya. Iya. Aku minta maaf. Jangan marah lagi. " ucap Bia sambil menepuk pipi Al.
Al masih terdiam. Hanya menatap Bia intens. Seolah mempertanyakan keseriusan Bia.
" Papa kok gak senyum sih. Papa masih gak percaya sama Bunda ? " goda Bia.
Al mencibir, setiap kali Bia merasa di acuhkan oleh Al. Pasti Bia akan memangginya dengan sebutan Papa.
" Aku harap ini terakhir kalinya kamu membohongiku." tegas Al masih dengan ekspresinya yang datar.
" Ya Allah, Maass. Iya sayang. " kata Bia memastikan.
__ADS_1
Al merengkuh Bia dalam pelukannya. Tidak mau membuat Bia lebih stres lagi karena kecewanya.