Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 127


__ADS_3

Sudah tiga minggu tapi Bia merasa masih belum bisa menyadarkan Al. Bia sendiri juga merasa sedikit frustasi.


Azalea sudah melarang tim keamanan untuk tidak membiarkan Sesil masuk tanpa membuat appointment terlebih dulu. Tapi percuma, Sesil selalu menelpon Al dan menyuruh Reiga menjemputnya biar bisa masuk ke kantor Al. Hanya untuk bertemu dan memanasi Bia dengan sikap manjanya pada Al. Dan herannya Al masih saja diam.


Dan sudah tiga minggu juga Faiz tidak mau bicara apalagi bertemu dnegan Al. Selalu saja menghindari Al, sewaktu sarapan pun Faiz lebih memilih pergi ke dapur saat Al datang ke meja makan. Sudah tentu menambah daftar pikiran Bia.


Hari ini, Azalea tidak ikut ke kantor karena sakit. Dokter Sandra bilang, Azalea terlalu banyak pikiran hingga membuat darah tinggi dan juga asam lambungnya naik.


Bia memejamkan matanya dan bersandar di mobil. Menghela nafas panjang. Ingin menenangkan pikirannya.


" Non Bia tidak apa-apa ? " tanya Wimpi ragu.


Bia membuka matanya lalu menegakkan tubuhnya.


" Kita sudah sampai Kak ? " tanya Bia karena mobilnya berhenti.


" Belum Non. Saya berhentikan dulu. Mungkin Non Bia ingin menenangkan diri dulu. " jawab Wimpi.


Bia tersenyum karena pengertian Wimpi.


" Terima kasih Kak. " ujar Bia.


" Apa Non Bia baik-baik saja ? " tanya Wimpi.


" Alhamdulillah, aku baik-baik saja Kak. Ehhmm,, mungkin sedikit stress. Hahah. " gurau Bia.


" Maaf Non. Saya sudah mencoba sebisanya. Tapi, tubuh Tuan Al seperti menolaknya. Ada aura negatif yang membuat Tuan Al menolak semua usaha saya, Ustadz Yahya juga mengatakan demikian. Apa Tuan Al punya barang-barang mistis Non ? "


" Barang-barang mistis ? Maksudnya bagaimana Kak ? " tanya Bia bingung.


" Seperti,, ehmm,, kayak semacam bungkusan kecil putih kalo pas di Jawa, buat anak kecil yang kena sawan Non Bia."


Bia nampak berpikir sejenak.


" Aku pernah membuka dompet Mas Al. Tapi gak ada barang yang Kak Wimpi maksudkan. " jawab Bia.


" Apa Tuan Al,, memakai cincin atau kalung pemberian orang lain Non. Terutama pemberian Sesil. "


" Kalo itu, aku gak tahu Kak. Aku akan mencari tahu nanti. "


" Aku harap kita bisa segera menemukannya Non. "


" Semoga saja Kak Wimpi. Aku lelah,, benar-benar lelah menghadapi emosi Mas Al. Setiap kali selesai meeting. "


Wimpi tertawa.


" Tuan Al masih snagat posesif pada Non Bia. "

__ADS_1


" Alhamdulillah Kak. Kita ke kantor Kak. Ada meeting dengan Pratama Company nanti. Aku harap Pak Alex tidak macam-macam , apalagi Mama gak ikut meeting kita nanti. "


Wimpi kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan.


" Sepertinya Tuan Alex menyukai Non Bia. "


" Aku sudah mempunyai lima orang anak Kak Wimpi. Aku yakin Pak Alex akan mundur secara teratur. Ahhah.. " sahut Bia yang membuat Wimpi tertawa.


" Kan tidak ada yang tahu Non. " celetuk Wimpi.


" Ngawur aja Kak Wimpi ini. Melihat besarnya cinta Mas Al ke aku aja . Sudah membuatku snagat bersyukur Kak. Gak berani berharap ada orang-orang seperti Alex atau Leny atau Sesil yang mengganggu pernikahan kami. "


" Semoga langgeng terus Non Bia. " doa Wimpi.


" Aaammiinn. "


 


" Selamat pagi Bia. Wimpi. " sapa Rico, manager pemasaran.


Masih muda tapi kerja kerasnya bisa membuatnya meraih jabatan itu diusia muda. Banyak karyawan lain yang ingin dekat dengannya.


" Selamat pagi. " jawab Bia dan Wimpi ramah.


Mereka dan karyawan yang lain tengah menunggu lift terbuka.


" Terima kasih. " jawab Bia singkat tanpa menoleh pada Riko yang berdiri di samping Wimpi.


Tinggg,,


Pintu lift terbuka, Bia bertukar posisinya dengan Wimpi saat Riko snegaja berdiri di sebelahnya.


" Bia,, aapa bisa makan siang denganku nanti ? " tanya Riko yang membuat smeua mata menatapnya dan Bia.


Bia merasa risih di tatap penuh selidik ornag-orang satu lift. Biasanya tidak pernah ada yang menegurnya karena ada Azalea. Tapi, saat tidak bersama Azalea. Banyak yang menyapanya, meskipun hanya menganggukkan kepalanya.


" Maaf Pak Riko, saya gak bisa. hari ini jadwal Pak Al sangat padat. " jawab Bia berusaha bersikap sopan.


" Kan makan siang saja Bia. Pasti Pak Al mengijinkannya. " bujuk Riko. Tidak perduli tatapan sinis dari semua orang yang ada di lift.


" Kami sudah ada janji makan siang Pak. Maaf. " sahut Wimpi cepat sesaat sebelum pintu lift terbuka.


Bia menggandeng tangan Wimpi agar bisa berjalan lebih cepat meninggalkan Riko.


Tangan Al terkepal mendengar percakapan managernya dengan Bia. Cemburunya serasa sudha mencapai batas maksimalnya. Ingin rasanya menyeret Bia pulang dengan paksa.


Tapi diakuinya, kehadiran Bia memang menjadi mood booster tersendiri. Pekerjaannya menjadi lebih cepat selesai. Meskipun tak jarang, saat Sesil menelponnya. Entah kenapa sikapnya dan perasaannya pada Bia menjadi biasa saja.

__ADS_1


Al menutuup pintu kantornya dengan keras. Membuat Bia yang sedang menyusun berkas untuk meeting dengan Pratama Company menjadi terlonjak kaget. Dia duduk di kursinya, menatap Bia yang memang terlihat cerah pagi ini. Hijab putihnya menambah cerah pancaran wajahnya. Meskipun Al tahu Bia tidak memakai make up seperti karyawan lain.


Bia mendekat ke arah Al dengan membawa beberapa berkas yang harus di tanda tangani Al.


" Mas,, "


Al tersenyum sekilas saat Bia salah memanggilnya. Bia memang hanya akan memanggilnya dengan sebutan Mas saat istirahat. Dan selalu menemani Al makan siang, tidak jarang juga menyuapinya saat pekerjaan Al dirasanya sangat padat. Lalu diakhiri dengan sholat dhuhur berjamaah di kamar pribadi Al.


Diluar jam istirahat Bia akan menjaga jarak dengan Al. Itu yang membuat Al sewot sendiri. Apalagi kalo sedang ada meeting. Entah bagaimana karyawannya lupa pada Bia yang istrinya. Padahal mereka semua hadir saat empat bulanan dulu.


Bia menunduk sejenak kemudian melihat Al yang masih menatapnya dengan tajam.


" Pak Al,, ini berkas yang harus ditanda tangani. " kata Bia setelah bisa mengatasi kegugupannya.


Melihat Al yang menatapnya setajam itu, Bia merasa Al masih tidak mau mengijinkannya bekerja.


" Dan ini berkas program kerja yang akan dibahas saat meeeting dengan Pratama Company jam sepuluh nanti Pak. " kata Bia.


" Letakkan saja di meja. Kamu bisa kembali ke tempatmu. " jawab Al dingin.


" Baik Pak. Permisi. " pamit Bia.


Melihat wajah Bia dari dekat, fokus Al tertuju pada bibir Bia. Memang Bia tidak memakai lipstik dengan warna menyala sepeerti karyawan yang lain. Tapi, itu bisa membuat Al yang sudah lama tidak menyentuhnya menjadi berhasrat. Setelah Bia selesai masa nifas, Al malah terlibat skandal dengan Sesil.


Al menggenggam pena yang sedari tadi dipegangnya dengan erat. Hingga pena itu patah jadi dua. Al beranjak mengikuti langkah Bia. Dan langsung membungkam bibir Bia dengan bibirnya. Sedikit mendorongnya ke arah pintu untuk menguncinya. Dan satu tangannya yang lain menahan tengkuk Bia. Tidak memperdulikan Bia yang memukul dadanya sebagai bentuk protes, mungkin karena kaget.


" Jangan menyiksaku lagi Bi. Aku tahu aku salah. Aku akan segera menyelesaikan masalahku. Aku snagat merindukanmu Bi. Aku tersiksa dengan cemburuku. Aku cemburu melihat tatapan semua karyawan padamu. aku cemburu Bi. Mengertilah. " kata Al lirih sembari menempelkan keningnya di kening Bia.


Jemari Al menghapus salivanya di bibir Bia. Air mata Bia menetes. Melihat mata Al yang sudah mengembun.


" Kamu juga menyakitiku Mas. Kamu membiarkan wanita lain menyentuhmu. " jawab Bia jujur sambil menundukkan pandangannya.


Al memeluk Bia erat. Hatinya ikut sakit melihat Bia menangisi sikapnya kemarin.


" Maafkan aku Bi. Sungguh aku juga tersiksa. Aku juga gak tahu apa yang telah aku lakukan. Aku akan segera menyelesaikan urusanku dnegannya. Aku janji. "


Al melepaskan pelukannya saat Bia hanya terisak tidak menjawab perkataannya. Al menggendong Bia.


" Apa yang kamu lakukan Mas ? Sebentar lagi kamu ada meeting. " seru Bia kaget.


" Istirahat. Aku juga lelah Bi. " jawab Al tidak perduli.


Al membaringkan Bia di ranjang di kamar pribadinya . Al sudah tidak tahan lagi berseteru dengan Bia. Belum lagi sikap Faiz masih antipati terhadapnya.


Bia tidak mampu menatap mata Al yang terlihat sendu. Dia memeluk Al yang sedang berbaring di sebelahnya. Memuaskan hatinya dnegan menangis meluapkan sakit hatinya selama ini. Bia tidak mau berpura-pura tegar saat ini. Dia merindukan Al, sangat merindukan kebersamaan mereka.


Al menciumi puncak kepala Bia yang menangis di pelukannya. Dia pun sadar sikapnya pasti snagat menyakiti Bia. Air matanya juga sederas Bia saat ini.

__ADS_1


__ADS_2